INICIAR SESIÓNSaat mereka melangkah masuk ke dalam aula utama gudang, udara terasa berubah drastis.
Suhu turun mendadak. Bukan dinginnya AC, tapi dingin yang menusuk tulang. Bau apek bercampur aroma aneh memenuhi hidung Kaelan. “Bos, kok berat banget ya napasnya?” bisik Brad. Kaelan tidak menjawab. Dia juga merasakannya. Dadanya terasa sesak, seolah ada batu besar yang menimpa paru-parunya. Kepalanya mulai berdenyut sakit. ‘Reaksi ini lagi,’ batin Kaelan. ‘Kepalaku sakit.” Tekanan di ruangan itu semakin kuat. Bagi manusia biasa, ini adalah hawa murni ketakutan. Tapi bagi tubuh Kaelan yang menyimpan Tulang Dewa Kuno, meski pemiliknya tidak sadar, tekanan energi kotor ini adalah sebuah provokasi. Tiba-tiba, pandangan Kaelan mengabur. Dia tidak melakukan apa-apa. Dia tidak merapal mantra. Tapi tubuhnya bereaksi sendiri untuk menolak tekanan itu. Tulang belakangnya terasa panas membara. Detak jantungnya berpacu liar. DUG. Dunia di sekitar Kaelan berputar. Gudang yang gelap dan berdebu itu lenyap. Kaelan tidak lagi melihat dinding yang lumutan. Dia terseret paksa masuk ke dalam sebuah ilusi, atau lebih tepatnya memori, yang tersimpan di dinding-dinding tempat itu. Tiba-tiba, ruangan itu terang benderang oleh cahaya obor. Kaelan melihat sekeliling dengan bingung. Dia melihat puluhan orang, penduduk lokal dengan pakaian lusuh zaman kolonial, terikat rantai di tiang-tiang kayu. Tubuh mereka kurus kering, penuh luka cambuk. Wajah mereka dipenuhi ketakutan yang amat sangat. “Dimana ini?” gumam Kaelan panik. Dia menoleh ke Brad, tapi Brad tidak ada di sana. Dia sendirian di dimensi memori ini. Di tengah ruangan, ada sebuah altar batu hitam. Seorang pria berwajah bengis mengenakan jas putih ala kolonial berdiri di sana, memegang sebuah belati berkilauan. Di depannya, ada seorang anak kecil yang menangis, memohon ampun. “Darah untuk Sang Penguasa, kekayaan abadi untukku!” Kaelan ingin berteriak, ingin menghentikan pria itu. Tapi dia sadar dia hanya penonton. Dia tidak bisa menyentuh mereka. Namun, rasa sakit di hatinya begitu nyata. Kaelan melihat anak kecil itu diseret ke atas altar. Dia mendengar jeritan para tawanan lain yang memohon belas kasihan. Dia merasakan keputusasaan mereka. Rasa lapar mereka, rasa sakit mereka, dan rasa ketidakadilan yang mereka alami sebelum mati. Mereka dikorbankan hanya demi keserakahan satu orang. Empati. Perasaan itu meledak di dada Kaelan. Itu bukan perasaan yang dia pelajari di sekolah, bukan pula ingatan yang dia kenal. Itu adalah naluri murni. Kaelan, meski hilang ingatan, tetaplah memiliki hati seorang pemimpin yang tidak terima melihat penindasan keji. “Hentikan,” desis Kaelan, air mata menetes di pipinya tanpa dia sadari. “HENTIKAN!” Saat rasa iba dan amarahnya memuncak, segel di tubuhnya bereaksi. Tulang Dewa Kuno merespons keinginan kuat Kaelan untuk melindungi korban-korban itu. Tubuh Kaelan di dunia nyata memancarkan cahaya keemasan yang menyilaukan. BOOOM! Gelombang energi murni meledak dari tubuh Kaelan, menyapu ke segala arah. Itu adalah mekanisme pertahanan otomatis. Energi itu menghantam sisa-sisa energi jahat yang mengendap di gudang itu selama puluhan tahun. Di dalam visi Kaelan, dia melihat api keemasan membakar bayangan Tuan Tanah yang kejam itu hingga menjadi abu. Rantai-rantai yang membelenggu para korban putus. Wajah-wajah kesakitan para korban berubah menjadi senyuman damai, sebelum akhirnya mereka memudar menjadi butiran cahaya, terbebas dari kutukan tempat itu. “Bos? BOS!!” Kaelan tersentak hebat. Napasnya memburu. Dia mengerjap-ngerjapkan mata. Pemandangan obor dan penyiksaan itu lenyap. Dia kembali berada di gudang tua yang gelap, apek, dan penuh jaring laba-laba. Brad sedang mengguncang bahunya dengan wajah panik. “Bos! Kamu kenapa?! Tiba-tiba diem terus nangis! Kesurupan ya?!” teriak Brad ketakutan. Kaelan menyentuh pipinya. Basah. Dia benar-benar menangis. Dadanya masih terasa sesak oleh sisa kesedihan dari visi tadi. Tapi di saat yang sama, hawa dingin dan menekan di gudang itu sudah hilang total. Ruangan itu kini terasa kosong dan ringan, seolah beban berat baru saja diangkat darinya. “Aku, aku nggak apa-apa,” jawab Kaelan dengan suara parau. Dia menghapus air matanya cepat-cepat. “Cuma kelilipan debu. Debunya tebal banget di sini.” “Kelilipan kok sampe gemeteran gitu, Bos. Terus barusan ada angin kenceng banget keluar dari badan Bos. Sumpah, aku nggak bohong! Rambutku sampe acak-acakan!” Brad masih syok. Kaelan terdiam. Dia menatap kedua telapak tangannya. ‘Angin? Cahaya?’ batin Kaelan bingung. ‘Jadi benar, tubuhku bereaksi sendiri. Saat aku marah melihat kekejaman di bayangan tadi, sesuatu itu keluar lagi. Apa sebenarnya yang terjadi padaku?’ Kaelan mencoba menenangkan diri. Dia melihat ke sekeliling. Gudang itu kini benar-benar hanya tumpukan sampah. Namun, ingatannya tentang visi tadi masih sangat jelas. Dia menatap ke satu titik di tengah ruangan. Di dalam visinya, di situlah letak altar batu tempat pria bengis itu meletakkan cawan penampung darah. Di dunia nyata, tempat itu hanyalah lantai tanah yang tertutup gundukan lumpur keras dan jamur liar. Kaelan berjalan mendekat. Instingnya mengatakan ada sesuatu yang tertinggal. “Bos, mau ngapain? Itu kan tanah kotor,” tegur Brad. Kaelan berjongkok. Dia mengambil sebuah pecahan genteng dan mulai mengerok gundukan tanah keras itu. Tanahnya sudah membatu, menyatu dengan benda di dalamnya selama puluhan tahun. Krak. Krak. Lapisan tanah itu pecah. Sebuah warna kuning kusam terlihat. Kaelan terus mengerok hingga bentuk benda itu terlihat. Itu adalah sebuah cawan berukuran sedang, kira-kira sebesar mangkuk bakso. Benda itu penyok di satu sisi, penuh kerak hitam dan tanah, terlihat sangat menjijikkan bagi orang awam. Kaelan mengangkatnya. Berat. Jauh lebih berat dari besi atau kuningan. “Ini dia,” gumam Kaelan. Ini adalah cawan yang dia lihat di visi tadi. Benda yang menjadi saksi bisu kekejaman masa lalu. Tapi sekarang, energi jahatnya sudah hilang. “Ih, apaan tuh Bos? Tempat minum kuda ya? Buluk banget,” komentar Brad jijik. Kaelan menimang benda itu. Otak jeniusnya, yang entah kenapa tahu tentang massa jenis logam, langsung memberi sinyal. ‘Ini emas murni. Hanya tertutup tanah dan oksidasi puluhan tahun,’ batinnya. Kaelan memasukkan benda kotor itu ke dalam tas sekolahnya. “Ini bukan tempat minum, Brad. Anggap saja ini oleh-oleh karena kita sudah berani masuk ke sini,” kata Kaelan. “Oleh-oleh sampah? Bos aneh banget sih. Mending cari besi tua kayak di bengkel kemaren,” gerutu Brad. Kaelan berdiri. Dia merasa lelah sekali, seolah energinya terkuras habis setelah kejadian tadi. “Ayo pulang, Brad. Tempat ini sudah bersih. Nggak ada yang perlu ditakutin lagi.” Mereka berjalan keluar dari gudang. Matahari sore menyambut mereka. Kaelan merasa lega bisa melihat cahaya matahari lagi setelah melihat kegelapan masa lalu yang begitu pekat. Sambil berjalan pulang, pikiran Kaelan melayang. Dia menatap punggung tangannya sendiri. ‘Mama bilang aku kecelakaan dan hilang ingatan,’ batin Kaelan penuh keraguan. ‘Tapi, apakah kecelakaan bisa membuat orang punya kekuatan seperti ini?’ Kaelan menggelengkan kepalanya pelan. Terlalu banyak pertanyaan, tidak ada jawaban. Setelah berjalan cukup jauh hingga bayangan Gudang Mayat tak lagi terlihat, Kaelan berhenti di persimpangan jalan desa. Dia menoleh ke arah Brad. “Brad, uang kas di kamu, kan?” tanya Kaelan. Brad menepuk saku celananya dengan bangga. “Aman, Bos. Terjaga jiwa dan raga.” “Keluarkan dua puluh dolar. Ada tugas terakhir buat kamu hari ini,” perintah Kaelan. Lalu dia menatap Brad tajam, “Keluarkan lagi lima belas dolar tunai. Kasih ke aku sekarang, dan no debat yang lima belas dolar ini.” Brad merogoh saku, mengeluarkan selembar uang dua puluh dolar yang sudah agak lecek. Lalu menyerahkan yang lima belas dolar pada Kaelan. Brad menatap uang di tangannya. “Buat apaan, Bos? Kita mau nyewa taksi? Kan deket rumah.” “Bukan,” Kaelan menunjuk ke arah toko kelontong di ujung jalan. “Kamu mampir ke toko itu. Beli soda kue, cuka dapur botol kecil, sama sikat gigi paling murah.” Brad melongo, menatap uang di tangannya lalu menatap Kaelan dengan wajah bingung maksimal. “Soda kue? Cuka? Bos mau bikin kue apa gimana? Kita kan abis mulung besi tua, kenapa belanjanya kayak ibu-ibu mau masak?” protes Brad. Otaknya yang pas-pasan tidak bisa menghubungkan antara besi karatan dengan bahan kue. “Banyak tanya, cepat tua,” potong Kaelan santai. “Benda ini kotorannya tebal, sudah kayak daki menahun. Kalau digosok paksa atau diamplas, nanti permukaannya lecet. Kalau lecet, harganya jatuh, nggak laku dijual.” “Tempat minum kuda diperlakukan seperti harta Karun, aneh,” gumam Brad pelan. Kaelan menatap Brad lekat-lekat, memastikan anak itu paham perintah sederhananya. “Barang ini harus dimandiin pelan-pelan biar dakinya rontok sendiri. Makanya butuh cuka sama soda kue. Paham?” Brad mengangguk-angguk, meski ekspresinya masih terlihat setengah paham setengah tidak. “Ooh, jadi kayak ngerendem baju kotor gitu ya, Bos?” “Ya, anggap saja begitu,” jawab Kaelan, malas menjelaskan lebih detail. “Sudah, sana beli. Sisanya ambil saja buat kamu beli burger sama kentang goreng.” Mata Brad langsung berbinar mendengar kata 'sisanya'. “Nah, ini baru Bos idaman! Siap laksanakan! Duit sisa adalah hak asasi pengawal!” seru Brad girang. Tanpa banyak protes lagi, Brad langsung berlari kecil menuju toko kelontong, semangat 45 demi jajan gratis. Tidak lama Brad kembali, dia menyerahkan barang belanjaan kepada Kaelan.“Ma, Kael pulang.” “Eh, anak Mama sudah pulang,” Evelyn tersenyum lembut, menyambutnya di ambang pintu. “Gimana hari terakhir ujiannya? Lancar?” Kaelan seketika mengubah ekspresinya. Wajah dingin dan penuh perhitungan yang tadi ia tunjukkan pada Brad lenyap tak berbekas. Di depan wanita ini, dia hanyalah Kael, bocah yang manja. “Lancar dong, Ma. Soalnya gampang banget, kayak soal anak TK,” canda Kaelan sambil menyalami tangan ibunya. “Besok libur kan, Ma? Kael mau tidur seharian boleh ya?” Evelyn tertawa kecil sambil mengusap kepala Kael dengan lembut. “Boleh, sayang. Kamu pasti capek habis ujian. Ya sudah, ayo makan dulu. Mama masak sup sayur kesukaanmu.” “Wah, asyik! Kael laper banget, Ma.” Kaelan masuk ke rumah, namun tangan kirinya mendekap tas sekolah dengan erat dan hati-hati. Dia beralasan ingin langsung menaruh tas di kamar agar tidak berantakan. Evelyn yang melihat tingkah anaknya hanya tersenyum maklum, mengira Kaelan sudah semakin mandiri dan rapi. *** Malam pun tib
Saat mereka melangkah masuk ke dalam aula utama gudang, udara terasa berubah drastis. Suhu turun mendadak. Bukan dinginnya AC, tapi dingin yang menusuk tulang. Bau apek bercampur aroma aneh memenuhi hidung Kaelan. “Bos, kok berat banget ya napasnya?” bisik Brad. Kaelan tidak menjawab. Dia juga merasakannya. Dadanya terasa sesak, seolah ada batu besar yang menimpa paru-parunya. Kepalanya mulai berdenyut sakit. ‘Reaksi ini lagi,’ batin Kaelan. ‘Kepalaku sakit.” Tekanan di ruangan itu semakin kuat. Bagi manusia biasa, ini adalah hawa murni ketakutan. Tapi bagi tubuh Kaelan yang menyimpan Tulang Dewa Kuno, meski pemiliknya tidak sadar, tekanan energi kotor ini adalah sebuah provokasi. Tiba-tiba, pandangan Kaelan mengabur. Dia tidak melakukan apa-apa. Dia tidak merapal mantra. Tapi tubuhnya bereaksi sendiri untuk menolak tekanan itu. Tulang belakangnya terasa panas membara. Detak jantungnya berpacu liar. DUG. Dunia di sekitar Kaelan berputar. Gudang yang gelap dan berdebu itu len
Pagi itu, Desa Ashvale bukan cuma diselimuti kabut, tapi juga gosip yang panasnya ngalahin gorengan baru diangkat. Berita soal tiga penculik yang ditemukan terikat di pohon pinus nyebar lebih cepet daripada grup WhatsApp ibu-ibu PKK.Di warung sarapan Mrs. Martha, antrean bubar bukan karena habis, tapi karena orang-orang sibuk ngerumpi. Di pos ronda, bapak-bapak yang biasanya cuma ngomongin burung kicau, sekarang pasang muka serius.“Sumpah, Mr. Arthur! Saya lihat sendiri pas mau ke ladang,” seru salah satu warga sambil memperagakan gerakan tangan patah. “Itu tulang punggungnya kayak kerupuk diremes. Remuk di dalam, tapi kulit luarnya mulus! Nggak ada memar sama sekali! Aneh banget, kan?”“Ah, masa sih? Jangan-jangan dipukulin pakai benda tumpul yang dilapisi kain?” timpal warga lain yang penasaran.“Bukan, Tuan! Yang lebih gila tuh yang satu lagi,” suara warga itu memelan, tangannya refleks menutupi bagian bawah perutnya sendiri. “Itu… masa depan-nya pecah, Pak. Hancur! Katanya pas d
Begitu wanita itu melihat sosok Kaelan mendekat dalam keadaan wajah tertutup, tubuhnya langsung menegang. Ketakutannya semakin menjadi. Walaupun dalam remang-remang ia melihat putranya berada di punggung Kaelan, wanita itu tetap mengira Kaelan adalah bagian dari penculik, atau orang yang akan menghabisinya. “Huuu… huuuuu…” suara wanita itu tidak jelas karena lakban hitam menutup mulutnya. Matanya berkedip cepat, air mata terus mengalir tanpa henti. Kaelan berhenti pada jarak aman, tidak terburu-buru. Ia menjaga nada suaranya tetap tenang, tidak meninggi, agar wanita itu bisa menangkap maksudnya. “Jangan takut, aku bukan orang jahat,” ucap Kaelan pelan. “Anak Nyonya baik-baik saja. Dia hanya pingsan. Aku berhasil menyelamatkannya.” Wanita itu menatapnya tak berkedip, seolah masih berusaha memahami, masih ragu mempercayai. Kaelan melanjutkan, menahan diri agar tidak membuat wanita itu semakin takut. “Tapi setelah Nyonya kembali, tolong lapor Mr. Arthur selaku kepala lingkungan. Ket
Ketiga penculik itu berjalan menyusuri jalan setapak dengan langkah santai, tawa mereka pecah tanpa sedikit pun rasa waspada. “Hahaha, kita mendapatkan satu lagi. Jika dalam satu hari kita bisa mendapatkan lima atau enam anak, kita bisa cepat kaya,” ucap salah satu penculik dengan nada puas, bahunya terangkat ringan seolah beban di punggungnya bukanlah seorang anak kecil. “Benar, tapi sekarang kita harus bergegas. Jam enam pagi sudah banyak razia. Jangan sampai kita kesiangan menuju markas,” sambung yang lain, langkahnya sedikit dipercepat. Mereka terus bergerak hingga tiba di tepi sungai yang dangkal, penuh bebatuan licin dan aliran air yang dingin. Saat itulah, sebuah suara tegas memecah keheningan. “Berhenti!” Ketiganya sontak menoleh hampir bersamaan. Senter di tangan mereka terangkat, cahaya putih menyapu sekeliling hingga akhirnya berhenti di satu titik. Di sana berdiri seorang remaja, tubuhnya tegap, pandangannya lurus ke arah mereka. Namun begitu melihat siapa yang berte
“Mr. Joe,” panggil Kaelan yang sudah berdiri sigap di depan bengkel. Mr. Joe menoleh, sedikit terkejut melihat anak yang biasanya jadi bahan gunjingan itu ada di bengkelnya. “Eh, bukannya kamu anak haram yang pindah dari kota itu kan?” Kaelan tidak peduli dengan image yang orang kenal, dia akan mengubah panggilan hina itu secepat mungkin. “Ada apa? Mau isi angin sepeda? Tapi kan kamu tidak punya sepeda. Kan kamu anak miskin yang sok kota.” Brad dan dua temannya hanya saling melirik. Sementara Kaelan, dia masih santai. Ejekan itu sama sekali tidak mengusiknya. “Saya memang tidak punya sepeda, Tuan. Makanya saya tidak bilang kalau isi angin,” balas Kaelan. “Saya lihat karburator bekas itu ada di sana. Boleh saya beli buat mainan? Kebetulan saya dan Brad lagi butuh besi-besian buat tugas kerajinan tangan.” Mr. Joe mulai heran, dan seperkian detik dia melirik tumpukan sampah itu lalu tertawa. “Oalah, kirain apa. Ambil saja, sekalian sedekah sama anak yang tidak punya bapak. La







