Compartir

Chapter 10

Autor: Rik_Da
last update Fecha de publicación: 2026-09-04 21:53:44

“Ma, Kael pulang.”

“Eh, anak Mama sudah pulang,” Evelyn tersenyum lembut, menyambutnya di ambang pintu. “Gimana hari terakhir ujiannya? Lancar?”

Kaelan seketika mengubah ekspresinya. Wajah dingin dan penuh perhitungan yang tadi ia tunjukkan pada Brad lenyap tak berbekas. Di depan wanita ini, dia hanyalah Kael, bocah yang manja.

“Lancar dong, Ma. Soalnya gampang banget, kayak soal anak TK,” canda Kaelan sambil menyalami tangan ibunya. “Besok libur kan, Ma? Kael mau tidur seharian boleh ya?”

Evelyn tertawa kecil sambil mengusap kepala Kael dengan lembut. “Boleh, sayang. Kamu pasti capek habis ujian. Ya sudah, ayo makan dulu. Mama masak sup sayur kesukaanmu.”

“Wah, asyik! Kael laper banget, Ma.”

Kaelan masuk ke rumah, namun tangan kirinya mendekap tas sekolah dengan erat dan hati-hati. Dia beralasan ingin langsung menaruh tas di kamar agar tidak berantakan. Evelyn yang melihat tingkah anaknya hanya tersenyum maklum, mengira Kaelan sudah semakin mandiri dan rapi.

***

Malam pun tiba, suara jangkrik mulai bersahutan di Desa Ashvale. Setelah memastikan ibunya benar-benar terlelap karena kelelahan, Kaelan mengunci pintu kamarnya.

Dia duduk di meja belajar. Di hadapannya kini berjejer "senjata" pembersih yang tadi dibeli Brad: soda kue, cuka dapur, dan sikat gigi murah.

Kaelan mengeluarkan cawan kotor itu dari tas. Di bawah cahaya lampu bohlam kuning yang remang, benda itu tampak menyedihkan. Hitam, berkerak, dan bau tanah.

“Mari kita lihat, apakah instingku benar,” gumam Kaelan.

Dia menaburkan soda kue hingga menutupi seluruh permukaan cawan, lalu menyiramnya perlahan dengan cuka.

CESS...

Buih putih meluap mendesis. Kaelan membiarkannya bereaksi selama lima belas menit, membiarkan larutan itu memakan kotoran yang sudah membatu puluhan bahkan mungkin ratusan tahun.

Setelah buih mereda, dia mulai menyikat.

Gosokan demi gosokan dia lakukan dengan telaten. Air di baskom berubah keruh hitam pekat. Namun, senyum Kaelan perlahan mengembang.

Di balik lumpur hitam yang rontok, kilau kuning mulai memancar.

Itu bukan warna kuning pucat kuningan, bukan pula warna cat semprot. Itu adalah kuning pekat yang dalam, berkilau hangat, dan memancarkan aura kemewahan yang tak bisa dipalsukan.

Emas.

Satu jam kemudian, cawan itu sudah bersih total. Kaelan mengangkatnya tinggi-tinggi di bawah lampu. Ukiran naga kecil di gagang cawan itu terlihat sangat detail. Emas murni yang mungkin berasal dari era kerajaan masa lalu, yang kemudian jatuh ke tangan pria bengis sesat, dan kini, ada di tangannya.

“Cantik, ini harusnya bisa laku mahal.”

***

Fajar belum benar-benar menyingsing di Desa Ashvale. Langit masih berwarna biru gelap keabuan.

Di dalam kamarnya, Kaelan bergerak tanpa suara. Dia menyusun bantal guling di balik selimut, membentuk gundukan yang menyerupai tubuh manusia yang sedang tertidur pulas. Ini adalah trik klasik, tapi cukup untuk mengelabui Evelyn jika ibunya itu mengintip dari celah pintu.

“Maaf, Ma. Kael harus pergi sebentar,” bisiknya pelan.

Dengan hati-hati, Kaelan membuka grendel jendela. Dia menyelinap keluar seperti kucing, kakinya mendarat di tanah basah tanpa menimbulkan bunyi. Tas sekolahnya tersandang erat di punggung, berisi cawan emas yang kini terbungkus kain lap tebal.

Dia tidak berjalan ke arah pasar desa. Kaelan tahu, menjual emas murni berbentuk cawan kuno di toko emas pasar desa adalah tindakan bunuh diri. Orang-orang akan heboh, polisi akan datang, dan dia akan dituduh mencuri. Dia butuh tempat yang menghargai nilai sejarah dan kerahasiaan.

Dia butuh pergi ke ibu kota kabupaten.

Kaelan berjalan cepat menuju stasiun kereta utama di perbatasan desa. Di sana, kereta tua yang mesinnya sudah menderu sedang bersiap berangkat menuju kota.

Kaelan naik dan duduk di pojok paling belakang. Dia menarik topi lusuh yang dipakainya hingga menutupi sebagian wajah, menghindari tatapan ingin tahu para penumpang. Perjalanan memakan waktu satu jam lebih, dan sepanjang jalan Kaelan hanya diam, membiarkan tubuhnya terguncang gerbong kereta yang tua sementara pikirannya fokus menyusun strategi.

Kota kabupaten sudah ramai saat Kaelan turun dari kereta. Gedung-gedung ruko berjejer, klakson kendaraan bersahutan, dan asap knalpot memenuhi udara. Berbeda jauh dengan udara segar di Ashvale.

Kaelan berjalan menyusuri trotoar kawasan pecinan lama. Matanya memindai papan nama toko satu per satu hingga berhenti pada sebuah papan nama kayu jati dengan tulisan tinta emas yang mulai pudar namun tetap gagah:

“TOKO BARANG ANTIK KOH LIONG”

Toko itu tidak terlihat mentereng dari luar, justru terkesan kuno dan tertutup. Tapi Kaelan tahu, toko antik yang asli tidak butuh etalase mencolok.

Kaelan mendorong pintu kaca yang berat.

Kring.

Lonceng kecil di atas pintu berbunyi. Aroma hio yang menenangkan langsung menyambutnya. Di dalam, toko itu sunyi, dipenuhi rak-rak kaca berisi keramik tua, patung kayu, dan lukisan kuno.

Di balik meja kasir yang tinggi, seorang pria paruh baya berkacamata tebal sedang asyik membaca koran sambil menyesap teh. Rambutnya sudah memutih sebagian, namun sorot matanya di balik lensa kacamata terlihat tajam dan jernih. Itu adalah Koh Liong.

Koh Liong menurunkan korannya sedikit saat melihat siapa yang masuk. Keningnya berkerut melihat seorang bocah berpakaian lusuh masuk ke tokonya pagi-pagi buta.

“Mau cari apa, Tong? Mainan robot-robotan ada di toko sebelah, bukan di sini,” ucap Koh Liong ramah, tapi nada mengusir halus tersirat jelas.

Kaelan tidak menjawab dengan cengiran atau gugup layaknya anak kecil yang salah masuk toko. Dia berjalan tegap menuju meja kasir.

“Saya tidak mencari mainan,” suara Kaelan tenang, datar, dan berat. Itu bukan intonasi anak kecil yang merengek, melainkan intonasi orang dewasa yang hendak bernegosiasi. “Saya ingin menawarkan barang.”

Koh Liong meletakkan korannya sepenuhnya. Dia menatap Kaelan dari ujung kaki ke ujung kepala. Pakaian kampung, sepatu kets yang solnya sudah tipis. Tapi tatapan mata anak ini, tatapan itu membuatnya tidak nyaman. Itu bukan tatapan bocah yang mau menjual besi kiloan. Ada sorot wibawa yang sulit dijelaskan.

“Saya pedagang jujur, Tong. Saya tidak beli barang curian. Kalau kamu ambil cincin ibumu, mending pulang sekarang,” tegur Koh Liong tegas.

Kaelan tersenyum tipis, sangat tipis.

“Ini bukan barang curian. Ini barang temuan yang sudah terkubur puluhan tahun. Saya pemilik sahnya sekarang.”

Kaelan meletakkan tasnya di atas meja kaca. Dia tidak membukanya lebar-lebar. Dia hanya membuka resleting sedikit, lalu menyibakkan kain lap di dalamnya, membiarkan cahaya lampu toko menyinari isi tasnya.

Hanya dua detik.

Cukup bagi Koh Liong untuk melihat kilau kuning pekat dan ukiran naga di bibir cawan itu.

Mata Koh Liong membelalak lebar. Napasnya tercekat. Teh di cangkirnya nyaris tumpah karena tangannya tersentak. Sebagai ahli barang antik selama puluhan tahun, dia tahu persis apa yang baru saja dia lihat.

Koh Liong langsung berdiri, menengok cepat ke arah pintu depan dan jendela, memastikan tidak ada orang lain yang mengintip.

“Tutup pintunya, kunci. Ikut saya ke ruangan belakang,” suara Koh Liong berubah serius, rendah, dan mendesak. Tidak ada lagi nada meremehkan.

Kaelan mengangguk pelan. Dia mengikuti instruksi itu tanpa bantahan.

Mereka masuk ke sebuah ruangan privat di belakang toko. Ruangan itu lebih dingin, ber-AC, dengan sebuah meja kayu jati besar di tengahnya dan lampu sorot khusus untuk meneliti barang.

“Duduk,” Koh Liong mempersilakan, suaranya kini terdengar sangat hormat.

Kaelan duduk dengan tenang. Dia mengeluarkan cawan emas itu dari tas dan meletakkannya di atas meja, tepat di bawah sorot lampu.

Kini, cawan itu terlihat dalam segala kemegahannya. Kilauan emasnya seolah menyedot cahaya di ruangan itu, memancarkan aura magis yang membuat bulu kuduk berdiri.

Koh Liong mengenakan sarung tangan kain putih dan mengambil kaca pembesar. Tangannya sedikit gemetar saat menyentuh permukaan cawan itu. Dia menelitinya inci demi inci, menahan napasnya berkali-kali.

Hening. Hanya suara detak jam dinding yang terdengar.

Sepuluh menit berlalu. Koh Liong melepaskan kaca pembesarnya. Dia melepas kacamata, mengelap keringat di dahinya, lalu menatap Kaelan dengan pandangan tak percaya.

“Luar biasa,” desis Koh Liong. “Ini emas murni 24 karat. Teknik tempaan tangan kuno, sangat halus. Motif naga laut dan bunga teratai hitam, ini adalah ciri khas Kerajaan Linggapura Purba. Kerajaan yang hilang ribuan tahun lalu di tanah Nusantara.”

Koh Liong menatap Kaelan tajam. “Benda ini seharusnya ada di museum nasional, atau di brankas kolektor triliuner. Bukan di tas sekolah anak seusiamu.”

“Barang itu memilih pemiliknya, Koh,” jawab Kaelan diplomatis. “Saya rasa Koh Liong tahu nilainya.”

Koh Liong mengangguk pelan. “Saya pedagang lurus. Saya tidak akan menipu anak kecil, apalagi dengan barang seberbahaya ini. Jika kamu jual ini di pasar gelap, kamu bisa mati dibunuh preman. Tapi di sini, kamu aman.”

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Tulang Dewa Kuno di Tubuh Pangeran   Chapter 10

    “Ma, Kael pulang.” “Eh, anak Mama sudah pulang,” Evelyn tersenyum lembut, menyambutnya di ambang pintu. “Gimana hari terakhir ujiannya? Lancar?” Kaelan seketika mengubah ekspresinya. Wajah dingin dan penuh perhitungan yang tadi ia tunjukkan pada Brad lenyap tak berbekas. Di depan wanita ini, dia hanyalah Kael, bocah yang manja. “Lancar dong, Ma. Soalnya gampang banget, kayak soal anak TK,” canda Kaelan sambil menyalami tangan ibunya. “Besok libur kan, Ma? Kael mau tidur seharian boleh ya?” Evelyn tertawa kecil sambil mengusap kepala Kael dengan lembut. “Boleh, sayang. Kamu pasti capek habis ujian. Ya sudah, ayo makan dulu. Mama masak sup sayur kesukaanmu.” “Wah, asyik! Kael laper banget, Ma.” Kaelan masuk ke rumah, namun tangan kirinya mendekap tas sekolah dengan erat dan hati-hati. Dia beralasan ingin langsung menaruh tas di kamar agar tidak berantakan. Evelyn yang melihat tingkah anaknya hanya tersenyum maklum, mengira Kaelan sudah semakin mandiri dan rapi. *** Malam pun tib

  • Tulang Dewa Kuno di Tubuh Pangeran   Chapter 9

    Saat mereka melangkah masuk ke dalam aula utama gudang, udara terasa berubah drastis. Suhu turun mendadak. Bukan dinginnya AC, tapi dingin yang menusuk tulang. Bau apek bercampur aroma aneh memenuhi hidung Kaelan. “Bos, kok berat banget ya napasnya?” bisik Brad. Kaelan tidak menjawab. Dia juga merasakannya. Dadanya terasa sesak, seolah ada batu besar yang menimpa paru-parunya. Kepalanya mulai berdenyut sakit. ‘Reaksi ini lagi,’ batin Kaelan. ‘Kepalaku sakit.” Tekanan di ruangan itu semakin kuat. Bagi manusia biasa, ini adalah hawa murni ketakutan. Tapi bagi tubuh Kaelan yang menyimpan Tulang Dewa Kuno, meski pemiliknya tidak sadar, tekanan energi kotor ini adalah sebuah provokasi. Tiba-tiba, pandangan Kaelan mengabur. Dia tidak melakukan apa-apa. Dia tidak merapal mantra. Tapi tubuhnya bereaksi sendiri untuk menolak tekanan itu. Tulang belakangnya terasa panas membara. Detak jantungnya berpacu liar. DUG. Dunia di sekitar Kaelan berputar. Gudang yang gelap dan berdebu itu len

  • Tulang Dewa Kuno di Tubuh Pangeran   Chapter 8

    Pagi itu, Desa Ashvale bukan cuma diselimuti kabut, tapi juga gosip yang panasnya ngalahin gorengan baru diangkat. Berita soal tiga penculik yang ditemukan terikat di pohon pinus nyebar lebih cepet daripada grup WhatsApp ibu-ibu PKK.Di warung sarapan Mrs. Martha, antrean bubar bukan karena habis, tapi karena orang-orang sibuk ngerumpi. Di pos ronda, bapak-bapak yang biasanya cuma ngomongin burung kicau, sekarang pasang muka serius.“Sumpah, Mr. Arthur! Saya lihat sendiri pas mau ke ladang,” seru salah satu warga sambil memperagakan gerakan tangan patah. “Itu tulang punggungnya kayak kerupuk diremes. Remuk di dalam, tapi kulit luarnya mulus! Nggak ada memar sama sekali! Aneh banget, kan?”“Ah, masa sih? Jangan-jangan dipukulin pakai benda tumpul yang dilapisi kain?” timpal warga lain yang penasaran.“Bukan, Tuan! Yang lebih gila tuh yang satu lagi,” suara warga itu memelan, tangannya refleks menutupi bagian bawah perutnya sendiri. “Itu… masa depan-nya pecah, Pak. Hancur! Katanya pas d

  • Tulang Dewa Kuno di Tubuh Pangeran   Chapter 7

    Begitu wanita itu melihat sosok Kaelan mendekat dalam keadaan wajah tertutup, tubuhnya langsung menegang. Ketakutannya semakin menjadi. Walaupun dalam remang-remang ia melihat putranya berada di punggung Kaelan, wanita itu tetap mengira Kaelan adalah bagian dari penculik, atau orang yang akan menghabisinya. “Huuu… huuuuu…” suara wanita itu tidak jelas karena lakban hitam menutup mulutnya. Matanya berkedip cepat, air mata terus mengalir tanpa henti. Kaelan berhenti pada jarak aman, tidak terburu-buru. Ia menjaga nada suaranya tetap tenang, tidak meninggi, agar wanita itu bisa menangkap maksudnya. “Jangan takut, aku bukan orang jahat,” ucap Kaelan pelan. “Anak Nyonya baik-baik saja. Dia hanya pingsan. Aku berhasil menyelamatkannya.” Wanita itu menatapnya tak berkedip, seolah masih berusaha memahami, masih ragu mempercayai. Kaelan melanjutkan, menahan diri agar tidak membuat wanita itu semakin takut. “Tapi setelah Nyonya kembali, tolong lapor Mr. Arthur selaku kepala lingkungan. Ket

  • Tulang Dewa Kuno di Tubuh Pangeran   Chapter 6

    Ketiga penculik itu berjalan menyusuri jalan setapak dengan langkah santai, tawa mereka pecah tanpa sedikit pun rasa waspada. “Hahaha, kita mendapatkan satu lagi. Jika dalam satu hari kita bisa mendapatkan lima atau enam anak, kita bisa cepat kaya,” ucap salah satu penculik dengan nada puas, bahunya terangkat ringan seolah beban di punggungnya bukanlah seorang anak kecil. “Benar, tapi sekarang kita harus bergegas. Jam enam pagi sudah banyak razia. Jangan sampai kita kesiangan menuju markas,” sambung yang lain, langkahnya sedikit dipercepat. Mereka terus bergerak hingga tiba di tepi sungai yang dangkal, penuh bebatuan licin dan aliran air yang dingin. Saat itulah, sebuah suara tegas memecah keheningan. “Berhenti!” Ketiganya sontak menoleh hampir bersamaan. Senter di tangan mereka terangkat, cahaya putih menyapu sekeliling hingga akhirnya berhenti di satu titik. Di sana berdiri seorang remaja, tubuhnya tegap, pandangannya lurus ke arah mereka. Namun begitu melihat siapa yang berte

  • Tulang Dewa Kuno di Tubuh Pangeran   Chapter 5

    “Mr. Joe,” panggil Kaelan yang sudah berdiri sigap di depan bengkel. Mr. Joe menoleh, sedikit terkejut melihat anak yang biasanya jadi bahan gunjingan itu ada di bengkelnya. “Eh, bukannya kamu anak haram yang pindah dari kota itu kan?” Kaelan tidak peduli dengan image yang orang kenal, dia akan mengubah panggilan hina itu secepat mungkin. “Ada apa? Mau isi angin sepeda? Tapi kan kamu tidak punya sepeda. Kan kamu anak miskin yang sok kota.” Brad dan dua temannya hanya saling melirik. Sementara Kaelan, dia masih santai. Ejekan itu sama sekali tidak mengusiknya. “Saya memang tidak punya sepeda, Tuan. Makanya saya tidak bilang kalau isi angin,” balas Kaelan. “Saya lihat karburator bekas itu ada di sana. Boleh saya beli buat mainan? Kebetulan saya dan Brad lagi butuh besi-besian buat tugas kerajinan tangan.” Mr. Joe mulai heran, dan seperkian detik dia melirik tumpukan sampah itu lalu tertawa. “Oalah, kirain apa. Ambil saja, sekalian sedekah sama anak yang tidak punya bapak. La

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status