LOGINAmanda melirik sekilas ke arah gawai miliknya yang berdeting, dia hanya membaca notif yang tertera di layar tanpa ada niatan membuka. Ia mengalihkan pandangan menatap Angga yang duduk sedikit menjauh. Pria itu fokus pada layar laptop dipangkuan, mengerjakan tugas kantor yang belum usai. Ia terduduk gusar ketika gawainya terus berdenting karena lupa mengubah mode jadi sunyi. Yuda terus mengiriminya pesan, karena tak kunjung dibalas.
Angga mendengkus dengan tatapan masih lurus ke layar laptop. Namun, ia sudah tak sabar lagi, ketika gawai milik Amanda berulangkali berdenting, dan si empunya enggan memeriksa benda itu. Angga menutup laptopnya dengan kasar, meletakkannya ke atas meja. Meraih gawai dan melemparkan ke atas pangkuan yang punya. Amanda terkesiap dengan tindakan itu. Suaminya sedang sangat marah sekarang.
"Kenapa? Mau marah, iya? Gawaimu berisik, masih untung nggak aku lempar ke lantai," pungkas Angga setelah melihat Amanda hendak protes, wanita itu membisu. Membuka aplikasi berwarna hijau dan mulai membaca pesan dari Yuda.
[Malam, Amanda.]
[Sibuk, ya?]
[Aku mau bicara, boleh?]
[Maaf, ganggu!]
[Aku menunggu balasan, Amanda.]
Amanda mengembuskan napas pelan. Menggerakkan jarinya di atas layar gawai dan mulai mengetik balasan untuk Yuda.
[Ada apa, Yud?]
[Nggak pa-pa. Cuma mau tahu kabar kamu aja.]
[Oh.]
[Besok weekend, kamu sibuk, nggak?]
[Kenapa?]
Bertukar pesan pun terus berlangsung hingga larut malam. Hiburan yang Yuda berikan sedikit mampu menghilangkan kesedihannya. Ia beruntung memiliki sahabat seperti Yuda yang selalu ada setiap saat. Seperti malam-malam sebelumnya, mereka masih tidur terpisah. Amanda di kamar dan Angga di ruang tengah. Angga memasuki kamar untuk mengambil bantal dan selimut, tetapi urung ketika tangannya di cekal Amanda.
"Malam ini saja, kita tidur satu ranjang. Nggak pa-pa, 'kan, Ga?" Untuk pertama kalinya setelah Lima bulan menikah, Amanda meminta untuk tidur satu ranjang. Ia memberanikan diri dan menyiapkan mental, jikalau Angga menolaknya untuk kesekian kali.
Angga mendengkus kasar, menatap Amanda dengan tajam. "Jangan mimpi, kamu! Sampai kapan pun, aku nggak sudi tidur satu ranjang sama kamu. Jangan terlalu berharap lebih, Amanda. Ingat! Pernikahan ini terjadi karena apa?"
"Sekali saja, Ga. Terima aku jadi istri," pintanya menatap wajah Angga penuh harap.
"Buang harapanmu itu karena sampai kapan pun kita akan seperti ini. Ingat, Amanda!" tegas Angga dan segera meninggalkan Amanda seorang diri.
***
Pernikahan yang dirasa sempurna ternyata jauh dari kata itu. Sikap Angga masih sama, dingin dan kasar, meskipun tidak kasar secara fisik. Namun, ucapannya selalu menyakitkan hati. Demi memenuhi janji kepada almarhumah Rania, Amanda bertahan sampai sejauh ini. Selalu berdoa supaya memiliki kesabaran ekstra demi mendapatkan haknya sebagai istri. Amanda duduk santai di ruang tengah, menatap sekeliling dan mendapati potret Nessa masih di tempat semula. Angga begitu mencintai wanita itu. Bernessa Arundati, adik Amanda sendiri.
***
Amanda terduduk lemas di atas lantai. Beberapa menit lagi acara dimulai, tetapi yang ia temukan hanyalah sepucuk surat dan kebaya putih di atas ranjang. Bingung harus berbuat apa sehingga suara Rania membuatnya semakin ketakutan. Ia menyerahkan sepucuk surat itu tanpa berkata. Rania terbelalak, memegang dada karena terkejut, tak lama orang tua mempelai pria datang. Dewi begitu terkejut membaca isi surat itu. Calon menantunya pergi dan meminta Amanda yang menggantikan posisi itu.
***
Amanda mendesah pelan, bayangan lima bulan lalu mulai hadir. Awal mula pernikahan itu terjadi. "Aku memang mencintainya, Nessa. Namun, bukan ini yang kuinginkan. Kenapa kamu selalu beruntung, Ssa? Bahkan, Angga saja nggak sudi menghargai statusku apalagi memberikan sedikit cintanya. Kenapa kamu menyiksaku seperti ini, apa salahku padamu? Kenapa juga kamu harus pergi." Amanda menatap nanar potret Nessa yang tersenyum manis.
"Jangan berpura-pura lagi, aku tahu dia pergi karena kamu."
Amanda terkesiap, lalu menoleh ke belakang dan mendapati Angga yang berdiri di anak tangga paling atas. "Kamu ... dengar semuanya?" Amanda ketakutan bila Angga mendengar ungkapan hatinya. Ia tak sanggup kalau ....
"Ya, setidaknya aku mendengar kamu menyalahkan Nessa atas semua ini. Ini salahmu sendiri, kenapa menerima."
Amanda mendesah lega, karena Angga tak mendengar semuanya. Ia masih beruntung pun belum siap bila pria itu mengetahui perasaannya.
Angga berdecih ketika Amanda hanya terdiam dan menunduk. Ia sudah menduga wanita lemah itu tak lama lagi pasti akan menangis.
"Dasar cengeng! Kamu nggak lelah terus menangis seperti itu," ejek Angga membuat Amanda mendongak. Matanya berkaca-kaca bersiap menumpahkan sesuatu yang sudah terbendung.
"Angga yang kukenal nggak kasar seperti ini," lontar Amanda ketika mengingat sifat lembut pria itu---dulu sebelum menjadi suaminya.
"Aku berubah karena kamu. Andai saja kamu menolak, aku pasti sudah menemukan Nessa, membawa dan segera menikahinya." Masih di tempat, Angga menatap Amanda tajam, pandangan benci dan tak suka kepada istrinya itu. "Akan tetapi, semuanya gagal gara-gara kamu!" tuduhnya untuk kesekian kali.
Amanda menunduk lagi dan meminta Angga untuk mencari Nessa. Meskipun dengan hati ngilu ia berusaha berkata demikian, seolah tak apa bila Angga akan pergi dan pastinya akan meninggalkan ia bila telah menemukan Nessa.
Angga tertawa, bila saja ia mampu sudah dari dulu melakukannya. Sejak Amanda menjadi istrinya, Feri selalu mengawasi gerak-gerik pria itu dari jauh. Tak ingin Angga membuat kesalahan dengan meninggalkan Amanda dan mulai mencari Nessa.
"Jangan pernah sekali pun menyalahkan Nessa atas apa yang kamu alami. Itu semua salahmu sendiri. Ingat itu, Amanda!"
***
"Berjanji kepada bunda, sesulit apa pun ujiannya jangan sampai mengucapkan kata yang Allah benci," pinta wanita paruh baya yang terbaring tak berdaya dengan beberapa alat bantu terpasang di sekujur tubuh.
"Berjanjilah, Amanda!"
Amanda yang sedari tadi menunduk kini mendongak. Menatap sendu wajah Rania dengan alat bantu pernapasan terpasang di hidung.
"Bunda mohon! Tetap bertahan. Angga pasti akan menerimamu dalam hidupnya." Amanda hanya membisu dengan derai air mata. Meski tak bicara Rania sudah tahu kejadiannya akan seperti ini. Ia tahu benar siapa yang Angga inginkan menjadi pendamping hidupnya.
Amanda mendesah pelan, janji kepada sang ibunda membuatnya bertahan dengan sikap buruk Angga. Ia mencintai pria itu. Rela terluka supaya bisa mendapatkan hatinya nanti.
***
Mencintai dalam diam dan seorang diri bukan hal yang mudah. Namun, Amanda masih bertahan sampai saat ini. Baginya memiliki status istri Angga sudah cukup membuat bahagia meski belum diakui oleh pria itu. Ia tersenyum lebar menatap foto pernikahan mereka walau tanpa senyum ikhlas di bibir Angga. Amanda bahagia, setidaknya impian menikah dengan pria yang dicintai terwujud.
"Besok siap-siap. Kita ke rumah mama." Suara Angga di bibir pintu menyadarkan Amanda dari lamunan singkatnya ketika mengingat pernikahan mereka lima bulan lalu. Ia menoleh dan hanya mengangguk sebagai jawaban. Usai mengatakan itu, Angga kembali ke tempatnya---ruang tengah---untuk beristirahat.
***
"Mama tahu, Angga masih bersikap buruk sama kamu. Maafkan mama, Nak, mama sudah bingung harus menasehatinya seperti apa lagi. Hatinya telah tertutup untuk wanita lain." Dewi menyentuh punggung tangan Amanda di atas pangkuan. Menguatkan wanita itu supaya bersabar menghadapi sikap Angga. Amanda tersenyum, bersikap seolah ia baik-baik saja. Mengatakan bila selama mereka tinggal berdua Angga tak pernah menyakitinya secara fisik.
Dewi hanya menghela napas pelan, ia tahu anaknya tak akan melakukan kekerasan, tetapi cara Angga berucap sudah dipastikan bahwa Amanda tersakiti. "Tetap bersabar, ya, Nak. Mama yakin Angga akan segera berubah. Ia pasti akan sadar betapa berharganya kamu."
"Iya, Ma. Amanda pasti akan bersabar." Amanda mencoba tersenyum, meski jauh dalam hatinya semua itu tidak akan pernah terjadi
Embun masih menggantung di dedaunan. Udara pagi menembus sela jendela, membawa kesejukan yang samar-samar menyinggahi ruang tamu tua itu. Angga masih duduk di kursi dekat jendela, gitar di pangkuan. Di meja, ponselnya tergeletak, layar hitamnya memantulkan wajah yang letih tetapi tenang.Ia baru saja melewati malam yang panjang, tetapi untuk pertama kalinya setelah sekian tahun, tak ada sesak yang membangunkannya di tengah tidur. Di luar, suara langkah mendekat. Pintu berderit pelan. Althan masuk, kali ini tanpa suara keras atau teguran. Ia hanya berdiri sejenak, menatap adiknya dalam diam, lalu berkata,“Gue kira lo masih tidur.”Angga tersenyum kecil. “Udah nggak bisa, Bang. Pagi ini rasanya beda.”Althan mengangguk, lalu berjalan ke arah dapur, menuang dua cangkir kopi. Aroma pahit itu memenuhi udara. Ia menyerahkan satu ke Angga.“Beda gimana?” tanyanya.Angga menatap kopi itu, lalu berkata lirih,“Tadi malam Shadam nelpon. Pertama kalinya dia manggil aku ‘papi’ tanpa ragu.” Ia te
Cahaya matahari menembus tirai lusuh, menyorot debu yang menari di udara.Angga duduk di ruang tamu, masih mengenakan pakaian yang sama seperti semalam. Di depannya, secangkir kopi hitam dingin, dan foto lama Amanda di meja yang tak juga ia singkirkan.Angga masih berada di rumah Rania, dia seolah begitu enggan meninggalkan rumah itu. Pintu depan terbuka. Suara langkah kaki terdengar tergesa di ruang tamu.“Ga?” suara berat itu milik Althan. Tak lama, sosoknya muncul bersama Seffina yang berdiri di belakang dengan ekspresi tegang dan dingin.Angga menoleh sekilas, lalu kembali menatap lantai. “Pagi, Bang.”“Udah pagi, tapi lo belum tidur juga,” sahut Althan pelan, matanya menyapu ruangan. “Masih sama seperti dulu, ya. Rumah ini.”Seffina memeluk diri sendiri, menahan perasaan tak nyaman. “Kenapa kamu ke sini lagi, Ga? Rumah ini cuma bakal ngebuka luka lama. Kamu tahu kan gimana dulu Amanda pergi dari tempat ini?” katanya dingin.Nada suaranya menampar lebih keras dari amarah mana pun.
Cahaya lampu hanya setengah hidup. Bau alkohol memenuhi ruangan, bercampur aroma rokok yang terbakar setengah. Angga duduk di lantai, punggungnya bersandar di sofa, mata merah dan wajah kusut. Botol kosong berserakan di sekelilingnya.Dari dapur, Seffina menatap pemandangan itu dengan rahang mengeras.“Dia lagi mabuk?” suaranya dingin, menusuk. Rasanya ingin sekali dia mengirim Angga bertugas lagi supaya acara mabuk seperti ini tak terulang lagiAlthan yang baru keluar dari kamar, hanya diam sebentar lalu mengangguk pelan. “Iya, Sayang. Dia lagi nggak baik-baik aja.”“Dia kan emang nggak pernah baik-baik aja, Mas,” jawab Seffina tajam. “Dan aku nggak tahu sampai kapan kamu mau terus biarin dia tinggal di sini.”Althan menatap istrinya dengan nada lembut. “Dia adik aku.”“Tapi dia juga orang yang bikin Amanda hampir mati waktu itu!” potong Seffina dengan suara bergetar menahan emosi. Matanya mulai berkaca. “Kamu nggak tahu, Mas. Kamu nggak tahu semuanya. Waktu Amanda nangis di rumah sa
Malam di Rumah Sakit – Ruang Istirahat DokterLampu ruangan remang, hanya suara mesin pendingin dan detak jam dinding yang terdengar.Dae-jung duduk di kursi, masih mengenakan jas dokternya yang sedikit kusut. Di tangannya, selembar foto yang sudah nyaris lusuh foto Amanda dan Angga yang sedang tersenyum di tepi pantai. Dia tak tahu sejak kapan sudah menatap foto itu begitu lama. Hanya ada satu yang ia tahu, rasa perih aneh itu tak mau hilang.Pintu diketuk pelan.“Masuk aja,” ucap Dae-jung tanpa menoleh. Dia segera menyimpan foto lama tersebut ke dalam laci dan mulai fokus dengan pintu yang barusaja diketukLangkah kaki berat terdengar, dan suara yang familiar menyusul dari belakang.“Masih di rumah sakit jam segini?”Dae-jung tersenyum samar. “Kamu tahu sendiri, Angga. Hidup dokter itu nggak pernah punya jam pulang.”Angga tertawa pelan, duduk di kursi seberang tanpa diundang.“Ya, tapi kukira dokter bedah sehebat kamu juga butuh istirahat.”Ada jeda hening di antara mereka. Keduany
Langkah Amanda terasa berat begitu ia meninggalkan kafe itu. Setiap langkah seperti menapaki masa lalu yang enggan benar-benar pergi. Begitu pintu mobil tertutup, ia membiarkan dirinya terdiam lama, tangan menggenggam kuat setir hingga buku jarinya memutih.Matanya terasa panas, tapi ia tahan air mata itu.“Kenapa harus sekarang,” bisiknya lirih, suaranya pecah di ruang sunyi.Ingatan demi ingatan menyerbu, malam ketika ia sendirian di rumah sakit, menggigil di ranjang bersalin tanpa siapa pun di sampingnya. Ia masih ingat jelas suara dokter yang berkata lembut tapi tajam bahwa “Satu bayinya nggak selamat.”Kala itu, dunia Amanda runtuh.Ia menatap bayi kecil yang tak sempat bernapas lama, menggenggam jemari mungilnya yang sudah dingin, lalu mencium keningnya dengan air mata yang tak berhenti mengalir.“Alsava,” bisik Amanda, nama itu keluar dengan napas berat.Satu nama yang ia sembunyikan selama bertahun-tahun. Nama yang bahkan tak pernah ia sebut di depan Shadam.Semenjak hari itu,
Malam itu Angga duduk sendirian di dalam apartemennya. Lampu temaram, meja berantakan dengan botol minum setengah kosong. Ia menatap kosong ke luar jendela, pikiran melayang jauh ke masa lalu."Amanda, seandainya waktu bisa diputar kembali."Angga menutup wajah dengan kedua tangannya. Ingatannya kembali ke hari-hari ketika Nessa jatuh sakit parah. Nessa ... adik angkat Amanda yang dulu begitu ia cintai yang mendadak kembali ke hidupnya dalam keadaan rapuh, tubuh lemah digerogoti penyakit mematikan.Saat itu, tanpa berpikir panjang, Angga meninggalkan segalanya. Ia fokus hanya pada Nessa. Hari-harinya penuh dengan jadwal rumah sakit, pengobatan, dan doa-doa yang ia bisikkan di sisi gadis itu.Di tengah semua itu, Amanda, perempuan yang selalu ada di sisinya, mulai meredup. Senyumnya tak lagi terlihat. Matanya semakin kosong. Angga terlalu buta untuk melihat."Aku sibuk jadi pahlawan buat orang lain tapi gagal jadi pelindungmu, Yang," suaranya pecah di ruangan sepi itu.Angga menelan se
"Aku bener-bener minta maaf sama kamu, aku hampir aja bongkar rahasia itu."Althan menghentikan langkahnya tepat di bibir pintu saat mendengar kalimat ambigu yang keluar dari mulut Seffina. Wanita itu sedang berbicang dengan seseorang yang Althan tidak tahu itu siapa, Seffina terlihat begitu serius d
Tatapannya nanar menatap benda bulat berwarna keemasan di atas meja. Dia menghela napasnya dengan berat dan lagi-lagi tertampar oleh kenyataan bahwa si empunya barang itu sudah lama pergi dan tak lagi peduli dengan benda tersebut. Dia ambil benda itu dan memegangnya dengan jari teluk dan ibu jari, l
Malam yang panjang telah keduanya nikmati seolah tidak akan ada lagi malam berikutnya. Keduanya sama-sama mencari kepuasan dunia yang selama satu bulan lebih tak mereka dapatkan. Ungkapan cinta terus terucap dari bibir Fara dan jawaban Yuda seolah tidak nyambung. Pria itu masih sedikit malu walau ha
"Sudah, sana! Kamu ngapain masih di situ?" "Tunggu kamu masuk, baru aku pergi." "Mas," tegur gadis cantik kepada kekasihnya yang masih menunggunya di depan kafe. "Iya, Sayang. Mau ambil cuti hari ini?" tanyanya dengan binar bahagia. "Cepat berangkat! Kamu







