Home / Romansa / Tumbal Pernikahan / Part 05 – Tetap Bersabar

Share

Part 05 – Tetap Bersabar

last update Last Updated: 2022-02-23 20:27:27

Amanda melirik sekilas ke arah gawai miliknya yang berdeting, dia hanya membaca notif yang tertera di layar tanpa ada niatan membuka. Ia mengalihkan pandangan menatap Angga yang duduk sedikit menjauh. Pria itu fokus pada layar laptop dipangkuan, mengerjakan tugas kantor yang belum usai. Ia terduduk gusar ketika gawainya terus berdenting karena lupa mengubah mode jadi sunyi. Yuda terus mengiriminya pesan, karena tak kunjung dibalas.

Angga mendengkus dengan tatapan masih lurus ke layar laptop. Namun, ia sudah tak sabar lagi, ketika gawai milik Amanda berulangkali berdenting, dan si empunya enggan memeriksa benda itu. Angga menutup laptopnya dengan kasar, meletakkannya ke atas meja. Meraih gawai dan melemparkan ke atas pangkuan yang punya. Amanda terkesiap dengan tindakan itu. Suaminya sedang sangat marah sekarang.

"Kenapa? Mau marah, iya? Gawaimu berisik, masih untung nggak aku lempar ke lantai," pungkas Angga setelah melihat Amanda hendak protes, wanita itu membisu. Membuka aplikasi berwarna hijau dan mulai membaca pesan dari Yuda.

[Malam, Amanda.]

[Sibuk, ya?]

[Aku mau bicara, boleh?]

[Maaf, ganggu!]

[Aku menunggu balasan, Amanda.]

Amanda mengembuskan napas pelan. Menggerakkan jarinya di atas layar gawai dan mulai mengetik balasan untuk Yuda.

[Ada apa, Yud?]

[Nggak pa-pa. Cuma mau tahu kabar kamu aja.]

[Oh.]

[Besok weekend, kamu sibuk, nggak?]

[Kenapa?]

Bertukar pesan pun terus berlangsung hingga larut malam. Hiburan yang Yuda berikan sedikit mampu menghilangkan kesedihannya. Ia beruntung memiliki sahabat seperti Yuda yang selalu ada setiap saat. Seperti malam-malam sebelumnya, mereka masih tidur terpisah. Amanda di kamar dan Angga di ruang tengah. Angga memasuki kamar untuk mengambil bantal dan selimut, tetapi urung ketika tangannya di cekal Amanda.

"Malam ini saja, kita tidur satu ranjang. Nggak pa-pa, 'kan, Ga?" Untuk pertama kalinya setelah Lima bulan menikah, Amanda meminta untuk tidur satu ranjang. Ia memberanikan diri dan menyiapkan mental, jikalau Angga menolaknya untuk kesekian kali.

Angga mendengkus kasar, menatap Amanda dengan tajam. "Jangan mimpi, kamu! Sampai kapan pun, aku nggak sudi tidur satu ranjang sama kamu. Jangan terlalu berharap lebih, Amanda. Ingat! Pernikahan ini terjadi karena apa?"

"Sekali saja, Ga. Terima aku jadi istri," pintanya menatap wajah Angga penuh harap.

"Buang harapanmu itu karena sampai kapan pun kita akan seperti ini. Ingat, Amanda!" tegas Angga dan segera meninggalkan Amanda seorang diri.

***

Pernikahan yang dirasa sempurna ternyata jauh dari kata itu. Sikap Angga masih sama, dingin dan kasar, meskipun tidak kasar secara fisik. Namun, ucapannya selalu menyakitkan hati. Demi memenuhi janji kepada almarhumah Rania, Amanda bertahan sampai sejauh ini. Selalu berdoa supaya memiliki kesabaran ekstra demi mendapatkan haknya sebagai istri. Amanda duduk santai di ruang tengah, menatap sekeliling dan mendapati potret Nessa masih di tempat semula. Angga begitu mencintai wanita itu. Bernessa Arundati, adik Amanda sendiri.

***

Amanda terduduk lemas di atas lantai. Beberapa menit lagi acara dimulai, tetapi yang ia temukan hanyalah sepucuk surat dan kebaya putih di atas ranjang. Bingung harus berbuat apa sehingga suara Rania membuatnya semakin ketakutan. Ia menyerahkan sepucuk surat itu tanpa berkata. Rania terbelalak, memegang dada karena terkejut, tak lama orang tua mempelai pria datang. Dewi begitu terkejut membaca isi surat itu. Calon menantunya pergi dan meminta Amanda yang menggantikan posisi itu.

***

Amanda mendesah pelan, bayangan lima bulan lalu mulai hadir. Awal mula pernikahan itu terjadi. "Aku memang mencintainya, Nessa. Namun, bukan ini yang kuinginkan. Kenapa kamu selalu beruntung, Ssa? Bahkan, Angga saja nggak sudi menghargai statusku apalagi memberikan sedikit cintanya. Kenapa kamu menyiksaku seperti ini, apa salahku padamu? Kenapa juga kamu harus pergi." Amanda menatap nanar potret Nessa yang tersenyum manis.

"Jangan berpura-pura lagi, aku tahu dia pergi karena kamu."

Amanda terkesiap, lalu menoleh ke belakang dan mendapati Angga yang berdiri di anak tangga paling atas. "Kamu ... dengar semuanya?" Amanda ketakutan bila Angga mendengar ungkapan hatinya. Ia tak sanggup kalau ....

"Ya, setidaknya aku mendengar kamu menyalahkan Nessa atas semua ini. Ini salahmu sendiri, kenapa menerima."

Amanda mendesah lega, karena Angga tak mendengar semuanya. Ia masih beruntung pun belum siap bila pria itu mengetahui perasaannya.

Angga berdecih ketika Amanda hanya terdiam dan menunduk. Ia sudah menduga wanita lemah itu tak lama lagi pasti akan menangis.

"Dasar cengeng! Kamu nggak lelah terus menangis seperti itu," ejek Angga membuat Amanda mendongak. Matanya berkaca-kaca bersiap menumpahkan sesuatu yang sudah terbendung.

"Angga yang kukenal nggak kasar seperti ini," lontar Amanda ketika mengingat sifat lembut pria itu---dulu sebelum menjadi suaminya.

"Aku berubah karena kamu. Andai saja kamu menolak, aku pasti sudah menemukan Nessa, membawa dan segera menikahinya." Masih di tempat, Angga menatap Amanda tajam, pandangan benci dan tak suka kepada istrinya itu. "Akan tetapi, semuanya gagal gara-gara kamu!" tuduhnya untuk kesekian kali.

Amanda menunduk lagi dan meminta Angga untuk mencari Nessa. Meskipun dengan hati ngilu ia berusaha berkata demikian, seolah tak apa bila Angga akan pergi dan pastinya akan meninggalkan ia bila telah menemukan Nessa.

Angga tertawa, bila saja ia mampu sudah dari dulu melakukannya. Sejak Amanda menjadi istrinya, Feri selalu mengawasi gerak-gerik pria itu dari jauh. Tak ingin Angga membuat kesalahan dengan meninggalkan Amanda dan mulai mencari Nessa.

"Jangan pernah sekali pun menyalahkan Nessa atas apa yang kamu alami. Itu semua salahmu sendiri. Ingat itu, Amanda!"

***

"Berjanji kepada bunda, sesulit apa pun ujiannya jangan sampai mengucapkan kata yang Allah benci," pinta wanita paruh baya yang terbaring tak berdaya dengan beberapa alat bantu terpasang di sekujur tubuh.

"Berjanjilah, Amanda!"

Amanda yang sedari tadi menunduk kini mendongak. Menatap sendu wajah Rania dengan alat bantu pernapasan terpasang di hidung.

"Bunda mohon! Tetap bertahan. Angga pasti akan menerimamu dalam hidupnya." Amanda hanya membisu dengan derai air mata. Meski tak bicara Rania sudah tahu kejadiannya akan seperti ini. Ia tahu benar siapa yang Angga inginkan menjadi pendamping hidupnya.

Amanda mendesah pelan, janji kepada sang ibunda membuatnya bertahan dengan sikap buruk Angga. Ia mencintai pria itu. Rela terluka supaya bisa mendapatkan hatinya nanti.

***

Mencintai dalam diam dan seorang diri bukan hal yang mudah. Namun, Amanda masih bertahan sampai saat ini. Baginya memiliki status istri Angga sudah cukup membuat bahagia meski belum diakui oleh pria itu. Ia tersenyum lebar menatap foto pernikahan mereka walau tanpa senyum ikhlas di bibir Angga. Amanda bahagia, setidaknya impian menikah dengan pria yang dicintai terwujud.

"Besok siap-siap. Kita ke rumah mama." Suara Angga di bibir pintu menyadarkan Amanda dari lamunan singkatnya ketika mengingat pernikahan mereka lima bulan lalu. Ia menoleh dan hanya mengangguk sebagai jawaban. Usai mengatakan itu, Angga kembali ke tempatnya---ruang tengah---untuk beristirahat.

***

"Mama tahu, Angga masih bersikap buruk sama kamu. Maafkan mama, Nak, mama sudah bingung harus menasehatinya seperti apa lagi. Hatinya telah tertutup untuk wanita lain." Dewi menyentuh punggung tangan Amanda di atas pangkuan. Menguatkan wanita itu supaya bersabar menghadapi sikap Angga. Amanda tersenyum, bersikap seolah ia baik-baik saja. Mengatakan bila selama mereka tinggal berdua Angga tak pernah menyakitinya secara fisik.

Dewi hanya menghela napas pelan, ia tahu anaknya tak akan melakukan kekerasan, tetapi cara Angga berucap sudah dipastikan bahwa Amanda tersakiti. "Tetap bersabar, ya, Nak. Mama yakin Angga akan segera berubah. Ia pasti akan sadar betapa berharganya kamu."

"Iya, Ma. Amanda pasti akan bersabar." Amanda mencoba tersenyum, meski jauh dalam hatinya semua itu tidak akan pernah terjadi

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tumbal Pernikahan   Berubahnya Amanda

    Amanda memijat pelipisnya guna meredakan rasa sakit di kepala yang dia alami sejak tadi. Namun, rasa sakit itu tak juga kunjung menghilang dan malah makin bertambah saja. Amanda mengembuskan napasnya beberapa kali guna untuk mengurangi rasa sesak di dadanya. Namun, rasa sesak itu pun tak ingin juga menghilang. Semua rasa sakit itu seolah tak ingin pergi dari kehidupan Amanda dan ingin terus saja menghantui kehidupan wanita itu."Akhirnya ... rahasia itu terbongkar juga dan aku ... harus mengatakan juga meski terpaksa."Ya ... Amanda sudah menunjukkan kepada Angga tentang keberadaan makam saudari kembar Shadam. Bayi perempuan yang dia lahirkan dalam keadaan sudah tak bernyawa. Rasa sakit karena kehilangan salah satu anaknya belum juga menghilang sampai detik ini. Bahkan, Amanda harus terpaksa mengungkapkan supaya Angga tak membawa Shadam pergi jauh dari dirinya.***Angga diam tak percaya di samping makam kecil tersebut. Dia benar-benar tak menyangka kalau Amanda saat itu tengah hamil

  • Tumbal Pernikahan   Pengakuan Amanda

    "Kamu nggak kangen sama aku? apa semudah itu kamu melupakan semuanya. Semua kenangan dan juga perasaan kita.""Cukup, Mas. Kamu ngajak aku ke sini buat apa? kalau cuma buat mengenang masa lalu mending gak usah. Masa lalu aku sama kamu terlalu banyak dengan air mata dan aku gak mau merusak kebahagiaanku saat ini dengan masa lalu yang buruk itu," jelas Amanda dengan tegas. Dia juga tak bisa mengelak kalau sebenarnya dia juga sangat merindukan masa lalu bahagia dengan Angga."Andai aja kita masih bersama, pasti rasanya akan sangat jauh berbeda. Kenapa kamu harus pergi sih, Yang. Kenapa juga kamu harus gugat cerai aku," kata Angga dengan mata yang mulai terasa panas. Bertahun-tahun dia hidup kesepian dan hanya memikirkan Amanda seorang, kini dia malah diberi kejutan dengan adanya anak di antara mereka."Kalau aja aku bisa putar waktu dan dengerin apa kata Nessa pasti kamu gak akan pergi dalam keadaan kayak gini. Kamu lupa ya ... kamu udah janji kan gak akan pernah ninggalin aku. Tapi nyat

  • Tumbal Pernikahan   Rahasia Terbongkar

    Angga dan Shadam kian dekat semakin harinya. Shadam bahkan abai dengan semua larangan yang sudah pernah dia katakan. Daejung pun demikian, pria itu juga tak mempermasalahkan sama sekali akan kedekatan Shadam dan Angga yang semakin erat itu, justru Amanda yang makin risau. Dia masih belum siap untuk membongkar cerita masa lalunya dengan sang mantan suami kepada Daejung. Amanda juga tak ingin kalau hubungannya dengan Daejung yang mulai membaik akan bermasalah karena kehadiran Angga. Dia memang belum sepenuhnya menerima kehadiran Daejung dalam hidupnya. Namun, Amanda juga sudah berjanji untuk berusaha menerima kehadiran laki-laki yang sudah menemani dan menjaganya selama beberapa tahun ini"Mi ... Shadam boleh kan pergi sama oom Angga? Shadam udah janji kalau mau main bareng sama Oom," kata Shadam dengan wajah menunduk karena takut.Amanda hanya diam saja, tetapi dia melayangkan tatapan tak mengenakkan kepada sang putra."Mi ... bolehkan Shadam pergi?" tanya Shadam lagi karena Amanda han

  • Tumbal Pernikahan   Papa Biologis

    Angga mengembuskan napasnya dengan kasar. Dia memang sudah tahu semua kebenarannya tetapi saat ini ia tidak mengungkapkan kebenaran itu. Namun, reaksi Shadam malah terkejut seperti itu."Oom nggak bilang kalau Papa Jung itu bukan papa kamu, tapi oom nanya ... kalau misalkan itu terjadi bagaimana?" tanya Angga sambil menahan diri supaya tidak sampai mengatakan kebenaran itu saat ini juga.Shadam terdiam sambil memikirkan apa yang telah oom baik di sampingnya itu katakan. "Berarti Shadam punya dua papa dong, ya?"Angga mengngguk sebagai isyarat akan jawabannya. "Ya, kalau seandainya itu memang benar, apa yang akan Shadam lakukan? mencari tahu soal papa kandung Shadam itu atau nggak peduli?" Pancing Angga karena dia sangat ingin tahu apa jawaban yang akan bocah SD itu utarakan."Eumm ... Shadam nggak tahu."Angga mengembuskan napasnya dengan berat dan kembali berdiri, lalu membawa Shadam ke dalam gendongannya. "Shadam tahu ... alasan terbesar oom hanya diam ya karena dia sama sekali

  • Tumbal Pernikahan   Pertanyaan Shadam

    "Jadi ... kapan Oom baik mau kembali ke Indonesia? kenapa nggak tinggal lebih lama aja, Oom," usul shadam yang saat ini sedang berjalan bersisian dengan Angga. Keduanya akhirnya jalan-jalan bersama meski sebenarnya Amanda sangat menolak dengan keras kedekatan anak dan ayah itu. Amanda juga sangat tidak setuju dengan kedekatan keduanya, tetapi dia juga tidak mungkin memberikan larangan yang sangat keras dan nantinya akan membuat Daejung semakin curiga saja dengan sikapnya yang kian berubah. "Beberapa bulan lagi, Sayang. Kerjaan oom di sana juga banyak jadi harus segera kembali. Shadam juga tahu benar kan kalau pekerjaan oom itu tidak sedikit." Angga menghentikan langkahnya, lalu berjongkok untuk mensejajarkan tubuhnya dengan bocah lucu tersebut. "Berarti Oom juga sama sibuknya ya kayak Papa. Malahan Papa sering nggak pulang dari rumah sakit." Shadam menatap ke atas karena sedang mengingat bahwa Daejung yang memang kerap sering menginap di rumah sakit sehingga sering mengabaikan

  • Tumbal Pernikahan   Kembali Dekat

    "Bisa jadi kan kalau Angga tahu semuanya dari kak Altan, bisa aja juga kalau dia sengaja kirim Angga ke sini supaya bisa deketin kamu lagi atau malah lebih buruknya ... ambil Shadam dari kamu." "Enggak, Ra. Seffina udah ceritain semuanya ke aku kalau Angga tahu kehamilan itu dari surat diagnosis yang aku tinggalin. Aku memang ceroboh karena masih nyimpan hasil tespack dan surat itu. Seffina juga cerita kalau Angga tahu itu semua dari barang-barangku yang masih Angga simpan," jelas Amanda. Hatinya sedikit bergetar saat mengingat kenyataan bahwa Angga masih menyimpan sisa-sisa barangnya. "Jadi ... apa Angga juga udah tahu kalau Shadam anaknya?" "Entahlah ... aku juga udah berusaha supaya mereka nggak terlalu dekat, tapi Shadam ... dia yang nggak bisa aku kendalikan. Sementara Daejung, dia juga mendukung kedekatan Shadam dengan Angga." Amanda menghela napasnya dsngan frustrasi. Dia benar-benar belum siap bila harus berpisah dengan Shadam. "Apa Daejung tahu soal masa lalu kalian?" t

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status