ANMELDENAmanda memijat pelipisnya guna meredakan rasa sakit di kepala yang dia alami sejak tadi. Namun, rasa sakit itu tak juga kunjung menghilang dan malah makin bertambah saja. Amanda mengembuskan napasnya beberapa kali guna untuk mengurangi rasa sesak di dadanya. Namun, rasa sesak itu pun tak ingin juga menghilang. Semua rasa sakit itu seolah tak ingin pergi dari kehidupan Amanda dan ingin terus saja menghantui kehidupan wanita itu."Akhirnya ... rahasia itu terbongkar juga dan aku ... harus mengatakan juga meski terpaksa."Ya ... Amanda sudah menunjukkan kepada Angga tentang keberadaan makam saudari kembar Shadam. Bayi perempuan yang dia lahirkan dalam keadaan sudah tak bernyawa. Rasa sakit karena kehilangan salah satu anaknya belum juga menghilang sampai detik ini. Bahkan, Amanda harus terpaksa mengungkapkan supaya Angga tak membawa Shadam pergi jauh dari dirinya.***Angga diam tak percaya di samping makam kecil tersebut. Dia benar-benar tak menyangka kalau Amanda saat itu tengah hamil
"Kamu nggak kangen sama aku? apa semudah itu kamu melupakan semuanya. Semua kenangan dan juga perasaan kita.""Cukup, Mas. Kamu ngajak aku ke sini buat apa? kalau cuma buat mengenang masa lalu mending gak usah. Masa lalu aku sama kamu terlalu banyak dengan air mata dan aku gak mau merusak kebahagiaanku saat ini dengan masa lalu yang buruk itu," jelas Amanda dengan tegas. Dia juga tak bisa mengelak kalau sebenarnya dia juga sangat merindukan masa lalu bahagia dengan Angga."Andai aja kita masih bersama, pasti rasanya akan sangat jauh berbeda. Kenapa kamu harus pergi sih, Yang. Kenapa juga kamu harus gugat cerai aku," kata Angga dengan mata yang mulai terasa panas. Bertahun-tahun dia hidup kesepian dan hanya memikirkan Amanda seorang, kini dia malah diberi kejutan dengan adanya anak di antara mereka."Kalau aja aku bisa putar waktu dan dengerin apa kata Nessa pasti kamu gak akan pergi dalam keadaan kayak gini. Kamu lupa ya ... kamu udah janji kan gak akan pernah ninggalin aku. Tapi nyat
Angga dan Shadam kian dekat semakin harinya. Shadam bahkan abai dengan semua larangan yang sudah pernah dia katakan. Daejung pun demikian, pria itu juga tak mempermasalahkan sama sekali akan kedekatan Shadam dan Angga yang semakin erat itu, justru Amanda yang makin risau. Dia masih belum siap untuk membongkar cerita masa lalunya dengan sang mantan suami kepada Daejung. Amanda juga tak ingin kalau hubungannya dengan Daejung yang mulai membaik akan bermasalah karena kehadiran Angga. Dia memang belum sepenuhnya menerima kehadiran Daejung dalam hidupnya. Namun, Amanda juga sudah berjanji untuk berusaha menerima kehadiran laki-laki yang sudah menemani dan menjaganya selama beberapa tahun ini"Mi ... Shadam boleh kan pergi sama oom Angga? Shadam udah janji kalau mau main bareng sama Oom," kata Shadam dengan wajah menunduk karena takut.Amanda hanya diam saja, tetapi dia melayangkan tatapan tak mengenakkan kepada sang putra."Mi ... bolehkan Shadam pergi?" tanya Shadam lagi karena Amanda han
Angga mengembuskan napasnya dengan kasar. Dia memang sudah tahu semua kebenarannya tetapi saat ini ia tidak mengungkapkan kebenaran itu. Namun, reaksi Shadam malah terkejut seperti itu."Oom nggak bilang kalau Papa Jung itu bukan papa kamu, tapi oom nanya ... kalau misalkan itu terjadi bagaimana?" tanya Angga sambil menahan diri supaya tidak sampai mengatakan kebenaran itu saat ini juga.Shadam terdiam sambil memikirkan apa yang telah oom baik di sampingnya itu katakan. "Berarti Shadam punya dua papa dong, ya?"Angga mengngguk sebagai isyarat akan jawabannya. "Ya, kalau seandainya itu memang benar, apa yang akan Shadam lakukan? mencari tahu soal papa kandung Shadam itu atau nggak peduli?" Pancing Angga karena dia sangat ingin tahu apa jawaban yang akan bocah SD itu utarakan."Eumm ... Shadam nggak tahu."Angga mengembuskan napasnya dengan berat dan kembali berdiri, lalu membawa Shadam ke dalam gendongannya. "Shadam tahu ... alasan terbesar oom hanya diam ya karena dia sama sekali
"Jadi ... kapan Oom baik mau kembali ke Indonesia? kenapa nggak tinggal lebih lama aja, Oom," usul shadam yang saat ini sedang berjalan bersisian dengan Angga. Keduanya akhirnya jalan-jalan bersama meski sebenarnya Amanda sangat menolak dengan keras kedekatan anak dan ayah itu. Amanda juga sangat tidak setuju dengan kedekatan keduanya, tetapi dia juga tidak mungkin memberikan larangan yang sangat keras dan nantinya akan membuat Daejung semakin curiga saja dengan sikapnya yang kian berubah. "Beberapa bulan lagi, Sayang. Kerjaan oom di sana juga banyak jadi harus segera kembali. Shadam juga tahu benar kan kalau pekerjaan oom itu tidak sedikit." Angga menghentikan langkahnya, lalu berjongkok untuk mensejajarkan tubuhnya dengan bocah lucu tersebut. "Berarti Oom juga sama sibuknya ya kayak Papa. Malahan Papa sering nggak pulang dari rumah sakit." Shadam menatap ke atas karena sedang mengingat bahwa Daejung yang memang kerap sering menginap di rumah sakit sehingga sering mengabaikan
"Bisa jadi kan kalau Angga tahu semuanya dari kak Altan, bisa aja juga kalau dia sengaja kirim Angga ke sini supaya bisa deketin kamu lagi atau malah lebih buruknya ... ambil Shadam dari kamu." "Enggak, Ra. Seffina udah ceritain semuanya ke aku kalau Angga tahu kehamilan itu dari surat diagnosis yang aku tinggalin. Aku memang ceroboh karena masih nyimpan hasil tespack dan surat itu. Seffina juga cerita kalau Angga tahu itu semua dari barang-barangku yang masih Angga simpan," jelas Amanda. Hatinya sedikit bergetar saat mengingat kenyataan bahwa Angga masih menyimpan sisa-sisa barangnya. "Jadi ... apa Angga juga udah tahu kalau Shadam anaknya?" "Entahlah ... aku juga udah berusaha supaya mereka nggak terlalu dekat, tapi Shadam ... dia yang nggak bisa aku kendalikan. Sementara Daejung, dia juga mendukung kedekatan Shadam dengan Angga." Amanda menghela napasnya dsngan frustrasi. Dia benar-benar belum siap bila harus berpisah dengan Shadam. "Apa Daejung tahu soal masa lalu kalian?" t







