Share

Bab 3

Author: Mandy
Aku lupa bagaimana aku mati. Aku hanya ingat, saat berubah menjadi arwah dan melihat jasadku, aku tak sanggup menatapnya. Terlalu menyedihkan, juga terlalu mengerikan.

Aku seperti jatuh ke laut dalam. Sekelilingku gelap gulita. Aku tak tahu akan tenggelam sampai ke mana. Aku ketakutan, meringkuk, lalu tiba-tiba sebuah kekuatan besar menarikku ke atas.

Harlem dan Morgan berjalan tergesa-gesa di depan. Morgan menyetir mobil, sementara Harlem menelepon nomorku. Wajah mereka berdua tampak masam.

Puluhan detik kemudian, dari ponsel terdengar nada sibuk. Bibir tipis Harlem terkatup rapat, jarinya mengetuk pintu mobil berulang kali.

Morgan meliriknya. "Kenapa? Nggak diangkat?"

Harlem memejamkan mata, menutupi hawa dingin di balik tatapannya.

Morgan menginjak pedal gas lebih dalam, lalu mobil melesat keluar. Dengan suara dingin, dia berkata, "Olive ini benar-benar ketagihan berakting ya? Bahkan sampai menyiapkan abu jenazah. Aku mau lihat, itu benar-benar abu dia atau bukan."

Abu jenazah? Jadi, jasadku sudah dikremasi. Kalau mereka melihat abu jenazahku, seharusnya mereka percaya kalau aku benar-benar sudah mati, 'kan? Kalau mereka masih menyisakan sedikit perasaan lama, lalu menguburkanku, mungkin aku bisa benar-benar menghilang.

Kalaupun tidak, mereka juga seharusnya tidak perlu khawatir lagi aku akan menyakiti Quinn. Mulai sekarang, mereka bisa melupakanku sepenuhnya. Aku pun bisa lebih tenang, tidak perlu lagi mendengar kata-kata menyakitkan dari mereka.

Setengah jam kemudian, mobil berhenti di krematorium. Harlem dan Morgan turun, lalu berjalan masuk. Begitu memasuki area itu, seorang petugas langsung menyambut mereka.

"Ada yang bisa kami bantu?"

Harlem tersenyum mengejek. "Di mana abu jenazah Olive? Bukankah aku diminta datang untuk mengambilnya?"

Petugas itu menyerahkan sebuah kotak berisi abu jenazahku kepada Harlem sambil berkata, "Kami sudah memeriksa keluarga Bu Olive. Ternyata dia yatim piatu. Polisi mengatakan Anda adalah tunangannya, makanya kami menghubungi Anda. Ini abu jenazah Bu Olive. Turut berduka cita."

Saat aku berusia 13 tahun, orang tuaku meninggal dalam kecelakaan mobil. Bibiku mengambil uang ganti rugi, lalu menahanku sampai usia 18 tahun.

Begitu aku genap 18 tahun, dia mengusirku dari rumah dan menyuruhku hidup mandiri. Beberapa tahun terakhir, karena takut tak bisa lepas dariku sebagai beban, dia mengganti nomor ponsel dan pindah dari kota ini.

Jika bukan karena Harlem dan Morgan, aku tak berani membayangkan betapa gelapnya hidupku. Mereka yang menyelamatkanku. Namun, aku tidak menyangka, begitu mereka mundur, hidup pun menjadi kemewahan yang tak sanggup kugapai.

Harlem mengelus kotak abu jenazah itu. Di matanya muncul senyuman yang sulit ditebak artinya. "Ini benar-benar abu jenazah Olive? Nggak bohong, 'kan?"

Petugas itu tampak terkejut dan tidak senang. "Pak, kami nggak berani menipu. Itu bisa menjadi karma buruk."

Morgan tertawa dingin. "Kalian takut karma? Bukankah Olive ada di sini? Kami juga nggak bilang sama sekali nggak percaya."

"Hanya saja aku penasaran, sebenarnya Olive kasih kalian berapa banyak uang sampai kalian mau menemaninya main sandiwara seperti ini?"

Petugas itu memandang mereka seperti melihat orang gila. Nadanya pun menjadi lebih dingin. "Kalau Anda nggak percaya, nggak apa-apa. Tolong kembalikan abu jenazah Bu Olive kepada kami. Kami akan mengaturnya sendiri."

Harlem mengulurkan tangan. Petugas itu hendak menerimanya. Pada detik berikutnya, Harlem tiba-tiba berseru pelan. Kotak abu jenazah itu terlepas dari tangannya dan seketika abu jenazahku tumpah berserakan di lantai.

Dia tersenyum kejam. "Maaf, nggak sengaja."

Morgan tertawa kecil. Wajahnya penuh ejekan. Dia menginjak abu jenazahku dengan kakinya, menggilasnya sembarangan, lalu berkata dengan nada acuh tak acuh, "Besok ulang tahun Quinn. Olive boleh saja nggak datang, tapi memakai trik rendahan seperti ini untuk menarik perhatian kami benar-benar menjijikkan."

"Tolong sampaikan padanya, kalau dia masih nggak tahu diri dan ingin mengusir Quinn, dia nggak perlu muncul di hadapan kami lagi."

Napasku seolah-olah terhenti di dadaku. Seluruh tubuhku gemetar tak terkendali. Aku ingin memungut abu yang berserakan itu, tetapi tanganku sama sekali tak bisa mengangkatnya.

Pandangan di depanku mengabur. Aku mulai berpikir, seandainya aku tidak pernah mengenal mereka, betapa baiknya.

Petugas itu menatap Harlem dengan amarah yang meluap. "Kalian benar-benar nggak masuk akal. Bagaimana bisa menghina orang yang sudah meninggal? Ini benar-benar abu jenazah Bu Olive. Apa kalian nggak melihat hot search? Kejadiannya sudah ramai di internet."

Petugas itu membuka sebuah video. Harlem meliriknya sekilas dengan santai. Dalam sekejap, senyuman di sudut bibirnya membeku. Ekspresinya berubah aneh.

Morgan tertegun, menoleh dengan bingung. Pada detik berikutnya, pupilnya menyipit tajam, penuh dengan ketidakpercayaan.
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tunangan Dan Sahabat yang Mengacuhkan Kematianku   Bab 8

    Bam! Morgan menutup hidungnya sambil terhuyung ke belakang. Kepalanya langsung pusing dan berdengung.Belum sempat bereaksi, Harlem sudah mencengkeram kerah bajunya dan menghajarnya dengan beberapa pukulan keras.Keduanya seperti ingin meluapkan seluruh dendam dan keluh kesah yang terpendam di dalam hati. Pukulan demi pukulan mendarat tanpa ampun, tak ada yang mau mengalah."Morgan, Olive adalah tunanganku. Dia memilihku. Seharusnya kamu mundur, bukan malah seperti perempuan licik yang setiap hari menggoda dan terus menempel padanya!""Harlem, kamu juga tahu Olive itu tunanganmu, 'kan? Lalu kenapa kamu nggak menjaganya? Kenapa kamu nggak memperlakukannya dengan baik? Begitu Quinn kembali, kamu langsung berubah. Aku sudah lama ingin memberimu pelajaran!"Aku mundur ke sudut, menonton mereka berkelahi, sampai akhirnya keduanya kelelahan. Yang satu bersandar ke dinding, yang satu lagi bertopang pada kusen pintu.Morgan menyeka darah di ujung hidungnya, terengah-engah, menengadah menatap H

  • Tunangan Dan Sahabat yang Mengacuhkan Kematianku   Bab 7

    Setelah Nelly pergi, Harlem tetap mempertahankan posisinya tanpa bergerak sedikit pun.Video itu entah sudah diputar berapa kali. Mungkin karena para pembunuh takut Quinn tidak membayar sisa uang, wajah dan suaranya pun ikut terekam di layar.Seberkas cahaya keemasan menyinari ruangan, jatuh tepat di belakang Harlem, membuat seluruh wajahnya tenggelam dalam bayangan gelap.Tiba-tiba, sesosok bayangan muncul di pintu vila. Morgan memegang sebuah laporan di tangannya. Dadanya naik turun hebat.Dia menatap Harlem, seolah-olah ingin memastikan sesuatu. "Nelly punya kebenaran tentang kematian Olive. Harlem, Olive ....""Sudah mati." Setelah lama terdiam, suara Harlem terdengar agak serak.Matanya tak berkedip menatap layar video. Dia tersenyum pahit. "Dia benar-benar sudah mati dan Quinn memang membunuh orang.""Morgan, sepertinya kita salah."Benda di tangan Morgan jatuh ke lantai dengan suara keras. Itu adalah laporan kehamilan Quinn yang dia suruh orang palsukan.Aku melihatnya melangkah

  • Tunangan Dan Sahabat yang Mengacuhkan Kematianku   Bab 6

    Tiga hari kemudian, dua orang pria itu keluar dari gerbang rumah tahanan.Wajah Harlem muram. Di bawah matanya tampak lingkar kehitaman.Keadaan Morgan juga tak jauh lebih baik. Dengan kesal, dia menendang kerikil di pinggir jalan, lalu berkata dengan dingin, "Olive harus ditemukan. Kalau nggak, Quinn benar-benar dalam bahaya."Harlem mengangguk pelan tanpa berkomentar. Dibanding Morgan, dia jauh lebih tenang."Aku akan mencari Olive. Kamu cari cara untuk mengurus pembebasan Quinn dengan jaminan," ucap Harlem.Morgan melotot menatapnya. "Sekarang bagaimana caranya menjamin? Semua orang bilang dia membunuh orang."Mata Harlem yang hitam tak menunjukkan emosi sedikit pun. Dengan nada datar tanpa gelombang, dia berkata, "Kehamilan bisa dijadikan alasan untuk mengajukan penangguhan penahanan."Morgan baru tersadar. Dia segera naik ke mobil dan melaju ke arah rumah sakit.Aku menatap wajah Harlem yang tanpa ekspresi, untuk pertama kalinya rasa takut muncul di hatiku. Demi melindungi Quinn,

  • Tunangan Dan Sahabat yang Mengacuhkan Kematianku   Bab 5

    Suasana yang semula meriah seketika menjadi hening karena kejadian itu.Harlem dan Morgan mengerutkan kening, lalu melindungi Quinn di belakang mereka. Tak seorang pun melihat, di mata Quinn sekilas melintas kepanikan.Di kepalaku samar-samar terlintas beberapa potongan ingatan, tetapi terlalu cepat. Aku belum sempat menangkapnya, ketika melihat dari belakang para polisi, masuk seorang perempuan yang mengenakan gaun hitam. Di dadanya tersemat bunga kecil berwarna putih.Matanya bengkak dan merah, wajahnya tampak pucat dan lelah.Aku spontan bangkit dan berdiri di hadapannya. Tanganku gemetar saat terangkat, ingin menyentuhnya. Namun, tanganku menembus tubuhnya.Perempuan itu mengangkat tangan, menunjuk ke arah Quinn. Suaranya serak, tetapi tegas. "Pak Polisi, dia Quinn. Dia pembunuh Olive."Begitu kata-kata itu dilontarkan, suasana di sekitar langsung membeku. Beberapa detik kemudian, terdengar kegemparan."Apa yang dia katakan? Olive mati? Dan dibunuh Quinn?""Perempuan ini sudah gila

  • Tunangan Dan Sahabat yang Mengacuhkan Kematianku   Bab 4

    Video yang diputar itu menampilkan jasadku.Gaun putih penuh bercak darah, wajahku disayat puluhan kali hingga rupa asliku sama sekali tak bisa dikenali.Aku memalingkan pandangan, tak sanggup melihatnya. Namun, video ini entah sudah ditonton berapa banyak orang.Petugas itu menahan amarah, menggertakkan gigi sambil berkata, "Ini video tanpa sensor. Sebagai tunangan Bu Olive, Anda seharusnya yang paling mengenalnya. Sekarang, apa kalian masih nggak percaya Bu Olive benar-benar telah meninggal?"Ekspresi Harlem berubah-ubah. Dia cepat-cepat memalingkan pandangan, seolah-olah tak tega. "Wajahnya sudah hancur seperti itu, bagaimana kamu bisa memastikan itu Olive? Lagi pula, luka-lukanya kelihatan palsu sekali. Kamu kira hanya dengan satu video aku akan percaya?""Olive itu sangat menyayangi nyawanya. Kalau dia benar-benar mengalami sesuatu, orang pertama yang akan dia hubungi pasti aku. Tapi sampai sekarang, aku nggak menerima satu pun telepon darinya ....""Suruh dia berhenti berakting d

  • Tunangan Dan Sahabat yang Mengacuhkan Kematianku   Bab 3

    Aku lupa bagaimana aku mati. Aku hanya ingat, saat berubah menjadi arwah dan melihat jasadku, aku tak sanggup menatapnya. Terlalu menyedihkan, juga terlalu mengerikan.Aku seperti jatuh ke laut dalam. Sekelilingku gelap gulita. Aku tak tahu akan tenggelam sampai ke mana. Aku ketakutan, meringkuk, lalu tiba-tiba sebuah kekuatan besar menarikku ke atas.Harlem dan Morgan berjalan tergesa-gesa di depan. Morgan menyetir mobil, sementara Harlem menelepon nomorku. Wajah mereka berdua tampak masam.Puluhan detik kemudian, dari ponsel terdengar nada sibuk. Bibir tipis Harlem terkatup rapat, jarinya mengetuk pintu mobil berulang kali.Morgan meliriknya. "Kenapa? Nggak diangkat?"Harlem memejamkan mata, menutupi hawa dingin di balik tatapannya.Morgan menginjak pedal gas lebih dalam, lalu mobil melesat keluar. Dengan suara dingin, dia berkata, "Olive ini benar-benar ketagihan berakting ya? Bahkan sampai menyiapkan abu jenazah. Aku mau lihat, itu benar-benar abu dia atau bukan."Abu jenazah? Jadi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status