Se connecterBam! Morgan menutup hidungnya sambil terhuyung ke belakang. Kepalanya langsung pusing dan berdengung.Belum sempat bereaksi, Harlem sudah mencengkeram kerah bajunya dan menghajarnya dengan beberapa pukulan keras.Keduanya seperti ingin meluapkan seluruh dendam dan keluh kesah yang terpendam di dalam hati. Pukulan demi pukulan mendarat tanpa ampun, tak ada yang mau mengalah."Morgan, Olive adalah tunanganku. Dia memilihku. Seharusnya kamu mundur, bukan malah seperti perempuan licik yang setiap hari menggoda dan terus menempel padanya!""Harlem, kamu juga tahu Olive itu tunanganmu, 'kan? Lalu kenapa kamu nggak menjaganya? Kenapa kamu nggak memperlakukannya dengan baik? Begitu Quinn kembali, kamu langsung berubah. Aku sudah lama ingin memberimu pelajaran!"Aku mundur ke sudut, menonton mereka berkelahi, sampai akhirnya keduanya kelelahan. Yang satu bersandar ke dinding, yang satu lagi bertopang pada kusen pintu.Morgan menyeka darah di ujung hidungnya, terengah-engah, menengadah menatap H
Setelah Nelly pergi, Harlem tetap mempertahankan posisinya tanpa bergerak sedikit pun.Video itu entah sudah diputar berapa kali. Mungkin karena para pembunuh takut Quinn tidak membayar sisa uang, wajah dan suaranya pun ikut terekam di layar.Seberkas cahaya keemasan menyinari ruangan, jatuh tepat di belakang Harlem, membuat seluruh wajahnya tenggelam dalam bayangan gelap.Tiba-tiba, sesosok bayangan muncul di pintu vila. Morgan memegang sebuah laporan di tangannya. Dadanya naik turun hebat.Dia menatap Harlem, seolah-olah ingin memastikan sesuatu. "Nelly punya kebenaran tentang kematian Olive. Harlem, Olive ....""Sudah mati." Setelah lama terdiam, suara Harlem terdengar agak serak.Matanya tak berkedip menatap layar video. Dia tersenyum pahit. "Dia benar-benar sudah mati dan Quinn memang membunuh orang.""Morgan, sepertinya kita salah."Benda di tangan Morgan jatuh ke lantai dengan suara keras. Itu adalah laporan kehamilan Quinn yang dia suruh orang palsukan.Aku melihatnya melangkah
Tiga hari kemudian, dua orang pria itu keluar dari gerbang rumah tahanan.Wajah Harlem muram. Di bawah matanya tampak lingkar kehitaman.Keadaan Morgan juga tak jauh lebih baik. Dengan kesal, dia menendang kerikil di pinggir jalan, lalu berkata dengan dingin, "Olive harus ditemukan. Kalau nggak, Quinn benar-benar dalam bahaya."Harlem mengangguk pelan tanpa berkomentar. Dibanding Morgan, dia jauh lebih tenang."Aku akan mencari Olive. Kamu cari cara untuk mengurus pembebasan Quinn dengan jaminan," ucap Harlem.Morgan melotot menatapnya. "Sekarang bagaimana caranya menjamin? Semua orang bilang dia membunuh orang."Mata Harlem yang hitam tak menunjukkan emosi sedikit pun. Dengan nada datar tanpa gelombang, dia berkata, "Kehamilan bisa dijadikan alasan untuk mengajukan penangguhan penahanan."Morgan baru tersadar. Dia segera naik ke mobil dan melaju ke arah rumah sakit.Aku menatap wajah Harlem yang tanpa ekspresi, untuk pertama kalinya rasa takut muncul di hatiku. Demi melindungi Quinn,
Suasana yang semula meriah seketika menjadi hening karena kejadian itu.Harlem dan Morgan mengerutkan kening, lalu melindungi Quinn di belakang mereka. Tak seorang pun melihat, di mata Quinn sekilas melintas kepanikan.Di kepalaku samar-samar terlintas beberapa potongan ingatan, tetapi terlalu cepat. Aku belum sempat menangkapnya, ketika melihat dari belakang para polisi, masuk seorang perempuan yang mengenakan gaun hitam. Di dadanya tersemat bunga kecil berwarna putih.Matanya bengkak dan merah, wajahnya tampak pucat dan lelah.Aku spontan bangkit dan berdiri di hadapannya. Tanganku gemetar saat terangkat, ingin menyentuhnya. Namun, tanganku menembus tubuhnya.Perempuan itu mengangkat tangan, menunjuk ke arah Quinn. Suaranya serak, tetapi tegas. "Pak Polisi, dia Quinn. Dia pembunuh Olive."Begitu kata-kata itu dilontarkan, suasana di sekitar langsung membeku. Beberapa detik kemudian, terdengar kegemparan."Apa yang dia katakan? Olive mati? Dan dibunuh Quinn?""Perempuan ini sudah gila
Video yang diputar itu menampilkan jasadku.Gaun putih penuh bercak darah, wajahku disayat puluhan kali hingga rupa asliku sama sekali tak bisa dikenali.Aku memalingkan pandangan, tak sanggup melihatnya. Namun, video ini entah sudah ditonton berapa banyak orang.Petugas itu menahan amarah, menggertakkan gigi sambil berkata, "Ini video tanpa sensor. Sebagai tunangan Bu Olive, Anda seharusnya yang paling mengenalnya. Sekarang, apa kalian masih nggak percaya Bu Olive benar-benar telah meninggal?"Ekspresi Harlem berubah-ubah. Dia cepat-cepat memalingkan pandangan, seolah-olah tak tega. "Wajahnya sudah hancur seperti itu, bagaimana kamu bisa memastikan itu Olive? Lagi pula, luka-lukanya kelihatan palsu sekali. Kamu kira hanya dengan satu video aku akan percaya?""Olive itu sangat menyayangi nyawanya. Kalau dia benar-benar mengalami sesuatu, orang pertama yang akan dia hubungi pasti aku. Tapi sampai sekarang, aku nggak menerima satu pun telepon darinya ....""Suruh dia berhenti berakting d
Aku lupa bagaimana aku mati. Aku hanya ingat, saat berubah menjadi arwah dan melihat jasadku, aku tak sanggup menatapnya. Terlalu menyedihkan, juga terlalu mengerikan.Aku seperti jatuh ke laut dalam. Sekelilingku gelap gulita. Aku tak tahu akan tenggelam sampai ke mana. Aku ketakutan, meringkuk, lalu tiba-tiba sebuah kekuatan besar menarikku ke atas.Harlem dan Morgan berjalan tergesa-gesa di depan. Morgan menyetir mobil, sementara Harlem menelepon nomorku. Wajah mereka berdua tampak masam.Puluhan detik kemudian, dari ponsel terdengar nada sibuk. Bibir tipis Harlem terkatup rapat, jarinya mengetuk pintu mobil berulang kali.Morgan meliriknya. "Kenapa? Nggak diangkat?"Harlem memejamkan mata, menutupi hawa dingin di balik tatapannya.Morgan menginjak pedal gas lebih dalam, lalu mobil melesat keluar. Dengan suara dingin, dia berkata, "Olive ini benar-benar ketagihan berakting ya? Bahkan sampai menyiapkan abu jenazah. Aku mau lihat, itu benar-benar abu dia atau bukan."Abu jenazah? Jadi







