Share

Bab 2

Penulis: Mandy
Quinn menyinggung tentang diriku. Morgan dan Harlem hampir bersamaan mengerutkan kening.

Morgan mendengus dingin. "Quinn, dia sudah menyakitimu separah ini, kenapa kamu masih memikirkannya? Orang seperti dia yang nggak tahu diri itu, mana mungkin mendoakanmu yang baik? Jangan urusi dia lagi. Biarkan dia berulah sesukanya."

"Kalau Kak Olive benar-benar meninggal, gimana? Harlem, Morgan, apa yang akan kalian lakukan?" Suara Quinn terdengar penuh kehati-hatian.

Hatiku menegang. Pandanganku menatap wajah Harlem dan Morgan tanpa berkedip. Kalau dulu, jangankan mati, kalau aku terbentur sedikit saja, mereka sudah akan panik setengah mati.

Mereka pernah berkata, akulah orang yang akan mereka lindungi seumur hidup. Namun sekarang, Harlem justru tersenyum dingin. "Kalau dia mati, kurasa hari-hari ke depannya akan jauh lebih indah. Saat itu, aku pasti akan menyalakan kembang api di seluruh kota untuk merayakannya."

Morgan menimpali, "Mungkin jasadnya juga bisa kita kirim kembali ke kampung halamannya, lalu cari beberapa dukun untuk melakukan ritual. Biar dia nggak bisa menindasmu lagi."

Rasanya seperti aku dilempar ke dalam ruang pendingin. Seluruh tubuhku membeku sampai tak merasakan apa-apa, bahkan bernapas pun terasa mustahil.

Aku tak percaya, dua pria yang dulu berkata akan mencintai dan memanjakanku, kini bisa setega ini padaku.

Menyalakan kembang api untuk merayakan, memanggil dukun untuk melakukan ritual …. Semua itu semata-mata demi membuat wanita yang mereka cintai merasa senang dan tenang.

Di saat ini, aku justru bersyukur jasadku tidak jatuh ke tangan mereka. Kalau tidak, mungkin bahkan setelah dikuburkan pun aku tak akan pernah tenang.

Quinn berkata dia takut, maka Harlem dan Morgan pun segera membereskan tempat itu. Setelah itu, mereka tergesa-gesa pulang untuk menemaninya.

Yang aneh, arwahku pun tanpa bisa dikendalikan, hanya bisa mengikuti mereka.

Begitu mobil berhenti, Harlem langsung turun dengan tak sabar, melangkah menuju vila. Morgan mengumpat pelan dan buru-buru menyusulnya.

Vila ini dulu mereka beli saat kami masih kuliah, karena mereka tidak ingin aku tinggal di asrama dan terpisah dari mereka. Waktu itu, aku dan Harlem bahkan belum resmi menjalin hubungan. Quinn juga belum kembali.

Kami bertiga seperti segitiga, ke mana pun selalu bersama. Namun, sejak Quinn tinggal di sini, lewat satu demi satu fitnah yang dia tuduhkan padaku, vila ini pun tidak lagi punya tempat untukku.

Aku meringkuk di sudut yang paling jauh dari mereka, tidak ingin melihat, tidak ingin mendengar. Namun, tawa dan canda mereka selalu dengan mudah masuk ke telingaku.

Quinn kalah lagi dalam permainan. Dengan kesal, dia menjatuhkan diri ke sofa. Morgan mengusap kepalanya, membujuknya dengan penuh kesabaran, memanggilnya Tuan Putri Quinn.

Dulu, dia juga memanggilku Tuan Putri Olive. Namun entah sejak kapan, dia mulai memanggil namaku langsung. Dari matahari kecil yang selalu mengelilingiku, dia berubah menjadi es dingin yang langsung memasang wajah beku setiap kali melihatku.

Aku tidak mengerti kenapa dia bisa berubah sedingin itu. Aku pernah menanyakannya. Hari itu, tatapannya padaku berubah dari dingin menjadi penuh permainan. Dia seperti seorang bangsawan muda yang playboy, menjepit daguku dan mendekat. Napas hangatnya menyapu wajahku.

Aku memalingkan kepala untuk menghindar, lalu dia mengangkat sudut bibirnya dan mencibir. "Olive, kamu nggak berpikir aku mau menciummu, 'kan? Jangan terlalu percaya diri. Aku cuma mau bilang, dibandingkan Quinn, kamu itu benar-benar bikin muak. Dulu aku buta sampai menganggapmu harta karun."

"Kamu mau tahu kenapa aku jadi dingin padamu? Itu karena aku sudah menemukan satu-satunya orang di hidupku yang ingin kuperlakukan dengan baik. Jadi mulai sekarang, di mataku kamu bukan apa-apa. Sadar diri sedikit dan enyahlah dari hidupku."

Kata-kata terakhir itu diucapkannya dengan kejam. Aku benar-benar memasukkannya ke hati.

Karena itu, keesokan harinya, aku menemui Harlem dan mengusulkan agar kami pindah keluar, meninggalkan vila itu untuk Morgan dan Quinn.

Namun, Harlem yang selama ini selalu mengutamakan keinginanku, untuk pertama kalinya menolakku. Dia menyalahkanku karena tak masuk akal, menuduhku terlalu manja, menyebutku tidak tahu bagaimana cara menerima Quinn.

Setelah itu, dia tidak menghiraukanku cukup lama. Aku tak sanggup menahan sikap dingin mereka, jadi aku memilih pindah keluar untuk menenangkan diri. Namun, baru tiga hari setelah pindah, aku sudah meninggal.
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Tunangan Dan Sahabat yang Mengacuhkan Kematianku   Bab 8

    Bam! Morgan menutup hidungnya sambil terhuyung ke belakang. Kepalanya langsung pusing dan berdengung.Belum sempat bereaksi, Harlem sudah mencengkeram kerah bajunya dan menghajarnya dengan beberapa pukulan keras.Keduanya seperti ingin meluapkan seluruh dendam dan keluh kesah yang terpendam di dalam hati. Pukulan demi pukulan mendarat tanpa ampun, tak ada yang mau mengalah."Morgan, Olive adalah tunanganku. Dia memilihku. Seharusnya kamu mundur, bukan malah seperti perempuan licik yang setiap hari menggoda dan terus menempel padanya!""Harlem, kamu juga tahu Olive itu tunanganmu, 'kan? Lalu kenapa kamu nggak menjaganya? Kenapa kamu nggak memperlakukannya dengan baik? Begitu Quinn kembali, kamu langsung berubah. Aku sudah lama ingin memberimu pelajaran!"Aku mundur ke sudut, menonton mereka berkelahi, sampai akhirnya keduanya kelelahan. Yang satu bersandar ke dinding, yang satu lagi bertopang pada kusen pintu.Morgan menyeka darah di ujung hidungnya, terengah-engah, menengadah menatap H

  • Tunangan Dan Sahabat yang Mengacuhkan Kematianku   Bab 7

    Setelah Nelly pergi, Harlem tetap mempertahankan posisinya tanpa bergerak sedikit pun.Video itu entah sudah diputar berapa kali. Mungkin karena para pembunuh takut Quinn tidak membayar sisa uang, wajah dan suaranya pun ikut terekam di layar.Seberkas cahaya keemasan menyinari ruangan, jatuh tepat di belakang Harlem, membuat seluruh wajahnya tenggelam dalam bayangan gelap.Tiba-tiba, sesosok bayangan muncul di pintu vila. Morgan memegang sebuah laporan di tangannya. Dadanya naik turun hebat.Dia menatap Harlem, seolah-olah ingin memastikan sesuatu. "Nelly punya kebenaran tentang kematian Olive. Harlem, Olive ....""Sudah mati." Setelah lama terdiam, suara Harlem terdengar agak serak.Matanya tak berkedip menatap layar video. Dia tersenyum pahit. "Dia benar-benar sudah mati dan Quinn memang membunuh orang.""Morgan, sepertinya kita salah."Benda di tangan Morgan jatuh ke lantai dengan suara keras. Itu adalah laporan kehamilan Quinn yang dia suruh orang palsukan.Aku melihatnya melangkah

  • Tunangan Dan Sahabat yang Mengacuhkan Kematianku   Bab 6

    Tiga hari kemudian, dua orang pria itu keluar dari gerbang rumah tahanan.Wajah Harlem muram. Di bawah matanya tampak lingkar kehitaman.Keadaan Morgan juga tak jauh lebih baik. Dengan kesal, dia menendang kerikil di pinggir jalan, lalu berkata dengan dingin, "Olive harus ditemukan. Kalau nggak, Quinn benar-benar dalam bahaya."Harlem mengangguk pelan tanpa berkomentar. Dibanding Morgan, dia jauh lebih tenang."Aku akan mencari Olive. Kamu cari cara untuk mengurus pembebasan Quinn dengan jaminan," ucap Harlem.Morgan melotot menatapnya. "Sekarang bagaimana caranya menjamin? Semua orang bilang dia membunuh orang."Mata Harlem yang hitam tak menunjukkan emosi sedikit pun. Dengan nada datar tanpa gelombang, dia berkata, "Kehamilan bisa dijadikan alasan untuk mengajukan penangguhan penahanan."Morgan baru tersadar. Dia segera naik ke mobil dan melaju ke arah rumah sakit.Aku menatap wajah Harlem yang tanpa ekspresi, untuk pertama kalinya rasa takut muncul di hatiku. Demi melindungi Quinn,

  • Tunangan Dan Sahabat yang Mengacuhkan Kematianku   Bab 5

    Suasana yang semula meriah seketika menjadi hening karena kejadian itu.Harlem dan Morgan mengerutkan kening, lalu melindungi Quinn di belakang mereka. Tak seorang pun melihat, di mata Quinn sekilas melintas kepanikan.Di kepalaku samar-samar terlintas beberapa potongan ingatan, tetapi terlalu cepat. Aku belum sempat menangkapnya, ketika melihat dari belakang para polisi, masuk seorang perempuan yang mengenakan gaun hitam. Di dadanya tersemat bunga kecil berwarna putih.Matanya bengkak dan merah, wajahnya tampak pucat dan lelah.Aku spontan bangkit dan berdiri di hadapannya. Tanganku gemetar saat terangkat, ingin menyentuhnya. Namun, tanganku menembus tubuhnya.Perempuan itu mengangkat tangan, menunjuk ke arah Quinn. Suaranya serak, tetapi tegas. "Pak Polisi, dia Quinn. Dia pembunuh Olive."Begitu kata-kata itu dilontarkan, suasana di sekitar langsung membeku. Beberapa detik kemudian, terdengar kegemparan."Apa yang dia katakan? Olive mati? Dan dibunuh Quinn?""Perempuan ini sudah gila

  • Tunangan Dan Sahabat yang Mengacuhkan Kematianku   Bab 4

    Video yang diputar itu menampilkan jasadku.Gaun putih penuh bercak darah, wajahku disayat puluhan kali hingga rupa asliku sama sekali tak bisa dikenali.Aku memalingkan pandangan, tak sanggup melihatnya. Namun, video ini entah sudah ditonton berapa banyak orang.Petugas itu menahan amarah, menggertakkan gigi sambil berkata, "Ini video tanpa sensor. Sebagai tunangan Bu Olive, Anda seharusnya yang paling mengenalnya. Sekarang, apa kalian masih nggak percaya Bu Olive benar-benar telah meninggal?"Ekspresi Harlem berubah-ubah. Dia cepat-cepat memalingkan pandangan, seolah-olah tak tega. "Wajahnya sudah hancur seperti itu, bagaimana kamu bisa memastikan itu Olive? Lagi pula, luka-lukanya kelihatan palsu sekali. Kamu kira hanya dengan satu video aku akan percaya?""Olive itu sangat menyayangi nyawanya. Kalau dia benar-benar mengalami sesuatu, orang pertama yang akan dia hubungi pasti aku. Tapi sampai sekarang, aku nggak menerima satu pun telepon darinya ....""Suruh dia berhenti berakting d

  • Tunangan Dan Sahabat yang Mengacuhkan Kematianku   Bab 3

    Aku lupa bagaimana aku mati. Aku hanya ingat, saat berubah menjadi arwah dan melihat jasadku, aku tak sanggup menatapnya. Terlalu menyedihkan, juga terlalu mengerikan.Aku seperti jatuh ke laut dalam. Sekelilingku gelap gulita. Aku tak tahu akan tenggelam sampai ke mana. Aku ketakutan, meringkuk, lalu tiba-tiba sebuah kekuatan besar menarikku ke atas.Harlem dan Morgan berjalan tergesa-gesa di depan. Morgan menyetir mobil, sementara Harlem menelepon nomorku. Wajah mereka berdua tampak masam.Puluhan detik kemudian, dari ponsel terdengar nada sibuk. Bibir tipis Harlem terkatup rapat, jarinya mengetuk pintu mobil berulang kali.Morgan meliriknya. "Kenapa? Nggak diangkat?"Harlem memejamkan mata, menutupi hawa dingin di balik tatapannya.Morgan menginjak pedal gas lebih dalam, lalu mobil melesat keluar. Dengan suara dingin, dia berkata, "Olive ini benar-benar ketagihan berakting ya? Bahkan sampai menyiapkan abu jenazah. Aku mau lihat, itu benar-benar abu dia atau bukan."Abu jenazah? Jadi

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status