로그인Hari ketiga setelah aku meninggal, tunanganku menerima telepon untuk mengidentifikasi jenazah. Dengan nada tidak sabar, dia berkata, "Kalau sudah mati, ya mati saja. Kuburkan dulu, baru kabari aku." Polisi tak berdaya, lalu menelepon orang kedua yang tercantum sebagai kontak darurat, yaitu teman masa kecilku. Dia tertawa dingin. "Benaran mati? Tapi soal mengurus mayat, bukan urusanku juga, 'kan? Langsung saja dibakar, terus abunya dibuang." Sampai akhirnya, foto jenazahku tersebar di internet. Dalam semalam, rambut tunanganku dan teman masa kecilku sama-sama memutih.
더 보기Bam! Morgan menutup hidungnya sambil terhuyung ke belakang. Kepalanya langsung pusing dan berdengung.Belum sempat bereaksi, Harlem sudah mencengkeram kerah bajunya dan menghajarnya dengan beberapa pukulan keras.Keduanya seperti ingin meluapkan seluruh dendam dan keluh kesah yang terpendam di dalam hati. Pukulan demi pukulan mendarat tanpa ampun, tak ada yang mau mengalah."Morgan, Olive adalah tunanganku. Dia memilihku. Seharusnya kamu mundur, bukan malah seperti perempuan licik yang setiap hari menggoda dan terus menempel padanya!""Harlem, kamu juga tahu Olive itu tunanganmu, 'kan? Lalu kenapa kamu nggak menjaganya? Kenapa kamu nggak memperlakukannya dengan baik? Begitu Quinn kembali, kamu langsung berubah. Aku sudah lama ingin memberimu pelajaran!"Aku mundur ke sudut, menonton mereka berkelahi, sampai akhirnya keduanya kelelahan. Yang satu bersandar ke dinding, yang satu lagi bertopang pada kusen pintu.Morgan menyeka darah di ujung hidungnya, terengah-engah, menengadah menatap H
Setelah Nelly pergi, Harlem tetap mempertahankan posisinya tanpa bergerak sedikit pun.Video itu entah sudah diputar berapa kali. Mungkin karena para pembunuh takut Quinn tidak membayar sisa uang, wajah dan suaranya pun ikut terekam di layar.Seberkas cahaya keemasan menyinari ruangan, jatuh tepat di belakang Harlem, membuat seluruh wajahnya tenggelam dalam bayangan gelap.Tiba-tiba, sesosok bayangan muncul di pintu vila. Morgan memegang sebuah laporan di tangannya. Dadanya naik turun hebat.Dia menatap Harlem, seolah-olah ingin memastikan sesuatu. "Nelly punya kebenaran tentang kematian Olive. Harlem, Olive ....""Sudah mati." Setelah lama terdiam, suara Harlem terdengar agak serak.Matanya tak berkedip menatap layar video. Dia tersenyum pahit. "Dia benar-benar sudah mati dan Quinn memang membunuh orang.""Morgan, sepertinya kita salah."Benda di tangan Morgan jatuh ke lantai dengan suara keras. Itu adalah laporan kehamilan Quinn yang dia suruh orang palsukan.Aku melihatnya melangkah
Tiga hari kemudian, dua orang pria itu keluar dari gerbang rumah tahanan.Wajah Harlem muram. Di bawah matanya tampak lingkar kehitaman.Keadaan Morgan juga tak jauh lebih baik. Dengan kesal, dia menendang kerikil di pinggir jalan, lalu berkata dengan dingin, "Olive harus ditemukan. Kalau nggak, Quinn benar-benar dalam bahaya."Harlem mengangguk pelan tanpa berkomentar. Dibanding Morgan, dia jauh lebih tenang."Aku akan mencari Olive. Kamu cari cara untuk mengurus pembebasan Quinn dengan jaminan," ucap Harlem.Morgan melotot menatapnya. "Sekarang bagaimana caranya menjamin? Semua orang bilang dia membunuh orang."Mata Harlem yang hitam tak menunjukkan emosi sedikit pun. Dengan nada datar tanpa gelombang, dia berkata, "Kehamilan bisa dijadikan alasan untuk mengajukan penangguhan penahanan."Morgan baru tersadar. Dia segera naik ke mobil dan melaju ke arah rumah sakit.Aku menatap wajah Harlem yang tanpa ekspresi, untuk pertama kalinya rasa takut muncul di hatiku. Demi melindungi Quinn,
Suasana yang semula meriah seketika menjadi hening karena kejadian itu.Harlem dan Morgan mengerutkan kening, lalu melindungi Quinn di belakang mereka. Tak seorang pun melihat, di mata Quinn sekilas melintas kepanikan.Di kepalaku samar-samar terlintas beberapa potongan ingatan, tetapi terlalu cepat. Aku belum sempat menangkapnya, ketika melihat dari belakang para polisi, masuk seorang perempuan yang mengenakan gaun hitam. Di dadanya tersemat bunga kecil berwarna putih.Matanya bengkak dan merah, wajahnya tampak pucat dan lelah.Aku spontan bangkit dan berdiri di hadapannya. Tanganku gemetar saat terangkat, ingin menyentuhnya. Namun, tanganku menembus tubuhnya.Perempuan itu mengangkat tangan, menunjuk ke arah Quinn. Suaranya serak, tetapi tegas. "Pak Polisi, dia Quinn. Dia pembunuh Olive."Begitu kata-kata itu dilontarkan, suasana di sekitar langsung membeku. Beberapa detik kemudian, terdengar kegemparan."Apa yang dia katakan? Olive mati? Dan dibunuh Quinn?""Perempuan ini sudah gila
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.