Home / Fantasi / Turun Gunung Memikul Takdir / 24. Percakapan Para Topeng

Share

24. Percakapan Para Topeng

Author: Murlox
last update publish date: 2026-09-26 03:22:01

“Haha, pagi-pagi kau sudah membuat keributan, bahkan sampai menggoda seorang wanita.”

Tawa Sun Liang pecah saat ia tiba-tiba muncul di sisi ruangan. Wan Xuan menghiraukannya dan kembali duduk di kursi dekat jendela, tak sedikit pun menunjukkan minat pada kehadiran Sun Liang.

“Ngomong-ngomong, semalam kau pergi ke mana?” tanya Sun Liang, mencoba mencairkan suasana.

“Kenapa kau ingin tahu?” Wan Xuan balik bertanya, nadanya datar tanpa emosi.

Sun Liang menghela napas jengkel, tampak lelah menghadapi sikap dingin Wan Xuan yang tak kunjung berubah.

“Sial, sikapnya dingin sekali saat berhadapan denganku, tapi tidak begitu dengan Komandan Xin itu,” batin Sun Liang kesal, membandingkan perlakuan yang begitu berbeda.

“Aku tak sedang bercanda kali ini. Aku harus tahu apa yang kau lakukan. Atau setidaknya, dengarkan peringatan yang kukatakan—jangan membuat masalah,” ucapnya, kali ini nada suaranya terdengar lebih serius dari biasanya.

Wan Xuan memandang ke luar jendela, menyaksikan lanskap langit biru dan awan putih yang menghias seperti gulungan ombak yang membentang luas.

“Kau peduli? Kenapa? Apa kita punya hubungan yang begitu erat? Urusanku adalah milikku sendiri,” ucapnya tanpa menoleh sedikit pun, “atau jangan-jangan kecurigaanku selama ini memang benar?”

Sun Liang tertegun. “Kecurigaan apa?”

Wan Xuan menoleh dengan wajah datar, namun tatapannya tampak dipenuhi rasa jijik dan tak percaya yang sengaja dilebih-lebihkan.

“Aku curiga kau punya ketertarikan dengan sesama jenis.”

Brak!

Sun Liang menggebrak meja kayu di sisi ruangan hingga berderak keras, wajahnya memerah karena malu bercampur amarah, sementara urat di dahinya menonjol jelas.

“A-apa katamu?!” serunya kesal. “Aku ini masih pria baik-baik! Kau pikir aku menyukaimu, bajingan?!”

Wan Xuan menatapnya malas, sama sekali tak tergerak oleh amukan itu. “Mungkin saja dugaanku benar. Kau hanya terlalu malu untuk mengakuinya.”

“Ahh! Sudah kubilang aku pria normal, sialan!” seru Sun Liang lagi sambil menunjuk wajah Wan Xuan, jari telunjuknya bergetar hebat saking kesalnya.

Wan Xuan mengangkat bahu acuh tak acuh. “Entahlah... kau terlalu mencurigakan untuk sepenuhnya dipercaya.”

Jawaban singkat itu membuat Sun Liang semakin naik pitam. Tubuhnya bergetar hebat menahan amarah, seolah benar-benar ingin melayangkan tinju ke wajah datar Wan Xuan yang begitu menjengkelkan itu.

...

Sementara itu, di sudut terpencil Kota Linmeng, di sebuah tempat sunyi yang remang cahaya, berdiri sekelompok pria bertopeng dengan seragam hitam yang seragam. Sosok mereka tak tampak jelas karena gelapnya ruangan yang hanya diterangi seberkas nyala lampu minyak yang berkedip-kedip pelan.

“Dua orang yang ditugaskan semalam katanya terbunuh secara misterius,” kata salah satu sosok bertopeng Iblis Kumbang, suaranya berat dan penuh kekhawatiran.

“Benar. Tak hanya terbunuh, kita juga kehilangan benda-benda itu. Karena itulah, Bos bisa marah besar akibat target malam itu tak terpenuhi sama sekali,” sahut pria bertopeng polos, nada suaranya terdengar was-was.

“Bagaimana dengan penyelidikannya? Apa pembunuhnya sudah diketahui?” tanya Iblis Kumbang lagi, penasaran.

“Tidak ada jejak sedikit pun yang tertinggal. Kami menduga orang yang terlibat adalah seorang ahli yang cukup kuat—terlalu pandai menghapus bukti hingga tak menyisakan petunjuk apa pun. Untungnya, mayat kedua orang itu berhasil kami temukan lebih dulu sebelum pihak penjaga kota sempat mencium jejaknya,” balas pria bertopeng Iblis Gunung, suaranya rendah dan penuh perhitungan.

“Ah, masalahnya jadi semakin merepotkan saja. Bos juga meminta kita menemukan lebih banyak korban sebelum pertengahan bulan ini tiba. Sepertinya kita benar-benar tak akan mendapat waktu istirahat tambahan,” keluh si topeng polos, terdengar lelah membayangkan tugas berat yang menanti.

“Kalau begitu, siapa yang akan bertanggung jawab melapor pada Bos soal kegagalan semalam?” tanya Iblis Kumbang, suaranya sedikit gentar membayangkan kemarahan atasan mereka.

"Tunggu? Jadi Bos belum tahu masalah ini?" Tanya si Iblis Kumbang.

Hening sejenak menyelimuti ruangan remang itu. Tak satu pun dari mereka menjawab, justru malah saling melempar pandang di balik topeng masing-masing.

Si topeng Iblis Kumbang menghela napas tak berdaya. "Sial, kupikir dia sudah mengetahuinya... Lalu bagaimana sekarang?"

“Bukankah lebih baik kita cari tahu dulu siapa pembunuh sebenarnya sebelum melapor?” usul Iblis Gunung akhirnya, mencoba mencari jalan keluar dari situasi yang serba sulit. “Setidaknya, kalau kita bisa membawa kepala pembunuhnya sekaligus, amarah Bos mungkin bisa sedikit mereda.”

Ketiganya saling bertukar pandang, mempertimbangkan usulan itu dengan serius. Di tengah kegelapan ruangan, ketegangan semakin terasa pekat.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Turun Gunung Memikul Takdir   26. Harta Paling Berharga

    Xin Nian duduk sendirian di ruang kerjanya, menatap dokumen yang sudah bertumpuk rapi di atas meja tanpa benar-benar membacanya. Pikirannya masih dipenuhi kata-kata Wan Xuan yang terus berputar seperti gaung di dalam kepalanya—dalang pembunuhan itu berada di kediaman raja kota.Ia menghela napas panjang, menyandarkan punggungnya ke kursi kayu yang mulai terasa dingin menembus bajunya.Memang benar, sebagai komandan, ia memegang otoritas besar dalam memerintah pasukan penjaga kota. Namun otoritas itu ada batasnya. Di atas dirinya, masih berdiri sosok yang jauh lebih berkuasa—seseorang yang perintahnya tak boleh dipertanyakan, apalagi ditentang secara terang-terangan.Ia mencoba percaya Wan Xuan tak berbohong. Entah kenapa, meski baru mengenalnya beberapa lama, ada sesuatu dalam diri pria itu yang membuatnya yakin bahwa setiap kata yang keluar dari mulutnya bukanlah dusta belaka.Namun kepercayaan saja tak cukup untuk bergerak gegabah.“Apa aku harus menyelidikinya diam-diam?” gumamnya

  • Turun Gunung Memikul Takdir   25. Percaya atau Tidak

    Beberapa hari kemudian, masa penahanan Wan Xuan akhirnya berakhir dan ia diperbolehkan beraktivitas kembali dengan bebas. Walaupun begitu, tetap saja ada beberapa pasang mata yang diam-diam mengawasinya, meski hal itu tak begitu ia pedulikan.“Kenapa kau ingin tahu tentang kediaman raja kota?” tanya Xin Nian di dalam ruang kerjanya di markas pusat, menatap Wan Xuan dengan alis sedikit terangkat.“Kenapa tidak? Aku harus mengenal tempat yang kutinggali, agar tak menimbulkan masalah di kemudian hari,” jawab Wan Xuan santai.Xin Nian menghela napas pelan. Ia tak sepenuhnya memahami apa yang sedang dipikirkan Wan Xuan, namun entah mengapa ia juga tak sanggup menolak permintaan itu begitu saja.Tak lama kemudian, ia mengeluarkan setumpuk dokumen setebal tiga inci dari dalam laci mejanya, lalu berkata pelan, “Ini hanya informasi umum tentang kediaman raja kota. Tapi terus terang, aku curiga kau menyimpan motif tersembunyi di balik semua ini.”Wan Xuan tersenyum simpul mendengarnya. Ia melan

  • Turun Gunung Memikul Takdir   24. Percakapan Para Topeng

    “Haha, pagi-pagi kau sudah membuat keributan, bahkan sampai menggoda seorang wanita.”Tawa Sun Liang pecah saat ia tiba-tiba muncul di sisi ruangan. Wan Xuan menghiraukannya dan kembali duduk di kursi dekat jendela, tak sedikit pun menunjukkan minat pada kehadiran Sun Liang.“Ngomong-ngomong, semalam kau pergi ke mana?” tanya Sun Liang, mencoba mencairkan suasana.“Kenapa kau ingin tahu?” Wan Xuan balik bertanya, nadanya datar tanpa emosi.Sun Liang menghela napas jengkel, tampak lelah menghadapi sikap dingin Wan Xuan yang tak kunjung berubah.“Sial, sikapnya dingin sekali saat berhadapan denganku, tapi tidak begitu dengan Komandan Xin itu,” batin Sun Liang kesal, membandingkan perlakuan yang begitu berbeda.“Aku tak sedang bercanda kali ini. Aku harus tahu apa yang kau lakukan. Atau setidaknya, dengarkan peringatan yang kukatakan—jangan membuat masalah,” ucapnya, kali ini nada suaranya terdengar lebih serius dari biasanya.Wan Xuan memandang ke luar jendela, menyaksikan lanskap langi

  • Turun Gunung Memikul Takdir   23. Peringatan Terakhir

    Wan Xuan melepaskan tekanan Qi yang kuat dari tubuhnya. Gelombang energi itu menyapu ruangan dan menghantam para pengawal Feng Sui yang berusaha mendekat.“Ugh!”Beberapa pengawal langsung kehilangan keseimbangan. Tubuh mereka terangkat akibat tekanan Qi yang begitu kuat, lalu terpental ke belakang dan menghantam dinding di tepi ruangan dengan suara keras.Brak! Brak!Tubuh mereka jatuh ke lantai satu demi satu, mengerang kesakitan.Bahkan Feng Sui yang berdiri tidak jauh dari mereka ikut terdorong beberapa langkah ke belakang. Ia segera menahan tubuhnya agar tidak ikut terjatuh, lalu menatap Wan Xuan dengan wajah yang mulai berubah tegang.Ini bukan kali pertama Wan Xuan memperingatkannya dengan cara seperti itu. Namun, Feng Sui terlalu bodoh untuk mengingat peringatan terakhir yang hampir saja merenggut nyawanya.Yang terus terngiang di kepalanya hanyalah penghinaan yang pernah dilontarkan Wan Xuan kepadanya. Rasa malu itu memenuhi hati dan pikirannya, sampai-sampai ia melupakan bet

  • Turun Gunung Memikul Takdir   22. Salah Paham Lagi

    Xin Nian berjalan cepat tanpa menoleh ke belakang, wajahnya memerah seperti tomat matang dan pikirannya kacau tak menentu.Saat wajahnya menunduk berusaha menyembunyikan rona di pipinya, keanehan itu justru tertangkap jelas oleh beberapa penjaga yang kebetulan lewat, termasuk Feng Sui yang berada tak jauh dari sana.“Huh? Komandan Xin, kenapa ekspresinya seperti itu?” gumam Feng Sui pada dirinya sendiri, mengamati dengan alis terangkat.Ia sempat heran, namun tak lama kemudian sebuah kecurigaan tiba-tiba melintas di benaknya.“Tunggu... arah itu? ...Komandan baru saja meninggalkan tempat bajingan itu ditahan. Jangan-jangan sesuatu yang buruk sudah terjadi padanya di sana.”Tak mau tinggal diam, Feng Sui segera bergegas menuju kediaman tempat penahanan Wan Xuan. Ekspresinya berubah serius, dipenuhi kecurigaan yang semakin membesar seiring langkahnya.“Entah apa yang bajingan itu lakukan pada Komandan Xin, sudah pasti sesuatu yang buruk... awas saja kau,” geramnya di sela-sela perjalana

  • Turun Gunung Memikul Takdir   21. Sekedar Mengingatkan

    Matahari menyingsing dari arah timur, menerangi Kota Linmeng dengan kilau keemasan yang penuh kehangatan.Embun beku akibat dinginnya malam perlahan mencair, menciptakan kilau indah dari pantulan sinar matahari pada rerumputan dan helai-helai dedaunan.Markas pusat penjaga kota kembali disibukkan oleh penyelidikan kasus pembunuhan. Beberapa prajurit penyidik sudah dikerahkan untuk menyisir setiap sudut kota.Hanya saja, Komandan Xin Nian tak tampak senang. Ekspresi wajahnya agak cemberut, menyimpan sedikit... kecurigaan yang enggan ia ungkapkan.“Huh... ke mana orang itu pergi? Wan Xuan seharusnya sadar dirinya berada dalam kondisi yang tak menguntungkan sekarang, tapi dia justru menghilang begitu saja,” gumamnya kesal.Xin Nian berjalan tergesa menuju kediaman tempat penahanan Wan Xuan. Mendengar kabar bahwa Wan Xuan menghilang dari tempatnya sudah cukup membuat jantungnya berdebar tak menentu.“Untung saja Feng Sui belum mengetahui apa pun. Kalau tidak, dia pasti jadi orang pertama

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status