Share

20. Simalakama.

Author: Suzy Wiryanty
last update publish date: 2026-07-14 16:57:15

Sore harinya, Tia sedang menemani Rima menyusun balok warna-warni di lantai kamar.

Tawa gembira adiknya membuat suasana kamar terasa hangat.

Namun ketenangan itu buyar saat suara ayahnya terdengar dari lantai bawah.

"Tia!"

Tia langsung mendecak pelan.

"Ada apa lagi sih," gumamnya kesal.

Rima memandang kakaknya.

"Ayah manggil tuh, Kak."

"Iya, Kakak juga dengar. Ini, Kakak kan juga punya telinga." Tia menunjuk telinganya dengan wajah jenaka. Membuat Rima tertawa geli.

Belum sempat Tia bangkit dar
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (3)
goodnovel comment avatar
Iin Iin
insting mu benar Tia, Riffat tdk sebaik itu..
goodnovel comment avatar
Wulan Ruslan
Siap2 kamu juga mikirin dampak nya klo kerja sama Ayah kamu zonk Tia, Demeter sendiri kan semua nya bakalan di pertahun kan . Minimal ada yang buat bertahan 5 tahun walau hidup sederhana tp bahagia
goodnovel comment avatar
Yanti Aching
sebenci apa Tia jika tau riffat ingin balas dendam, dan melibatkan Tia didlm nya
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • UNTAMED (Tak Tertaklukkan)   50. Senjata Makan Nona.

    "Rasakan akibatnya kalau Pak Khalid nanti ngamuk karena rasa jusnya berubah," gumamnya sinis.Tatapannya mengikuti punggung Tia yang semakin menjauh. "Nggak salah kamu membiarkan Tia yang membuat jus, Vi?" Elly staf bagian pantry minuman lainnya bertanya pada Vira."Ntar kalau rasanya nggak enak gimana? Bisa ngamuk Pak Khalid," tukas Elly cemas."Ya kita tinggal bilang kalau jus itu buatan Tia lah," jawab Vira santai. "Gila kamu, Vi. Membuat jus itu job desk kamu. Bukan tugas Tia." Elly menggeleng-gelengkan kepala.Vira tidak mempedulikan ucapan Elly. Ia menyilangkan kedua tangan di dada. Ia malah berharap kalau Tia, si anak emas itu mendapat masalah. Dirinya dan semua staf di Restoran Kenanga ini sebenarnya cemburu pada Tia.Mereka semua sudah bekerja rata-rata tiga sampai lima tahun di restoran ini. Namun status mereka tetap hanya karyawan outsourcing.Sementara Tia yang baru sebulan masuk, sudah menjadi pekerja tetap.Membayangkan Tia dimarahi langsung oleh Pak Khalid membuat sud

  • UNTAMED (Tak Tertaklukkan)   49. Siapa Dia?

    Setelah tiga hari libur, pagi ini Tia kembali bekerja. Suasananya masih sama. Rekan-rekan kerjanya masih kerap berbisik-bisik setiap kali ia lewat. Mirip seperti saat Pak Khalid memecat Bu Amel tiga hari lalu. Bedanya, kali ini mereka tidak berani menyindir atau mengonfrontasinya secara terang-terangan. Mereka hanya melirik sekilas, lalu buru-buru mengalihkan pandangan ketika ia menoleh.Tia sadar kalau rekan-rekannya terus bergosip di belakang punggungnya. Namun ia memilih pura-pura tidak tahu. Ia tidak bisa mengontrol mulut orang lain. Namun ia bisa menulikan telinganya. Ia memilih mengabaikan gosip-gosip yang tidak penting.Tepat pukul dua belas siang, Restoran Kenanga mulai dipenuhi pengunjung yang ingin makan siang. Sebagian besar pengunjung adalah para eksekutif muda dan pelancong yang menginap di Hotel Mulia.Suasana berubah sibuk. Piring-piring berdenting, aroma masakan memenuhi ruangan, sementara para waiter dan waitress hilir mudik membawa pesanan.Di tengah kesibukan itu,

  • UNTAMED (Tak Tertaklukkan)   48. Orang Dari Masa Lalu.

    "Lho, tumben kamu belanja siang begini, Ti?" sapa Bu Rini ramah. "Eh, kamu bawa siapa ini?" Bu Rini membungkuk hingga ia bisa sejajar dengan Rima." "Iya, Bu. Kebetulan saya sedang libur. Ini Rima adik saya." Tia memperkenalkan Rima."Selamat sore, Bu Rini. Saya Rima, Arima Rahmadsyah. Senang berkenalan Bu Rini. Penjual yang paling cantik se-pasar."Bu Rini langsung tertawa lebar. "Astaga, adikmu ini lucu dan ceria sekali." Bu Rini menjawil gemas hidung bangir Rima. "Berbeda denganmu yang lebih tenang dan pemalu." Tia tersenyum kecil. "Beginilah Rima, Bu. Mulutnya memang manis. Kalah gula.""Nggak apa-apa. Ibu senang kok mendengarnya. Perempuan mana yang tidak suka dipuji cantik walaupun sebenarnya bohong. Makanya banyak perempuan yang tertipu oleh rayuan gombal laki-laki." Bu Rini tertawa kecil. Tia ikut tersenyum. Ucapan Rima sebenarnya tidak berlebihan. Di usianya yang mungkin baru memasuki awal empat puluhan, Bu Rini memang masih sangat cantik. Kulitnya bersih, senyumnya hang

  • UNTAMED (Tak Tertaklukkan)   47. Salah Paham.

    Saat Tia hendak membelokkan mobil ke area lobi hotel, suara Pak Khalid kembali terdengar, kali ini sedikit lebih jelas."Bukan... ke sana."Tia segera mengurangi kecepatan."Maaf, Pak?""Masuk... apartemen."Tia mengangguk."Baik."Tia melewati pintu masuk hotel dan tetap melaju lurus beberapa meter sebelum berbelok ke kiri, menuju area parkir apartemen yang masih berada dalam satu kompleks.Hotel dan apartemen memang terhubung dalam satu kawasan eksklusif.Begitu mobil berhenti, Tia turun lebih dulu. Ia berlari memutari kap mobil, lalu membuka pintu penumpang."Pelan-pelan ya, Pak."Pak Khalid mencoba berdiri, namun lututnya goyah. Refleks Tia menopang lengan pria itu."Terima kasih..." gumam Pak Khalid nyaris tak terdengar.Dengan langkah tertatih, mereka berjalan menuju lobi apartemen.Di depan lift, Pak Khalid merogoh saku jasnya dengan tangan gemetar. Beberapa kali gagal sebelum akhirnya berhasil mengeluarkan sebuah kartu akses berwarna hitam."Ini..."Tia mengambil kartu itu den

  • UNTAMED (Tak Tertaklukkan)   46. Bertemu Lagi.

    Tia melambaikan tangan kepada Clara dan Desy yang berjalan menuju mobil masing-masing."Udah sana pulang. Besok gue harus bangun jam empat pagi. Walaupun libur dari hotel, gue tetap harus jualan nasi uduk," katanya sambil memindai jam di pergelangan tangannya. Waktu telah menunjukkan pukul 11.00 malam lewat 5 menit."Hati-hati!" seru Clara."Chat kalau udah sampai rumah," timpal Desy.Tia mengangguk. Ia sengaja tidak ikut menumpang mobil mereka. Rumah kontrakannya hanya beberapa menit berjalan kaki dari warung tenda itu. Tinggal masuk ke gang di seberang jalan, ia sudah sampai.Tia berjalan pelan menikmati udara malam. Lampu-lampu jalan memancarkan cahaya hangat, yang kontras dengan angin malam yang sesekali berembus. Membawa aroma jahe, kayu manis, dan kacang sangrai dari panci-panci besar yang mengepul di atas kompor. Tiba-tiba udara berubah dingin. Angin malam membawa udara basah. Sepertinya sebentar lagi akan turun hujan.Tia mempercepat langkah. Melewati beberapa pelanggan yang

  • UNTAMED (Tak Tertaklukkan)   45. Mencari Jawaban.

    Malam mulai merambat larut. Jarum jam sudah menunjuk pukul sepuluh lewat lima belas menit. Namun Tia, Clara dan Desy masih bertahan di sebuah warung tenda sederhana di pinggir jalan."Lo bisa jadi pekerja tetap itu karena gue yang minta ke Om Burhan," kata Clara sambil menyeruput wedang jahe kesukaannya. Tia yang sedang mendekatkan bibirnya pada birai gelas langsung berhenti. "Apa hubungannya antara gue jadi pekerja tetap sama om-om-an lo itu?" Tia menjungkitkan alis."Hubungannya erat." Clara menghidu aroma wedang jahenya sebelum kembali menyeruputnya nikmat. "Hotel Mulia itu sistemnya holding company. Milik Herlambang Group dan beberapa orang pemegang saham. Salah satunya ya, Om Burhan." Desy bersiul. "Tajir juga ya Om Burhan lo itu, Cla. Bayangin, punya saham di hotel semewah Hotel Mulia."Clara memutar bola mata. "Lo jangan mikir Om Burhan punya saham mayoritas, Des. Nilai sahamnya cuma seuprit. Tapi cukuplah buat ngomong ke bagian HRD." "Waktu itu lo ngomongnya gimana sama

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status