مشاركة

60. Penasaran.

مؤلف: Suzy Wiryanty
last update تاريخ النشر: 2026-08-24 14:01:06

Tia menatap gelang di tangannya lalu memandang Pak Khalid.

"Kenapa, Pak?" tanyanya bingung.

"Jawab saja pertanyaan saya. Dari mana kamu mendapatkan gelang itu?" Pak Khalid menunjuk pergelangan tangan Tia.

"Ini?" Tia mengangkat lengannya. "Dari Ibu saya. Kata Ibu sekarang gelang ini milik saya."

"Itu bukan gelang ibumu. Tapi gelang orang lain," pungkas Pak Khalid tegas.

"Maaf, apa dasar Bapak berani mengklaim kalau gelang itu bukan milik Ibu saya?" Alis Tia bertaut.

"Atas dasar kebenaran. Gela
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق
تعليقات (7)
goodnovel comment avatar
kreasiniche.cik
semakin mencurigakan, mungkin nila hamil trus ditampung astri, pas itu astri manfaatin nila, dia pura2 hamil jg. lalu lahirlah tia. trus husni -yg dulunya menghalalkan berbagai cara- dia lenyapkan nila kali ya, dr.agnes sepertinya tau rahasia itu jg
goodnovel comment avatar
zahhiyahnajwa04
semakin seru... update lagi dong thor
goodnovel comment avatar
Yelloe Duassatu
Kan bener deh kayaknya Tia anaknya pak Khalid dan Nila meninggalkan pa Khalid saat dia tahu sedang hamil
عرض جميع التعليقات

أحدث فصل

  • UNTAMED (Tak Tertaklukkan)   60. Penasaran.

    Tia menatap gelang di tangannya lalu memandang Pak Khalid."Kenapa, Pak?" tanyanya bingung."Jawab saja pertanyaan saya. Dari mana kamu mendapatkan gelang itu?" Pak Khalid menunjuk pergelangan tangan Tia."Ini?" Tia mengangkat lengannya. "Dari Ibu saya. Kata Ibu sekarang gelang ini milik saya.""Itu bukan gelang ibumu. Tapi gelang orang lain," pungkas Pak Khalid tegas. "Maaf, apa dasar Bapak berani mengklaim kalau gelang itu bukan milik Ibu saya?" Alis Tia bertaut. "Atas dasar kebenaran. Gelang itu adalah hadiah dari saya untuk Nila."Tia terdiam. Nama itu langsung mengingatkannya pada sesuatu.Pak Khalid pernah menyebut nama yang sama ketika mabuk di apartemennya. Pak Khalid mengangkat wajah."Kalau kamu tidak percaya, coba periksa. Di inisial huruf P itu, dibaliknya ada huruf R yang diukir kecil. Lalu di inisial huruf A ada huruf H yang juga diukir kecil."Penasaran, Tia pun melepas gelangnya dan memeriksa inisial huruf yang Pak Khalid katakan. Dan ternyata apa yang Pak Khalid ka

  • UNTAMED (Tak Tertaklukkan)   59. Milik Siapa?

    Setelah berpakaian rapi dan siap berangkat ke hotel, Tia tiba-tiba teringat sesuatu. Ia belum mentransfer utangnya pada Riffat!Tia buru-buru mengambil ponsel. Ia tidak ingin Riffat menganggapnya sengaja mangkir. Ia lalu mengetik pesan pada Riffat meminta nomor rekeningnya.Minta nomor rekening, Pak. Saya mau mentransfer cicilan.Tak sampai satu menit, balasan masuk. Riffat mengirimkan nomor rekeningnya tanpa basa-basi. Besok kamu tidak usah datang ke hotel.Tia mengernyit. Apa-apaan ini! Apa Riffat memecatnya?Tanpa berpikir panjang, ia langsung menelepon."Kenapa saya tidak boleh masuk kerja? Apa Bapak mau memecat saya?" tanya Tia gusar."Kalau saya dipecat, bagaimana saya bisa membayar utang?" lanjut Tia lagi.Di seberang terdengar suara decakan lidah."Kamu buta huruf atau bagaimana? Ada saya tulis memecatmu? Tia terdiam. Memang tidak."Saya cuma tidak ingin melihat wajahmu di restoran dalam dua hari ini."Tia masih belum bersuara."Saya ada pertemuan penting dengan beberapa kli

  • UNTAMED (Tak Tertaklukkan)   58. Haru Biru.

    Tia melenguh pelan dan terbangun mendengar suara-suara orang yang berbicara bersamaan."Ada apa sih pagi-pagi buta udah ribut-ribut," keluhnya pelan.Rasanya ia baru memejamkan mata beberapa menit lalu.Perlahan ia membuka mata. Namun ia refleks menutupnya kembali karena silau.Silau?Ia langsung terduduk. Kalau silau berarti sudah pagi!Tangannya meraba-raba ponsel, tetapi matanya lebih dulu menangkap jam dinding.Pukul 07.30. WIB."Ya ampun!"Tia menepuk kening. Ia belum memasak nasi uduk! Ingatan terakhir yang tersisa adalah dirinya menangis di pelukan Bu Teti semalam. Entah kapan ia tertidur setelah itu.Tiba-tiba terdengar suara Bu Teti dari luar."Iya, Bu Novi. Hari ini Tia nggak jualan. Lagi sakit orangnya. Mungkin besok baru jualan lagi.""Oh, ya sudah. Saya heran aja. Biasanya si Tia nggak pernah tutup."Tia menajamkan pendengaran. Suara ribut-ribut itu berasal dari pelanggan nasi uduknya rupanya.Perlahan ia turun dari ranjang dan berjalan mengendap ke jendela. Dari celah ti

  • UNTAMED (Tak Tertaklukkan)   57. Kebingungan Tia.

    Tia baru saja membuka pintu rumah ketika langkahnya terhenti.Lampu di ruang tamu masih menyala terang. Di tengah malam seperti ini, seharusnya ibunya sudah tidur. Apakah ibunya lupa mematikan lampu?Tia menajamkan telinga. Ia mendengar suara ribut-ribut dari kamar ibunya. Penasaran, ia pun membuka pintu kamar sang ibu. Pemandangan di depannya membuatnya bingung. Alih-alih tidur, ibunya malah sibuk memasukkan pakaian ke dalam koper."Baru pulang, Tia? Cepat bantu Ibu dulu. Pakaianmu dan Rima belum ibu masukkan ke koper," kata Bu Astri tanpa melihat Tia.Tia mengernyit."Untuk apa, Bu? Kenapa Ibu menyusun pakaian malam-malam? Kita mau ke mana?""Jangan banyak tanya. Bantu saja Ibu dulu. Nanti baru Ibu jelaskan." Tangan ibunya dengan lincah menyusun sisa-sisa pakaian di ranjang ke dalam koper. Karena Tia tidak bereaksi, Bu Astri menatap putrinya. Pada saat itulah dia baru melihat keadaan sang putri yang luka-luka. Wajahnya lebam, lengan bajunya robek, dan luka di beberapa bagian tubu

  • UNTAMED (Tak Tertaklukkan)   Rival?

    Baru saja masuk ke dalam rumah, lampu ruang tamu tiba-tiba menyala. Riffat kaget saat mendapati ayahnya duduk santai di sofa. Sepertinya ayahnya memang sudah menunggunya. Pandangan Pak Khalid langsung tertuju pada tangan Riffat yang terluka."Martin." Pak Khalid berseru. Tak lama kemudian seorang pria paruh baya yang masih mengenakan pakaian tidur keluar dari kamar. Tanpa banyak bertanya, ia mengambil kotak obat dan duduk di hadapan Riffat. Gerakannya cepat dan terampil. Beberapa menit kemudian, luka di telapak tangan Riffat sudah dibersihkan dan dibalut rapi."Sudah," ujar Pak Martin singkat.Ia kembali ke kamarnya.Ruang tamu kembali sunyi. Menyadari kalau ayahnya ingin bicara, Riffat pun duduk di hadapan sang ayah."Ayah sengaja menungguku?"Pak Khalid mengangguk."Betul.""Ada masalah apa, Yah?"Ayahnya menatapnya dengan pandangan menyelidik."Ada masalah apa antara kamu dengan Aminuddin Rahmadsyah? Mengapa kamu ingin menghancurkannya?"Riffat terdiam."Dari mana Ayah tahu soal

  • UNTAMED (Tak Tertaklukkan)   55. Penolong Misterius

    Tia membuka seragamnya dengan langkah sempoyongan. Kelelahan dan kurang tidur membuat kepalanya sekarang berputar seperti kitiran. Ia mengenakan kembali pakaian biasanya lalu memindai jam dinding. "Ya ampun sudah pukul setengah dua belas malam," gumamnya pelan. Ia lalu berjalan keluar ruang ganti karyawan sambil mengorder ojek online. Ia harus langsung tidur cepat agak bisa bangun subuh untuk memasak nasi uduk.Untungnya tidak sampai dua menit seorang pengemudi menerima pesanannya.Tia segera naik ke motor."Sesuai titik, Mbak?""Iya, Pak."Tia mengenakan helm, lalu tanpa sadar memeluk tas selempangnya lebih erat. Di dalam tas itu ada uang yang sangat berarti baginya. Honor banquet exclusive pertamanya.Mbak Christine benar-benar menepati janjinya. Honor event kali ini lima kali lipat dari honor banquet biasa. Ia bahkan mendapat bonus akhir bulan sebesar Rp3,5 juta.Ia sempat kebingungan ketika menerima uang bonus itu tadi."Bonus ini untuk apa, Mbak?""Anggap saja apresiasi dari h

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status