ANMELDENKedua staf mengangkat kepala serempak lalu memohon.
"Saya mengaku salah, Pak. Tapi tolong, jangan pecat saya. Saya adalah tulang punggung keluarga. Bagaimana saya harus menghidupi anak istri?" Dengan tangan terborgol Dennis memohon-mohon pengampunan.
"Saya juga mengaku salah, Pak!" Lutfi ikut memohon. Bayangan menjadi pengangguran sementara banyak cicilan yang harus ia bayar menggentarkannya.
"Saya tergiur kompensasi yang diberikan Pak Jason karena terhimpit ekonomi keluarga. Tolong, jangan pecat saya, Pak." Lutfi ikut menghiba.
"Masalah kalian bukan urusan saya," tukas Riffat dingin.
"Lagi pula mengapa kalian tidak memikirkan akibatnya sebelum terlibat dalam kejahatan?"
Dennis dan Lutfi tidak bisa menjawab. Mereka hanya bisa menunduk makin dalam. Penyesalan tergambar jelas di wajah keduanya.
Akhirnya Jason dan kedua mantan staf hotel itu digiring menuju lobi. Sementara Tia diperiksa oleh dokter yang difasilitasi oleh hotel. Orang tua Tia sedang dalam perjalanan ke hotel untuk menjemput putrinya.
Para tamu yang masih berada di area resepsionis seketika memandang ke arah polisi yang menggelandang tiga orang tersangka.
Di salah satu sofa lobi, Alvin yang sejak tadi menunggu kabar dari Jason refleks berdiri saat melihat rombongan itu. Wajahnya pucat seketika. Ia sudah bisa membaca situasi.
Jason yang panik spontan berteriak.
"Vin, tolongin gue!"
Alvin membeku. Tatapannya bertemu dengan mata para petugas kepolisian yang langsung menghampirinya.
"Saudara Alvin Wijaya?"
"Iya... tapi saya tidak tahu apa-apa." Alvin mengangkat kedua tangannya ke udara.
"Nggak tahu apa-apa lo bilang?" Jason meradang. "Kan kita sama-sama menjebak Tia!" Jason membuka rahasia. Ia kesal karena Alvin ingin cuci tangan begitu saja.
"Anda ikut kami." Petugas itu memiting leher Alvin yang memberontak dan terus mengatakan kalau ia tidak tahu apa-apa.
Salah satu petugas yang kesal memberi sebuah bogem mentah ke wajah Alvin. Barulah ia terdiam dan meringis kesakitan. Ia pun pasrah saat digiring keluar dari Hotel Paramount.
Beberapa karyawan berdiri dengan wajah pucat. Tak ada yang berani bersuara. Namun justru ketenangan itulah yang paling menakutkan.
Sementara itu, Riffat tetap berdiri di lobi dengan kedua tangan di saku celana.
Tatapannya dingin menembus punggung mereka yang menjauh.Tak lama kemudian, seorang pria berusia sekitar lima puluh tahunan berlari tergesa memasuki lobi. Kemeja kerjanya kusut. Napasnya memburu. Pak Arsyad —Manajer Hotel Paramount. Sejak pagi ia memang tidak masuk kerja karena menemani istrinya yang sedang sakit dan harus menjalani pemeriksaan di rumah sakit.
Baru beberapa menit lalu ia menerima telepon panik dari beberapa bawahannya yang mengabarkan bahwa polisi datang ke hotel dan pemilik hotel turun tangan langsung menangani sebuah kasus serius.
Begitu mendengar nama Riffat Herlambang disebut, Pak Arsyad segera meninggalkan rumah sakit dan bergegas menuju hotel.
Namun ternyata semuanya sudah terlambat.
Wajahnya tampak lebih pucat dari biasanya saat berdiri di hadapan sang pemilik hotel.
"Pak Riffat..." suaranya bergetar. "Saya minta maaf."
Riffat menoleh. Tatapan dinginnya membuat Pak Arsyad menunduk.
"Saya benar-benar minta maaf, Pak," lanjut Pak Arsyad. "Hari ini saya memang tidak berada di hotel karena istri saya sakit. Tapi tetap saja ini tanggung jawab saya. Saya lalai mengawasi anak buah saya."
Beberapa detik berlalu. Riffat tidak segera menjawab. Keheningan itu membuat Pak Arsyad semakin gugup. Ia takut sekali kalau Rifat mengetahui bahwa dalam 2 bulan terakhir ini ia sering sekali tidak masuk kerja. Istrinya bolak-balik masuk rumah sakit. Sehingga beban pekerjaan ia alihkan kepada supervisor dan kepala divisi.
"Apa menurut Anda permintaan maaf bisa mengembalikan keadaan seperti semula?"
Suara Riffat terdengar datar. Namun setiap katanya terasa mengancam.
Pak Arsyad tercekat. "Tidak, Pak," jawabnya pelan.
"Tepat." Riffat mengangguk.
Riffat menatap seluruh area lobi sebelum kembali memandang manajernya.
"Anda digaji besar untuk menjalankan hotel ini."
Pak Arsyad menelan ludah.
"Dan sebagai manajer, tugas Anda bukan hanya duduk di belakang meja dan membaca laporan anak buah."
Nada suara Riffat tetap rendah.
Namun semakin lama semakin menekan."Anda harus tahu apa yang terjadi di hotel ini."
Pak Arsyad menunduk semakin dalam.
"Kalau ada tamu VIP masuk, Anda harus tahu. Kalau ada pelanggaran SOP, Anda harus tahu. Kalau ada staf yang bermain kotor, Anda adalah orang pertama yang harus tahu."
Setiap kalimat membuat wajah Pak Arsyad semakin pias.
"Saya mengerti, Pak." Dengan tubuh gemetaran Pak Arsyad terus mengangguk.
"Sayangnya, Anda baru mengerti setelah semuanya terjadi."
Lobi kembali sunyi.
Beberapa staf yang berada tidak jauh dari sana nyaris tidak berani bernapas.
Riffat menyelipkan kedua tangannya ke dalam saku celana.
"Saya sudah memeriksa rekaman CCTV dan laporan keamanan."
Pak Arsyad mengangkat wajahnya perlahan.
"Anda memang tidak terlibat dengan Jason maupun Pak Denis dan Pak Lutfi."
Rasa lega sempat muncul di mata Pak Arsyad. Namun hanya sesaat.
"Anda tidak terlibat, karena Anda sering bolos kerja... setidaknya 2 bulan belakangan ini."
Keringat dingin membanjiri kening dan tubuh Pak Arsyad. Kesalahannya mulai dikuliti. Satu persatu.
"Hal itu tidak membuat Anda bebas dari kesalahan."
Kalimat itu membuat tubuh Pak Arsyad menegang kembali.
Riffat menatapnya tanpa ekspresi.
"Anda gagal menjalankan SOP sesuai jabatan Anda."
Pak Arsyad menunduk lagi. Ia tahu tidak ada pembelaan yang bisa ia berikan. Karena semua yang dikatakan Riffat benar.
Jika pengawasan berjalan sebagaimana mestinya, kejadian seperti ini seharusnya tidak pernah terjadi.
"Oleh karena itu mulai hari ini," kata Riffat tegas, "Anda saya berhentikan dari posisi manajer Hotel Paramount."
Pak Arsyad memejamkan mata.
Meski sudah menduganya, tetap saja keputusan itu terasa menyakitkan. Sudah delapan tahun ia bekerja di hotel ini. Dan semuanya berakhir malam ini."Saya mengerti, Pak." Pak Arsyad menerima pemecatannya dengan lapang dada. Ia memang sudah melakukan kesalahan besar.
Riffat mengangguk singkat lalu berkata," mengenai hutang Anda pada perusahaan."
Pak Arsyad menahan napas. Inilah yang ia takutkan. Tiga bulan lalu, istrinya menjalani operasi besar. Karena tidak mempunyai dana yang cukup, ia meminjam sejumlah uang yang cukup besar pada perusahaan. Kalau ia tidak bekerja, dari mana ia bisa melunasi hutangnya tersebut.
"Saya anggap lunas."
Pak Arsyad terdiam. Seolah tidak percaya dengan apa yang baru didengarnya.
"Selain itu, Anda tetap akan menerima pesangon sesuai hak Anda."
"Alhamdullilah," Pak Arsyad mengucap syukur.
"Perusahaan memberi lebih, agar Anda bisa membuka usaha dan tetap menghidupi keluarga."
Mata Pak Arsyad mulai memerah.
"Pak Riffat... terima kasih." Suara Pak Arsyad bergetar.
"Saya benar-benar berterima kasih. Saya takut sekali tidak bisa membiayai keluarga lagi." Suara Pak Arsyad pecah.
Mendengar kata keluarga, untuk pertama kalinya ekspresi Riffat sedikit berubah. Bukan menjadi lebih lembut, melainkan lebih keras.
"Jangan berterima kasih kepada saya."
Pak Arsyad terdiam.
"Saya melakukan itu bukan untuk Anda. Tapi untuk istri dan anak-anak Anda."
Pak Arsyad membeku.
"Kesalahan Anda tidak seharusnya menjadi hukuman bagi mereka."
Air mata Pak Arsyad menetes. Selama bertahun-tahun bekerja, ia mengenal reputasi Riffat sebagai pemimpin yang keras dan tidak mengenal kompromi. Maklum saja, keluarga Herlambang adalah mafianya dunia malam.
Namun hari ini ia menyadari sesuatu. Riffat memang tidak mudah memaafkan kesalahan. Tetapi ia juga tidak pernah menikmati penderitaan orang lain.
"Atas nama keluarga, saya mengucapkan kasih, Pak," ucap Pak Arsyad lirih.
Kali ini sambil membungkuk dalam-dalam. Bukan sebagai bawahan kepada atasan. Melainkan sebagai seorang ayah yang tahu keluarganya baru saja diselamatkan dari kehancuran.
Riffat hanya mengangguk singkat. Lalu berjalan meninggalkan lobi. Sepasang sepatu kulitnya bergema pelan di lantai marmer yang mengilap.
Ia lalu meraih ponsel dan menekan sebuah kontak. Saatnya untuk menitahkan sesuatu yang sudah ia tunggu lama. Saat panggilan tersambung ia pun segera berbicara
"Segera sebar foto-foto tadi. Dimulai saat dia masuk ke club, mabuk dan dibawa ke hotel. Undang namun tidak kentara para awak media dari dunia entertainment."
Senyum simpul mengerikan terbit di bibir Riffat. Ia tahu besok pagi tanah air akan gempar dengan berita ; putri Aminuddin Rahmadsyah dan Astri Rahmadsyah teler dan check ini dengan seorang pria di hotel. Nama baik Aminuddin dan Astri pasti akan hancur.
Pembalasan yang manis akan segera di mulai. Pelan-pelan saja... tapi mematikan!
Tia mengangkat alis."Ada apa, Bu?" tanya Tia heran.Bu Narti tidak menjawab namun ia duduk di kursi sebelah Tia.Tia semakin heran. Biasanya Bu Narti sangat sibuk melayani pembeli. Namun kali ini ia membiarkan Mbak Dewi sibuk sendiri."Maksud Bu Narti apa?" tanya Tia lagi. Ia penasaran.Wanita paruh baya itu menghela napas."Selama ini Ibu sulit bertemu kamu sendirian. Soalnya kalau ke sini Nak Tia selalu bersama dengan Airin dan Amira."Mendengar nama Airin dan Amira disebut, Tia makin penasaran. Namun ia tidak mengatakan apapun karena Mbak Dewi mengantarkan pesanannya."Memangnya kenapa, Bu?" tanya Tia sambil makan.Bu Narti tampak ragu sesaat.Namun akhirnya ia berkata pelan," Kamu jangan terlalu mempercayai mereka."Tia mengernyit. "Kenapa, Bu?""Karena mereka bukan teman yang baik."Tia langsung memandang Bu Narti lekat-lekat. Selera makannya mendadak hilang."Maksudnya?"Bu Narti menurunkan suaranya menjadi lebih kecil."Kamu tidak tahu kan kalau selama ini mereka sering ngomon
Ternyata apa yang dikatakan Ronald benar. Begitu sampai di ruang guru, Tia langsung melihat dua pria yang duduk di kursi tamu dekat meja Pak Aziz.Keduanya mengenakan pakaian sipil biasa.Tidak ada seragam polisi mau pun atribut kepolisian. Namun Tia langsung tahu kalau mereka bukan orang biasa. Postur dan bahasa tubuh keduanya yang kaku dengan rambut dipotong cepak, sudah mendeskripsikan profesi mereka.Saat Tia masuk, salah satu pria berdiri."Selamat pagi, Justitia Rahmadsyah?" tanyanya.Tia mengangguk. Pria itu mengeluarkan kartu identitas."Saya IPTU Ridwan."Pria di sampingnya ikut berdiri."IPDA Gultom."Pak Aziz yang sejak tadi mendampingi segera mempersilakan Tia duduk."Duduk, Tia. Pak polisi ini hanya ingin menanyakan beberapa hal," kata Pak Aziz menenangkan.Tia menarik kursi lalu duduk.Meski wajahnya terlihat santai, dalam hati ia sedikit gugup.Bagaimanapun juga, ini pertama kalinya ia dimintai keterangan oleh polisi.IPTU Ridwan membuka buku catatannya."Jangan takut.
Tia baru saja turun dari mobil saat suara riuh rendah menyambutnya dari arah gerbang sekolah."Woho! Keren banget lo, Tia. Ratu sekolah kita sudah datangbteman-teman ayo beri jalan... beri jalan!"Tia mengangkat sebelah alisnya.Di belakang gerbang, belasan siswa sudah berkumpul seperti sedang menunggu artis besar.Clara dan Desy bahkan berdiri paling depan.Begitu melihat Tia, keduanya langsung mengacungkan dua jempol tinggi-tinggi."Gokil lo, Tia!" teriak Clara. "Nggak kaleng-kaleng!" sambung Desy heboh. "Habis teler langsung check in hotel! Lo emang cegil sejati. Ratu dugem se-Harapan Bangsa!" Tepuk tangan semakin riuh. Teman-teman yang lain ikut bersorak. Beberapa orang membuat gerakan menyembah ala tren media sosial yang sedang viral."Hormat kepada Ratu Sky Light!""Salam kepada Penguasa Hotel Paramount!""Hidup Justitia Rahmadsyah!"Tia meringis. Pasti foto-fotonya sudah tersebar di dunia maya. Namun ia tak menganggap itu masalah. Dengan santai ia tersenyum jumawa dan melambai
Baru saja melangkahkan kaki ke dalam rumah, Tia sudah disambut oleh teriakan ibunya."Kamu ini kenapa membuat masalah terus sih, Tia!"Tia tidak menanggapi omelan ibunya. Kepalanya masih terasa pusing. Setelah membuka sepatu, ia menghempaskan tubuhnya ke atas sofa."Coba lihat ini!" Ibunya terus mengejar, menyodorkan layar tablet ke depan wajahnya.Ogah-ogahan, Tia melirik. Di sana terpampang beberapa foto yang membuatnya mengernyit.Foto dirinya di Club Sky Light. Ada foto saat ia sedang menari. Foto ketika berjalan sempoyongan. Dan yang paling parah, foto ketika tubuhnya yang setengah sadar tampak bersandar pada seorang pria asing yang membawanya keluar dari klub.Berarti inilah pria yang dikatakan ayahnya tadi.Setelah memperhatikan lebih saksama, Tia yakin pria inilah yang berbicara dengan Airin dan Amira di klub. Sialan memang dua sahabatnya itu."Sekarang jelaskan!" bentak ibunya kesal. "Siapa pria ini, Tia?" Tia mengangkat bahu lalu menguap lebar."Tia nggak kenal, Bu," sahutn
Sementara itu di ujung koridor lantai atas. Seseorang berdiri memperhatikan lift yang baru saja turun.Riffat Herlambang.Kedua tangannya masuk ke dalam saku celana. Tatapannya tetap dingin dan tenang.Tidak menunjukkan emosi apa pun. Namun ketika angka pada layar lift terus bergerak turun menuju lantai dasar,sudut bibirnya perlahan terangkat. Ia ternyum tipis namun cukup untuk menunjukkan kepuasan.Akhirnya setelah lima belas tahun berlalu ia bisa melihat wajah Aminuddin lagi. Wajah jahat dan dingin yang tega memfitnah kedua orang tuanya hingga menemui ajal dengan cara yang sangat tragis. Tidak satu hari pun sejak kejadian itu, ia bisa melupakan wajah kedua orang tuanya saat ajal menjemput.Takdir kini memberinya kesempatan untuk membalas semuanya. Ia tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan itu.Ponselnya bergetar. Salah seorang anak buahnya mengirim beberapa foto. Foto Aminuddin yang menyeret Tia keluar kamar hotel. Foto wartawan yang mengerubungi mereka. Foto Tia yang masih terli
Tia merasa dirinya sedang berenang di tengah lautan yang sangat luas. Suasananya gelap dan dingin. Ombak besar bergulung-gulung di sekelilingnya.Ia terus berenang. Namun daratan tak kunjung terlihat.Kedua tangannya pegal danKakinya mulai kram. Napasnya juga terasa sesak.Di atas kepalanya, awan hitam bergumpal menutupi langit.Petir menyambar silih berganti.Tia semakin ketakutan."Tolong..."Suaranya tenggelam ditelan badai. Lalu hujan mulai turun.Awalnya rintik-rintik kecil.Namun beberapa detik kemudian berubah menjadi hujan deras yang menghantam wajahnya tanpa ampun.Byur!Air dingin menerpa wajahnya.Sekali. Dua kali. Semakin deras dan semakin kuat. Tia berusaha membuka mata. Namun air terus menghantam wajahnya.Byur!"Bangun, Tia! Bangun!"Suara seseorang terdengar samar. Tia mengernyit.Suara itu terasa sangat familiar.Byur!Air kembali menghantam wajahnya."Kamu dengar Ayah tidak?!"Ayah? Tia tertegun.Kenapa suara ayahnya ada di tengah lautan?Byur!Kali ini air menghant







