Home / Romansa / UNTAMED (Tak Tertaklukkan) / 82. Menepati Janji.

Share

82. Menepati Janji.

Author: Suzy Wiryanty
last update publish date: 2026-09-26 22:59:53

Tia termangu. Kalau ibunya masih mampu memberikan nasihat seperti itu kepada Rima, bukankah berarti pikiran ibunya sudah mulai membaik?

Setidaknya masih ada bagian dari dirinya yang mampu berpikir dengan logika.

Tia lalu berjongkok di hadapan Rima.

"Nasihat Ibu sebenarnya tidak salah."

Wajah Rima terangkat.

"Tapi tidak perlu berlebihan. Lagi pula kamu masih kecil."

Tia mengusap rambut adiknya.

"Tugas kamu itu sekolah dan bermain. Tidak perlu mencuci piring, menyapu, atau mengepel di rumah ini.
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (4)
goodnovel comment avatar
Larose
sedih lihat Rima tapi ngakak pas bagian surat,eh pak eh salah bang eh mas Riffat anda jg sbnarnya lega jg kan ternyata surat nya bukan surat cinta
goodnovel comment avatar
Arsyianti Nur
Tambah seru ja kaak,, ......
goodnovel comment avatar
Yelloe Duassatu
Untung aja mata tia awas bisa melihat orang yg akqn menembak Bu Rini.... sadisnya dunia mafia
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • UNTAMED (Tak Tertaklukkan)   88. Pengorbanan.

    Di luar restoran, situasi semakin ramai. Polisi terus memeriksa TKP dan menghalau warga yang beramai-ramai mendekati lokasi. Garis polisi pun dipasang.Seorang perawat mendekati dan mengobati luka-luka goresnya. Tia mengamati para rekannya juga sudah mulai diobati. Beberapa waiter yang mengalami luka lebih berat segera dibawa ke rumah sakit. Yang ringan sementara diobati di tempat. Menunggu ambulans-ambulans lain datang.Tia melirik Riffat yang terus saja menelepon sambil sesekali melihat ke arahnya. Seolah memastikan kalau ia tetap berada di tempat. Sebuah mobil berhenti di depan restoran. Charles turun lebih dulu. Tak lama kemudian Togar menyusul. Keduanya langsung berlari masuk dan membantu proses evakuasi. Sebuah mobil lain berhenti. Pak Khalid turun. Di belakangnya ada Pak Martin dan Alex.Begitu melihat kondisi restoran, Pak Khalid menarik napas panjang.Tatapannya mencari-cari seseorang. Saat menemukan orang yang membuat jantungnya berdebar sepanjang perjalananan, air mukany

  • UNTAMED (Tak Tertaklukkan)   87. Selamat.

    Tia terbaring di jalanan. Riffat mendekapnya erat di atas aspal yang bergetar. Telinganya berdenging, sementara pandangannya mengabur tertutup tirai asap. Udara mendadak beracun oleh aroma mesiu serta material dapur yang hangus terbakar.Tia menoleh ke samping. Asap tampak memenuhi sebagian jalan dekat restoran. Bau hangus bercampur dengan aroma tajam membuat dadanya terasa sesak."Kamu tidak apa-apa, Tia?"Riffat perlahan bangkit dari atas tubuh Tia.Wajahnya terlihat tegang. Debu menempel di rambut dan pakaiannya. Darah tampak mengalir dari luka di lengan dan sisi bahunya.Namun, hal pertama yang dilakukannya bukan memeriksa lukanya sendiri. Ia malah membungkuk dan memeriksa keadaan Tia."Kamu terluka?" Riffat membantu Tia bangun dan memapahnya ke pinggir jalan tak jauh dari restoran. Untunglah mereka dan para staf sempat keluar.Tia menggeleng."Sepertinya saya tidak apa-apa, Pak. Cuma masih syok saja," jawab Tia linglung."Kamu tunggu di sini," ucap Riffat sambil memandangi keada

  • UNTAMED (Tak Tertaklukkan)   86. Nyaris!

    Tia bekerja dengan perasaan tidak tenang. Sedari pagi hingga shiftnya akan berakhir sebentar lagi ia belum mendapat kabar dari Riffat, Azzam, maupun Pak Khalid. Padahal setelah kejadian semalam, ia berharap setidaknya salah satu dari mereka menghubunginya.Namun, ponselnya belum memunculkan notifikasi. Kegelisahan itu semakin bertambah ketika ia mendengar kasak-kusuk dari beberapa staf.Ia beberapa kali melihat mereka berkumpul dan berbicara dengan suara pelan. Ia ingin bertanya, tetapi tidak mungkin. Selama bekerja di hotel, ia memang selalu menjaga jarak. Ia datang untuk bekerja, menyelesaikan tugas, lalu pulang. Tidak banyak ikut bergosip atau mencampuri urusan orang lain.Karena itu, ia hanya bisa bersabar menunggu shift sore. Karena hari ini Mbak Lita masuk sore. Biasanya, Mbak Lita lebih cepat mendapatkan informasi dari staf lain.Tia baru saja mengambil beberapa botol minuman yang ditinggalkan tamu ketika telinganya menangkap percakapan Manda dan Silvi."Beneran, Man?""Ya bene

  • UNTAMED (Tak Tertaklukkan)   85. Luruh.

    Setelah Riffat, Bu Rini dan Alex meninggalkan rumah, Pak Khalid segera mengambil alih situasi."Charles, amankan seluruh area. Jangan ada yang menyentuh apa pun sebelum polisi datang."Charles mengangguk."Baik, Pak.""Togar, hubungi ambulans dan kepolisian."Togar langsung mengeluarkan ponsel."Katakan ada korban penembakan. Kondisinya sudah tidak sadarkan diri.""Bukankah Pak Husein bukan hanya tidak sadarkan diri, tetapi sudah mati?" tanya Togar bingung."Mati tidaknya dia, biar pihak rumah sakit yang memberikan keterangan," tegas Pak Khalid.Togar mengangguk lalu menjauh untuk melakukan panggilan.Pak Khalid kemudian menoleh kepada Pak Martin."Pastikan tidak ada orang yang keluar-masuk ruangan sebelum petugas datang.""Baik."Pak Martin kembali memeriksa keadaan Husein meskipun sebelumnya sudah memastikan pria itu tidak memiliki denyut nadi.Sementara itu, Tia masih berdiri di dekat ruang utama. Matanya sesekali tertuju pada Azzam.Pemuda itu masih berjongkok di samping tubuh aya

  • UNTAMED (Tak Tertaklukkan)   84. Rekonsiliasi.

    Ruangan mendadak sunyi.Tia berdiri terpaku. Ia memandang tubuh Husein tanpa suara. Tidak ada rasa lega.Tidak ada pula keinginan untuk marah. Yang tersisa hanya kekosongan.Di sisi lain, Azzam mematung.Wajahnya kehilangan warna. Ia menatap tubuh ayahnya beberapa detik sebelum akhirnya berjongkok."Ayah..."Tangannya mengguncang bahu sang ayah."Ayah, bangun!" panggilnya serak.Tidak ada jawaban."Ayah!"Kali ini suara Azzam pecah. Ia memeluk tubuh ayahnya sambil menangis.Tia memalingkan wajah. Bagaimanapun muaknya dirinya pada Pak Husein, tetap saja ia adalah ayah kandung Azzam. Pemandangan ini pasti menyakitkan bagi Azzam."Saya akan menyerahkan diri kepada polisi," ucap Bu Rini tegas.Semua mata beralih kepadanya."Namun sebelumnya saya ingin bicara dengan Pak Khalid dulu." Charles melirik Pak Khalid. Menunggu arahan. Ketika Pak Khalid mengangguk, barulah Charles melepaskan Bu Rini. Pak Khalid lalu membawa Bu Rini ke ruang kerja. Setiba di sana Pak Khalid mempersilakan Bu Rin

  • UNTAMED (Tak Tertaklukkan)   83. Pengorbanan Seorang Ibu.

    Tia mengamati Pak Martin yang sedang mengobati luka-luka luar di tubuh Bu Rini. Bu Rini terlihat sangat lemah. Pakaiannya kotor dengan beberapa bagian robek. Jilbabnya juga sudah tidak beraturan. "Luka bagian dalam nanti kita tunggu Dokter Sarah saja, ya," ujar Pak Martin sambil memeriksa luka di lengan Bu Rini.Bu Rini mengangguk."Kamu sekarang sudah berhijrah. Mungkin kurang nyaman diperiksa oleh dokter laki-laki. Besok saya akan menghubungi Dokter Sarah pagi-pagi sekali."Bu Rini kembali mengangguk."Dokter Sarah itu putrimu yang dulu pernah liburan di rumah ini, bukan?"Pak Martin tersenyum kecil."Iya. Saya tidak menyangka kalau kamu masih mengingatnya."Bu Rini balas tersenyum tipis."Dulu saya sering bermain dengannya kalau kamu sedang sibuk merawat anak-anak yang terluka."Tia menyimak percakapan itu dalam diam. Dari potongan-potongan pembicaraan tersebut, ia menyadari bahwa Bu Rini dan Pak Martin ternyata sudah saling mengenal sejak lama.Namun, sebelum mereka sempat berbic

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status