Mag-log in
“Nayla!”
Adrian Moretti memekik kencang sambil melangkah menembus kerumunan. Wajahnya kaku seperti dipahat dari batu. Sorot matanya menghunus ke satu sosok wanita. Nayla Moretti, adik perempuannya. Nayla duduk di bar dengan kaki bersilang. Minuman berwarna kekuningan tersemat pada jemari tangan. Tak bisa dipungkiri, tubuhnya terlalu mengundang saat dibalut pakaian semi transparan dengan kesan setengah telanjang. Mendengar suara Adrian, Nayla sama sekali tidak menoleh. Dia memilih untuk hanya tersenyum tipis. Mata cokelat dengan bulu matanya yang lebat justru sibuk memandangi kilau gelas. Jemari yang lentik tampak pantas saat dihias dengan kuku panjang berwarna merah menantang. Wajah sinisnya tertangkap jelas di bawah kilatan lampu berwarna campuran merah dan ungu. Meski ekspresinya sama sekali tidak ramah, tapi Nayla tak bisa lagi menghitung berapa banyak tatapan lapar yang tertuju padanya. “What the hell are you doing here?” tanya Adrian yang sudah berdiri di sebelahnya. Dia lantas menarik lengan Nayla dengan kasar, tapi tak sampai meninggalkan bekas. Demi melenyapkan diri dari pusat perhatian, Adrian memilih menyeret Nayla menjauh dari keramaian. Sudut lounge yang gelap dan tersembunyi kiranya jauh lebih aman. Nayla menegakkan tubuh, sambil masih menyesap minuman. "Aku hanya datang untuk bersenang-senang." Adrian mengatupkan rahang. Napasnya berat. Matanya memerah, bukan karena marah, tapi karena terlalu banyak emosi menumpuk dalam waktu yang singkat. "Bersenang-senang atau menghancurkan dirimu sendiri?" Nayla terkekeh. “Aku sudah terlanjur hancur ulah adik iparmu.” Adrian menahan napas sambil menelan ludah, sebelum akhirnya menjawab, “Tapi bukan berarti kamu harus menjadi seperti ini, Nay.” “Seperti apa? Aku bahkan tidak melakukan apa-apa. Aku tidak butuh kamu melindungiku, Adrian.” “Nayla,” bisik Adrian getir. “Saat ini, kamu sedang tidak menjadi dirimu sendiri. Kamu terluka. Kamu kacau. Dan sekarang, kamu memilih tempat ini, tempat yang penuh dengan lelaki yang akan dengan senang hati merobekmu habis, lalu membuangmu seperti sampah. Kamu pikir ini kebebasan?” Tatapan Nayla menusuk. “Kamu tidak tahu apa-apa tentang yang aku rasakan.” “Aku tahu semuanya!” Adrian meledak. “Aku tahu kamu belum makan, belum tidur. Aku tahu Nathan membuatmu hancur. Tapi datang ke sini dengan pakaian seperti itu, dengan minuman yang selalu ada di tangan, dan dengan kondisi yang berantakan, itu bukan penyembuhan. Itu bentuk lain dari bunuh diri.” Nayla terdiam. Matanya melembut sesaat, tapi kemudian dia meneguk habis sisa minumannya. “Lebih baik aku membunuh diriku pelan-pelan... daripada terus hidup dalam pernikahan yang terasa seperti neraka. Pernikahan yang bahkan kamu dukung sejak awal.” Wajah Adrian mengeras. “Kamu pikir aku tidak menyesal? Aku kira Nathan cukup baik untukmu. Aku kira dia bisa menjagamu. Dan ternyata… aku salah. Tapi kalau kamu pikir aku akan diam melihatmu jatuh semakin dalam, you're wrong.” Nayla menunduk sejenak, lalu mendongak dengan ekspresi nyaris kosong. “Kamu tidak bisa menyelamatkanku, Adrian. Aku bahkan tidak yakin aku ingin diselamatkan.” Adrian memejamkan mata, lalu meremas rambutnya sendiri seperti pria yang kehabisan cara. Lalu, dengan suara yang lebih lembut tapi penuh luka, dia berkata, “Kamu satu-satunya yang aku punya, Nay. Dan kalau aku kehilangan kamu juga... aku tidak tahu harus hidup untuk apa lagi.” Di balik sorot lampu yang terus berganti warna, dentuman musik yang memekakkan telinga, dan amarah yang belum sepenuhnya sirna, Nayla dan Adrian hanya bisa berdiri dalam diam. Tatapan mereka terus beradu meski tak ada yang kalah juga menang. Keduanya tertelan oleh jarak yang seolah tak pernah benar-benar bisa dijembatani. Tanpa bisa berkata apa-apa lagi, Adrian akhirnya memilih pergi. Emosinya masih meledak. Namun, terus menekan Nayla sepertinya bukanlah jalan keluar yang benar. “Pulanglah, Nay.” Hanya itu yang keluar dari mulut Adrian sebelum bayang tubuhnya menghilang. Sepeninggal Adrian, Nayla tetap berdiri di titik yang sama. Selama beberapa saat, matanya terus menatap kosong. Tangannya masih menggenggam gelas, tapi jiwanya seperti sudah terlepas. Nayla terjebak di antara rasa bersalah dan keinginan untuk lenyap seluruhnya. Rasanya lelah, sesak, sekaligus sekarat. Nayla butuh, setidaknya setetes air atau sedikit belaian angin untuk membuatnya tetap hidup. Lalu, seolah semesta sengaja menjawab doanya, udara di sekelilingnya tiba-tiba berubah. Sesuatu, lebih tepatnya seseorang, mendekat ke arah Nayla. Suara langkah sepatu kulit di lantai marmer terdengar berat, tapi terukur. Dalam lautan cahaya klub yang gemerlap, siluet seorang pria kemudian muncul di ambang pintu. Tinggi. Tegap. Penuh bayangan. Dia tidak tersenyum. Tidak pula memamerkan pesona. Namun, kehadirannya menggetarkan. Dan Nayla tahu betul siapa dia. Damian Bellucci. Pria itu adalah sahabat baik kakaknya. Nama yang sering disebut Adrian dengan campuran rasa akrab sekaligus hormat. Pria yang dikenal dengan reputasi yang jauh lebih gelap daripada senyumannya yang langka. Setelan hitamnya membungkus sempurna tubuh tinggi tegapnya. Sosoknya seperti diukir dari gelapnya malam. Meski pencahayaan tidak menyinari wajahnya, tapi Nayla bisa merasakan kalau kedua mata Damian sedang menusuk ke arahnya. Sejenak, waktu berhenti. Napas Nayla tercekat. Sorot mata pria itu serupa obsidian yang tak memantulkan cahaya. Dinginnya menusuk. Panasnya membakar. Nayla mencoba berpaling, tapi tubuhnya tak menurut. Rasanya seperti terkunci. Seolah-olah, Damian adalah bahaya yang tak bisa dihindari. “Nayla Moretti.” Perlahan, Damian mulai memangkas jarak. Langkah demi langkah terayun dengan pasti. Dia berjalan tenang seperti predator yang tahu buruannya tidak akan lari. Ketika jarak mereka hanya tinggal satu meter, Damian akhirnya bicara. “Should I call Adrian back, or should I take it from here?” Nayla menelan ludah. Matanya bertemu dengan miliknya, dan untuk pertama kalinya, dia merasa... dilihat. Bukan sebagai adik Adrian. Bukan sebagai istri yang dikhianati. Namun, sebagai wanita. Wanita yang ingin dihancurkan, dan mungkin, diam-diam, ingin menikmati kehancurannya. “Take it,” ucap Nayla. Lirih. Nyaris tak terdengar, tapi cukup keras untuk membuat Damian menajamkan tatapannya. Damian tidak menjawab, tapi matanya bicara lebih keras daripada kata-kata. Permainan berbahaya telah dimulai. Damian telah memilih mangsanya. Dan Nayla Moretti sudah terlalu lelah untuk bersembunyi. Semula, semua mengalir apa adanya. Namun, seperti kilatan refleks dari harga diri yang terluka, Nayla menegakkan kembali bahunya. Sebuah gerakan kecil, tapi penuh makna. Seolah sisa kekuatan terakhirnya terkumpul di sana. Kelemahan dan kecerobohan yang tadi nyaris menelannya, kini berubah wujud menjadi sinisme. Dalam sekejap, Nayla berhasil membangun tameng sebagai pertahanan diri atas bahaya yang kini ada di depan mata. “Wait. Sepertinya aku salah bicara. Alkohol membuatku lupa siapa dirimu,” ucap Nayla. “Memangnya, siapa aku?” Nayla menatap Damian sejenak. Kepalanya sedikit dimiringkan. Bibirnya terangkat, membentuk senyum sinis. “Siapa aku?” Damian bertanya untuk yang kedua kalinya. "Pria seperti kamu—" Nayla membuka suara, kali ini dengan nada yang lebih tajam, meski gemetar masih menggantung di ujung lidahnya. "—biasa berpikir kalau dunia bisa dibeli dengan kekuasaan dan godaan murahan.” Nayla tahu itu bukan kalimat yang adil. Terlalu menuduh. Namun, biar saja. Toh, dunia ini juga tidak pernah adil padanya. Pada wanita yang dikhianati, ditinggalkan, lalu dicemooh saat mencoba menyembuhkan diri dengan caranya sendiri. “Really?” sahut Damian. Kepala Nayla terus berputar, pusing, dan sedikit melayang. Detak jantungnya berdentum tak beraturan. Namun, satu hal jelas, Nayla tidak akan menjadi mangsa tanpa adanya perlawanan. Jika Damian ingin bermain, dia akan berani bersaing. Bahkan, jika satu-satunya kemungkinan yang Nayla punya adalah… kalah. “Aku tahu, aku bukan orang pertama yang coba kamu pikat dengan arogansi.” Nayla menantang wajah pria yang berdiri lebih tinggi darinya. “Dan kamu harus tahu, aku tidak akan menjadi cerita kecil dalam koleksi dosamu.” Damian mendekat lagi. Hanya satu langkah, tapi sukses membuat dunia terasa menyempit. “But here you are,” balas Damian, nyaris berbisik. “Standing in my club, wearing sin like second skin.” Jantung Nayla seperti sejenak terhenti. Dia seharusnya pergi. Namun, kakinya tertambat terlalu kuat. Wajah Damian lantas merapat, nyaris menyentuh hidungnya. Tanpa suara. Tanpa tergesa. Nayla tak sempat mundur. Atau mungkin, sebagian dirinya memang tak ingin. Tubuh Nayla terpaksa bersandar ke tembok saat Damian semakin merapatkan jarak dengan terlalu dekat. Satu tangannya bertumpu pada dinding untuk memagari sisi kepala Nayla. Sementara tangan lainnya tetap masuk ke saku celana, seolah tubuhnya tak perlu dua tangan untuk mengendalikan keadaan. Bibir Damian kemudian menuju pipi, lalu berhenti di dekat telinga. Tak sampai bersinggungan, tapi Nayla sudah bisa mencium aroma tubuhnya yang memikat. Dia berbau angkuh. Namun, keangkuhan ini terasa seperti keangkuhan yang sudi dia telan. Damian tak menyentuh, tapi kehadirannya sudah mewakili sentuhan paling dalam. Menggores, menelanjangi, dan menuntut. “I don’t seduce, Nayla,” ucap Damian pelan, nyaris seperti desisan dosa yang menggoda. “I take. And you—” “Aku bukan milikmu.” Nayla menyela. Damian menatapnya tanpa berkedip. Sebuah senyum kecil, gelap, penuh arti, menghiasi bibirnya, sebelum akhirnya dia menjawab dengan hanya satu kata. “Belum.”“Dengarkan aku, Amore.”Damian menarik tengkuk Nayla. Jemarinya masuk ke sela-sela rambut panjang yang malam-malam sebelumnya dia belai dengan lembut, tapi kini justru harus dicengkeram dengan cukup kencang. Dari cara dia mengeratkan tangan, Damian mulai tampak frustasi untuk berusaha membuat Nayla mengerti.“Nay, aku pergi supaya kamu tetap hidup. Dan jangan khawatir karena aku akan kembali lagi, bukan sebagai orang yang menyeretmu ke dalam bahaya, tapi sebagai satu-satunya tempat di mana kamu bisa berdiri tanpa punya rasa takut lagi.”“Kalau begitu, aku juga akan ke Italy. Aku akan menunggu kamu di rumahmu.”“Justru kamu harus menjauh sejauh-jauhnya dari aku, Nayla.”“Tapi kenapa?”“Karena kalau kamu tetap di sekitarku.” Damian menjeda ucapannya sejenak. “Aku yang akan membunuhmu. Bukan dengan tanganku. Tapi dengan keberadaanku.”Nayla memejamkan mata. Tangannya mencengkeram lengan Damian kuat. Kalimat itu terdengar lebih kejam dari tembakan mana pun. Menjauh dari Damian adalah baya
Damian berdiri lama di ruang tengah. Nayla memeluknya erat, tapi alih-alih membalas, sebelah tangannya justru menekan permukaan meja hingga buku jarinya memutih. Semua hal yang ditangkap alat indra terasa samar, kecuali kekacauan yang ada di pikirannya sendiri.Nayla.Wanita itu adalah alasan dia bertahan hidup, tapi juga alasan seluruh pertahanannya runtuh lebih cepat.Damian menutup mata, menarik napas panjang, lalu membukanya lagi. Satu-satunya cara agar Nayla selamat adalah dengan perlindungan penuh. Namun, siapa yang bisa dia percaya? Adrian akan selalu menjaganya, Andy cukup tangguh, semua timnya loyal, tapi Damian tak akan pernah siap untuk menitipkan Nayla pada tangan siapa pun selain tangannya sendiri.Sialnya, di situlah letak bencananya. Karena jika terus bersama dirinya, Nayla juga bersanding dengan pusat badai. Jonathan tak akan berhenti. Setiap peluru, setiap mata, setiap intrik yang datang, arahnya akan selalu ke Damian, dan itu berarti ke arah Nayla juga.“Damian,” lir
Gerbang besi itu menutup kembali seiring dengan mobil Damian yang meluncur perlahan ke halaman villa. Lampunya meredup, sebelum akhirnya mati sepenuhnya. Mesin masih menyala saat Andy seketika muncul dari pintu utama. Matanya menyapu mobil, lalu naik ke arah Damian.Damian tidak menoleh. Dia hanya mengangkat satu jari, lalu menurunkannya kembali.Cukup.Andy urung mendekat. Dia mengangguk tipis, berbalik, dan masuk kembali ke dalam villa sambil mencegah Andrian yang juga hampir mendekati Damian. Tidak perlu dijelaskan, jika Damian memberi kode itu, berarti pembicaraan apa pun yang akan ada di dalam mobil, bukan untuk telinga orang lain.“Aku harus pergi sekarang juga,” ucap Alessandro seraya membuka sabuk pengaman.Dia menatap Damian dari samping. Pandangannya tajam, tapi di balik itu ada sesuatu yang nyaris menyerupai kepedulian. Sebuah emosi yang jarang dia izinkan muncul.“Urusan kita benar-benar selesai,” lanjut Alessandro. “Semuanya sudah aman.”Damian akhirnya menoleh. Tatapan m
“Kalian merasa pintar?” tanya Damian pelan.Damian tidak langsung bergerak untuk menghabisi. Langkahnya justru maju satu tapak, terukur, dan berhenti pada jarak yang membuat napas mereka saling bersinggungan. Dari posisi sedekat itu, Damian bisa melihat pori-pori kulit yang menegang karena takut.Tanpa terburu-buru, tangan kanan Damian terangkat, lalu menyelipkannya ke saku jaket salah satu dari mereka tanpa izin. Gerakannya santai, seolah sedang mengambil barang miliknya sendiri. Tak butuh waktu lama bagi Damian hingga membuat benda itu dikeluarkan hanya dengan dua jari.Sebuah alat perekam yang tipis, kecil, nyaris tak terlihat jika tidak terlalu diamati.“Cukup rapi,” gumam Damian sambil menimbangnya sejenak di telapak tangan, seolah sedang menilai sesuatu yang sepele.Detik selanjutnya, dia menjatuhkannya ke aspal. Satu injakan kaki lantas menyusul. Tidak keras, tidak emosional, tapi suara retakan kecil sudah langsung terdengar. Plastik dan logam remuk menjadi satu, tak lagi punya
Damian berdiri setelah terlebih dahulu berjabat tangan. Setelah membuat kesan seolah baru saja menyepakati sebuah pertemuan bisnis, Damian lantas berjalan keluar meninggalkan bar. Jaketnya disampirkan ke bahu, lalu segera kembali ke mobil di mana Alessandro sudah terlebih dahulu masuk.“Kita akan memasuki part yang paling menyenangkan,” ucap Alessandro sambil menggeser persneling.Damian terkekeh malas. “Sayangnya, ini lebih cepat dan lebih mudah dari yang aku kira.”Mobil melaju membelah jalan kecil yang sepenuhnya kosong. Damian tidak menoleh, pun tidak perlu mengamati spion. Dia tahu, tak akan lama lagi mereka akan keluar juga dari bar. Alessandro sudah mengatur sedemikian rupa agar barista berpura-pura akan menutup bar lebih cepat, sebuah strategi agar dua orang itu segera pergi sebelum sempat memproses hasil rekaman atau menghubungi seseorang.Tak sampai lima menit kemudian, seorang penjaga parkir mengirim pesan kalau mobil mereka sudah melaju. Kecepatannya terbilang pelan, tapi
Alessandro sudah melangkah lebih dulu. Tidak menoleh, juga tanpa berpamitan. Pria itu tidak pernah berpamitan pada tempat yang akan dia tinggalkan.“Kita terlambat lima menit, Damian,” ucap Alessandro sambil tetap berjalan dan melirik jam di pergelangan tangan.Tanpa menjawab, Damian menyusul setelah memberi satu instruksi singkat pada Andy. “Hitam.”Andy mengangguk menyetujui satu kode yang hanya mereka berdua pahami. Tentang penjagaan, tentang Nayla, dan tentang apa yang tidak boleh terjadi selama dia pergi.Begitu sampai di ambang pintu, Damian menoleh ke arah Nayla. Dia tidak mendekat, tidak menyentuh, hanya menoleh sedikit. Tatapan itu singkat, tapi terasa mengoyak.Begitu pintu tertutup dari luar, Nayla baru sadar kalau napasnya berembus dengan terlalu cepat. Tidak terengah, tapi terpotong-potong. Seolah-olah, tubuhnya belum sepenuhnya menerima kenyataan bahwa Damian benar-benar pergi.Villa itu masih sama. Lampu masih menyala. Udara masih bergerak pelan. Di tempat ini, tidak ak







