เข้าสู่ระบบMusik dari lantai dansa masih berdentum samar. Ruang ini terlindung dari keramaian, tapi justru disitulah bahayanya. Udara menjadi lebih berat, seperti mencerminkan sesuatu yang belum terjadi, tapi akan segera meledak.
Begitu Damian menutup pintu, napas Nayla langsung tercekat. Bunyi klik kunci terdengar seperti palu terakhir yang berhasil memakunya ke neraka. Tidak ada jalan pulang. Tidak ada ruang untuk keraguan. Hanya mereka berdua dan dosa yang menunggu untuk ditelan. “Duduk,” titah Damian singkat. Nayla tidak menjawab, hanya menatap. Damian tampak seperti sesuatu yang seharusnya ditolak, tapi terlalu indah untuk dihindari. Pria itu terlalu menggiurkan, meski sungguh, Damian juga terlalu berbahaya jika diterjang. “Nayla Moretti,” lirih Damian dengan suara sedikit serak. Pria berdarah Italia itu mendekat pelan. Ketenangan gerakannya membuat Nayla justru merasa seperti sedang dicekik secara perlahan. Semakin dekat, semakin membuat Nayla sesak. Tubuh Damian yang tegap selaras dengan rahang tegas dan rambut gelap yang terurai sedikit acak. Dia tampak menggoda, tapi juga tak tersentuh. Bahkan, angin malam mungkin tak berani menyentuhnya terlalu lama. Mata berwarna hazel masih berhenti pada kedua manik Nayla yang kecoklatan. Ada kesombongan alami dalam cara Damian membawa diri. Dia seperti pria yang tahu betul siapa dirinya. Bisa dipastikan, dia juga tahu bahwa wanita mana pun akan goyah hanya karena satu sentuhannya. “Seharusnya kamu bisa menolak saat aku membawamu ke sini,” ucap Damian. “Tapi kamu memilih berserah, Nayla.” “Aku hanya ingin kita saling bicara.” Nayla menatap mata Damian sejenak, sebelum akhirnya membuang pandang ke arah jendela. “Seingatku, kamu pernah menawarkan telinga untuk mendengar ceritaku.” “Tapi ruang ini bukan untuk kata-kata, Nay,” pungkas Damian. “Dan kamu sudah tahu itu.” Di luar, udara tropis Bali menyusup ke balik dinding. Namun, di dalam sini, panas itu berubah bentuk. Bukan lagi tentang cuaca, melainkan tentang kehangatan tubuh. Ruang kecil itu menjadi wadah atas batas samar antara realitas dan mimpi buruk yang terlalu menggoda untuk dibangunkan. “Dan kamu juga tahu konsekuensi masuk ke ruang ini,” imbuh Damian lagi. Tangan Nayla gemetar. Bukan karena takut atau ragu, melainkan karena tubuhnya mengkhianati logika. Sudah terlalu lama badan Nayla menahan keinginan atas sesuatu yang tidak bisa dia ucapkan. Dia ingin dihancurkan. Dirobek dari segala ilusi. Ditegaskan bahwa dia masih hidup, meski dengan cara yang paling salah. Hingga tanpa aba-aba, bibir mereka pun saling bertabrakan. Kasar, mendesak, dan tanpa jeda. Ini bukan ciuman. Ini perang. Perang antara siapa yang lebih rusak dan siapa yang lebih haus. Bibir Damian menyapu bibir Nayla tanpa berlandaskan kasih. Tangannya menahan rahang Nayla kuat, membuat wanita itu tak bisa mengelak. Saat mulutnya terbuka, lidah Damian langsung menuntut jalan masuk. Gerakannya dalam, menguasai, dan penuh kendali. Satu tangan Damian terus mencengkeram sisi wajah Nayla. Sementara tangan satunya bergerak mengabsen tiap titik yang dia suka. Seolah-olah, dirinya telah hafal tubuh Nayla bahkan saat sebelumnya mereka tidak pernah saling bersentuhan. Napas mereka berpacu, saling mencuri udara. Namun, Damian tetap memimpin ritme. Tidak ada yang lembut. Tidak ada yang manis. Hanya panas yang tumbuh di antara bibir yang sama-sama kehausan. Damian lantas mendorong Nayla kuat ke arah dinding. Nayla sampai harus tersengal saat merasakan setiap garis otot Damian yang mengencang. Dalam sekejap, Nayla tahu, di ruangan ini, di momen ini, Damian bukalah lawan. Dia adalah badai yang tak bisa ditawar. “Damian, stop it!” Suara Nayla mulai terengah. Setengahnya karena perlawanan, setengahnya lagi karena terpancing godaan. Namun, Damian tidak hidup dari perintah. Dia hidup dari insting, dan instingnya malam ini hanya mengenal satu kata, yaitu, maju. Tanpa menjawab sepatah kata pun, tangan Damian segera menyelinap ke belakang kepala Nayla. Jari-jarinya tenggelam dalam helaian rambutnya yang halus. Hingga kemudian, satu tarikan tegas sudah langsung membuat kepala Nayla terangkat paksa. “Damian!” pekik Nayla kencang. Lehernya terekspos dalam lengkungan sensual. Ada nyeri pada kulit kepala yang ditarik paksa. Namun, entah naif atau memang terlalu mabuk, Nayla tidak memberontak. Matanya menatap langit-langit ruangan yang temaram. Cahaya oranye keemasan dari lampu gantung bergaya industrial memantulkan siluet tubuh mereka pada dinding. Benak Nayla masih sedikit berantakan, berbanding terbalik dengan indahnya bayangan tubuhnya di bawah kendali kegelapan tubuh Damian. “Nayla.” Damian mendekat, bibirnya nyaris menyentuh kulit leher Nayla yang kini basah oleh napas. Suaranya turun menjadi bisikan rendah dan penuh bara. “Don’t ask me to stop when your body’s begging for more.” Napas Nayla tercekat saat jemari, tubuh, dan bibir Damian semakin menekan. Suhu udara kian membakar, membuat setiap sentuhan terasa lebih dalam dan brutal. Tangannya yang besar menelusuri sisi tubuh Nayla, menghafal setiap lekuk dengan ketepatan seorang pria yang terbiasa mengendalikan. Bibirnya menyusur dari leher ke bahu, meninggalkan jejak basah yang tak hanya memabukkan, tapi juga menuntut. Nayla menggigil. Bukan karena takut, tapi karena tubuhnya menyerah lebih cepat daripada pikirannya. "Lihat aku, Nayla. Aku ingin kamu mengingat siapa pemilikmu sekarang.” Jari-jari Damian mencengkeram pinggangnya, lalu menarik lebih dekat. Suara napas mereka bertabrakan dengan berantakan. Tidak ada kelembutan malam ini. Tidak ada pula penyangkalan. Hanya ketelanjangan keinginan yang tidak lagi bisa disembunyikan. “Kamu milikku,” bisik Damian. Ciumannya kembali datang, tapi kali ini lebih beringas. Damian mencium seperti pria yang ingin menghancurkan dan menyelamatkan dalam waktu yang bersamaan. Seolah tubuh Nayla adalah ladang dosa, dan dia adalah neraka yang tak sabar menelan semuanya. “Kamu tidak lari malam ini. Tidak dari sini. Tidak dariku,” ucap Damian dengan nada serak. Damian lantas membuka paksa kaitan belakang gaun Nayla. Gerakannya tidak tergesa, tapi tetap terasa tanpa belas kasih. Suara sobekan kain menggema pelan. Hitungan detik, kulit punggung Nayla akhirnya terbuka seutuhnya. “Lihat bagaimana tubuhmu menjawabku,” gumam Damian rendah, hampir seperti ancaman. “No! Stop it!” “Terlambat.” Damian melempar asal gaunnya, menyisakan tubuh Nayla yang setengah telanjang. Sejenak, matanya menyorot ke bagian ujung dada, sebelum akhirnya kembali mendaratkan jemari. Tubuh Nayla terlalu indah untuk diabaikan terlalu lama. Setiap rabaan terasa kasar. Namun, Damian tetap tahu ke mana tangannya harus bergerak. Dia mengeksplor setiap lekuk dengan kekejaman yang sensual. Begitu bibirnya mencumbu tengkuk Nayla, dia menggeram pelan, seolah sekujur tubuh wanita itu adalah miliknya sejak awal. “Apa kamu sudah gila?!” pekik Nayla. Nayla mendorong tubuh Damian, lalu berbalik. Dua langkah sudah berhasil Nayla ciptakan untuk pergi menjauh. Dia seperti akan kabur, tapi nyatanya dia tidak benar-benar ingin lari. Kedua kakinya terayun hanya untuk kembali dipenjara oleh Damian. Bahkan, dia kembali terpaku dalam diam begitu Damian berhasil meraih tubuhnya lagi. “Kamu suka bermain api, Nayla,” bisiknya serak, tepat di telinga. Damian menunduk, lalu mencium tulang belakangnya satu per satu. Napasnya hangat, tapi bukan hangat lembut. “Sekarang, rasakan panasnya terbakar.” Dari arah belakang, sebelah tangan Damian mengunci kedua pergelangan tangan Nayla. Tubuh Nayla kemudian membusung. Masih mencoba melepaskan diri, Nayla mulai menggeliat. Sialnya, setiap gerakannya justru semakin mengundang dan menelan seluruh kewarasan. Dengan satu gerakan tegas, Damian lantas membalik tubuh Nayla. Begitu mereka saling berhadapan, Nayla didorong cepat hingga pinggulnya bertemu dengan permukaan meja yang dingin dan tidak bersahabat. Suara benturan halus kayu mahal menggema di ruangan, tapi tak ada yang lebih keras daripada degup jantung Nayla yang kini menggila. Tangan besar pria itu menjalar cepat ke bawah punggung. Dia menekan, menahan, dan mengatur posisi tubuh Nayla tanpa sedikit pun memberi waktu untuk berpikir. Sentuhan Damian semakin membuat Nayla kehilangan kewarasan. Alhasil, dia berakhir luluh dan merebah. “Please, no,” lirih Nayla dengan sorot mata yang menyiratkan hal yang berlawanan dengan bibirnya. Meja itu cukup tinggi. Cukup untuk menciptakan posisi yang sempurna di antara mereka berdua. Sungguh, ketimpangan itu membuat Nayla semakin gemetar. “Katakan padaku untuk berhenti, Nayla… dan aku tidak akan melakukannya.” Nayla tak lagi mengucapkan apa-apa. Dia hanya bisa berteriak saat tiba-tiba Damian memutar tubuhnya kasar. Pipinya yang kemerahan pun beradu pada sisi atas meja. Dengan piawai, Damian membuka celananya sendiri dan menempelkan bagian yang menegang tepat di pangkal paha Nayla. Dada Nayla menekan meja, punggungnya melengkung, dan napasnya tak lagi teratur. Dia tahu ini salah. Dia tahu ini gila. Namun, tubuhnya tak bisa berhenti bergetar, mendambakan sesuatu yang lebih. “Damian!” Damian menekuk tubuhnya ke depan. Bibirnya menyentuh telinga Nayla, lalu memberikan satu kecupan. Tanpa peringatan, Damian akhirnya mendorong dirinya masuk. “Fuck! Damian!” "Ucapkan namaku lagi," gumam Damian. "I want to hear it when you fall apart.” Nayla membuka mulutnya, tapi yang keluar hanya erangan. Suara itu membuat Damian menyeringai kecil. Tarikan bibirnya tajam, puas, dan nyaris kejam. Napas keduanya sudah memburu. Ruangan itu terasa terlalu sempit untuk menampung hasrat liar yang tak bernama. Hingga beberapa saat, tak ada yang tersisa selain suara derit meja dan desahan yang memuakkan… tapi candu. "Setiap suara yang kamu buat adalah milikku, Nayla. Setiap napas, setiap getaran, semuanya adalah milikku.” Damian bergerak dengan ritme yang tak kenal belas kasih. Dia bahkan menarik kencang rambut Nayla ke belakang tiap kali tubuh mereka menyatu. Tetes peluh benar-benar telah berpadu dalam simfoni dosa yang tak bisa dibatalkan. Damian tak bercinta. Dia mengambil. Memiliki. Dan menghancurkan. Entah berapa lama mereka bertukar bara api hingga akhirnya tubuh Nayla gemetar. Tidak bisa dipungkiri, yang dia rasa adalah kenikmatan mutlak. Hingga beberapa saat kemudian, kesadarannya perlahan hanya tinggal samar. Di antara batas sadar dan tidak sadar, Nayla hanya mengingat dua nama. Nathan yang telah menghancurkan hatinya. Dan Damian yang kini sedang menghancurkan tubuhnya. Damian Bellucci. Pria itu seperti lubang hitam yang gelap dan tak berpintu keluar. Nayla tahu, dia sedang ditelan. Namun, sejujurnya, bagian tergelap dari dirinya… menikmati semua ini. Benar kata Adrian. Nayla memang sedang membunuh dirinya sendiri. Malam ini, Nayla seolah baru saja menjual jiwanya. Dan Damian… membelinya tanpa kompromi.Bengkel tua itu berbau oli dan besi. Dari celah pintu gudang, suara pelabuhan Genova terdengar samar. Derit derek, sirene kapal barang, dan mesin forklift tak pernah benar-benar berhenti beroperasi.Ada satu lampu gantung yang berayun pelan setiap kali angin pelabuhan menggeser pintu gudang. Damian berdiri di depan meja kerja yang penuh peta, kertas, ponsel, dan secangkir kopi yang sudah lama kehilangan panasnya. Dia nyaris tidak tidur sejak kabar penyerangan di Piacenza. Bahu kirinya masih kaku setiap kali dia mengangkat tangan, tapi rasa itu begitu saja diabaikan.Otaknya terus berputar memikirkan serangan balik yang akan Damian gencarkan dua atau tiga hari ke depan. Jonathan jelas akan menjadi lebih beringas jika Damian masih saja menunda. Jumlah orang dan senjata masih memadai, tapi dia memiliki satu pertanyaan yang belum punya jawaban, yaitu, seberapa kuat Jonathan sekarang?"Kamu belum tidur," kata Enzo dari ambang pintu, membawa dua gelas kopi baru.Damian yang terduduk di kurs
Ponsel itu bergetar berulang kali. Bukan nada getar biasa, tapi pola panjang-pendek yang hanya dipakai untuk satu nomor. Andy.“Halo.”“Damian.”Nada suara Andy terdengar panik. Ada bunyi napas yang belum kembali normal di sela-sela kata-katanya. Damian yang semula duduk bersandar seketika meluruskan punggungnya.“Salah satu markas kita diserang. Piacenza. Tempat yang kalian gunakan untuk pertemuan minggu lalu.”Damian bangkit begitu cepat hingga kursinya bergeser ke belakang. Enzo, yang berada tidak jauh darinya, langsung menoleh. Satu tangan Damian terangkat memberi isyarat agar Enzo mendekat, sementara tangannya yang lain mencengkeram ponsel lebih erat."Kapan?" tanya Damian."Baru saja. Aku dapat kabar dari salah satu jalur cadangan, bukan dari orangmu langsung. Orang yang di sana bahkan sudah tidak bisa dihubungi."Damian berjalan menuju meja, menyingkirkan beberapa lembar catatan yang menutupi layar tabletnya. "Apa saja yang dia laporkan?""Hanya itu. Panggilan terputus di tenga
Hari-hari setelah itu berlalu dengan pola yang mulai Nayla hapal di luar kepala. Tidak ada jadwal pasti, tetapi setiap beberapa hari, biasanya menjelang malam, Andy akan muncul dengan sebuah ponsel di tangan. Layar perangkat itu hampir selalu sudah menyala sebelum sampai kepadanya, menandakan bahwa panggilan video telah lebih dulu tersambung, dan Andy tidak perlu menjelaskan siapa yang menunggu di ujung sana.Nayla pun tidak lagi terburu-buru seperti pada malam pertama. Dia cukup mengangkat kepala, menerima ponsel itu, lalu mencari posisi yang nyaman sebelum wajah Damian muncul dengan penampilan terbaru yang hampir selalu berbeda dari sebelumnya. Terkadang, perubahan itu hanya berupa warna rambut atau model potongan, tapi beberapa kali Damian juga menggunakan piercing. Suatu kali ada tambahan kecil di telinga kanan, beberapa hari kemudian letaknya bergeser ke telinga kiri.Bukan hanya wajah Damian yang terus berubah. Kota-kota yang disebutnya dalam percakapan juga berganti dengan cepa
Malam berikutnya datang tanpa membawa banyak perubahan.Setelah menyelesaikan mandi, Nayla keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih sepenuhnya basah. Dia sedang memeras bagian ujung ketika terdengar ketukan pelan dari pintu. Hingga dua kali suara itu berulang, dia akhirnya menjawab. Tanpa mengulang ketukan ketiga, daun pintu pun akhirnya terbuka.Andy berdiri di ambang pintu. Tidak seperti biasanya, kali ini dia tidak membawa tablet atau dokumen kerja. Sebuah ponsel berada di tangannya dengan layar perangkat yang sudah menyala dan menampilkan wajah seseorang dalam sambungan video.“Damian.” Hanya satu kata yang meluncur dari mulutnya sebelum akhirnya Andy berbalik pergi.Nayla buru-buru meraih ponsel yang Andy taruh begitu saja di atas nakas. Handuk yang tadi berada di atas kepalanya hampir saja terlepas. Dia bahkan harus menangkapnya kembali sebelum benda itu jatuh ke lantai.“Damian?”Tidak ada jawaban langsung.Nayla mengusap rambutnya yang basah, lalu merapikan seadanya se
Beberapa hari sudah berlalu sejak malam itu, dan rumah ini perlahan mulai terasa seperti miliknya sendiri. Nayla hapal suara pintu dapur yang berderit setiap pagi, tahu jam berapa sinar matahari mulai menembus jendela-jendela besar di ruang depan, bahkan sudah punya tempat duduk favorit di teras belakang.Nayla masih membawa kehangatan dari telepon terakhir mereka. Cara suara Damian turun satu oktaf, cara mata Damian menyorot dengan tajam nan hangat, semua sering muncul begitu saja di benaknya. Kadang, di tengah aktivitas paling biasa sekalipun, Nayla bisa tiba-tiba tersenyum sendiri tanpa sebab.Sudah beberapa hari berlalu sejak malam terakhir Damian menghubunginya. Tidak ada panggilan baru, tidak ada pesan yang tiba-tiba muncul di layar, bahkan tidak ada kabar singkat yang bisa membuat Nayla berhenti menebak-nebak keadaan di seberang sana. Namun, setiap kali pikirannya mulai bergerak ke arah yang tidak dia inginkan, Nayla selalu memaksanya kembali pada satu hal yang paling sederhana
Enzo beranjak ke arah jendela, sementara Damian masih memperhatikan layar tablet. Satu jari Enzo menyingkap tirai selebar tak lebih dari dua sentimeter. Dia bisa melihat keluar dari celah sempit itu, tapi tetap tidak terlihat dari luar."Ada orang di seberang," katanya denan suara rendah.Damian mendekat, berdiri di sisi lain jendela yang sama. Di bawah sana, seorang pria berdiri di depan toko yang sudah tutup. Kedua tangannya masuk ke dalam saku jaket, diam, dan selama beberapa saat, pria itu tetap tidak melakukan apa-apa selain berdiri. .Enzo menggeser posisinya sedikit, lalu menoleh ke arah layar gawai. "Sekarang ada dua lagi. Di ujung jalan."Sorot mata Damian langsung jatuh ke titik yang Enzo sebut. Dua sosok pria tengah berjalan pelan. Posisi mereka sedikit berjarak, tapi arah mereka sama. Keduanya menuju losmen ini."Ada tiga," gumam Damian."Bersenjata?" tanya Enzo."Tidak kelihatan," jawab Damian, "tapi anggap saja iya."Damian lantas mundur dari jendela, lalu memeriksa isi
Damian masih terlelap di sebelahnya. Dada telanjang itu naik turun pelan, seirama napas berat yang mengandung sisa lelah. Luka dan memar masih bertebaran di wajah, kontras dengan garis rahang tegas yang biasanya tak pernah tampak rapuh.Nayla terdiam. Sejak semalam, tidurnya hanyalah formalitas. Se
Rumah sewa Nayla sunyi ketika Damian membuka pintu. Lampu ruang tamu menyala lembut. Begitu pintu terbuka setengah, Nayla muncul dengan kaus tipis dan rambut disanggul seadanya.“Damian.” Matanya langsung menyapu wajah Damian. Diam sepersekian detik, lalu alisnya mengerut.“Wajahmu…” lanjutnya pela
Isak pertama begitu pendek, hampir tidak kentara. Hanya ada getaran kecil di pundak Nayla. . Sambil masih memeluk, Damian tidak berkata apa pun. Dia hanya memiringkan tubuh, menciptakan ruang agar wajah Nayla bisa bersembunyi di lekukan bahu dan lehernya.Malam ini menjadi bukti bahwa tubuh Damian
Begitu pintu tertutup rapat di belakang mereka, kesunyian kamar menyelimuti seperti kabut yang menekan dada. Nayla belum sempat membuka mulut ketika Damian tiba-tiba menariknya ke dalam dekapan kencang. Bukan pelukan lembut, melainkan himpitan kokoh yang sengaja menenggelamkan tubuh Nayla ke dalam







