Home / Romansa / Under His Darkness / 70. Medan Perang

Share

70. Medan Perang

Author: Hanana
last update publish date: 2025-08-04 11:04:57

Damian mengetatkan rahang. Kelembutan bukanlah caranya dalam menjalani hidup. Namun, untuk membersamai wanita seperti Nayla, kadang kekuasaan bukanlah kunci. Kadang, seseorang seperti Damian Bellucci pun harus belajar menjadi sabar di tengah kobaran yang menyiksa.

“Mengapa masih di sini?” Nayla memecah sunyi.

“Well, ini rumahku. Aku bebas duduk di mana pun aku mau.”

Nayla masih duduk bersandar di sandaran kepala tempat tidur. Selimut menutupi tubuhnya hingga perut. Dia tidak membalas. Hanya men
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Under His Darkness   176. Pria Itu

    Damian memutuskan untuk berjalan melewati lelaki itu, tidak menghindari, tetapi juga tidak mendekat terlalu cepat. Dia berjalan dengan ritme yang tetap, menjaga tangannya tetap santai meski setiap saraf di tubuhnya bersiaga.Saat jaraknya tinggal beberapa meter, lelaki itu tiba-tiba tersenyum."Damian?" panggilnya dengan nada yang akrab.Damian berhenti. Dia menatap lelaki itu lebih jelas sekarang. Wajahnya benar-benar familiar, dan jelas-jelas Damian tidak hanya pernah bertemu dengannya satu atau dua kali saja. Tak sampai dua detik kemudian, ingatannya saling berkesinambungan.Vincent. Dia adalah salah seorang pelanggan VIP di beach club miliknya. Pengusaha properti dari Jakarta yang sering datang ke Bali untuk berlibur dan selalu memesan area VIP di beach club Damian.

  • Under His Darkness   175. Ketegangan di Bandara

    Petugas mengulurkan tangan, sementara Damian menyerahkan boarding pass dan paspor tanpa banyak bicara. Seorang pria paruh baya dengan seragam rapi memindai barcode di boarding pass dengan alat scanner. Bunyi beep pendek terdengar, lalu layar menyala hijau.Saat membuka halaman paspor, tangannya berhenti di halaman foto. Matanya turun ke lembaran di tangan, lalu naik menatap wajah Damian. Tidak ada ekspresi khusus di wajah petugas itu, hanya pandangan datar yang profesional. Namun, waktu itu terasa melambat. Tiga detik terasa ratusan kali lipat lebih lama dari seharusnya.Damian menahan napas tanpa sadar. Dia tidak mengalihkan pandangan, tidak mengubah ekspresi, tidak pula melakukan apa pun yang bisa dianggap mencurigakan. Seolah dia hanya seorang penumpang biasa yang akan terbang ke negara lain dengan alasan yang biasa pula.Petugas lantas menutup paspor. "Silakan."Damian menerimanya dengan tenang, meski ada kelegaan luar biasa yang mengalir di dadanya. Dia menghela napas pelan. Rint

  • Under His Darkness   174. Meninggalkan Bayangan

    Nayla.Nama itu kembali muncul di benaknya. Tajam, tapi dipaksa untuk jangan sampai mengganggu fokus pikiran. Damian tidak mau membiarkannya tinggal terlalu lama di dalam benak. Sayangnya, bayangan wajah Nayla masih saja menyusup setiap kali dia bernapas.Damian membuka ponsel dengan sedikit gusar. Tak ada pesan baru dari Andy. Pria itu pasti sedang sibuk memindahkan Nayla ke rumah aman. Selama beberapa menit, Damian terus menimang-nimang nomor ponsel itu. Namun, pada akhirnya dia tetap memutuskan tidak menekan tombol panggil.Seolah bisa membaca pikiran Damian, telepon dari Andy tiba-tiba muncul. Tanpa mengurangi fokus dalam berkendara, Damian langsung menggeser ikon hijau. “Halo. Bagaimana?”“Tetap gunakan rute yang sama.” Andy membuka percakapan dengan suara rendah dan bernada terburu. “Setelah sampai By Pass Ngurah Rai, kamu masuk jalur lewat peta yang aku kirim.” “Okay.”Tidak ada ucapan lagi yang keluar dari mulut Damian. Namun, panggilan masih tersambung dan menciptakan hen

  • Under His Darkness   173. Langkah Pertama

    Damian menajamkan pandangan ke sekitar. Semakin ramai, semakin baik. Keramaian adalah kabut, dan kabut adalah tempat paling aman bagi seseorang yang ingin menghilang.Tak berselang lama sejak panggilan dengan Andy berakhir, kini ponselnya bergetar lagi. Alih-alih langsung menjawab, Damian justru terlebih dahulu menyesap kopi. Entah untuk mempersiapkan diri untuk informasi yang menegangkan, atau sekadar tak ingin tampak gusar. “Halo, Andy”, ucap Damian yang seketika setelah mengangkat panggilan.“Damian, kami sudah menangkap pergerakan mereka.”“Okay,” jawab Damian tanpa sedikit pun mengubah posisi duduk. “Sudah kamu pastikan?”“Sudah.” Kali ini nada suara Andy terkesan semakin tegang. “Ciri-ciri mobilnya cocok. Plat nomor sama dengan yang sudah kita catat. Dia mulai bergerak ke arah kota.”Damian mengangkat pandangan ke jalan di luar pagar. Matanya menyipit sedikit, bukan karena panik, melainkan karena semua perhitungannya terbukti tepat. Kini, segala kemungkinan yang semula hanya ad

  • Under His Darkness   172. Menantang Semesta

    Damian berpenampilan biasa saja, tak seperti prajurit berpedang, tapi dia tahu kalau dia akan berperang.Lantai lobi hotel mengilap, licin oleh pantulan cahaya pagi yang jatuh dari dinding kaca tinggi. Aroma pengharum ruangan selaras dengan mewahnya rangkaian dekorasi. Beberapa tamu asing menyeret koper, staf hotel bergerak cepat dengan senyum profesional yang seragam, dan di ujung ruangan seorang petugas resepsionis sedang berbicara pelan pada tamu yang tampak masih terlalu mengantuk.Damian berjalan tanpa tergesa. Dia tahu persis ke mana kamera-kamera mengarah. Dia pun tahu titik mana yang akan menangkap wajahnya paling jelas. Jadi, tentu saja dia melewati semuanya dengan sengaja. Bahunya tegak, pun dengan kepala yang terangkat dengan nyaris congkak.'Lihat baik-baik, Jonathan. Aku masih di sini,' batinnya dalam hati.Dia tidak berhenti lama di lobi. Setelah memesan satu kamar, dia naik dan kembali turun dari lift untuk sekadar meninggalkan jejak visual bila ada orang yang sedang me

  • Under His Darkness   171. Peperangan yang Sesungguhnya

    Damian memejamkan mata sesaat ketika suara Andy terdengar dari seberang telepon. Ada bunyi-bunyi samar dari ujung sana. Gesekan kain, deru mesin mobil, dan sesuatu yang terdengar seperti pintu mobil ditutup pelan.“Tim medis sudah menangani. Sekarang kondisi Nayla stabil,” ucap Andy.Damian tidak menutup mata, tidak mendesah lega, tidak juga mengucap syukur keras-keras. Dia hanya membiarkan kabar baik itu menyelinap ke dalam kepala, seperti batu kecil yang akhirnya pas di celah dinding yang retak. Meski begitu, jemari yang sejak tadi terus mengepal tegang, kini akhirnya bisa melemas."Damian." Suara samar Nayla terdengar dari seberang.Lemahnya nada suara itu sempat membuat otak Damian kembali beku. Ingin rasanya berbicara dengan wanita itu barang sejenak. Namun, dia segera sadar kalau dia menuruti kata hati, dia akan tumbang lagi."Andy, biarkan salah satu dokter bersama kalian," ucap Damian yang mencoba mengalihkan perhatian, seolah sedang menipu hati kalau telinganya tidak mendenga

  • Under His Darkness   14. Diselamatkan oleh Kehancuran

    Satu pesan masuk dari akun seorang wanita yang Nayla kenal. Tanpa sapaan, tanpa basa-basi, dia hanya mengirim satu foto.Nathan.Telanjang.Tertidur di atas ranjang dengan sprei kusut.Dan lengan wanita itu terlihat jelas. Dia berbaring di sampingnya, dan sebagian wajahnya ma

  • Under His Darkness   13. Kelegaan yang Rapuh

    Kalah.Ya. Nayla akhirnya mengakui kalau dirinya kalah. Dan kekalahan terbesarnya bukan karena dikhianati. Melainkan karena hatinya masih saja mencintai setelah dihancurkan. Perasaan dalam dirinya tidak ikut mati saat kepercayaannya dibakar habis.-Nathan:--[Nayla, aku tahu aku bukan orang yang pa

  • Under His Darkness   11. Headline Berita

    Nayla dihantam oleh kebisingan yang tak bersuara. Layar ponsel terus berkedip seperti denyut luka yang masih menganga. Notifikasi berdatangan tanpa jeda, menampakkan ratusan komentar yang menyebut namanya di beberapa unggahan foto Nathan bersama seorang wanita yang dia kenal dengan cukup baik.“Apa

  • Under His Darkness   10. Damian dan Adrian

    Pria berdasi rapi itu tampak sedang menggandeng wanita di sebuah hotel bintang lima. Kamera paparazi tidak seberapa jelas. Siluet buram, cahaya lampu yang terlalu silau, dan bayangan kaca yang membaurkan segalanya. Namun, seluruh dunia pasti bisa menyimpulkan kalau itu memanglah Nathan. Dan wanita

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status