LOGINHari telah berganti, Hutan Fuchigami kembali hening, seolah menyimpan ribuan rahasia yang belum ada yang bisa mengungkapnya. Firasat buruk masih menggantung di udara. Mengoyakku hingga tak ada satupun celah untuk menghirup napas lega barang sejenak.
Pagi itu, saat siswa lain kembali belajar teori sihir di kelas, aku dan Elvian diseret ke tempat latihan rahasia oleh Yuzi. Entah latihan apa lagi yang akan dia berikan pada kami, di pagi buta seperti ini. Sebelumnya, kami memang sudah menceritakan pengalaman kami ketika bertemu dengan makhluk yang menyerupai dirinya. Tapi Yuzi hanya tersenyum dan hanya berkata kalau ini baru permulaan. Lalu dia tidak lagi membahas masalah itu sampai sekarang. Tapi dengan melihat perubahannya saja, sudah membuat aku percaya, kalau ini ada yang tidak beres. Wajah Yuzi juga tidak terlihat santai, layaknya seseorang yang sedang menyiapkan diri untuk menghadapi bahaya bersar yang mungkin akan segra terjdi. Aku masih menatap Yuzi. Jujur saja, semenjak waktu itu, aku agak seikit kurang percaya padanya. Kenapa harus Yuzi coba? Kenapa makhluk bayangan itu harus memakai wajah Yuzi? Sekuat apapun aku memikirkannya, tetap akanmenemui jalan buntu. Kami digiring kesebuah arena besar. Dengan perlengkapan yang sangat menakjubkan. Untuk Elvian, mungkin ini biasa saja. Tapi untuk ku, tahu sendirilah, ya. Ternyata ini bukan arena biasa. Tempat ini tersembunyi di bawah perpustakaan sekolah. Tempatnya berbentuk ruangan bundar luas yang luas, dikelilingi pilar tua dan lambang-lambang kuno yang terasa berdenyut seperti sekepal jantung yang keberadaanya mengancam. “Elvian, Caesar!” suara Yuzi menggema dari atas panggung batu. Kepakkan jubahnya, membuat dia terlihat lebih gagah lagi. “Hari ini, kalian akan mempelajari dasar penguncian darah,” jelas Yuzi, disusul senyum menyeringai diujung kalimatnya. “Penguncian darah?” tanyaku bingung. “Bisa gak usah bertele-tele?” Yuzi menatapku dalam. Seolah bola matanya, berhasil menancap kebagian jantungku yang paling dalam. Sial, lagi-lagi dia tersenyum. Senyum penuh misteri yang membuat aku muak. “Darah kalian terlalu aktif. Jika tidak dikunci dan dikendalikan, kekuatan itu akan meledak dan bisa membunuh kalian dari dalam, secara diam-diam—” Penjelasan Yuzi, mampu membuat aku dan Elvian saling beradu tatap untuk beberapa saat. Elvian melangkah ke tengah arena, dan mengambil kuda-kuda tanpa menunggu perintah dari Yuzi. Yuzi hanya mengangguk, menandakan kalau latihan ini sudah bisa dimulai walau dengan minimnya penjelasan. “Aku sudah pernah melakukannya. Tapi sekarang Caesar harus bisa juga, iya kan?” potong Elvian. “Kalau tidak, dia bisa jadi bahan bakar sempurna untuk para makhluk dari Gerbang itu. Bukan begitu, Yuzi?” sambung Elvian, dengan tatapan tajam kearah Yuzi. Yuzi hanya tersenyum, lalu menuntun pandangannya untuk beralih ke arah ku. Bukan membantu, Elvian justru membuatku semakin tertekan. “Sinting!” batinku, seraya menoleh pada Elvian sembari mendengus. Aku maju beberapa langkah. Mengeluarkan pedang dari sarungnya. Seketika, hawa diruangan itu semakin terasa pekat. Cahaya hitam muncul dari setiap sisi pedang. Aku sudah biasa dengan aliran listrik yang menjalar dari pedang ini. Tapi kali ini, aliran listriknya jauh lebih kuat dari sebelumnya. Tubuh yang semula lemas, kini kembali bugar. Aku juga merasakan, kalau bola mataku berkilat untuk beberapa saat. Ku tatap pedang besar ini sebentar. “Pedang naga hitam ya?” gumam ku dalam hati. “Gue gak tau seburuk apa sifat lo. Tapi tolong…,bersahabatlah mulai sekarang,” Kedua mataku membulat, ketika pedang itu mengeluarkan cahaya merah menyala. Elvian sampai mundur beberapa langkah, dan langsung mengeluarkan pedangnya, sambil bersiap pada posisinya. “Kae!” pekik Elvian. “Ja-jangan macem-macem..,” Entah kapan, Yuzi berjalan, dia tiba-tiba ada disampingku. Mendorong ku, lalu menagkap pedang naga hitam dari tanganku. Yuzi kembali memasukkan pedang itu. “Sudah cukup.” Kata Yuzi. “Dia bukan pedang yang mudah bersahabat dengan pemiliknya.” Sambungnya. Yuzi menepuk pundakku pelan, membuat aku langsung meliriknya dengan penuh tanya. “Sabar dulu. Walau kita butuh pergerakkan cepat, tapi semuanya harus berurutan.” Jelasnya. “Kekuatan mu belum terarah. “Apa maksud dari bahan bakar?” tanya ku. “Mereka memakan kekuatan kita. Itu sebabnya lo diincar.” Potong Elvian cepat. “Jadi maksud lo…, gue punya kekuatan yang besar?” Yuzi meletakkan telapak tangannya tepat di dada ku. Membuat area disekitar kami mendadak berubah gelisah. Detak jantung ku juga mendadak berdetak lebih cepat. Belum lagi liontin salib yang kini dipegang Yuzi, membuat air mataku mengalir dengan sendirinya. Entah kenapa, aku seperti merasa ada sesuatu diantara aku dan Yuzi. Seperti sebuah hubungan yang lebih dekat dari seorang guru dan murid. Yuzi menatapku dalam. “Aku akan membuat mu menjadi lebih kuat lagi.” Bisik Yuzi. “Itu janji ku.” Yuzi mundur beberapa langkah, sembari menuntun kedua tangnnya kebelakang. Ia memiringkan kepalanya, seraya menatap aku dan Elvian secara bergantian. “Fokus,” katanya pelan. “Tarik napas, dan dengarkan aliran darahmu.” Aku mencoba. Pejamkan mata, mendengarkan aliran darah seperti katanya. Deg…, deg…, deg. Suara debaran jantung yang lebih nyaring dari napas ku sendiri. Berat, panas, dan bergema didalam sana. Seperti ada sesuatu yang hidup di dalam aliran darahku. Tak lama.., tubuhku memanas, napasku tercekat. Aku tersedak dan jatuh berlutut dengan napas terengah. “Aaaargghh!” pekikku dengan tubuh yang sudah bergetar. Tanganku bersinar merah, dan bayangan-bayangan hitam mulai menjalar keluar dari setiap permukaan kulitku. “Elvian!” seru Yuzi. “Tahan Caesar di dalam zona isolasi, sekarang!” teriak Yuzi. ***“Apa yang siap?” balasku tanpa sadar. Tiba-tiba aula itu retak, bersamaan dengan cahaya merah menyusup dari langit-langit. Aku melihat bayangan lain muncul di sisi kanan. Sosoknya berjubah dengan simbol Ordo bayangan di dadanya. Di sampingnya ada seorang anak kecil dan wajah anak itu juga masih terlihat samar, tapi matanya mirip sekali dengan mata milikku. Sosok itu menyentuk puncak kepala sang anak, seraya tersenyum simpul. “Wadah cadangan,” bisiknya. Dan tepat ketika itu, aku tersentak, membuat menara kembali terlihat bersamaan dengan lingkaran keenam yang mulai menyala dengan ledakan kecil. “Caesar! Tetap di sini!” pekik Yuzi dengan mata naga yang sudah menyala. “Ta-tapi ada anak kecil,” gumamku terbata. “Gue lihat ada anak kecil.” Yuzi langsung menegang, rahangnya mengeras dengan pupil yang menyusut. “Kamu lihat apa?” tanya Yuzi tak percaya. Aku berusaha mengingat apa yang baru saja sosok itu katakana. “Itu katanya… wadah cadangan,” jelasku. Suasanya sunyi dal
Langit di atas menara timur kembali berwarna kelabu saat kami tiba. Menara itu jarang dipakai. Terlihat dari batu-batunya yang lebih tua dari bangunan utama sekolah. Simbol-simbol kuno juga terikir rapi di setiap dindingnya, beberapa bahkan sudah tak lagi dipahami oleh generasi sekarang, terlebih itu aku. Di sinilah Ujian Darah akan dilakukan. Ini bukan bagian dari keputusan Dewan, melainkan keputusan Arvas dan juga Yuzi. Mereka hanya berjaga, takutnya tubuhku tidak bisa dikendalikan seperti sebelumnya. “Aku tidak akan menunggu sampai mereka memutuskan nasibmu,” kata Arvas tadi pagi. “Kalau kau memang garis utama, kita harus tahu seberapa dalam resonansinya dengan inti.” Sekarang aku sudah berdiri di tengah ruangan bundar, dengan lantai membentuk lingkaran sihir besar berlapis tujuh. Tempat ini sedikit lebih ringan, dari tempat-tempat SMA Sanin yang sudah ku kunjungi. Di sebelah timur, Yuzi sudah bediri tegak, di sebelah barat ada Livo, dan tepat di depanku, Arvas sudah berd
“Segel Darah Tegas berarti memutus aliran energinya,” sahut Arvas. “Itu bukan sekadar mengurung kekuatan. Itu bisa merusak inti jiwanya. Dan kalau kalian lupa, dia adalah manusia. Dia lahir di dunia manusia bahkan energi manusianya lebih besar dibandingkan dengan energi sihirnya.” Aku meremas sisi bajuku dengan dada yang semakin bergetar. Jadi mereka bukan hanya ingin mengurung kekuatanku? Mereka juga ingin melenyapkanku. Lalu untuk apa selama ini aku dibawa kesini? Kenapa mereka tidak melenyapkanku di dunia manusia bersama ayah dan ibu. Setidaknya, kalau aku lenyap disana, mungkin aku masih bisa mati sebagai manusia. Bukan seperti ini. Livo menyentuh pundakku yang bergetar. Sentuhannya sedikit berat, seolah berusaha untuk membantuku supaya lebih kuat lagi. “Kalau kalian menyegel dia sekarang, kalian justru mempercepat kebangkitan inti.” “Ordo tidak menyerang karena dia lemah,” lanjut Yuzi. “Mereka menyerang karena mereka tahu waktunya hampir tiba. Segel akan memicu reaksi bali
Aula Dewan tidak pernah terasa seramai ini sebelumnya. Biasanya ruangan setengah lingkaran itu sunyi, dan hanya diisi oleh lima kursi batu tinggi dengan simbol kuno yang menyala redup di lantai. Tapi hari ini, seluruh kursi terisi penuh. Bahkan guru-guru senior yang jarang terlihat juga sekarangikut berdiri di sisi ruangan dengan mata yang sama tajamnya. Mereka seperti hendak melakukan sebuah persembahan yang sakral. Aku berdiri di tengah lingkaran itu dengan wajah sedikit tertunduk. Jujur perasaanku tidak enak sekarang. Semenjak kemunculan sosok itu, ekspresi para Dewan dan guru-guru senior itu agak aneh padaku. Arvas dan yang lainnya berdiri beberapa langkah di belakangku. Mereka juga tidak banyak bicara. Mereka seperti sudah paham kalau ini bukan lagi masalah yang mudah yang bisa mereka selesaikan dengan negosiasi biasa. Mungkin bisa dibilang, kalau ini lebih mirip sebuah persidangan. “Energi yang dilepaskan semalam melampaui ambang batas aman,” ujar salah satu anggota Dew
Tiba-tiba sesuatu di dalam dadaku meledak, bersamaan dengan suara berat dan bergema dari ruang paling dalam kesadaranku. “Cukup!” suara itu seperti menghardikku dalam sekejap. Suara yang keluar dari tubuhku, tapi itu jelas bukan suaraku. Yuzi berusaha untuk mengentikannya. Dia mengejarku yang tanpa sadar terus meliuk menghindar. “Tidak… jangan sekarang. Jangan sekarang Caesar!” Namun semuanya sia-sia. Kalungku sudah pecah total. Retakannya melebar dan menjadi serpihan kecilyang berhamburan ke lantai. Dan dari celahnya, cahaya hitam pekat menyembur keluar. Namun anehnya, cahaya itu tidak membuatku kesakitan, tapi justru membuatku melayang dan lebih ringan. Udara di ruangan langsung berubah. Tekanan energi dari penyerang mendadak goyah dan menghasilkan banyak cela, dan orang berjubah itu langsung mundur tergesa. Wajahnya tegang dengan mata yang membulat sempurna. Tak berselang waktu lama, bayangan besar muncul di belakangku. Bayangan yang awalnya hanya berbentuk kabut hitam,
Dentuman berikutnya berhasil menghancurkan separuh pintu arsip. Debu batu berhamburan ke udara. Rak-rak kayu tua, kursi dan meja semuanya runtuh, gulungan dan buku beterbangan seperti burung yang kehilangan arah. Orang berjubah hitam itu melangkah masuk perlahan. Seolah ia memang tahu kalau tidak akan ada yang bisa menghentikannya sekarang. Artefak di tangannya pecahan lingkaran hitam kebiruan yang berdenyut selaras dengan kalung di dadaku. Setiap denyutnya membuat dadaku terasa ditekan dari dalam. Arvas mengangkat tangannya, berusaha membuat lingkaran sihir besar yang mulai terbentuk di udara. Cahayanya merah gelap membawa hawa dingin yang memekakan. “Semua keluar, kecuali penyihir tingkat tinggi!” bentaknya. "Kalian hanya mengganggu kalau tetap di sini." Tak ada yang membantah ucapannya. Alana, Elvian, Angel dan juga Alexis langsung keluar dengan bantuan Livo yang menghalangi sisi kanan ruangan itu. "Cepat!" seru Livo. Yuzi tetap di tempatnya dengan tatapan yang sudah me







