Partager

10. Kebangkitan part1

Auteur: Scorpio_san
last update Date de publication: 2025-12-14 20:04:54

Hari telah berganti, Hutan Fuchigami kembali hening, seolah menyimpan ribuan rahasia yang belum ada yang bisa mengungkapnya. Firasat buruk masih menggantung di udara. Mengoyakku hingga tak ada satupun celah untuk menghirup napas lega barang sejenak.

Pagi itu, saat siswa lain kembali belajar teori sihir di kelas, aku dan Elvian diseret ke tempat latihan rahasia oleh Yuzi. Entah latihan apa lagi yang akan dia berikan pada kami, di pagi buta seperti ini.

Sebelumnya, kami memang sudah menceritakan pengalaman kami ketika bertemu dengan makhluk yang menyerupai dirinya. Tapi Yuzi hanya tersenyum dan hanya berkata kalau ini baru permulaan. Lalu dia tidak lagi membahas masalah itu sampai sekarang. Tapi dengan melihat perubahannya saja, sudah membuat aku percaya, kalau ini ada yang tidak beres.

Wajah Yuzi juga tidak terlihat santai, layaknya seseorang yang sedang menyiapkan diri untuk menghadapi bahaya bersar yang mungkin akan segra terjdi.

Aku masih menatap Yuzi. Jujur saja, semenjak waktu itu, aku agak seikit kurang percaya padanya. Kenapa harus Yuzi coba? Kenapa makhluk bayangan itu harus memakai wajah Yuzi?

Sekuat apapun aku memikirkannya, tetap akanmenemui jalan buntu.

Kami digiring kesebuah arena besar. Dengan perlengkapan yang sangat menakjubkan. Untuk Elvian, mungkin ini biasa saja. Tapi untuk ku, tahu sendirilah, ya.

Ternyata ini bukan arena biasa. Tempat ini tersembunyi di bawah perpustakaan sekolah. Tempatnya berbentuk ruangan bundar luas yang luas, dikelilingi pilar tua dan lambang-lambang kuno yang terasa berdenyut seperti sekepal jantung yang keberadaanya mengancam.

“Elvian, Caesar!” suara Yuzi menggema dari atas panggung batu. Kepakkan jubahnya, membuat dia terlihat lebih gagah lagi.

“Hari ini, kalian akan mempelajari dasar penguncian darah,” jelas Yuzi, disusul senyum menyeringai diujung kalimatnya.

“Penguncian darah?” tanyaku bingung. “Bisa gak usah bertele-tele?”

Yuzi menatapku dalam. Seolah bola matanya, berhasil menancap kebagian jantungku yang paling dalam. Sial, lagi-lagi dia tersenyum. Senyum penuh misteri yang membuat aku muak.

“Darah kalian terlalu aktif. Jika tidak dikunci dan dikendalikan, kekuatan itu akan meledak dan bisa membunuh kalian dari dalam, secara diam-diam—”

Penjelasan Yuzi, mampu membuat aku dan Elvian saling beradu tatap untuk beberapa saat. Elvian melangkah ke tengah arena, dan mengambil kuda-kuda tanpa menunggu perintah dari Yuzi.

Yuzi hanya mengangguk, menandakan kalau latihan ini sudah bisa dimulai walau dengan minimnya penjelasan.

“Aku sudah pernah melakukannya. Tapi sekarang Caesar harus bisa juga, iya kan?” potong Elvian. “Kalau tidak, dia bisa jadi bahan bakar sempurna untuk para makhluk dari Gerbang itu. Bukan begitu, Yuzi?” sambung Elvian, dengan tatapan tajam kearah Yuzi.

Yuzi hanya tersenyum, lalu menuntun pandangannya untuk beralih ke arah ku.

Bukan membantu, Elvian justru membuatku semakin tertekan.

“Sinting!” batinku, seraya menoleh pada Elvian sembari mendengus.

Aku maju beberapa langkah. Mengeluarkan pedang dari sarungnya. Seketika, hawa diruangan itu semakin terasa pekat. Cahaya hitam muncul dari setiap sisi pedang.

Aku sudah biasa dengan aliran listrik yang menjalar dari pedang ini. Tapi kali ini, aliran listriknya jauh lebih kuat dari sebelumnya. Tubuh yang semula lemas, kini kembali bugar. Aku juga merasakan, kalau bola mataku berkilat untuk beberapa saat.

Ku tatap pedang besar ini sebentar. “Pedang naga hitam ya?” gumam ku dalam hati. “Gue gak tau seburuk apa sifat lo. Tapi tolong…,bersahabatlah mulai sekarang,”

Kedua mataku membulat, ketika pedang itu mengeluarkan cahaya merah menyala. Elvian sampai mundur beberapa langkah, dan langsung mengeluarkan pedangnya, sambil bersiap pada posisinya.

“Kae!” pekik Elvian. “Ja-jangan macem-macem..,”

Entah kapan, Yuzi berjalan, dia tiba-tiba ada disampingku. Mendorong ku, lalu menagkap pedang naga hitam dari tanganku. Yuzi kembali memasukkan pedang itu.

“Sudah cukup.” Kata Yuzi. “Dia bukan pedang yang mudah bersahabat dengan pemiliknya.” Sambungnya.

Yuzi menepuk pundakku pelan, membuat aku langsung meliriknya dengan penuh tanya.

“Sabar dulu. Walau kita butuh pergerakkan cepat, tapi semuanya harus berurutan.” Jelasnya. “Kekuatan mu belum terarah.

“Apa maksud dari bahan bakar?” tanya ku.

“Mereka memakan kekuatan kita. Itu sebabnya lo diincar.” Potong Elvian cepat.

“Jadi maksud lo…, gue punya kekuatan yang besar?”

Yuzi meletakkan telapak tangannya tepat di dada ku. Membuat area disekitar kami mendadak berubah gelisah. Detak jantung ku juga mendadak berdetak lebih cepat. Belum lagi liontin salib yang kini dipegang Yuzi, membuat air mataku mengalir dengan sendirinya.

Entah kenapa, aku seperti merasa ada sesuatu diantara aku dan Yuzi. Seperti sebuah hubungan yang lebih dekat dari seorang guru dan murid.

Yuzi menatapku dalam. “Aku akan membuat mu menjadi lebih kuat lagi.” Bisik Yuzi. “Itu janji ku.”

Yuzi mundur beberapa langkah, sembari menuntun kedua tangnnya kebelakang. Ia memiringkan kepalanya, seraya menatap aku dan Elvian secara bergantian.

“Fokus,” katanya pelan. “Tarik napas, dan dengarkan aliran darahmu.”

Aku mencoba. Pejamkan mata, mendengarkan aliran darah seperti katanya.

Deg…, deg…, deg.

Suara debaran jantung yang lebih nyaring dari napas ku sendiri. Berat, panas, dan bergema didalam sana. Seperti ada sesuatu yang hidup di dalam aliran darahku.

Tak lama.., tubuhku memanas, napasku tercekat. Aku tersedak dan jatuh berlutut dengan napas terengah.

“Aaaargghh!” pekikku dengan tubuh yang sudah bergetar. Tanganku bersinar merah, dan bayangan-bayangan hitam mulai menjalar keluar dari setiap permukaan kulitku.

“Elvian!” seru Yuzi. “Tahan Caesar di dalam zona isolasi, sekarang!” teriak Yuzi.

***

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • VALYZARYON Pedang Naga Hitam   125. Epilog

    Langit akhirnya kembali seperti semula. Tidak ada lagi retakan merah. Tidak ada lagi cahaya aneh yang mengoyak malam seperti luka yang menganga. Yang tersisa hanyalah hamparan gelap dengan bintang-bintang yang perlahan mulai bermunculan satu per satu. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, dunia akhirnya terasa normal. Beberapa minggu setelah pertempuran itu, banyak hal berubah. Kerajaan Valzaryon telah runtuh sepenuhnya. Tidak ada lagi sisa-sisa energi berbahaya yang tertinggal di sana. Tanah yang dulunya dipenuhi aura kematian, kini perlahan kembali hidup. Pepohonan mulai tumbuh kembali, udara terasa lebih ringan, dan makhluk-makhluk kecil mulai berani keluar dari persembunyian mereka. Gerbang-gerbang invasi juga telah sepenuhnya tertutup. Tanpa sumber energi dari Veyron, semuanya runtuh begitu saja. Seolah dunia menolak keberadaan mereka sejak awal. Dan di tempat yang jauh dari semua itu, kehidupan kembali berjalan. SMA Sanin kembali ramai seperti biasanya. Lorong-l

  • VALYZARYON Pedang Naga Hitam   124. Akhir Dari Keabadian

    Aula itu kembali bergetar. Debu yang belum sempat turun kembali terangkat ke udara. Retakan di lantai semakin melebar, menjalar seperti akar yang merusak pondasi terakhir kerajaan Valzaryon. Aku menarik napas dalam. Satu kesempatan. Kami hanya memiliki satu kesempatan untuk menghabisinya. Di depanku, Veyron berdiri dengan aura yang semakin tidak stabil. Energi hitam, merah, dan emas berputar liar di sekeliling tubuhnya. Tapi sekarang aku bisa melihatnya dengan jelas. Cahaya kecil di dada yang selama ini dia lindungi tanpa sadar. “Sekarang,” gumamku pelan. Ryuka melangkah maju lebih dulu. “Arvas,” panggilnya tanpa menoleh. Arvas yang sejak tadi menahan rasa sakit, akhirnya berdiri lebih tegak. Pedangnya kembali ia angkat, meski tangannya sedikit gemetar. “Aku masih bisa,” katanya pelan. Ryuka mengangguk tipis. Lalu di detik berikutnya dia kembali menghilang. Mereka berdua langsung melesat ke arah Veyron. Benturan demi benturan kembali memenuhi aula. Ryuka menyerang tanpa jeda

  • VALYZARYON Pedang Naga Hitam   123. Titik Lemah Veyron

    Aula utama itu berubah sunyi dalam sekejap. Bukan karena tidak ada suara, tapi karena tekanan yang memenuhi ruangan itu terlalu berat. Seolah udara sendiri enggan untuk bergerak. Aku masih berlutut, dengan napasku berantakan. Tapi mataku tidak lepas dari dua sosok di depan sana. Ryuka dan Veyron. Dua aura yang sama-sama gelap, sama-sama dalam, tapi terasa sangat berbeda. Veyron menghela napas pelan, lalu menatap Ryuka dengan senyum tipis yang sulit diartikan. “Kamu benar-benar mengejutkanku,” katanya santai. “Kupikir kamu akan tetap menjadi anjing setia.” Ryuka tidak menjawab. Dia hanya mengangkat pedangnya sedikit. Energi hitam pekat mulai mengalir di sepanjang bilahnya, berdenyut seperti jantung yang hidup. “Aku tidak pernah berpihak padamu,” katanya dingin. “Selama ini, aku hanya menunggu.” “Menunggu?” tanya Veyron seraya mengangkat alis. “Lucu sekali. Apa kamu lupa, aku sudah memasangkan sesuatu di dalam tubuhmu?” Ryuka maju satu langkah lagi. Aura di sekelilingnya semaki

  • VALYZARYON Pedang Naga Hitam   122. Retakan Terakhir

    BOM! Ledakan itu menghantam tepat di depanku. Tubuhku terpental beberapa meter ke belakang, menghantam lantai batu aula utama dengan keras. Retakan panjang langsung menjalar dari titik benturan, seperti jaring laba-laba yang pecah. Napas tercekat. Dadaku terasa sesak seperti diremas dari dalam. “Caesar!” suara Yuzi terdengar samar. Aku mencoba bangkit. Namun tanganku masih gemetar saat menekan lantai. Pandanganku bergetar, tapi aku bisa melihat sosok Veyron yang berdiri tegak di tengah aula. Tidak, bukan hanya berdiri. Dia bahkan tidak bergerak sedikitpun dari tempatnya. Seolah seranganku tadi tidak berarti apa-apa. “Serangan yang menarik,” gumam Veyron santai. Dia mengibaskan sedikit debu dari bahunya. “Tapi masih jauh dari cukup. Naga Hitam memang sudah berkembang sekarang, tapi dia tetap belum sepadan denganku.” Aku menggertakkan gigi dengan rahang mengeras. Mode penyatuan dengan Naga Hitam masih aktif. Energi hitam masih menyelimuti tubuhku. “Serangan kita ngg

  • VALYZARYON Pedang Naga Hitam   121. Raja Yang menunggu

    Kami berjalan menuju kerajaan itu, awalnya dengan langkah perlahan karena takut ada yang tiba-tiba datang menyergap. Tapi anehnya, tidak ada penjaga atau pasukan satupun di tempat itu. Semuanya kosong seperti tidak ada kehidupan lain selain kami. “Kenapa sepi banget?” gumamku masih dengan langkah mengendap. “Ini beneran kerajaan, bukan kota mati?” “Stttt!” desis Yuzi. “Jangan gegabah. Tempat yang terlihat sepi, justru menyimpan banyak bahaya yang tidak kita tahu.” Belum sempat mencerna keanehan dari situasi kerajaan, kami kembali dikejutkan dengan pintu gerbang yang tiba-tiba saja terbuka saat kami mendekat. Tetap tanpa ada penjaga ataupun suara bising kain selain langkah kami bertiga. “Pelan-pelan aja masuknya,” gumamku dengan suara yang ku redam serendah mungkin. Aku sadar Arvas melirik dengan tatapan aneh, tapi mau gimana lagi, tingkat waspadaku meningkat kalau ada di tempat baru. Dan lagi, Naga Hitam terus saja berbisik hal-hal yang aneh. Tentang anak yang ikut tert

  • VALYZARYON Pedang Naga Hitam   120. Panggolan Dari Veyron

    "Dada gue kenapa sesak gini?" gumamku pelan. Aku berdiri menatap dua gerbang yang tersisa. Langit masih tampak retak di atas sana. Cahaya merah itu seperti luka yang belum sepenuhnya sembuh. Sesekali aku melirik Yuzi dan Arvas yang masih di tempat mereka dengan napas terengah. Ucapan Veyron tadi masih terngiang di kepalaku. Tentang dia yang memintaku datang ke kerajaan Valzaryon. Aku menghela napas panjang, seraya menyeka keringat yang hampir masuk ke mata. Dibelakangku, Naga Hitam masih berdiri kokoh. Dia tidak banyak bicara, seolah sedang mengumpulkan informasi dari kemunculan Veyron sebelumnya. “Lagian walaupun nggak disuruh, kita tetap bakal kesana,” gumamku akhirnya. Yuzi dan Arvas melirik lalu menarik napas panjang. “Sebelum itu, sembuhkan dulu semua lukamu,” kata Yuzi. Dia melirik luka yang menganga di bagian tangan kiriku. "Kalau tidak, kamu hanya akan mati kehilangan banyak darah." Entah dari mana da

  • VALYZARYON Pedang Naga Hitam   77. Resonasi Dua Naga

    “Perhatikan gerakan mu,” ujar Yuzi. “Saya tidak akan bisa melindungimu.” Aku mengangguk pelan, seraya memusatkan fokusku di area dada. Merasakan aliran setiap kekuatan sihir yang mulai membentuk perisai di seluruh bagian tubuhku.“Aku Caesar Atala Raharja memanggilmu Naga

  • VALYZARYON Pedang Naga Hitam   56. Signum Aberrans

    Yuzi menatap Arvas sebentar, lalu tersnyum. Ia menggaruk kepala belakangnya. Sedikit merasa bersalah karena terlalu berlebihan. Tak lama, sebuah sinar biru muncul dari jari telunjuknya. Ia mengarahkan sinar itu padaku dan juga Arvas. Dan seketika. Tubuh kami kembali bugar. Bahkan lebih bugar d

  • VALYZARYON Pedang Naga Hitam   48. Gio vs Alexa

    Aku menarik napas panjang, kemudian kembali duduk di samping Alana. Berusaha tidak peduli dengan tatapan Ryuka dan kemblali fokus pada pertarungan. Di dalam sana, Gio dan Alexa sudah memasang kuda-kuda. Matra keduanya menyala. Menapilkan mode-mode sihir masing-masing. Jubah Alexa berwarna pink

  • VALYZARYON Pedang Naga Hitam   47. Duel Pertama

    “Woy cepetan dong!” teriak salah seorang remaja laki-laki yang berdiri di belakangku. Membuat aku kembali dari alam bawah sadar itu. Aku emnarik napas panjang, menghembuskannya dengan tergesa. Sisik-sisik naga sudah tidak ada lagi. Tapi energi yang tadi kurasakan, masih te

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status