Share

14 Resonasi Darah

Author: Scorpio_san
last update Last Updated: 2025-12-17 17:11:22

Tak lama.., ada cahaya. Cahaya merah keemasan memancar dari dadaku, menyapu tangan-tangan bayangan itu. Semua menghilang dalam sekejap, seolah terbakar dari dalam oleh kekuatan yang ada di dalam diri ku.

Aku jatuh terduduk, dengan keringat yang bercucuran. Punggung basah, dan tangan yang sudah gemetar. Yuzi akhirnya berjalan mendekat. Ia menatapku seperti menilai sebuah eksperimen yang nyaris gagal.

“Kamu baru saja membuka satu lapis,” ungkap Yuzi pelan. “Masih ada sembilan lapis lagi. Da
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • VALYZARYON Pedang Naga Hitam   96. Gerbang Yang Terbuka

    Ada banyak yang cerita, kalau lorong menuju bawah tanah tidak pernah dibuka sejak Perang Seratus Tahun berakhir. Dan memang, batu-batunya lebih gelap, udara lebih lembap dengan simbol-simbol kuno terukir padat di dinding, walaupun sebagian besar sudah retak dimakan waktu. Kami berjalan cepat dengan Arvas di paling depan, aku dibelakangnya dan Yuzi tepat di sampingku. Yuzi tidak banyak bicara sejak keluar dari menara itu. Wajahnya masih tampak tenang walau menyiratkan banyak sekali kegelisahan dan rasa takut. Sebenarnya aku ingin bertanya, tentang apa yang dia lihat tadi. Tentang alasan dia memanggil dirinya Raka bukan Yuzi. Dan tentang alasan kenapa dia memanggil ayah dan ibu dengan ucapan maaf berulang kali. Tapi waktunya belum tepat. Kami tidak ada di tempat yang pas untuk membicarakan masalah pribadi. Namun jauh di dalam lubuk hatiku yang paling dalam, aku semakin yakin kalau Yuzi juga sama tersiksanya. Tangga spiral panjang membawa kami semakin dalam. Suhu di sana turun drast

  • VALYZARYON Pedang Naga Hitam   95. Ujian Darah Part 2

    “Apa yang siap?” balasku tanpa sadar. Tiba-tiba aula itu retak, bersamaan dengan cahaya merah menyusup dari langit-langit. Aku melihat bayangan lain muncul di sisi kanan. Sosoknya berjubah dengan simbol Ordo bayangan di dadanya. Di sampingnya ada seorang anak kecil dan wajah anak itu juga masih terlihat samar, tapi matanya mirip sekali dengan mata milikku. Sosok itu menyentuk puncak kepala sang anak, seraya tersenyum simpul. “Wadah cadangan,” bisiknya. Dan tepat ketika itu, aku tersentak, membuat menara kembali terlihat bersamaan dengan lingkaran keenam yang mulai menyala dengan ledakan kecil. “Caesar! Tetap di sini!” pekik Yuzi dengan mata naga yang sudah menyala. “Ta-tapi ada anak kecil,” gumamku terbata. “Gue lihat ada anak kecil.” Yuzi langsung menegang, rahangnya mengeras dengan pupil yang menyusut. “Kamu lihat apa?” tanya Yuzi tak percaya. Aku berusaha mengingat apa yang baru saja sosok itu katakana. “Itu katanya… wadah cadangan,” jelasku. Suasanya sunyi dal

  • VALYZARYON Pedang Naga Hitam   94. Ujian Darah

    Langit di atas menara timur kembali berwarna kelabu saat kami tiba. Menara itu jarang dipakai. Terlihat dari batu-batunya yang lebih tua dari bangunan utama sekolah. Simbol-simbol kuno juga terikir rapi di setiap dindingnya, beberapa bahkan sudah tak lagi dipahami oleh generasi sekarang, terlebih itu aku. Di sinilah Ujian Darah akan dilakukan. Ini bukan bagian dari keputusan Dewan, melainkan keputusan Arvas dan juga Yuzi. Mereka hanya berjaga, takutnya tubuhku tidak bisa dikendalikan seperti sebelumnya. “Aku tidak akan menunggu sampai mereka memutuskan nasibmu,” kata Arvas tadi pagi. “Kalau kau memang garis utama, kita harus tahu seberapa dalam resonansinya dengan inti.” Sekarang aku sudah berdiri di tengah ruangan bundar, dengan lantai membentuk lingkaran sihir besar berlapis tujuh. Tempat ini sedikit lebih ringan, dari tempat-tempat SMA Sanin yang sudah ku kunjungi. Di sebelah timur, Yuzi sudah bediri tegak, di sebelah barat ada Livo, dan tepat di depanku, Arvas sudah berd

  • VALYZARYON Pedang Naga Hitam   93. Segel Atau Pewaris Part 2

    “Segel Darah Tegas berarti memutus aliran energinya,” sahut Arvas. “Itu bukan sekadar mengurung kekuatan. Itu bisa merusak inti jiwanya. Dan kalau kalian lupa, dia adalah manusia. Dia lahir di dunia manusia bahkan energi manusianya lebih besar dibandingkan dengan energi sihirnya.” Aku meremas sisi bajuku dengan dada yang semakin bergetar. Jadi mereka bukan hanya ingin mengurung kekuatanku? Mereka juga ingin melenyapkanku. Lalu untuk apa selama ini aku dibawa kesini? Kenapa mereka tidak melenyapkanku di dunia manusia bersama ayah dan ibu. Setidaknya, kalau aku lenyap disana, mungkin aku masih bisa mati sebagai manusia. Bukan seperti ini. Livo menyentuh pundakku yang bergetar. Sentuhannya sedikit berat, seolah berusaha untuk membantuku supaya lebih kuat lagi. “Kalau kalian menyegel dia sekarang, kalian justru mempercepat kebangkitan inti.” “Ordo tidak menyerang karena dia lemah,” lanjut Yuzi. “Mereka menyerang karena mereka tahu waktunya hampir tiba. Segel akan memicu reaksi bali

  • VALYZARYON Pedang Naga Hitam   92. Segel Atau Pewaris

    Aula Dewan tidak pernah terasa seramai ini sebelumnya. Biasanya ruangan setengah lingkaran itu sunyi, dan hanya diisi oleh lima kursi batu tinggi dengan simbol kuno yang menyala redup di lantai. Tapi hari ini, seluruh kursi terisi penuh. Bahkan guru-guru senior yang jarang terlihat juga sekarangikut berdiri di sisi ruangan dengan mata yang sama tajamnya. Mereka seperti hendak melakukan sebuah persembahan yang sakral. Aku berdiri di tengah lingkaran itu dengan wajah sedikit tertunduk. Jujur perasaanku tidak enak sekarang. Semenjak kemunculan sosok itu, ekspresi para Dewan dan guru-guru senior itu agak aneh padaku. Arvas dan yang lainnya berdiri beberapa langkah di belakangku. Mereka juga tidak banyak bicara. Mereka seperti sudah paham kalau ini bukan lagi masalah yang mudah yang bisa mereka selesaikan dengan negosiasi biasa. Mungkin bisa dibilang, kalau ini lebih mirip sebuah persidangan. “Energi yang dilepaskan semalam melampaui ambang batas aman,” ujar salah satu anggota Dew

  • VALYZARYON Pedang Naga Hitam   91. Kebangkitan Naga Hitam Part 2

    Tiba-tiba sesuatu di dalam dadaku meledak, bersamaan dengan suara berat dan bergema dari ruang paling dalam kesadaranku. “Cukup!” suara itu seperti menghardikku dalam sekejap. Suara yang keluar dari tubuhku, tapi itu jelas bukan suaraku. Yuzi berusaha untuk mengentikannya. Dia mengejarku yang tanpa sadar terus meliuk menghindar. “Tidak… jangan sekarang. Jangan sekarang Caesar!” Namun semuanya sia-sia. Kalungku sudah pecah total. Retakannya melebar dan menjadi serpihan kecilyang berhamburan ke lantai. Dan dari celahnya, cahaya hitam pekat menyembur keluar. Namun anehnya, cahaya itu tidak membuatku kesakitan, tapi justru membuatku melayang dan lebih ringan. Udara di ruangan langsung berubah. Tekanan energi dari penyerang mendadak goyah dan menghasilkan banyak cela, dan orang berjubah itu langsung mundur tergesa. Wajahnya tegang dengan mata yang membulat sempurna. Tak berselang waktu lama, bayangan besar muncul di belakangku. Bayangan yang awalnya hanya berbentuk kabut hitam,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status