MasukYuzi berjalan ke tengah arena, jubahnya mengepak ringan meski tak ada angin yang menerpa. Keren sekali. Definisi orang keren tidak banyak tingkah ya Yuzi Takahiro.
“Caesar!” panggilnya tiba-tiba. “Y-ya, Sensei?” sahut ku terbata. “Kamu belum punya tongkat, kan?” tanyanya lagi. Aku menggeleng. Tak lama, Yuzi mengangkat tangannya pelan. Dari langit, cahaya biru turun, melengkung seperti petir yang berhasil dijinakkan. Cahaya itu menyatu, menjadi sebilah tongkat panjang, gelap berkilau, dengan ukiran nama, Caesar A. Raharja yang di ukir dengan warna biru keemasan. Tongkat itu mengarahkannya padaku. Seolah tahu, kalau akulah pemiliknya. Tak lama, tongkat itu melayang tepat di depan wajah ku. “Ini milikmu.” Kata Yuzi, seolah memecah lamunan singkatku. Aku menatap tongkat itu, seraya menelan salivaku yang sudah terasa pahit. Bahkan udara di sekitar tongkat itu terasa berdenyut dan sedikit panas, hingga membuat ku langsung berkeringat. Belum lagi di belakangku, aku bisa mendengar bisik-bisik kagum teman sekelas yang lain. “Dia bikin tongkat cuma pakai sihir pikiran. Keren!” “Gue baru bisa bikin bunga api doang. Pengen banget kayak sensei.” “Makanya dia jadi guru walau umurnya masih 20 tahun.” “Denger-denger, dia sebenarnya anak keturunan Raja Penyihir Era Ketiga,” Yuzi menepuk pundakku pelan. “Jangan dengarkan apapun. Fokus saja mengendalikan tongkat nakal ini.” Katanya. Aku mengngguk pelan, lalu ku genggam tongkat itu dengan sangat hati-hati. Ketika tangan ku menyentuhnya, sebuah aliran hangat menjalar sampai ke dada. Ada sesuatu yang aneh memang. Energi ku seperti bertambah lima puluh persen saat menyentuhnya. Dan ada ikatan batin yang belum ku mengerti. Aku hanya merasa, kalau tongkat ini adalah bagian dari tubuhku yang telah lama hilang. Aku menoleh ke arah Yuzi, dia bahkan sudah tersenyum kemudian mengangguk, seolah tahu apa yang ingin ku katakan. “Kamu akan belajar Caesar. Bukan cuma soal sihir, tapi juga soal kenapa kamu dipilih oleh darah tegas itu.” Ujar Yuzi. Ia kembali berdiri di tengah arena dengan tangan menyilang di depan dada. Aku msih bergemim. Merasakan aliran aneh yang semakin menjalas keseluruh tubuh ku. “Baiklah, kita mulai dengan latihan dasar pengendalian energi sihir!” seru Yuzi kemudian, Semua siswa berdiri tegak di posisi masing-masing. Tongkat mulai dipegang erat. Aura mereka mulai berpendar halus, seolah di setiap inci tubuh mereka mula teraliri listrik hangat degan cahaya yang berbeda-beda. Sementara itu, aku, bayangkan saja, aku masih pemula dan tidak mengerti apapun. Aku mendelik, karena Yuzi sama sekali tidak menjelaskan tata caranya sedikitpun. “Gue harus gimana, nih?” bisikku pelan, sembari terus menggenggam tongkat pemberian Yuzi. Samuel yang berdiri satu baris di sebelahku menepuk pundak. “Tenang, gerogi banget!” ledek Samuel, sembari nyengir. “Fokus ke perut, rasain semacam energi muter di sana. Kalau udah terasa, arahin lewat tongkat. Jangan kebalik ya. Kalau lo arahinnya lewat telinga, bisa-bisa rambut lo botak sebelah, nanti!” sambung Samuel sembari cekikikkan. “Iisshh si tengil!” gerutuku dalam hati. “Gue serius, Kae!” seloroh Samuel seolah tahu apa yang ada dalam hatiku. Yuzi berjalan pelan, mengawasi kami satu persatu. Beberapa sudah berhasil menciptakan bola api kecil atau kilatan angin lembut. Sedangkan aku? Masih seperti patung. Bingung, dan buntu. “Caesar!” suara Yuzi menggema seperti getaran dari dalam dada. Membuat aku reflek berdiri lebih tegak dan menoleh ke arahnya. “Coba kamu keluarkan satu percikan energi dari dalam dirimu! Jangan hanya menunggu perintah! Berusaha sendiri dulu!” tegasnya. “Ba-baik,” Aku mulai memejamkan mata. Melakukan seperti apa yang di isyaratkan oleh Samuel sebelumnya. “Fokus ke perut, dan rasakan energinya muter di sana..,” Aku mencoba membayangkan, menghayati dengan mata terpejam. Memang sudah terasa, seperti ada semacam pusaran di dalam sana. Baru juga serius, sial! Yang kebayang malah mangkuk mie ayam kesukaan ku. Jujur latihan seperti ini membuat tenaga dan isi perut terkuras habis. Konsentrasi buyar seketika. Aku langsung membuka mata, dan menatap Yuzi dengan penuh rasa bersalah. Sedangkan Yuzi, sudah menampilkan wajah marah dengan rahang yang mengeras. “Fokus, Caesar!” bentak Yuzi. “Kalau tidak, kamu akan mati dengan energy sihirmu sendiri.” Napasku seolah tertahan di rongga dada. Mudah sekali dia bicara tentang kematian. Dibalik kebingungan, bayangan ibu kembali memenuhi isi kepalaku. Entahlah, tapi saat ini, aku jadi semacam punya tujuan yang pasti. Walaupun aku belum tahu jelas apa tujuannya. Kali ini aku berusaha lebih serius lagi. Ku tarik napas panjang, seraya membayangkan energi, membayangkan kekuatan berputar di dalam sana. Tarik dari dalam, dorong lewat tongkat. Tiba-tiba, suara "ZzzRRRRRAKKK!!" meledak begitu saja bersamaan dengan teriakan teman-teman ku yang lain. Cahaya biru menyilaukan menyambar ke depan. Suaranya lebih mengerikan dari petasan, dan lebih halus dari ledakan sebuah bom. PRAKKK! Satu deret pilar batu langsung retak. Tirai-tirai panjang berkibar liar. Sebuah meja panjang di sisi arena terlempar dan mendarat nyaris mengenai dua siswa. Aku terpental ke belakang dan mendarat dengan posisi kaki diatas dan kepala tersangkut di semak kecil di pinggir aula. Sumpah demi apapun, aku benar-benar terkejut setengah mati. Aku bingung apa yang sudah terjadi. “Gue hidup?” gumamku pelan sambil mencoba bangun dengan mata yang masih sedikit juling. Sepersekian detik kemudian, seluruh aula mendadak hening, sebelum akhirnya teriakan-teriakan teman-teman meledak. “WOIIII!!!” “GILA LO, CAESAR!!” “ITU BUKAN PERCIKAN!!! LO MAU BUNUH KITA SEMUA” “AHH RUSAK NIH RAMBUT GUE!!” Berbeda dengan yang lain yang masih marah-marah, Samuel langsung bergerak cepat membantuku bangun, dengan menahan gelak tawa yang sudah menggelitik di perutnya. “Gila! Baru latihan pertama udah kayak melempar jurus pamungkas!” ledek Samuel akhirnya. Aku memutar bola mata malas, “Gue nggak tahu caranya mengerem. Untung sihir yang keluar, bukan kentut, njirr!” celoteh ku sembari menepuk-nepuk bokong yang terkena debu. Yuzi berjalan mendekat, sorot matanya sulit dibaca. Membuat semua orang langsung diam seketika. Aku menelan saliva mati-matian. Jujur, aku sudah siap-siap untuk dimarahi, dikeluarkan, atau disuruh bersihin WC sihir selama setahun. Bodo amat! Tapi.., di luar dugaan, Yuzi justru tersenyum tipis, dan bertepuk tangan sebentar. “Sihirmu liar. Tapi sudah cukup kuat,” dia menatap tongkatku, lalu beralih menatap mataku dalam-dalam. “Kamu memang pemilik darah tegas. Sekarang tinggal kita bentuk kekuatan itu, sebelum dia menghancurkan dirimu sendiri.” Sambungnya. Aku menatapnya lekat-lekat dengan tubuh yang masih gemetar dan bingung. Tapi entah kenapa, untuk pertama kalinya sejak kehilangan orang tuaku, aku merasa mungkin, aku belum sepenuhnya sendirian. “Terimakasih,” Aku tersenyum, kemudian mengangguk samar. Sekarang, aku merasa kalau memang tempat ini sudah menjadi takdir yang harus aku jalani. Bersama Yuzi dan bersama teman-teman ku yang baru. ***Yuzi menatap Arvas sebentar, lalu tersnyum. Ia menggaruk kepala belakangnya. Sedikit merasa bersalah karena terlalu berlebihan. Tak lama, sebuah sinar biru muncul dari jari telunjuknya. Ia mengarahkan sinar itu padaku dan juga Arvas. Dan seketika. Tubuh kami kembali bugar. Bahkan lebih bugar dari sebelumnya. Kami juga bisa berdiri lebih tegak lagi. Merasa tenaganya sudah pulih, Arvas langsung berjalan dan berhenti tepat di sampingku. Arvas mulai menarik napas. Cahaya yang memantul dari tubuhnya, aku merasakan kalau dia sedang berusaha fokus dan menahan amarahnya. Mata yang semula berwarna perak, kini kembali coklat. sebuah simbol samar, muncul dari penglihatannya. Aku bisa melihat kalau pelipis Arvas sedikit berkedut. “Signum Aberrans.” Ucapnya, sembari menggenggam erat pedang Naga Perak miliknya. Udara di sekeliling kami langsung menyusut. Seolah ruang di sekitar kami di tarik paksa ke dalam satu titik. Simbol samar di mata Arvas, kini menyala lebih jelas, berputar per
Getaran hebat yang membuat langit dan bumi ikut menjerit datang bersamaan dengan hembusan angin yang menusuk setiap pori-pori kulit kami. Awan terbelah secara paksa. Cahaya turun lurus seperti tombak raksasa, menghantam tepat di tengah tubuh virmort. Tanah meledak, seolah dunia sedang berusaha menelan dirinya sendiri. “Segel Tingkat Tinggi.” Gumam Yuzi lagi. SLASHHH! RAAAAAAAAA! Jeritan virmort terpotong. Tubuhnya terangkat, terjepit di antara pilar cahaya dan tekanan gravitasi yang tak masuk akal. Kulit kerasnya retak, satu per satu. Memercikkan cahaya hitam yang langsung menguap sebelum menyentuh tanah. Aku masih berdiri di belakang Yuzi dan Arvas. Sedikit memiringkan kepala untuk bisa melihat Yuzi lebih jelas. Dia tampak gagah dengan jubah yang mengepak sempurna. Virmort di depan kami, kini mulai melebur, di paksa masuk ke dalam segel debu yang Yuzi sebarkan. Aku menganga. Menyaksikan kehebatan demi kehebatan Yuzi. Aku semakin tidak percaya kalau dia ternyata kakak
Di sana, Haruka dan Livo sudah mulai bertarung. Mode penyebaran Pedang Sakura mulai menyala. Dentuman dan teriakan mereka menggema. Kilatan dari mode pernapasan Livo juga sudah menghantam tubuh virmort dan juga pepohonan yang ada di sekelilling mereka. Bukan hanya mereka berdua, tapi Yuzi dan Arvas juga sudah mulai mengeluarkan serangan-serangan mereka. Sedangkan aku, masih saja ada di bawah pelukan Yuzi. Dia bertarung dengan menggunakan sebelah tangan saja. Karena saru tangannya membopongku layaknya sebuah karung beras. Void merah menyebar. Menjadi satu dengan void perak milik Arvas. Dentuman demi dentuman saling bersahutan, seolah tidak membiarkan situasi senyap barang sekejap. “Sekarang Caesar! Keluarkan sekarang!” bisikan Naga hitam kembali terdengar. “Jangan!” pekik Yuzi di tengan pertarungannya. “Jangan pernah di ambil alih oleh Naga Hitam. Jangan pernah memakainya ketika dia yang meminta.” Walau samar oleh su
Jubah ku sudah berubah sempurna. Ku genggam pedang yang masih bertengger di samping. Ku fokuskan pandanganku pada sekeliling. Tak ada satupun dari kami yang tidak waspada. Angina yang semula berhembus bagaikan penghantar badai, mendadak berhenti. Sunyi namun jauh dari kata tenang. Seolah seluruh udara di sekitar SMA Sanin diam-diam di telan oleh sesuatu yang tak kasatmata. Daun-daun yang semula bergoyang, kini membeku di udara untuk beberapa saat, kemudian jatuh satu per satu, dengan sangat perlahan. “Ini bukan Aliester.” Gumam Yuzi pelan. “Dia tidak akan mau repot-repot datang menemui kita.” Kalau memang ini bukan Aliester, lalu apa? Siapa? Mengapa energinya terasa mencekam. Kalau energi sebesar ini bukan energi Aliester, lalu sebesar apa energi dia yang sebenarnya? Tengkukku semakin dingin. Genggaman ku di ujung pedang yang semula kuat, perlahan melemah akibat getaran yang sulit ku kendalikan.
Aku mengerjapkan mata sebentar. Menarik napas yang sempat terlupakan beberapa detik yang lalu. Yuzi sekarang sudah membelakangiku. Dia mendongak menatap siluet gunung yang semakin tertutup awan hitam. “Kamu bukan hanya pemilik darah tegas murni. Kamu juga memiliki darah yang selalu dia incar.” Jelas Yuzi. Suaranya pelan. Namun cukup jelas di indera runguku. “Ayah berusaha menjauhkanmu dari dunia ini. Mengirim saya kesini untuk di jadikan umpan yang bisa mengalihkan perhatiannya. Tapi akhirnya, ayah dan ibu tetap mati di tangan bajingan itu.” "Jadi kematian mereka juga salah gue?" tanya ku dengan suara bergetar. "Bukankah kita sudah lelah mencari siapa yang benar dan siapa yang salah?" tanya Yuzi. "Bahkan saya sudah menerima, kalau selama ini saya di jadikan umpan dan di asingkan dari kalian. Saya sudah menganggap ini adalah jalan takdir yang harus saya jalani." Yuzi berbalik badan. Menat
Matahari sudah mulai tergelincir. Kegagahan sinarnya, kini sudah mulai memudar. Di gantikan oleh cahaya jingga yang temaram. Aku menatap langit dengan tubuh terlentang di lapangan yang tadi menjadi tempat terakhir Gio menghembuskan napas terakhirnya. Sisa energi sihir dari Gio, sudah hilang sepenuhnya. Aroma keberadaanya juga sudah tidak bisa di rasakan lagi. Aku juga dapat kabar, kalau setelah insiden tadi, Alexa sempat marah dan mengamuk pada para juri dan semua petinggi perihal kesepakatan mereka dengan Gio sebelum pertarungan berlangsung. Aku memejamkan mata, kala semilir angin datang menyapa. Menghirupnya dalam-dalam. Berusaha menghilangkan rasa sesak dari sisa kekecewaan yang tertanam. Tapi tetap tidak bisa. Rasa kecewaku tetap sama. Aku kecewa karena mereka yang sudah menyetujui keputusan gila Gio. Aku kecewa karena ujian pertarungan ini masih di pertahankan. “Cukup memikirkan hal yang tidak seharusnya kamu fikir







