LOGINObrolan ringan tentang pisang mengkal itu seketika meruntuhkan sisa-sisa kecanggungan di antara mereka, membuat Aditya merasa selangkah lebih dekat untuk memahami sisi lain dari seorang Nadia.
"Oke, aku masuk ke ruang bermain Angga dan Anya yang sekarang usia lima bulan," ujar Aditya mengalihkan perhatian kembali ke denah sketsa di hadapannya. Dia mengetuk-ngetuk jarinya di meja gazebo.
"Kalau enggak salah, usia seperti itu mulai merangkak dan mau duduk kan? Kalau enggak s
"Papapppppp!" teriak Angga tiba-tiba dengan suara nyaring, seolah tidak mau kalah sedetik pun dari kakak perempuan kembarjnya. Bocah lelaki itu ikut bergerak heboh, menuntut perhatian yang sama dari pria itu."Nah, mulai deh, drama deh," ucap Nadia sambil menggeleng-gelengkan kepala. Dia sudah bisa menebak kelakuan si kembar yang pasti akan selalu rebutan jika sudah melihat sosok Aditya di dekat mereka.Melihat pemandangan di depan mata mereka, seluruh anggota keluarga besar yang duduk di area lesehan itu seketika terdiam.Semua orang tidak memerlukan jawaban atau penjelasan panjang lebar lagi dari mulut Nadia mengenai status hubungan mereka. Kedekatan Aditya dengan si kembar, terlebih panggilan "Papap" yang begitu spesial, sudah berbicara jauh lebih banyak daripada ribuan kata penjelasan .Logika sederhana semua orang di meja itu langsung berjalan. Kalau memang di antara mereka tidak ada hubungan yang spesial, tentu Aditya akan me
Di dalam mobil yang sejuk, suasana canggung yang sempat membayang langsung mencair begitu deru mesin mulai terdengar konstan. Ima duduk di kursi penumpang, sesekali melirik profil samping Nadia yang fokus pada kemudi."Nad," panggil Tante Ima membuka obrolan, nadanya terdengar renyah, jauh dari kesan menghakimi. "Tante itu sebenarnya dari tadi penasaran. Kamu ini kan dosen teladan nasional, pintar, sibuknya luar biasa, apalagi sekarang megang bayi kembar dua sekaligus. Rahasianya apa sih kok muka kamu tetap segar begini? Tante yang cuma nungguin rumah saja kadang merasa jompo kalau kurang tidur."Nadia tertawa kecil, melirik sekilas ke arah Tante Ima. "Aduh, Tante bisa saja. Rahasianya cuma satu, pura-pura bahagia kalau malam-malam begadang!" kelakar Nadia, yang langsung disambut tawa renyah dari calon ibu mertuanya itu. "Enggak kok, Tante. Kuncinya memang harus dinikmāti saja, lagipula di rumah banyak yang bantu sayang sama Angga dan Anya."Ima tersenyum hangat, menyandarka
Empat bulan ini hubungan Aditya dan Nadia seperti HTSatau hubungan tanpa status.Mereka masing-masing merasa terikat, khususnya Aditya, namun dia belum berani mengungkapkan perasaan yang dia miliki, mengingat dia sangat tahu trauma Nadia terhadap sosok lelaki, yang dianggap sebagai makhluk paling menjijikan.Di pihak Nadia, kadang dia sangat suka akan attensi Aditya, namun kadang dia langsung mundur dan menarik diri bila ingat kegagalan rumah tangganya.≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈Achmad terduduk lesu di depan televisi miliknya. Televisi super besar untuk rumah super kecil type 21 yang sekarang dia tinggali.Dia melihat Ikhsan dan Galih, duduk sebagai tamu kehormatan. Dia melihat Nadia, kini dipuja satu negara.Di sampingnya,Rahma gemetar hebat. Perempuan itu mendekap anaknya
"Kamu jangan tegang begitu! Senyum dong!"Saat Aditya mencoba rileks dan menunduk untuk mencium pipi Angga, bayi kecil itu tiba-tiba merespons dengan senyum lebar yang sangat menggemaskan."Wah, pas banget! Kamu cium pipi Angga, dia langsung senyum lebar. Bagus banget fotonya!" seru Nadia kegirangan melihat hasil jepretan di layar ponselnya.Nadia seolah tak mau kehilangan momen itu. "Aku ikut ya, kita foto bertiga!"Tanpa henti, Nadia terus mengatur posisi Aditya, menuntun pria itu agar masuk ke dalam frame yang pas. Dengan penuh semangat, dia mengambil swafoto tanpa tongsis.Karena posisi yang sangat dekat, wajah mereka hampir berhimpitan dalam satu bingkai. Nadia terus berpose berkali-kali, mengabadikan kebersamaan mereka bertiga bersama Angga yang tampak sangat nyaman dalam dekapan Aditya."Coba aku lihat," pinta Aditya. Dia melangkah lebih dekat ke arah Nadia, mencondongkan badannya untuk mengintip layar ponsel yang dipegang
Aditya dan Nadia bersama-sama memeriksa barang yang baru saja tiba di halaman rumah. Mereka meneliti satu per satu, baik dari segi kuantitas maupun kualitas bahannya. Dan ternyata semua pas, tidak ada yang meleset sedikit pun dari lembar pesanan atau order form yang sebelumnya telah ditandatangani oleh Aditya."Besok mulai pasang?" tanya Nadia, menoleh ke arah Aditya yang masih memegang catatan barang."Besok pegawaiku akan koordinasi denganmu soal penataan ruang main, baru setelah itu karet lantainya dipasang. Lapisan untuk furniture di sana juga akan dipasang, agar anak-anak tak celaka atau terluka bila sampai terbentur lemari di ruang main nanti," jelas Aditya panjang lebar, memastikan aspek keamanan untuk si kembar benar-benar terjaga.Nadia mengangguk paham. Di ruang bermain itu memang sengaja ditaruh sebuah lemari pakaian darurat yang berisi beberapa helai pakaian ganti. Tujuannya agar baby sitter tidak perlu jauh-jauh berjalan ke kamar tidur utama hanya u
Malam itu juga, tanpa menunda-nunda waktu, Achmad langsung memboyong dan mengantar Soraya kembali ke rumah ibu mertuanya. Di sana, di hadapan sang ibu mertua yang terkulai sakit serta disaksikan oleh perwakilan keluarga yang berkumpul, Achmad menjatuhkan kalimat yang tidak bisa ditarik kembali."Malam ini, Soraya saya talak tiga!" ucap Achmad lantang, memutus hubungan pernikahan mereka secara total dan mutlak.Sebelum melangkah pergi meninggalkan rumah yang mendadak riuh dengan kepanikan itu, Achmad berbalik dan memberikan penegasan terakhir dengan suara dingin, "Dan perlu kalian ketahui, tidak akan ada harta gono-gini sepeser pun yang bisa dibawa oleh Soraya. Sebab, seluruh aset yang tersisa bahkan masih sangat kurang untuk menutupi semua kerugian dan kehancuran yang sudah Soraya lakukan selama ini!”≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈"Kalau rumah ini dijual, kita tak punya apa-apa lagi," ucap Achmad dengan suara berat yang terdengar sangat lelah."Tapi kita harus tetap punya rumah, sebab Papa enggak
Malam, saat kembali ke kamar kost, Nayaka melihat ada tamu, dan ada pemilik rumah kost.“Saya bisa kerjakan Pak,” tak sengaja Nayaka mendengar pemilik kost butuh tenaga untuk mengecat rumah kost. Dan dia langsung menyambar pekerjaan itu.“Beneran nak Yaka?&rd
Tiga hari kemudian, saat Aditya bisa mendatangi rumah Nadia, dunia Aditya seolah runtuh dalam satu kedipan mata saat dia menatap tiga lembar foto yang disodorkan Bu Romlah ke hadapannya.Jantungnya berdegup kencang, menolak memercayai apa yang sedang ditangkap oleh retinanya sendiri.
Aditya bangkit, berjalan dengan gelisah mengitari ruangan. Dia merasa bodoh karena membiarkan dirinya diculik oleh bayang-bayang seorang wanita yang mungkin saat ini sedang terlelap tenang tanpa memikirkannya sama sekali. Namun, detak jantungnya tidak bisa berbohong. Setiap jengkal pikirannya telah
Nadia masuk mobil Nayaka, mobil baru setelah mereka bercerai, sebab awalnya mobil Nayaka adalah mobil sport, tentu untuk digunakan sebagai alat mata pencaharian tak akan pas.Belum sempat Nayaka membuka mulut untuk mengeluarkan kata pertama, atmosfer di antara mereka sudah terasa beg







