LOGIN"Bantalan bagaimana?" Ikhsan memotong pembicaraan soal panggilan, dia masih penasaran, menghentikan suapannya sejenak demi mendengarkan penjelasan lebih lanjut.
"Dindingnya, setinggi satu meter, dialas bantalan, agar saat mereka terbentur akan aman," jawab Nadia menerangkan konsep yang tadi mereka diskusikan.
Aditya mengangguk lalu ikut menambahkan, "Lalu alas ruang, saya minta diberi bantalan karet. Walau ada tumpahan air, tak akan bikin anak-anak kepleset.”
"Dalam perasaan, Nayaka kan mengaku tak membagi cinta. Hanya attensi berlebihan dia yang super gobloq saja membuat dia selingkuh waktu dan atensi!" lanjut Hanum, meluapkan seluruh kekesalan yang selama ini tertahan di dadanya.Nadia yang duduk di bangku belakang hanya bisa terdiam, mendengarkan kegeraman ibunya yang begitu meledak-ledak. Di dalam benaknya, Nadia sangat memaklumi mengapa sang ibu bisa seberangas itu jika nama sang mantan suami disebut.'Ibu mana yang tidak hancur melihat anak perempuannya disia-siakan?’‘Kegeraman bunda adalah sisa rasa sakitnya saat melihatku terpuruk dulu.’‘Bagi bunda, kesalahan Nayaka bukan cuma sekadar khilaf, tapi sebuah kegoblokan nyata yang menghancurkan kebahagiaan rumah tanggaku,'batin Nadia lirih."Aaaah, tetap saja dia selingkuh, apa pun namanya," balas Galih ikut menyahut, menyetujui ucapan istrinya dengan nada suara yang tak kalah berat dan dingin. Tangan
"Papapppppp!" teriak Angga tiba-tiba dengan suara nyaring, seolah tidak mau kalah sedetik pun dari kakak perempuan kembarjnya. Bocah lelaki itu ikut bergerak heboh, menuntut perhatian yang sama dari pria itu."Nah, mulai deh, drama deh," ucap Nadia sambil menggeleng-gelengkan kepala. Dia sudah bisa menebak kelakuan si kembar yang pasti akan selalu rebutan jika sudah melihat sosok Aditya di dekat mereka.Melihat pemandangan di depan mata mereka, seluruh anggota keluarga besar yang duduk di area lesehan itu seketika terdiam.Semua orang tidak memerlukan jawaban atau penjelasan panjang lebar lagi dari mulut Nadia mengenai status hubungan mereka. Kedekatan Aditya dengan si kembar, terlebih panggilan "Papap" yang begitu spesial, sudah berbicara jauh lebih banyak daripada ribuan kata penjelasan .Logika sederhana semua orang di meja itu langsung berjalan. Kalau memang di antara mereka tidak ada hubungan yang spesial, tentu Aditya akan me
Di dalam mobil yang sejuk, suasana canggung yang sempat membayang langsung mencair begitu deru mesin mulai terdengar konstan. Ima duduk di kursi penumpang, sesekali melirik profil samping Nadia yang fokus pada kemudi."Nad," panggil Tante Ima membuka obrolan, nadanya terdengar renyah, jauh dari kesan menghakimi. "Tante itu sebenarnya dari tadi penasaran. Kamu ini kan dosen teladan nasional, pintar, sibuknya luar biasa, apalagi sekarang megang bayi kembar dua sekaligus. Rahasianya apa sih kok muka kamu tetap segar begini? Tante yang cuma nungguin rumah saja kadang merasa jompo kalau kurang tidur."Nadia tertawa kecil, melirik sekilas ke arah Tante Ima. "Aduh, Tante bisa saja. Rahasianya cuma satu, pura-pura bahagia kalau malam-malam begadang!" kelakar Nadia, yang langsung disambut tawa renyah dari calon ibu mertuanya itu. "Enggak kok, Tante. Kuncinya memang harus dinikmāti saja, lagipula di rumah banyak yang bantu sayang sama Angga dan Anya."Ima tersenyum hangat, menyandarka
Empat bulan ini hubungan Aditya dan Nadia seperti HTSatau hubungan tanpa status.Mereka masing-masing merasa terikat, khususnya Aditya, namun dia belum berani mengungkapkan perasaan yang dia miliki, mengingat dia sangat tahu trauma Nadia terhadap sosok lelaki, yang dianggap sebagai makhluk paling menjijikan.Di pihak Nadia, kadang dia sangat suka akan attensi Aditya, namun kadang dia langsung mundur dan menarik diri bila ingat kegagalan rumah tangganya.≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈Achmad terduduk lesu di depan televisi miliknya. Televisi super besar untuk rumah super kecil type 21 yang sekarang dia tinggali.Dia melihat Ikhsan dan Galih, duduk sebagai tamu kehormatan. Dia melihat Nadia, kini dipuja satu negara.Di sampingnya,Rahma gemetar hebat. Perempuan itu mendekap anaknya
"Kamu jangan tegang begitu! Senyum dong!"Saat Aditya mencoba rileks dan menunduk untuk mencium pipi Angga, bayi kecil itu tiba-tiba merespons dengan senyum lebar yang sangat menggemaskan."Wah, pas banget! Kamu cium pipi Angga, dia langsung senyum lebar. Bagus banget fotonya!" seru Nadia kegirangan melihat hasil jepretan di layar ponselnya.Nadia seolah tak mau kehilangan momen itu. "Aku ikut ya, kita foto bertiga!"Tanpa henti, Nadia terus mengatur posisi Aditya, menuntun pria itu agar masuk ke dalam frame yang pas. Dengan penuh semangat, dia mengambil swafoto tanpa tongsis.Karena posisi yang sangat dekat, wajah mereka hampir berhimpitan dalam satu bingkai. Nadia terus berpose berkali-kali, mengabadikan kebersamaan mereka bertiga bersama Angga yang tampak sangat nyaman dalam dekapan Aditya."Coba aku lihat," pinta Aditya. Dia melangkah lebih dekat ke arah Nadia, mencondongkan badannya untuk mengintip layar ponsel yang dipegang
Aditya dan Nadia bersama-sama memeriksa barang yang baru saja tiba di halaman rumah. Mereka meneliti satu per satu, baik dari segi kuantitas maupun kualitas bahannya. Dan ternyata semua pas, tidak ada yang meleset sedikit pun dari lembar pesanan atau order form yang sebelumnya telah ditandatangani oleh Aditya."Besok mulai pasang?" tanya Nadia, menoleh ke arah Aditya yang masih memegang catatan barang."Besok pegawaiku akan koordinasi denganmu soal penataan ruang main, baru setelah itu karet lantainya dipasang. Lapisan untuk furniture di sana juga akan dipasang, agar anak-anak tak celaka atau terluka bila sampai terbentur lemari di ruang main nanti," jelas Aditya panjang lebar, memastikan aspek keamanan untuk si kembar benar-benar terjaga.Nadia mengangguk paham. Di ruang bermain itu memang sengaja ditaruh sebuah lemari pakaian darurat yang berisi beberapa helai pakaian ganti. Tujuannya agar baby sitter tidak perlu jauh-jauh berjalan ke kamar tidur utama hanya u
Enci pemilik laundry itu mengetuk-ngetuk jarinya ke atas meja kaca, menatap Rahma yang masih berdiri menunggu keputusan dengan cemas. Setelah menimbang posisi kosong di kiosnya, sang pemilik akhirnya memberikan keputusannya."Kamu saya terima," ucap Enci, langsung merinci job desk yang aka
Malam, saat kembali ke kamar kost, Nayaka melihat ada tamu, dan ada pemilik rumah kost.“Saya bisa kerjakan Pak,” tak sengaja Nayaka mendengar pemilik kost butuh tenaga untuk mengecat rumah kost. Dan dia langsung menyambar pekerjaan itu.“Beneran nak Yaka?&rd
Tiga hari kemudian, saat Aditya bisa mendatangi rumah Nadia, dunia Aditya seolah runtuh dalam satu kedipan mata saat dia menatap tiga lembar foto yang disodorkan Bu Romlah ke hadapannya.Jantungnya berdegup kencang, menolak memercayai apa yang sedang ditangkap oleh retinanya sendiri.
Aditya bangkit, berjalan dengan gelisah mengitari ruangan. Dia merasa bodoh karena membiarkan dirinya diculik oleh bayang-bayang seorang wanita yang mungkin saat ini sedang terlelap tenang tanpa memikirkannya sama sekali. Namun, detak jantungnya tidak bisa berbohong. Setiap jengkal pikirannya telah







