LOGINBik Romlah beringsut dari posisinya. Beliau bersiap mengambilkan 'juice' dan otak-otak bakar 'homemade' dari ikan asli yang sudah disiapkan, agar bisa menunjang gizi anak-anak melalui ASI Nadia.
"Kenapa Mas, kok enggak telepon?" tanya Nadia. Dia sama sekali tidak merasa malu menyusui di depan Aditya sebab tertutup rapat oleh 'apron' dan tidak terlihat sama sekali.
"Aku langsung kabari Ibu masalah permintaan Ayah Ikhsan. Dan Ibu langsung telepon Ayah B
Di kediaman Galih dan Hanum ini, sama sekali tidak ada aktivitas atau kegiatan yang heboh layaknya rumah yang akan menggelar pesta besar. Suasana rumah terasa tenang dan lengang dari riuh kepanikan, sebab seluruh rangkaian acara resepsi sepenuhnya akan dilangsungkan di hotel, mulai dari dekorasi, katering, hingga urusan tata rias.Kesibukan yang ada di dalam rumah sore itu murni hanya seputar persiapan menyambut kedatangan keluarga besar yang berjanji akan berkumpul nanti malam. Bau harum cairan pembersih lantai beraroma lavender menguar lembut ke seluruh penjuru ruangan, bercampur dengan embusan angin sore yang sejuk dari jendela-jendela besar yang sengaja dibuka lebar. Di dapur, hanya ada bunyi denting pelan dari cangkir-cangkir teh yang sedang dicuci dan ditata rapi di atas nampan kayu oleh asisten rumah tangga, disiapkan untuk menyambut obrolan hangat keluarga nanti malam.Tidak ada tenda yang terpasang di halaman, tidak ada tumpukan piring sewaan, pun tidak ada hilir mudik teta
"Dia sengaja mengundangku?! Dari mana dia dapat alamatku ini?!" pekik Rahma histeris. Tangannya gemetar hebat saat memegang selembar undangan fisik yang baru saja diantarkan ke rumahnya.Itu adalah undangan resepsi pernikahan Aditya dan Nadia yang akan diselenggarakan sepuluh hari lagi di sebuah hotel bintang lima paling bergengsi. Dari model undangannya saja sudah terlihat jelas bahwa itu adalah pernikahan super mewah. Desainnya begitu elegan, menggunakan material premium yang tebal dengan sentuhan tinta emas timbul, satu lembar biaya cetak undangan itu saja pastilah sangat mahal, mungkin setara dengan jatah belanja makannya berhari-hari.Pikiran Rahma langsung berputar liar penuh ketakutan. ‘Jadi, bukan hanya nomor ponselku saja yang selalu bocor entah ke siapa sampai aku terus-menerus diteror pesan sindiran, bahkan Nadia juga tahu keberadaan rumah kumuhku ini?’Rahma terduduk lemas di lantai, seluruh badannya gemetaran. Sungguh, dia sama
Aditya meletakkan cangkir kopinya ke atas meja dengan ketukan yang pelan namun tegas. Dia membetulkan posisi duduknya, lalu menatap ayah, ibu dan keempat eyangnya satu per satu dengan sorot mata yang luar biasa tajam dan berwibawa."Ibu dan ayah, juga Eyang semua, saya minta dengan sangat, ini adalah pertama dan terakhir kalinya pertanyaan seperti itu terdengar di keluarga kita," ucap Aditya, memotong jalur pembicaraan dengan intonasi yang begitu dingin dan serius.Byan, ayahnya, sempat terkejut melihat reaksi putranya. "Maksudmu bagaimana, Dit? Ibu kan cuma tanya wajar,""Tidak ada yang wajar jika itu berpotensi membedakan anak-anak saya, Yah," potong Aditya cepat tanpa berniat tidak sopan, namun dia harus mengunci komitmen ini sejak dini."Bagi saya, Anya dan Angga adalah anak kandung saya. Sejak saya menjatuhkan pilihan pada Nadia, detik itu juga saya sudah mengambil tanggung jawab penuh atas kedua anak itu di hadapan Allah. Mereka darah daging s
"Tapi, penyesalan memang selalu datang di akhir. Kalau datang di awal, pendaftaran namanya," Nayaka terus mendesis sendiri, menertawakan pepatah kuno yang kini terasa begitu nyata dan kejam menghancurkan hidupnya.Pria itu benar-benar tidak habis pikir, bagaimana bisa dirinya yang berpendidikan tinggi lulusan S2 London bisa terperosok sangat dalam ke dalam lubang kehancuran.Logikanya dulu benar-benar buta, sampai-sampai ia dengan tega mengabaikan perasaan Nadia, perempuan yang sekarang baru dia sadari sangat dia cintai, namun tak akan pernah bisa dia miliki lagi selamanya.Semua celah sudah tertutup rapat. Ikhsan, papanya sendiri, yang waktu itu turun tangan mengatur proses perceraiannya dengan Nadia hingga jatuh talak tiga. Secara hukum agama, selama Nadia belum menikah lagi dengan pria lain lalu bercerai secara sah tanpa rekayasa, maka Nayaka dan Nadia tidak akan pernah bisa rujuk atau menikah kembali.‘Tunggu, belum menikah lagi lalu b
‘Bagaimana kabar pelacvrdan anakmu? Bahagiakah kamu dengan kehidupanmu bersama keluargamu? Eh, anakmu dengan Rahma bagaimana? Apa kamu bisa bahagia seperti Nadia yang telah menikah lagi dengan seorang pemuda bujangan, yang tiga tahun berturut-turut menjadi arsitek teladan nasional dan arsitek terbaik Asean. Apa peran pendidikan S2-mu di London terhadap pola pikirmu?’Nayaka hanya bisa pasrah membaca rentetan pesan tajam yang masuk ke nomor ponselnya. Tidak ada niat, pun tidak ada sisa energi untuk membalas atau sekadar memblokir nomor-nomor yang kerap mengirimkan sindiran serupa.Di titik ini, Nayaka sungguh tidak memiliki harapan lagi untuk bangkit. Semangat hidupnya telah padam. Kadang, sempat terlintas di benaknya untuk bergerak mencari uang yang banyak. Dia tahu betul, jika ada kemauan dan kerja keras, penghasilan dari menarik taksi onlinesebenarnya sangat besar dan menjanjikan.Namun, setiap
"Sudah yuk, katanya capek," ajak Aditya lembut, menghentikan laju trolly belanjanya tepat di depan deretan produk perawatan bayi. Dia menatap istrinya dengan senyum simpul yang sarat akan arti, merujuk pada keluhan lirih yang sempat didengarnya sejak mereka turun dari mobil tadi.Nadia mendongak, wajahnya seketika merona merah mendengar sindiran halus suaminya. "Iya, ini juga sudah selesai kok," balas Nadia cepat, berusaha menetralisir kegugupan yang mendadak menyerang.Sembari meraih dua botol baby colognedengan varian wangi yang berbeda untuk Angga dan Anya, Nadia melangkah mendekati trolly. Saat meletakkan botol-botol itu ke dalam, dia mencondongkan tubuhnya ke arah Aditya."Ya gimana enggak capek, kalau Mas enggak mau berhenti," bisik Nadia sangat lirih, hampir seperti desisan di antara deretan rak supermarket, melemparkan protes kecil atas 'maraton' tak terduga yang mereka lalui beberapa jam lalu.Mendengar tuduhan manja itu, Adi
“Tidaaaaaak!!!” Yaka menutup mulutnya dengan bantal dan dia berteriak sepuas-puasnya di kamar kost.Yaka menyadari kebodohan dirinya selama 5 bulan jadi budaknya Soraya dan Rahma!Yaka sadar, semua yang kenal Rahma tentu akan mencibir kebodohan dirinya yang menyerahkan keutuhan rumah tangganya demi
“Apaaaaaa?” “Apakah itu benar?” Yaka kaget saat mendengar info, minggu lalu Nadia baru saja melaksanakan aqiqah, dan kedua orangtuanya hadir. Secara berkala memang Yaka terus mencari info keberadaan Nadia di rumah orang tuanya mau pun di rumah mertuanya. Alasan Yaka terus mencari di rumah orang t
“Hari ini sudah bulan ke empat kamu menghilang Yank,” bisik Yaka lirih. Tubuhnya makin kurus, badan tak terawat, walau pakaian masih tetap rapi, sebab dia laundry. “Ampas kopi yang menumpuk rindu itu sama dengan semut pekerja.” “Sebab, dinding yang kokoh bisa roboh karena lubang semut dibawah pon
“Ada apa?” tanya Fitriyani Bramantyo atau Fitri, mama Yaka kepada Hanum Suryawijaya bunda Nadia, besannya. Tumben siang, jam kantor besannya menghubungi. Dia tahu besannya sebagai suster punya jam kantor, beda dengan dirinya yang tak punya jam kantor, sebab dia hanya mengelola rumah kost.“Aku tak







