Home / Mafia / Velvet Bloodline / Part 06 : Manja

Share

Part 06 : Manja

Author: Cloudberry
last update publish date: 2025-11-10 13:35:41

Callum mengulum bibirnya tersenyum tipis. Melihat kelopak-kelopak mawar mekar diwajah adik angkatnya. Hatinya ikut tersentuh saat melihat senyuman halus merekah diwajah Kesia.

Gadis itu melompat kedalam helikopter, duduk dikursi penumpang dengan patuh. Mengaman kan kedua kopernya yang masing-masing berisi 75 juta dollar AS.

Callum ikut menyusul, duduk dikursi pilot. Menyalakan mesin, menggunakan headsetnya lalu mulai mengemudikan helikopternya menuju bandara Aeroporto Internacional de Macau.

"Punyamu" melempar satu koper pada Callum, saat mereka tiba di Aeroporto Internacional de Macau.

"Thank" Callum menangkap kopernya. "Simpan ini" memberikan kunci helikopternya kepada salah satu petugas bandara. Bergegas menuju pesawat pribadi ayahnya.

Di ikuti oleh Kesia yang berusaha menjejakkan kakinya di tempat yang sama dengan dirinya. Sepertinya gadis kecil berusia 28 tahun itu berusaha meniru gerakkannya.

Bukkkk.......

Callum berhenti menghentikan langkahnya. Membuat Kesia dibelakangnya yang tidak memperhatikan jalan, menabrak punggungnya.

"Dasar gadis kecil" tutur Callum, membalikkan badannya menatap lembut Kesia yang tampak kesal.

"Kakakkk....." sungut Kesia mengusap lembut jidatnya.

Tekk.....

Callum menyentil jidat Kesia pelan. Tersenyum tipis menanti kemarahan sang adik.

"KAKAKK..." Bentak Kesia, menatap tajam sang kakak, menghentakkan kakinya ke aspal yang keras.

"KESIA" meniru suara dan nada bicara Kesia.

Kesia mendengus kesal, melangkah ke depan menuju pesawat tipe Bombardier Global 7500. Menatap lurus ke depan berniat naik ke pesawat lebih dulu.Sebelum ponsel pintarnya berdering.

"Davis...." gumam Kesia mengangkat ponselnya.

"Dasar setan sialan" cebiknya merasa malas melihat nama Davis tertera dilayar ponselnya.

Pria berusia 35 tahun itu sangat sangat menganggu. Sudah berapa kali ia menolak pernyataan cintanya. Ataupun ajakkan menikahnya.

Tapi Davis tetap saja mengejar dirinya seperti Kesia mengejar kekayaan dan kekuasaan. Andai bukan karena pengaruh yang dimilikinya, Kesia pasti sudah memblokir nomornya dari dulu.

"Hai, Tuan Davis. Bagaimana kabarmu?" Tanya Kesia pelan, suaranya lembut terdengar sejuk menenangkan hati. Berbeda jauh dari saat ia berada di atas arena petarung tadi.

"Tentu, aku baik-baik saja. Bagaimana dengan dirimu cantik?" jawab Davis diseberang sana sumringah mendengar, suara merdu pujaan hatinya.

"Aku baik" menahan kejengkelan dihatinya.

"Apa kamu sudah pulih?" ujar Davis berbasa- basi.

"Tentu saja sudah" nada lembut yang dipaksakan.

"Dasar pria badjingan" omel Kesia dalam hatinya menahan kesal mendengar basa-basi Davis, yang sudah kelewat basi.

"Apa kamu sibuk minggu depan? Jika tidak bagaimana kalau kita pergi Paris bersama?" tawar Davis beusaha mendekati Kesia dengan cara yang lain.

Kesia membeliak terperanjat kaget mendengar perkataan Davis. Ingin rasanya ia menolak serta menonjoknya bersamaan.

"Bagaimana apa kamu punya waktu cantik?" tanya Davis meminta kepastian.

"WAKTU.....WAKTU...GUNDULMU ITU! TIDAK ADA KENCAN KENCAN BUTA! ENAK SAJA INGIN MENDEKATI ADIKKU! JIKA BERANI AKU TUNGGU DI MANSION KREMLIN!!" Bentak Callum, menarik ponsel adiknya. Memarahi pria diseberang sana yang tak lain adalah Davis Gerald, salah satu menteri tinggi di AS.

"Ehh...Tuan muda keempat Vladimir, tenangkan dirimu, ok," katanya getir, menelan salivanya kasar, mendapati kemarahan Callum yang begitu tiba-tiba. Selain itu ia juga tidak menduga bahwa Kesia masih tinggal di istana Kremlin dalam waktu yang lama.

"Tuan muda" Kesia mendongak menatap Callum yang lebih tinggi 30 cm darinya merebut ponselnya.

"Shutttt biarkan aku menyelesaikan pria brengsek ini," meletakkan jari telunjukknya di bibir sang adik.

Kesia diam membisu. Tak mampu berkata-kata lagi. Cuma bisa mengayunkan kakinya naik kedalam pesawat. Merebahkan tubuhnya di atas kasur yang empuk dan lembut. Yah, itu lebih baik dari pada ia harus menyelesaikannya sendiri.

"Ayolah, Cal. Kita juga sudah lama berteman, kita sudah mengenal satu sama lain sejak lama," tukas Davis sedikit gugup, mencoba merayu teman semasa smanya itu.

"Karena kita saling mengenal makanya aku tidak mengizinkannya kencan dengan dirimu," sarkasnya dalam bingkaian bahasa dan tutur kata yang lembut.

"Tuan muda keempat, Vladimir. Tolonglah percaya padaku, aku akan menjaga nona muda dengan sangat baik. Aku jamin dia akan hidup nyaman dipelukkan, menteri ini," menepuk dada nya bangga penuh keberanian.

"Tuan Davis Gerald. Jika anda benar-benar punya keberanian. Datanglah ke istana Kremlin. Tuan besar sedang menanti kedatangan seorang pria sejati. Ini baru bisa disebut sebagai tanggung jawab yang sebenarnya. Meski menikahkan putri angkat keluarga Vladimir memiliki adat yang tidak bisa dilanggar, tradisi leluhur harus tetap dijaga. " sergahnya pelan dan datar, melangkah masuk ke salah kekamar mewah dikabin mewah pesawat pribadi ayahnya.

"Sampai jumpa lain waktu, Tuan. Saya ada urusan penting," Davis mengakhiri sambungan teleponnya sepihak. Menyudahi percakapan canggung penuh intimidasi tersebut.

Callum menyugingkan senyumannya puas. Satu pesaingnya untuk memiliki adik angkat nya Kesia, berkurang. Tangannya menarik selimut putih diatas ranjang pelan. Perlahan menyelimuti tubuh mungil milik Kesia.

Wajahnya tenang seperti air. Meringkuk kecil layaknya bayi kecil yang merindukan pelukkan sang ibu. Callum menatapnya lamat-lamat menikmati keindahan makhluk ciptaan tuhan tersebut.

Sejak pertama kali melihat keindahan makhluk tuhan dihadapannya itu. Callum telah menyerah kan darahnya pada gadis asing itu, mencintai nya lebih dari luka yang mencintai bekasnya sendiri.

Mencintainya seperti debu yang menempel pada cahaya meski tak tersentuh. Mencintainya bagai nadi yang merindukan belati yang pernah menghunus jantungnya. Mencintainya sampai bahkan cinta itu kehilangan namanya.

Callum melepas sepatu pantoefelnya. Melangkah ke kamar mandi mencuci tangan wajah dan kakinya. Mengganti pakaiannya dengan pakaian tidur lalu berjalan menuju ranjang tidur, dimana adiknya sedang terlelap dalam pulau impiannya.

Membaringkan tubuhnya tepat disebelah raga sang adik. Merengkuh tubuh mungil itu ke dalam pelukkannya. Mendekap pelan gadis kecil kesayangannya. Menepuk lembut pantat mungilnya sembari mengelus keningnya penuh perhatian.

Memberikan cintanya dengan cara yang berbeda. Cara yang tidak pernah terpikirkan oleh orang lain.

Dalam tidurnya Kesia merasakan pelukkan hangat itu. Pelukkan milik sang kakak Callum. Pelan mulai mendesalkan wajahnya ke dada bidang Callum. Menikmati setiap sentuhan dan belaian sang kakak.

Sedari kecil Kesia selalu ingin memiliki seorang kakak atau adik. Supaya ada yang memeluknya saat tidur. Namun, sayang takdir berkata lain ia tidak memiliki kesempatan menjadi seorang adik atau kakak.

Setelah melahirkan Kesia secara prematur. Ibu Salma harus menerima kenyataan pahit dalam hidupnya. Rahimnya rusak karena benturan yang terlalu keras.

Menyebabkan rahimnya harus diangkat setelah bayi kecilnya berhasil diselamatkan, melalui operasi caesar.

Kesia memeluk lengan kakak angkatnya Callum lembut ketika mereka tiba di moskow, di halaman belakang istana Kremlin seluas 10.000 m², landasan pacu lepas landas pesawat pribadi milik Vladimir Lachlan.

"Kenapa kamu tiba-tiba jadi manja seperti ini?" menyentil kening Kesia. Tidak biasanya gadis kecil itu manja seperti ini. Biasanya ia tegas dan galak.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Velvet Bloodline   Part 110 : Iblis Bersayap

    Kesia terdiam sejenak di balkon apartemennya saat mendengar suara Theo yang terbata-bata menyampaikan pesan penuh ancaman dari Thom. Alih-alih merasa takut atau tegang, Kesia justru memejamkan matanya, menghela napas panjang, dan sebuah senyum tipis yang tak tertahankan muncul di sudut bibirnya. ​"Resep sup borsch dan katalog furnitur bekas?" Kesia mengulangi kata-kata Theo dengan nada datar yang menyimpan tawa tersembunyi. ​"Iya, Kesia! Thom sangat marah. Dia merasa harga dirinya diinjak-injak karena masa lalunya di panti asuhan diungkit melalui sampah itu. Dia pikir Eavi sedang mengejeknya!" seru Theo di seberang telepon. ​Kesia menyandarkan punggungnya ke pintu kaca. "Theo, katakan pada Thom untuk mendinginkan kepalanya. Eavi Li memang ular yang licik, tapi dia tidak sebodoh itu. Dia terlalu elegan untuk melakukan lelucon sekasar itu. Hanya ada dua makhluk di seluruh Kremlin yang punya selera humor seburuk itu dan cukup berani untuk menyentuh dokumen diplomatik." ​"Maksudmu

  • Velvet Bloodline   Part 109 : Soup

    Luna, si kakatua hitam yang jauh lebih tenang namun memiliki kecerdasan yang jauh lebih sistematis daripada suaminya yang berisik, sudah lama mengamati tingkah Bara dari kejauhan. Dengan jambul yang melengkung anggun, ia hinggap di dahan yang sama, menatap Bara yang sedang asyik tertawa jahat sendiri. ​"Ngik!" Luna mengeluarkan suara pendek, sebuah teguran halus yang membuat Bara nyaris terjungkal dari dahan karena kaget. ​"Luna! Kau mengejutkanku! Kau ingin mencuri tiket emas biji labuku, ya?" pekik Bara sambil menyembunyikan map itu di balik sayapnya. ​Luna tidak menjawab dengan kata-kata—ia bukan burung yang suka banyak bicara. Namun, matanya yang hitam legam menatap map yang robek itu dengan pandangan menghakimi. Jika dokumen itu hilang begitu saja, Eavi akan segera sadar ada pengkhianat di dalam mansion dan akan memperketat penjagaan. Rencana Bara terlalu kasar, terlalu "Bara". ​Dengan gerakan yang sangat halus, Luna terbang kembali ke arah balkon ruang kerja Eavi. Tak lama k

  • Velvet Bloodline   Part 108 : Terhasut

    Emilia melemparkan sebuah vas porselen mahal ke arah dinding marmer kamarnya. Suara pecahannya berdenting nyaring, namun itu tidak cukup untuk meredam amarah yang membakar dadanya. ​"Dia selalu mendapatkan apa yang diinginkannya!" teriak Emilia pada bayangannya di cermin. "Lachlan, kasih sayang para pengawal, bahkan burung-burung sialan milik Lachlan itu lebih suka menyebut namanya daripada namaku!" ​Eavi Li masuk ke kamar putrinya dengan langkah tenang, seolah suara pecahan porselen itu hanyalah musik latar yang biasa. Ia melihat Emilia yang napasnya tersengal-sengal. ​"Berhentilah bersikap seperti anak kecil, Emilia," ujar Eavi dingin. "Kemarahanmu hanya menunjukkan betapa lemahnya kau di depan Kesia." ​"Lemah?" Emilia menoleh dengan mata merah. "Mama, dia sekarang di Nusantara, mendekati keluarga Soertja! Dia mendekati Thomas Percy! Jika dia tahu bahwa Thomas adalah anak kandung Malacy yang dulu selamat dari kebakaran itu, dan jika dia berhasil mengambil hati Opa Mingzhe... pos

  • Velvet Bloodline   Part 107 : Perampok Bersayap

    Lachlan terdiam sejenak. Matanya melirik ke arah laci meja yang dimaksud Bara. Itu adalah benih biji labu yang sebenarnya ingin ditanam Lachlan di kebun rahasianya—sebuah hobi kecil yang ia lakukan untuk menenangkan sarafnya yang tegang. Namun, setiap kali ia mencoba menanamnya, hasilnya selalu nihil. ​"Kau tidak boleh mengambilnya, Bara," keluh Lachlan, suaranya terdengar sangat lelah, hampir seperti rengekan seorang pria yang kehilangan otoritas di rumahnya sendiri. "Aku sudah mencoba menanam benih itu tiga kali bulan ini. Tapi apa hasilnya? Gagal total! Semuanya hilang sebelum sempat tumbuh." ​Kesia, yang mendengar percakapan itu lewat telepon, tidak tahan untuk tidak menyela. "Tunggu, Lachlan. Kau mencoba berkebun lagi? Bukankah terakhir kali tanaman tomatmu juga ludes?" ​"Ini lebih parah, Kesia," keluh Lachlan pada putrinya. "Setiap kali aku menaruh biji itu di tanah, atau bahkan baru saja membukanya di teras, Kaka atau Kiki pasti muncul dari langit. Mereka itu kakatua Maca

  • Velvet Bloodline   Part 106

    Kesia menyandarkan kepalanya di sofa beludru apartemennya di Plaza Imperium Puri. Dari ketinggian ini, kerlap-kerlip lampu Jakarta Barat terlihat seperti permata yang berserakan, kontras dengan kegelapan Waduk Jatiluhur yang baru saja ia tinggalkan. Di tangannya, sebuah gelas berisi teh hangat mengepulkan uap tipis. ​Ponselnya yang tergeletak di meja kopi bergetar. Sebuah nama muncul di layar, membuat detak jantung Kesia sedikit melambat: Lachlan Vladimir. ​Kesia menggeser layar dan menempelkan ponsel itu ke telinganya. ​"Kesia..." Suara berat dan serak itu terdengar di seberang sana. Ada nada kerinduan yang sangat dalam, tipe suara yang hanya dikeluarkan sang Iblis Rusia ketika ia berbicara dengan "putrinya". "Bagaimana keadaanmu di Nusantara? Aku baru saja melihat laporan cuaca di sana... sangat panas. Apa kau baik-baik saja?" ​"Aku baik, Otets (Ayah)," jawab Kesia lembut, matanya menatap pantulan dirinya di kaca jendela. "Jangan khawatir. Nusantara adalah rumahku, aku tahu

  • Velvet Bloodline   Part 105

    Kesia melangkah masuk ke dalam koridor, langkah kakinya nyaris tak bersuara di atas lantai marmer. Ia menangkap sisa-sisa percakapan telepon Theo yang baru saja terputus. Dengan gerakan santai, ia bersandar di pilar besar, melipat tangannya di dada, dan menatap Theo dengan tatapan yang sangat meremehkan. ​"Sudah selesai sesi pengaduannya, Theo?" suara Kesia memecah keheningan, membuat Theo tersentak dan nyaris menjatuhkan ponselnya. ​Kesia melangkah mendekat, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum sinis yang menusuk. "Kau menyebutku monster di depan Thom? Menarik. Sepertinya ingatanmu sangat pendek jika menyangkut dosamu sendiri." ​Theo mencoba membalas tatapannya, namun matanya bergetar. "Itu... itu berbeda. Aku melakukannya karena terpaksa!" ​"Terpaksa?" Kesia terkekeh dingin. "Baru sebulan yang lalu, Theo. Di Blenheim Palace. Ingat? Sebelum aku sempat tiba untuk mengamankan lokasi, kau sudah lebih dulu mengotori tanganmu. Berapa orang yang kau habisi di lorong belakang i

  • Velvet Bloodline   Part 36 : Iblis

    Lampu-lampu kristal di koridor bawah tanah Kremlin bergoyang pelan, memantulkan bayangan jeruji besi yang dingin. Di sebuah ruangan kedap suara yang berbau anyir logam dan keringat dingin, Ivan Li tampak hancur. Stewart dan Thane telah mengerahkan seluruh teknik interogasi militer mereka, namun m

  • Velvet Bloodline   Part 35 : Neraka

    Suhu masih hangat, sekitar 10-15°, langit dipenuhi cahaya kelap-kelip bintang-bintang. Ribuan lampu kristal menerangi setiap sudut Kremlin, membuat seakan malam itu adalah sebuah simfoni kemewahan yang abadi. Namun, bagi Emilia Vladimir, kemilau itu terasa seperti pedang yang siap jatuh membelah l

  • Velvet Bloodline   Part 34 : Mawar layu

    Ia sudah tahu soal Carl Rodin sejak lama, namun membiarkan burung-burungnya yang menyampaikan adalah cara paling elegan untuk menghancurkan dominasi Eavi Li tanpa harus mengotori tangannya sendiri.​"Cukup, Bara, Luna. Makan kacang kalian," perintah Kesia tenang, mengeluarkan segenggam kacang dari

  • Velvet Bloodline   Part 33 : Tukang gosip

    "Berita___baru___berita baru__" Suara cempereng mengudara di langit-langit Ballroom Kremlin. Kepakan sayap yang memekakkan kembali mengisi kedinginan Kremlin, yang sempat hening sejenak. Sepasang burung berwarna hitam terbang mengitari atap dalam Kremlin, tiga atau empat kali. Sebelum ia mendar

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status