เข้าสู่ระบบLautan Pasifik di sekitar Tanjung Fugui, Taiwan, tampak berkilau seperti hamparan berlian hitam di bawah cahaya bulan sabit. Di atas dek yacht mewah sepanjang 20 meter, dentum musik deep house merobek kesunyian malam. Bryer bersandar di kursi lounge dengan gelas kristal berisi wiski mahal di tangannya. Di sekelilingnya, beberapa model lokal Taiwan tertawa centil, mencoba menarik perhatian putra orang nomor satu di Washington itu. Pipi Bryer masih tertutup plester tipis bekas sayatan tantō milik Zayn yang masih terasa berdenyut. Namun, rasa sakit itu tertutup oleh euforia yang meluap-luap. Di layar televisi besar di kabin luar, berita utama internasional sedang menyiarkan kobaran api raksasa di Setagaya, Tokyo. "Mampus kau, jalang," bisik Bryer sembari menenggak wiskinya. Kabar itu bagaikan embun di padang pasir bagi harga dirinya yang sempat hancur. Laporan intelijen awal menyatakan tidak ada yang selamat dari kebakaran hebat di rumah tradisional tua tersebut. Dua jenazah
Kemarahan telah melampaui logika sehat Bryer. Di dalam SUV yang melaju kencang meninggalkan Setagaya, napasnya memburu, dan rasa perih di pipinya akibat goresan pedang Zayn seolah membakar seluruh harga dirinya. Baginya, Nona Berry bukan lagi sekadar jurnalis yang harus dibungkam wanita itu adalah eksistensi yang telah menginjak-injak martabat Gedung Putih. Ia meraih ponsel satelitnya, menekan frekuensi paling rahasia yang hanya dimiliki oleh garis keturunan presiden. "Dashiell," suara Bryer rendah, bergetar oleh amarah yang dingin. "Aktifkan Protokol Deep Strike. Aku baru saja mengirimkan kode akses otorisasi tingkat tinggi ke servermu." Di Moskow, Dashiell tertegun di depan deretan monitornya. Pesan enkripsi masuk, menampilkan kode peluncuran yang berasal dari pangkalan militer Amerika Serikat di Taiwan. Matanya membelalak melihat jenis hulu ledak yang diminta. "Bryer, kau sudah gila?" suara Dashiell pecah dari balik telepon. "Itu Tokyo! Itu wilayah kedaulatan Jepang, se
Di dalam koridor rumah sakit yang dingin, Nayla Wilson seolah mendapatkan suntikan tenaga baru yang menyakitkan. Kata-kata Viktor bukan lagi sekadar ejekan baginya, melainkan sebuah instruksi mutlak. Jika harga untuk kembali ke pelukan ayahnya adalah dengan menjadi "gadis patuh", maka ia akan membayar harga itu, tidak peduli seberapa hancur tubuhnya. "Lagi," bisik Nayla, suaranya parau namun penuh tekad. "Nona, Anda baru saja hampir pingsan," perawat senior mencoba memperingatkan. "Aku bilang lagi!" Nayla mencengkeram lengan Artem dengan sangat kuat, hingga kukunya memutih. "Bantu aku berdiri, Artem. Aku harus bisa berjalan sampai ke ujung koridor itu tanpa jatuh." Artem menatap mata Nayla yang kini berkilat obsesif. Ia tahu ini bukan lagi soal kesehatan, melainkan soal keputusasaan seorang anak yang haus akan validasi. Tanpa suara, Artem mempererat pegangannya pada pinggang Nayla, memberikan tumpuan paling kokoh yang ia punya. Setiap langkah Nayla adalah jeritan rasa saki
Viktor terkekeh pelan, sebuah suara yang terdengar seperti gesekan pisau. "Hanya saja, dulu kau jatuh karena memang belum tahu caranya jalan. Sekarang? Kau jatuh karena kebodohanmu sendiri bermain judi dan membuat Ayah murka. Benar-benar adik kecil yang tidak pernah belajar." Nayla gemetar hebat mendengar suara kakak angkatnya. Cengkeramannya pada baju Artem semakin kuat. Kenangan tentang "kakak" yang dulu melindunginya kini terasa seperti racun, karena pria yang sama pulalah yang menyerahkannya pada takdir yang pahit ini. Tetapi, ia tidak bisa menyalahkan kakaknya Viktor. Semua ini murni kesalahannya. Andai ia lebib mendengarkan Viktor ketimbang ibunya dan kakaknya Nathan. Mungkin nasibnya tidak akan seperti ini. Hanya karena Viktor adalah anak yang diadopsi jauh sebelum kedua orang tuanya menikah. Nayla ikut membenci dan mengabaikan setiap kalimat yang diucapkan pria dihadapannya. Artem tidak segera melepaskan dekapannya. Ia justru mengeratkan pelukannya pada Nayla, me
Cahaya matahari pagi yang pucat menembus tirai tipis di ruang VIP rumah sakit. Nayla Wilson bersandar di tumpukan bantal putih yang empuk, matanya menatap kosong ke arah peralatan medis yang mengelilinginya. Tubuhnya masih terasa kaku, dan rasa nyeri di kaki serta punggungnya masih sering datang menyerang seperti sengatan listrik. Pintu kamar terbuka pelan. Artem Donilov masuk, tidak lagi mengenakan jas formalnya yang kaku. Ia tampak lebih santai dengan kemeja cashmere berwarna gelap, namun kehadirannya tetap membawa aura otoritas yang tenang. Di tangannya, ia membawa sebuah wadah keramik hangat yang dibalut kain sutra. "Selamat pagi, Nayla," suara Artem rendah, seolah tidak ingin mengejutkan suasana sunyi di kamar itu. Nayla hanya mengangguk kecil. Ia memperhatikan Artem yang menarik kursi kayu di samping ranjangnya. Dengan gerakan yang sangat telaten, pria itu membuka wadah tersebut, mengeluarkan aroma gurih yang langsung memenuhi ruangan. "Sup ikan Sturgeon," ujar Artem
Matahari Hawaii mulai merayap turun, menyisakan warna jingga kemerahan yang membakar cakrawala. Bryer berdiri di dermaga yang kini kosong melompong. Kapal yatch yang ia incar sudah hilang dari cakrawala. Dengan rahang mengeras, Bryer merogoh ponsel satelitnya. Ia menelpon Dashiell dengan napas memburu. "Aku terlambat, Dashiell!" geram Bryer. "Hanya selisih menit. Dia seolah tahu aku akan datang ke dermaga ini." Di seberang telepon, Dashiell menghela napas. "Dia tidak hanya tahu kau akan datang, Bryer. Dia tahu warna mobil yang kau pakai dari bandara. Nona Berry bukan jurnalis amatir yang bisa kau sergap di tempat terbuka seperti ini." "Sialan!" Bryer memaki, menendang tiang tambatan kapal. "Lalu ke mana arahnya sekarang? Jangan bilang radar kita kehilangan jejaknya lagi." "Sinyal terakhir menunjukkan dia bergerak ke arah Pasifik Barat. Dia menuju Tokyo," sahut Dashiell datar. "Dengar, Bryer. Jika dia sampai di sana dan bertemu dengan jaringannya di Asia, rahasia keluarg
"Bara! Hentikan! Ambil kacang-kacang ini lalu pergi!" Perintah Callum mengeluarkan segenggam pine nuts sebagai penyumpal agar keributan tidak semakin menjadi. "Tidak! Aku tidak mau kacang darimu, Callum!" Tolak Luna masih setia mengepakkan sayapnya, melayang di hadapan Bryer. "Aku mau dari dia!
Sinar matahari pagi yang pucat menembus jendela besar ruang makan Kremlin, menyinari meja mahoni panjang yang sudah dipenuhi oleh para pria elit Vladimir. Namun, keheningan pagi itu tidak bertahan lama. Suara kepakan sayap yang kuat dan pekikan cempreng yang sangat akrab di telinga mereka mulai me
Malam di Kremlin semakin larut, namun udara dingin yang menusuk seolah membawa sisa-sisa aroma maut dari halaman belakang hingga ke lorong-lorong pribadi keluarga Vladimir. Emilia berjalan dengan langkah gontai, jemarinya yang gemetar terus meremas pinggiran gaunnya yang kini terasa berat. Bayan
Bryer menoleh pada Stewart. "Nona Berry bukan sekadar 'jurnalis' gila, Stewart. Intelijen kami mencatat dia berada di London saat ledakan terjadi di kantor bayangan Beijing. Dia seperti burung liar yang selalu bermigrasi. Jika ingin menghadapinya kita harus membentuk jaringan, serupa. Agar dapat m







