FAZER LOGINDi jantung Kremlin, tepatnya di sebuah ruang kerja yang dindingnya dilapisi kayu ek gelap, Lachlan Vladimir berdiri menatap jendela besar yang menghadap ke arah Lapangan Merah. Di luar, matahari musim panas Moskow memancarkan cahaya yang menyilaukan, mengubah bata merah Kremlin menjadi warna tembaga yang gerah. Udara di dalam ruangan terasa berat dan kering, meski pendingin ruangan bekerja maksimal, seolah ikut merasakan ketegangan yang mendidih di dalam benak sang kepala keluarga Vladimir. Lachlan bukan pria yang mudah menunjukkan emosi, namun jemarinya yang menggenggam sebuah cerutu yang tidak menyala tampak sedikit menegang. Berita dari Tokyo tentang kebakaran di Setagaya sudah sampai ke telinganya, begitu pula laporan tentang pergerakan Kesia di Jakarta. Namun, pusat pikirannya saat ini adalah sosok gadis yang ia tempatkan di Hawaii. Emilia. Meskipun secara biologis Emilia bukan darah dagingnya, Lachlan telah membesarkannya dengan segala kemewahan dan proteksi yang bisa d
Bara memutar kepalanya 180 derajat, menatap ke arah vila tempat Emilia berada. Ia diam cukup lama, seolah sedang menimbang-nimbang antara kesetiaan pada Kesia atau gunungan gosip yang belum ia tuntaskan di sisi Emilia. "Jakarta panas? Jakarta berisik?" tanya Bara. "Sangat berisik," jawab Kesia. "Emilia masih punya banyak rahasia... krak! Emilia mau bertemu Lachlan sebentar lagi. Bara mau dengar dulu!" Burung itu akhirnya membuat keputusan. Ia melompat dari pundak Kesia ke dahan pohon palem terendah. "Bara tinggal! Bara bersama Emilia sampai Tuan Lachlan panggil pulang ke Moskow. Emilia perlu Bara untuk menangis!" Kesia tertawa pelan, sudah menduga jawaban itu. Bara tidak akan bisa meninggalkan ladang informasi seluas keluarga Vladimir atau Wilson di Hawaii sebelum ia benar-benar merasa puas. "Baiklah, dasar burung penggosip. Tetaplah bersama Emilia. Pastikan kau mencatat setiap air mata dan setiap telepon yang ia terima dari Bryer. Tapi ingat," Kesia mendekat, menatap t
Malam di Honolulu seharusnya menjadi tempat persembunyian yang sempurna bagi Emilia. Suara deburan ombak Pasifik yang menghantam bibir pantai di balik dinding vila biasanya terdengar seperti nina bobo. Namun, malam ini, suara itu justru terasa seperti bisikan pengkhianatan yang menyeret kembali memori yang susah payah ia kubur di bawah bata merah Kremlin. Emilia duduk di sofa velvet ruang tengah, menatap layar televisi yang masih menampilkan sisa-sisa reruntuhan di Setagaya. Di bahunya, Bara, si kakatua hitam, sedang sibuk merapikan bulunya. Baru saja ia hendak merayakan "kematian" Nona Berry, suara gerendel pintu digital vilanya berbunyi. Pip-pip-pip... Klik. Jantung Emilia seolah berhenti berdetak. Kode akses vila ini sangat rahasia. Ia menoleh ke arah pintu dengan napas tertahan, hingga sosok yang melangkah masuk dari kegelapan teras membuat gelas kristal di tangannya terlepas. Prang! Cairan emas sampanye itu tumpah, meresap ke karpet, persis seperti tetesan teh herbal
[BREAKING NEWS: KEBAKARAN HEBAT DI KEDIAMAN TRADISIONAL JEPANG, SETAGAYA TOKYO. DUA KORBAN JIWA DITEMUKAN HANGUS.] Viktor membeku. Ia teringat laporan terakhir dari intelijen luar negeri bahwa Bryer sedang berada di Jepang mengejar Nona Berry. "Ayah, tunggu," Viktor menunjuk ke layar. "Itu rumah Nona Berry. Jurnalis gila itu baru saja lenyap terbakar di Tokyo." Leonid terdiam, menatap kobaran api di layar. Ketegangannya sedikit mengendur, namun kewaspadaannya tetap tinggi. "Jika dia mati, siapa yang akan mengelola kebocoran data ini? Kita harus memastikannya. Viktor, batalkan ke St. Petersburg. Kita pergi ke Kremlin. Aku perlu bertemu Dashiell. Dia harus mengonfirmasi jika itu benar-benar kematian si jurnalis atau sekadar pengalihan isu." Di salah satu bunker mewah di bawah Kremlin, suasana tampak kontras. Stewart duduk santai di sofa kulit, membelai Gliss, rubah merah cantik pemberian Kesia yang melingkar di pangkuannya. Di sekelilingnya, Thane, Callum, dan Dashiell sedan
Lautan Pasifik di sekitar Tanjung Fugui, Taiwan, tampak berkilau seperti hamparan berlian hitam di bawah cahaya bulan sabit. Di atas dek yacht mewah sepanjang 20 meter, dentum musik deep house merobek kesunyian malam. Bryer bersandar di kursi lounge dengan gelas kristal berisi wiski mahal di tangannya. Di sekelilingnya, beberapa model lokal Taiwan tertawa centil, mencoba menarik perhatian putra orang nomor satu di Washington itu. Pipi Bryer masih tertutup plester tipis bekas sayatan tantō milik Zayn yang masih terasa berdenyut. Namun, rasa sakit itu tertutup oleh euforia yang meluap-luap. Di layar televisi besar di kabin luar, berita utama internasional sedang menyiarkan kobaran api raksasa di Setagaya, Tokyo. "Mampus kau, jalang," bisik Bryer sembari menenggak wiskinya. Kabar itu bagaikan embun di padang pasir bagi harga dirinya yang sempat hancur. Laporan intelijen awal menyatakan tidak ada yang selamat dari kebakaran hebat di rumah tradisional tua tersebut. Dua jenazah
Kemarahan telah melampaui logika sehat Bryer. Di dalam SUV yang melaju kencang meninggalkan Setagaya, napasnya memburu, dan rasa perih di pipinya akibat goresan pedang Zayn seolah membakar seluruh harga dirinya. Baginya, Nona Berry bukan lagi sekadar jurnalis yang harus dibungkam wanita itu adalah eksistensi yang telah menginjak-injak martabat Gedung Putih. Ia meraih ponsel satelitnya, menekan frekuensi paling rahasia yang hanya dimiliki oleh garis keturunan presiden. "Dashiell," suara Bryer rendah, bergetar oleh amarah yang dingin. "Aktifkan Protokol Deep Strike. Aku baru saja mengirimkan kode akses otorisasi tingkat tinggi ke servermu." Di Moskow, Dashiell tertegun di depan deretan monitornya. Pesan enkripsi masuk, menampilkan kode peluncuran yang berasal dari pangkalan militer Amerika Serikat di Taiwan. Matanya membelalak melihat jenis hulu ledak yang diminta. "Bryer, kau sudah gila?" suara Dashiell pecah dari balik telepon. "Itu Tokyo! Itu wilayah kedaulatan Jepang, se
Kakinya luruh ke bawah. Pantatnya terduduk menempel lemas pada lantai marmer yang dingin. Batu putih itu menyerap sisa hangat tubuhnya dengan kejam, seolah Kremlin sendiri ingin menelan setiap kelemahan yang terlihat di dalam dindingnya. Tatapan Emilia kosong. Tidak fokus pada apa pun di depan
"Kylie masih terlihat... fungsional untuk usianya," Viktor berkata dengan nada yang sangat kurang ajar, menatap tubuh Kylie yang gemetar. "Daripada menangisi mayat hidup seperti Nathan, kenapa Ayah tidak membawanya saja ke tempat tidur? Buatkan dia satu atau dua bayi baru di usia senjanya ini. Bia
Pintu kayu mahoni yang berat itu terbanting terbuka dengan suara dentuman yang memecah keheningan perayaan dingin antara ayah dan anak angkat tersebut. Kylie Wilson muncul di ambang pintu, namun ia tidak berdiri tegak sebagai nyonya besar mansion ini. Rambutnya yang biasanya tertata rapi kini kusu
Sel gelap di sudut terdalam penjara Butyrka terasa seperti peti mati yang lembap. Aroma busuk dari sisa makanan yang basi, pesing, dan keringat dingin yang menguap di udara yang pengap menciptakan atmosfer yang mampu membunuh kewarasan siapa pun. Di sana, di atas lantai beton yang retak dan berlum







