Home / Mafia / Velvet Bloodline / Part 87 : Denganmu

Share

Part 87 : Denganmu

Author: Cloudberry
last update publish date: 2026-04-16 14:01:46

Meskipun kesal setengah mati, Emilia menyadari bahwa Bara adalah satu-satunya "teman" yang ia miliki saat ini, meski burung itu lebih sering menyiksanya dengan fakta-fakta menyebalkan. Ia tahu Lachlan memaksanya membawa Bara kembali ke Moskow karena burung ini adalah aset intelijen, bukan sekadar peliharaan.

​"Cepat masuk, atau aku akan membiarkan petugas kebersihan yang malas itu menangkapmu," ancam Emilia pura-pura serius.

​Bara mendengus suara yang sangat mirip dengan dengusan Lachlan la
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Velvet Bloodline   Part 96 : Pedang vs Bantal

    Baru saja Emilia hendak memutar gagang pintu untuk turun ke ruang makan, pintu kamarnya lebih dulu terbuka pelan. Di ambang pintu, berdirilah sosok wanita yang kecantikannya seolah menolak untuk menua. Eavi Li. Dengan balutan gaun rumah berbahan sutra merah yang elegan, ia melangkah masuk dengan keanggunan seorang permaisuri yang tak pernah kehilangan wibawa. ​"Putriku," suara Eavi lembut, namun ada nada dingin yang selalu terselip di sana, seperti salju yang menyembunyikan duri. ​Emilia tertegun sejenak. "Ibu," sapanya singkat sembari merapikan daster sutranya. ​Eavi melangkah mendekat, jemarinya yang lentik dan dihiasi permata mahal terangkat untuk mengusap pipi Emilia. Matanya yang tajam memindai wajah putrinya, mencari setiap celah keletihan atau keraguan. ​"Kau tampak pucat setelah perjalanan itu. Ayahmu dan kakak-kakakmu... mereka benar-benar membiarkanmu menempuh risiko sejauh itu sendirian? Sungguh cara yang kasar untuk memperlakukan satu-satunya permata di keluarga in

  • Velvet Bloodline   Part 95 : Tetap Cerewet

    Langit Moskow sore itu berwarna abu-abu baja, senada dengan dinding batu kokoh yang memagari kompleks Kremlin. Angin musim panas yang biasanya hangat di sini terasa lebih tajam, membawa aroma debu sejarah dan kekuasaan yang absolut. Sebuah iring-iringan mobil SUV hitam berlapis baja meluncur mulus melewati gerbang Spasskaya, berhenti tepat di depan pelataran megah salah satu istana kediaman keluarga Vladimir. ​Pintu mobil terbuka, dan Emilia Vladimir melangkah keluar. Wajahnya yang cantik tampak lelah, gurat-guratan keletihan setelah perjalanan panjang 32 jam terlihat jelas. Namun, begitu matanya menangkap sosok pria tinggi berambut perak yang berdiri tegak di undakan tangga istana, kelelahan itu seolah menguap. ​Lachlan Vladimir berdiri di sana dengan mantel panjangnya, matanya yang tajam melembut saat melihat putri bungsunya. Di belakangnya, berdiri empat pilar kekuatan keluarga Vladimir: Stewart, Thane, Dashiell, dan Callum. ​"Ayah!" seru Emilia. ​Tanpa memedulikan martabat

  • Velvet Bloodline   Part 94 : Selesai

    Hari pertama kontrak kerja itu dimulai di bawah bayang-bayang gedung pencakar langit yang mengelilingi Central Park, Jakarta Barat. Suasana mal yang megah dengan taman terbuka di tengahnya memberikan kontras yang aneh bagi Tuan Ardiansyah. Meski tempat ini sangat publik, ia merasa jauh lebih aman daripada saat berada di pantai kemarin. ​Alasannya sederhana Gadis yang berjalan setengah langkah di sampingnya. ​Kesia hari ini tampil sangat profesional. Ia mengenakan celana kain berpotongan lurus dan blazer tanpa lengan berwarna krem yang menyamarkan lekuk tubuhnya, namun tetap memudahkan pergerakan tangannya. Rambut hitam pekatnya diikat kucir kuda tinggi, menonjolkan rahangnya yang tegas. ​Tuan Ardiansyah sesekali melirik Kesia dari sudut matanya. Bayangan saat Kesia membuka Tessen besi dan menebas arteri lawan di PIK 2 masih terekam jelas di otaknya. Ia sadar, ia tidak sedang menyewa seorang penerjemah; ia sedang menyewa malaikat maut yang kebetulan fasih sepuluh bahasa. ​"Tuan

  • Velvet Bloodline   Part 93 : Keluarga Soertja

    Ketenangan semu di PIK 2 pecah dalam sekejap. Suara dentuman musik tropical house tenggelam oleh rentetan tembakan otomatis yang memekakkan telinga. Botol-botol minuman mahal hancur berkeping-keping, dan pasir putih yang tadi damai kini menjadi saksi kepanikan massa yang berlarian buta arah. ​Kesia tidak lari. Ia justru merunduk di balik batang pohon palem yang kokoh, matanya menyipit tajam memindai sumber api. Ia melihat sekelompok pria berseragam taktis hitam tanpa atribut muncul dari arah parkiran, melepaskan tembakan presisi yang mengarah ke area VIP tepat ke arah Tuan Ardiansyah dan para koleganya. ​Namun, sebelum para teroris itu sempat merangsek maju, beberapa mobil SUV lapis baja hitam legam merangsek masuk ke area beach club, menabrak pembatas kayu. Dari dalamnya, keluar pasukan pengawal dengan seragam rapi yang mengenakan pin emas kecil di kerah mereka Simbol Keluarga Soertja. ​"Keluarga Soertja?" batin Kesia, otaknya berputar cepat. "Jika klan penguasa ekonomi Nusanta

  • Velvet Bloodline   Part 92 : Menagihnya di Neraka?

    Matahari sore di PIK 2, Tangerang, terasa menyengat, membakar pasir putih buatan di sepanjang bibir pantai. Angin laut membawa aroma garam dan parfum mahal dari para pengunjung beach club kelas atas yang sedang bersantai di daybed mereka. Di tengah dentuman musik tropical house yang santai, Kesia Dubicki melangkah dengan keanggunan yang kontras dengan keriuhan di sekitarnya. ​Ia mengenakan terusan linen putih yang ringan dan kacamata hitam besar, namun langkahnya tetap mantap langkah seorang wanita yang baru saja menaklukkan dinginnya Edinburgh dan kini siap menantang panasnya Jakarta. ​Di sebuah area VIP yang paling tersembunyi, seorang pria paruh baya dengan kemeja batik sutra bermotif kontemporer duduk menunggu. Ia adalah Tuan Ardiansyah, konglomerat properti yang namanya disebut-sebut oleh Theo Percy. Di depannya, dua orang pria berwajah dingin yang Kesia kenali sebagai orang Rusia dan Mandarin sedang menyesap koktail mereka dengan tegang. ​Kesia mendekat, melepaskan kacamat

  • Velvet Bloodline   Part 91 : Mimpi Indah

    Artem menghela napas panjang, membiarkan kemarahan yang tadinya memuncak menguap begitu saja saat merasakan tubuh kecil Nayla bergetar hebat di pelukannya. Ia mempererat dekapannya, menyandarkan dagunya di puncak kepala Nayla yang masih beraroma keringat dan sisa sabun mawar. ​"Sshhh... diamlah. Aku di sini," bisik Artem, suaranya kini sehalus gesekan beludru, sangat jauh dari bentakan mautnya beberapa menit lalu. ​Tangan besarnya yang terbiasa menggenggam laras senapan kini bergerak dengan ritme yang sangat kontras lembut dan teratur. Ia mengusap punggung Nayla perlahan, naik-turun dengan gerakan menenangkan, seolah sedang mencoba menyatukan kembali kepingan keberanian istrinya yang sempat hancur karena rasa cemas. ​Nayla menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Artem, menghirup dalam-dalam aroma tubuh suaminya yang maskulin dan menenangkan campuran antara bau tembakau tipis, aroma kayu, dan hawa dingin malam Moskow yang masih tertinggal di bajunya. Isak tangisnya yang tadinya me

  • Velvet Bloodline   Part 58 : Butyrka

    Sel gelap di sudut terdalam penjara Butyrka terasa seperti peti mati yang lembap. Aroma busuk dari sisa makanan yang basi, pesing, dan keringat dingin yang menguap di udara yang pengap menciptakan atmosfer yang mampu membunuh kewarasan siapa pun. Di sana, di atas lantai beton yang retak dan berlum

  • Velvet Bloodline   Part 57 : Pangeran Gantung

    ​Kaka memutar kepalanya 180 derajat, menatap Lachlan dengan mata bulatnya yang cerdik. "Kami melakukan ini demi kebaikan keluarga Vladimir, Tuan! Pikirkan tentang rekening Callum! Jika kami terus-menerus meminta logistik kelas atas dari dapur pusat, biaya operasional Kremlin akan membengkak. Tuan B

  • Velvet Bloodline   Part 56 : Pengemis Elit

    ​Pagi di Kremlin tidak pernah benar-benar hangat, meskipun pemanas ruangan di kamar tamu mewah milik Davis Gerald bekerja maksimal dan ini masih hari kelima musim panas. Di balkon yang menghadap ke arah Lapangan Merah, Bryer duduk santai, menyilangkan kaki panjangnya di atas kursi beludru. Di had

  • Velvet Bloodline   Part 52 : Terancam

    Dua hari sudah Nayla berbaring di ranjang rumah sakit, dengan gips di kedua kaki jenjangnya. Matanya berair mengingat kakinya kini tidak sekuat dulu lagi. Dulu kakinya bisa dengan bebas ia bawa lari kemana hatinya berkehendak. Tapi sekarang ia bahkan tidak bisa turun dari brankar, jika empat per

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status