LOGINTidak terjadi apa-apa, rasanya seperti kacang dan sedikit pedas manis. Begitu selesai makan, aku langsung pergi ke kamar mandi, muntah-muntah, memaksa mengeluarkan yang sudah kutelan.
Lalu memutuskan untuk pamit pulang, selama dalam perjalanan, hawa panas mulai menyeruak di kulitku. Kutatap pantulan diri sendiri di kaca mobil. Seorang gadis bermata sayu dengan rambut pendek balas memandangku. Meskipun tertutup makeup tapi tak bisa dipungkiri wajahku tampak memera"Apa hal terbaik yang bisa kamu bagikan untuk orang lain sebagai pelajaran dari pernikahan kalian?" Itu adalah pertanyaan yang pernah diajakun oleh salah seorang podcaster ketika Bas hadir untuk wawancara di sebuah podcast. Bas tidak membutuhkan waktu lama untuk menjawab percaya diri. "Menerima ketidaktahuan dan saling memafkan." Alih-alih kekurangan, dia justru menggunakan kata ketidaktahuan untuk merujuk pada kekurangan-kekurangan yang tanpa sadar kami lakukan. Bagaimana aku tidak semakin mengangumi suamiku? Kami sering bertengkar, bahkan karena masalah sepele seperti kontrol suhu AC. Karena Bas sukanya dingin-dingin biar bisa peluk-peluk, sedangkan aku risi, merasa gerah kalau tidur harus pelukan terus. Atau masalah yang paling krusial seperti ketika dia diam-diam membeli mobil baru tanpa sepengetahuanku sama sekali. Banyak hal yang kami sesuaikan, adaptasi, kadang aku yang mengalah, walaupun lebih banyak Bas yang mengalah. Tapi kalau sedang mesra, tidak perlu ditanya,
"Sepengetahuan aku, dari ceramah yang aku dengar, ari-ari harusnya dicuci bersih dan diurus sama Mama mertua, kalau aku bilang begini sama Mama Bas, menurut kamu dia bakal tersinggung nggak?" Aku meringis dengan penurutan Gumi. "Nggak usah dipikirin itu Gum, Bas yang udah mengurus semuanya." "Oh ya bagus deh, Alhamdulillah. Dia memang cekatan, sih." Beberapa hari sebelum melahirkan, Gumi memang ngotot ingin menemaniku di rumah, khawatir hal-hal seperti ini akan terjadi, tapi karena tidak mungkin kami tinggal serumah bertiga, jadi dia memerhatikan dari jarak jauh. Ketika datang dari luar kota, dialah yang paling heboh dengan Nathan dan tidak berhenti menimang sambil memuji. "Gembul banget sih, asi Mamanya pasti gacor banget ini, calon-calon roti sobek di lengannya ada empat. Mana wangi lagiiii, bau surga banget kamu." Anakku mere
Sembilan bulan menuju HPL.Kami baru pulang dari lokasi syuting karena jadwal Bas makin hethic ketika tiba-tiba Noah datang ke rumah.Saat itu aku dan Bas sedang mendengarkan demo dari single yang akan dirilis berjudul Dua Dalam Satu. Sebuah lirik yang menceritakan perjalanan pria yang menemukan belahan hatinya.Jadi kami tidak mendengar Noah datang, dia langsung masuk melewati asisten kami di depan, bahkan sampai ke ruang musik Bas, aku lebih dulu melihat kehadirannya dan menyapa."Noah?"Wajah Noah keras, tanpa aba-aba, dia menyambar lengan adiknya, Bas tampak terkejut, sebelum dia mampu beraksi, sebuah bogeman mentah sudah lebih dulu mendarat ke wajahnya dan membuat suamiku tersungkur di lantai.Aku menjerit kaget."Kamu kenapa?!" seruku panik.Bas mengerang, wajahnya kelihatan antara shock, bingung, dan sedikit marah.Noah mengabaikanku, dan membentak. "Bajingan, selama ini lo pura-pura polos, berti
Anak kami laki-laki.Hal ini kami ketahui setelah usia kandunganku tiga bulan. Tidak perlu ditanya hebohnya Bas. Dia seperti CR7 ketika melakukan siu. Bahkan saking gembiranya satu obgyn diberikan hadiah.Aku ikut bahagia untuknya, walau sampai trisemester kedua aku mengalami perubahan yang berat, terlebih aku sempat merasakan baby blues. Bedanya, si dede belum lahir, tapi aku tidak merasakan perasaan antusias, semangat, cinta atau apapun. Rasanya flat, hambar.Beruntung aku punya banyak orang di sekelilingku yang mendukung, ada Gumi, yang siap menjadi tante rempong, Mona si tante bawel, Rigen om pelawak, Goz om royal, dan Noah om perhatian."Kalau gitu aku udah bisa bantu dekor-dekor kamarnya dong?" Gumi sampai excited dengan kehadiran si bocil. Tiap weekend, dia akan berkunjung untuk mengajakku belanja atau makan enak, yang semuanya untuk si baby.Dia banyak sekali berubah, kurasa pengalaman yang tidak pernah ia ceritakan selama koma i
Noah sudah bangun pagi-pagi sekali, beruntung dia tidak ada jadwal operasi, sebagai dokter spesialis jantung, akhir-akhir ini kabar yang dia berikan selalu sukses bikin jantungan. "Nggak jadi datang?" tanyanya menerima uluran jahe hangat dariku, meminimalisir rasa pusing akibat mabuk semalam. "Mungkin dia repot kalau harus bolak-balik," kataku merujuk ke informasi soal Ruka semalam. Wajah Noah suram, tapi ada kilatan berharap di matanya. "Dia nggak ada hubungin apa-apa sih." Noah mengecek ponselnya sejenak. "Tolong bilangin Bas, kabar ini jangan bocor ke mana-mana dulu, aku nggak pengin Ruka masuk berita gosip." "Kalau udah terlanjur gimana?" "Siapa yang bisikin?" tanya Noah balik. "Sejauh ini baru keluarga yang tahu. Ruka udah cukup sibuk, aku nggak mau dia semakin repot karena masalah ini." Luar biasa peduli, aku menggumamkan persetujuan lalu memintanya sarapan yang segera ditolak, Noah ingin
"Hadiah untuk kepulangan kamu." Sebuah kalung dilingkarkan di leherku, rasanya dingin. Aku menunduk, menatap benda berkilauan itu dengan mata berbinar."Cantik banget Bas."Dia membungkuk, lalu mencuri satu ciuman di pipiku, aku terkekeh lembut.Dari pantulan cermin, kalung dengan bandul super mini yang berbentuk seperti tetesan air hujan itu kelihatan sangat elegan. Bas mulai mengerti dengan seleraku, jadi alih-alih sesuatu yang mencolok, dia memberikan sesuatu yang terasa ringan saat dikenakan.Aku berbalik, meraih rahangnya untuk gantian memberikan ciuman di bibir, memangutnya manis. "Makasih Kak.""Suka? Are you happy?""Happy!" Hidungku mengerut saat justru dibombardir dengan ciuman basah.Aku cekikikan menggeliat berusaha melepaskan diri. Kami ada acara dinner dengan keluarga Bas, sekadar acara rutin, mungkin sekaligus menyambut kepulangan kami ke Jakarta.Jadi berbekal gaun elevated dress bernuansa nude d







