ログイン"Aku nggak minta apa-apa selain dikasih kamar dengan view perbukitan, dan tolong jauh dari kamar Abang.""Nggak bisa request dong, Bine.""Lah, kenapa ini kan, acara Abang? Demi menjaga privasi, nggak mungkin aku yang bocil ini sanggup mendengar pasutri yang baru menikah. Tolong banget Abang."Bocil apa yang tubuhnya bongsor begitu?Keluarga Sangkara punya bibit-bibit generasi raksasa, Sabine ini salah satunya, kalau dilihat sekilas dia mengingatkanku dengan Anya Geraldine. Tinggi semampai dan penampilannya juga modis.Setelah sekian purnama enggan pulang ke Jakarta. Demi pernikahan kami, dia menyempatkan diri untuk hadir lebih awal karena sekalian liburan semester.Aku sebenarnya kasihan karena kepulangannya harus disambut dengan kemesaraan kami. "Kenapa nggak bilang kalau udah sampai, biar dijemput.""Kak Marsha, nggak perlu repot, aku udah biasa apa-apa sendiri kok." Sabine menyahut tenang, tapi sadar kalau dijemput d
Kurang lebih kami sudah tidak bertemu hampir sebulan, semenjak dia pulang honyemoon, kami sempat dinner bersama dan Ruka kini kelihatan sehat, dia mengangumi gaun yang kukenakan."Bagus cocok buat kamu, Sa. Sepertinya kamu kehilangan banyak berat badan ya, sekarang makin kelihatan langsing, atau kamu menjalani diet khusus?"Oke, meskipun sudah tidak bertemu lama ternyata mulutnya belum berubah."Nggak sih—""Aku malah nggak boleh diet sama Noah, semenjak nikah, sampai naik lima kilo. Noah paling nggak suka aku kurus." Dia memuji penampilannya sendiri.Mama menyambutnya dalam pelukan sambil cipika-cipiki, dibuntuti Kak Jena. "Emberan," seru lelaki setengah matang itu. "Kamu mau kurus, mau gendut tetap kelihatan stunning kok, yang penting sehat ya, Moms, nggak ada tipes. Muka asli no oplas-oplas. Dagu runcing aselii."Ruka mengibaskan tangan. "Oh, bisa ngamuk Noah kalau aku merubah ciptaan Tuhan. Sebenarnya asalkan pintar
"Ya?""Bas?""Ya?""Bastian, gimana mau pulang atau aku tinggal aja di sini?""Sebentar Babe."Astaga, menyebalkan.Mba Nuke melirik, lalu tersenyum lebar, sadar aku tidak sabar dan sumbu pendek. Mungkin kalau hidup dalam kartun, dari kedua telingaku sekarang sudah keluar uap asap seperti knalpot racing."Oke, makasih banyak Mba Nuke, nanti saya hubungi." Bas kemudian menyela dirinya berdiri tegak, ponsel menyala di tangannya. Aku mendelik, jadi daritadi mereka bertukar nomor ponsel?Seorang Bas?"Benar 13 angka?""Iya Kak Bas." Mba Nuke menjawab ramah. Bas seperti memastikan sekali lagi, lalu menyelipkan ponsel ke saku celana. Kemudian menarikku menjauh.Hidungku kembang kempis."Bisa nggak sih, kamu jangan bagi-bagi nomor ke sembarang orang, nanti kalau ada sesaeng fans yang nelponin mulu selama 24 jam nontsop kamu tantrum. Padahal itu karena ulah kamu juga yang suka kasih-k
"Nggak ada orang lain yang bisa melakukan hal ini selain kamu. Kamu tahu betul itu Pj, jadi nggak ada gunanya mengelak." Aku menjawab berani meskipun tanganku gemetar hebat."Tapi kamu harus dengar dulu—" Dua petugas polisi mendorong dia maju. Pj langsung mingkem, di bawah tatapan tajam Bas, dia hanya bisa mengeram.Pria itu lagi-lagi meludahkan darah ke lantai, tepat di bawah kaki Gumi."Coba aja bawa aku ke penjara Gum, kamu nggak akan dapat apa-apa."Gumi mengangkat dagu menantang. "Itu biar jadi urusan kami nanti.""Kalian berdua sama aja ya, sama-sama brengsek dan nggak tahu diri. Gue yang udah susah payah di The Blues, tapi sejengkal juga nggak dapat komisi. Hancur hidup gue karena kalian." Dia menyumpah serapah, seseorang yang kuyakin asisten Pj melenggang masuk ke kamar.Pria malang itu melotot melihat majikannya ditangkap. Lalu buru-buru menghubungi seseorang di ponsel. Mungkin pengacara dan keluarga Pj. Mereka kemudian
'Pj di sini' terdengar seperti mantra yang mengandung racun. Di antara banyaknya orang, aku tidak bisa memastikan di mana dia duduk, rasanya menggelisahkan, mengetahui ada pria brengsek di sekitar kita tapi kita bahkan tidak bisa memantu gerak-geriknya. Acaranya cukup meriah, banyak sekali kategori yang dibacakan, The Blues mendapatkan dua pengharagaan bergengsi dari kategori Band Favorite dan Living Legend. Suasana sangat antusias, Ghozali naik ke atas panggung membacakan beberapa kategori. Kurasa tanpa nama The Blues pamornya mulai meningkat pesat. Selagi menunggu penghargaan terakhir dibacakan. Bas mendadak berdiri, memintaku melakukan hal yang sama. Aku kebingungan. "Ke mana, Bas?" Ghozali mengekori, hanya Bianca dan Rigen yang ditinggal di kursi kami. "Acaranya belum selesai." Tapi tidak ada yang bicara di antara mereka, terlebih ekspresi keduanya serupa. Sama-sama keras dan datar. "Di lantai berapa Goz?" "Dua belas, kita turun ke bawah." Sialan, aku tidak men
Menculik yang Bas maksud adalah membawaku ke Music Awards. Aku agak terkesan dengan konsep penghargaan akhir tahun untuk para pekerja seni di Indonesia, karena meski konsepnya akhir tahun, tapi acaranya sendiri justru diadakan di awal tahun, sehingga euforianya tidak terbagi. Sampai saat ini aku masih deg-degkan kalau bertemu orang banyak, efek menyamar sebagai Gumi, tapi, di satu sisi aku tidak bisa selamanya bersembunyi. Sementara itu Gumi-nya sendiri sebagai gitaris justru memilih tidak hadir. "Ini bagian kamu," jelasnya tadi selagi membantuku memilih gaun dari stylish pribadi The Blues. "Selama ini kamu yang berjuang buat band, jadi kalau mereka berhasil mendapat penghargaan, kamu yang harus merayakan di sana bukan aku." Pola pikirnya semakin berkembang, dan aku menghargai keputusannya itu. "Lagian Bas maunya datang sama kamu daripada sama aku, sih." Then, di sinilah aku—atau lebih tepatnya kami. Melenggang di atas karpet merah yang digelar ala-ala Hollywood di antara







