Share

136. MAWAR PUTIH

Author: vitafajar
last update publish date: 2026-03-15 21:49:19

Suasana malam di dalam mobil mewah itu terasa begitu tenang, hanya diiringi oleh instrumen jaz yang mengalun tipis dari sistem audio kendaraan. Alvaro menggenggam tangan Arini dengan sangat erat di atas konsol tengah guna memastikan tidak ada ruang bagi kegelisahan untuk menyelinap di antara mereka.

Sepanjang perjalanan dari restoran, Alvaro tidak sekalipun melepaskan jemari Arini dari tautannya sembari memberikan kehangatan yang merambat hingga ke relung jiwa. Arini hanya bisa tersenyum simpul
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   158. IKRAR DI RUANG TENGAH

    Keheningan yang dingin itu akhirnya ditinggalkan di belakang saat langkah mereka bergema pelan memasuki area privat. Alvaro perlahan menuntun Arini berjalan menuju sofa di ruang tengah, menjauh dari pintu apartemen yang nyaris menjadi saksi perpisahan pahit mereka.Arini duduk di sana dengan gerakan yang masih sedikit kaku, namun sorot matanya tidak lagi kosong dan hampa seperti sebelumnya. Ia menunduk sejenak, memperhatikan jemarinya sendiri yang mulai kembali terasa hangat setelah sebelumnya sedingin es akibat ketakutan yang mencekam."Tunggu di sini sebentar ya, Rin. Jangan melamun lagi," ujar Alvaro lembut sembari mengusap bahu Arini sekilas guna memberikan ketenangan.Alvaro beranjak menuju dapur dengan langkah yang tegap dan berwibawa, meninggalkan aroma maskulinnya yang masih tertinggal di indra penciuman Arini. Tak lama kemudian, ia kembali dengan membawa segelas air putih hangat yang uap tipisnya masih mengepul lembut di udara."Minum ini dulu, pelan-pelan aja biar tenggoroka

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   157. PELABUHAN DI BALIK RAHASIA

    Keheningan apartemen itu seolah menjadi saksi bisu atas runtuhnya dinding rahasia yang selama puluhan tahun membentengi relung hati Alvaro. Alvaro masih melingkarkan lengannya di bahu Arini dengan sangat erat, seolah ia sedang mendekap satu-satunya harta berharga yang tersisa di hidupnya.Ia seolah merasa sangat takut jika ia melonggarkan pelukannya sedikit saja, wanita di hadapannya ini akan kembali meraih koper di sudut ruangan dan menghilang. Ketakutan itu nyata, terpancar dari bagaimana jemarinya yang kokoh sedikit gemetar saat menyentuh helaian rambut Arini yang halus.Arini menyandarkan dahinya di dada bidang Alvaro yang masih terasa hangat, meskipun kemeja mahal pria itu kini sudah tidak serapi biasanya akibat ketegangan tadi. Ia memejamkan mata, mendengarkan detak jantung Alvaro yang perlahan mulai melambat dan menjadi jauh lebih teratur di telinganya.Irama detak jantung itu mendadak menjadi sebuah melodi paling menenangkan bagi jiwa Arini yang sempat koyak akibat intimidasi

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   156. ASAL-USUL ALVARO

    Tak lama kemudian, Arini menyandarkan punggungnya ke dinding koridor yang terasa sangat dingin, menatap langit-langit dengan tatapan kosong yang menyedihkan. "Selain itu, aku juga nggak mau jadi penghalang besar di antara kamu dan keluargamu sendiri, Kak," ucapnya sembari terisak pelan."Kamu itu anggota keluarga Wijaya. Masa depanmu ada di sana—"“Masa depanku nggak ditentukan oleh keluarga Wijaya. Aku sendiri yang menentukannya. Lagipula, Wijaya sudah memiliki pangerannya sendiri. Aku hanya anak kedua dari seorang wanita yang merebut suami orang. Aku sama sekali nggak layak!" potong Alvaro dengan sangat cepat.Suasana di koridor apartemen itu mendadak membeku seiring dengan kata-kata Alvaro yang menggantung di udara malam yang sunyi. Arini tertegun mematung, tangannya yang tadi melingkar erat di pinggang kokoh Alvaro perlahan-lahan mulai melemas karena syok yang menghantam kesadarannya.Ia menatap lekat wajah Alvaro yang kini tampak sangat kelam, di mana rahang pria itu mengeras den

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   155. MENGULANG KESALAHAN

    Pintu apartemen yang setengah terbuka itu seolah menjadi gerbang menuju sebuah perpisahan yang sangat dingin dan menyakitkan bagi mereka berdua. Namun, dekapan Alvaro di pinggang Arini justru terasa begitu panas, seolah pria itu sedang menyalurkan seluruh sisa hidupnya agar wanita itu tidak melangkah keluar.Alvaro memutar tubuh Arini secara perlahan namun pasti, memaksanya untuk saling berhadapan di dalam ruang tamu yang kini terasa remang-remang dan mencekam. Ia menatap sebuah koper kecil yang berdiri di samping kaki Arini dengan tatapan benci, seolah benda mati itu adalah musuh nyata yang ingin merenggut dunianya."Rin, aku mohon banget sama kamu. Letakkan kopermu sekarang juga," bujuk Alvaro dengan suara bariton yang terdengar sangat serak dan bergetar."Kita bicara baik-baik dulu, ya? Jangan langsung ambil keputusan kayak gini," lanjutnya lagi sembari menatap dalam ke arah netra Arini yang nampak sembap akibat tangis.Arini menggelengkan kepalanya dengan lemah, ia mencoba melepas

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   154. PELARIAN YANG TERTAHAN

    Kegelapan malam di dalam kamar tidur itu terasa begitu pekat, seolah-olah waktu telah berhenti berputar untuk menyiksa Arini dalam kesunyian. Semalaman, Arini tidak bisa memejamkan mata sedikit pun, kelopak matanya terasa berat namun pikirannya terus terjaga, memutar ulang setiap inci penghinaan Sofia Wijaya.Setiap detak jantungnya terasa seperti ketukan palu yang menghantam ulu hati, menyisakan rasa sesak yang kian mencekik pernapasan. Ia menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong, membiarkan air mata yang kering meninggalkan jejak perih di pipinya yang masih menyimpan bekas tamparan.Di balik pintu kayu yang mengunci dirinya, suasana di luar kamar sangat sunyi, tidak terdengar suara langkah kaki atau gumaman apa pun. Ketidakpastian itu justru membuat batin Arini kian bergejolak, menciptakan spekulasi-spekulasi menyakitkan tentang posisi dirinya di hidup Alvaro."Aku ini siapa bagi keluarga mereka?" bisik Arini lirih, suaranya nyaris hilang ditelan keheningan fajar yang mul

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   153. MENUTUP RAPAT HATI

    Lampu lorong apartemen yang temaram menyambut kedatangan Arini dengan keheningan yang mencekam. Ia memasukkan kunci kartu ke dalam lubang pintu dengan tangan yang masih gemetar hebat, sisa dari ketegangan di lobi hotel tadi.Begitu pintu tertutup dengan bunyi klik yang solid, Arini menyandarkan punggungnya pada daun pintu yang dingin. Kesunyian ruangan itu seolah menjadi ruang hampa yang menghisap seluruh oksigen di sekitarnya hingga dadanya terasa sesak.Di sana, di tengah kegelapan ruang tamu yang belum sempat ia nyalakan lampunya, Arini sudah tidak bisa lagi membendung air matanya. Isak tangis yang sejak tadi ia tahan sekuat tenaga di depan Sofia dan Alvaro akhirnya pecah, memenuhi sudut-sudut ruangan yang sepi.Pipi kirinya masih terasa panas dan berdenyut, namun rasa sakit fisik itu tidak ada apa-apanya dibandingkan luka batin yang baru saja ditorehkan oleh Sofia Wijaya. Setiap kata penghinaan wanita itu terus bergema di kepalanya, berputar-putar layaknya kaset rusak yang menyiks

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status