ANMELDENPukul sembilan pagi. Arini berdiri di depan cermin besar di dalam kamarnya, mematut diri dengan saksama. Ia memilih setelan blazer berwarna biru dongker yang memberikan kesan tegas dan profesional.
Dengan jemari yang sedikit bergetar, ia memoles wajah pucatnya menggunakan riasan yang sedikit lebih tebal, sebuah topeng untuk menyembunyikan gurat duka dan kelelahan yang masih membekas jelas di matanya.
Tubuh Arini sebenarnya masih terasa sangat nyeri. Setiap gerakan kecil yang ia buat rasanya seperti ditarik paksa oleh ribuan jarum tak kasatmata.
Namun, amarah yang membara di dadanya bertindak sebagai obat bius yang jauh lebih kuat daripada morfin mana pun. Amarah itu adalah satu-satunya hal yang membuatnya mampu berdiri tegak hari ini.
Ia baru saja hendak menyambar tas tangan di atas ranjang ketika suara deru mobil yang sangat ia kenali terdengar memasuki carport. Jantung Arini berdegup kencang. Bukan karena rindu yang membuncah, melainkan karena rasa jijik yang meluap hingga ke tenggorokan.
Arini melangkah turun ke lantai bawah tepat saat pintu depan terbuka. Sosok tinggi Adrian muncul di ambang pintu. Wajah suaminya itu tampak segar, kontras sekali dengan kondisi Arini yang nyaris kehilangan nyawa. Namun, pemandangan di samping Adrian-lah yang membuat darah Arini seolah berhenti mengalir.
Adrian tidak datang sendiri. Ia sedang merangkul bahu Dewi yang tampak sangat ringkih. Wanita itu terbalut jaket tebal dan syal, wajahnya dipucat-pucatkan dengan bibir yang sedikit bergetar. Adrian menggandengnya dengan penuh proteksi, seolah-olah wanita itu adalah porselen retak yang akan hancur jika tersentuh angin sedikit saja.
"Arin?" Adrian menghentikan langkahnya di tengah ruang tamu. Ia menatap istrinya dari ujung kepala sampai kaki dengan dahi berkerut. "Kamu ... mau ke mana? Kok, rapi banget pagi-pagi gini?"
Arini berhenti di anak tangga terakhir. Telapak tangannya mencengkeram pegangan tangga erat-erat hingga buku jarinya memutih.
"Aku mau ke mana?" Arini mengulang pertanyaan itu dengan tawa hambar. "Harusnya aku yang tanya, kamu dari mana aja, Mas? Tiga hari kamu nggak pulang, nggak ada kabar, ponsel juga nggak bisa dihubungi. Kamu tahu nggak kalau aku nungguin kamu?"
Adrian mendesah panjang, menunjukkan ekspresi bosan, ekspresi yang biasa ia gunakan saat menganggap Arini hanya sedang mencari masalah. "Rin, tolonglah jangan mulai lagi. Aku bener-bener capek. Dewi pingsan berkali-kali kemarin lusa, aku harus fokus urus dia. Ponsel aku mati karena lowbat dan nggak sempat charge. Lagian, kamu 'kan di rumah, aman, ada Mbak Sumi. Apa sih yang harus dikhawatirin?"
Arini menatap suaminya tajam. Pria ini benar-benar tidak tahu. Ia tidak tahu malam itu Arini mengejarnya menembus badai. Ia tidak tahu mobil istrinya dihantam hingga hancur. Ia bahkan tidak tahu bahwa saat ia sedang sibuk menyuapi Dewi, Arini sedang meregang nyawa di meja operasi.
Arini menyadari satu hal, Dewi pasti telah merencanakan ini semua, mematikan ponsel Adrian dan memastikan tidak ada satu pun berita dari luar yang sampai ke telinga suaminya.
"Kamu mau ke mana? Kayak mau pergi jauh?" tanya Adrian lagi, mencoba mengalihkan pembicaraan sambil terus menahan bobot tubuh Dewi di lengannya.
"Aku mau ke kantor. Ada urusan kerjaan yang tertunda," jawab Arini berbohong.
Di dalam hati, Arini merutuki kebodohannya selama ini. Ia terlalu percaya pada Adrian. Ia tidak pernah mengumpulkan bukti perselingkuhan, tidak pernah menyadap ponsel, bahkan tidak memiliki satu pun foto kebersamaan mereka. Ia telah buta karena cinta, dan sekarang ia harus membayar mahal kebutaan itu. Arini butuh pengacara. Ia butuh bantuan untuk mengambil langkah hukum dari nol.
Adrian mengangguk santai, seolah tidak ada beban dosa di pundaknya. "Oh, baguslah kalau udah bisa kerja. Berarti kamu udah sehat."
Lalu, Adrian berdeham sejenak. Ia melirik Dewi yang menyandarkan kepala di bahunya dengan mata terpejam manja. "Rin, mumpung kamu ada di sini, aku mau bilang. Dewi bakal tinggal di sini untuk sementara waktu. Sakitnya nggak sembuh-sembuh, katanya flunya malah komplikasi ke lambung. Kalau dia di apartemen sendirian, nggak ada yang jaga. Di sini ada Mbak Sumi yang bisa bantu masakin bubur, dan kamu juga ada di sini."
Arini mematung. Rasanya seperti ada petir yang menyambar tepat di atas kepalanya. "Tinggal di sini? Di rumah kita?"
"Iya," jawab Adrian tanpa rasa berdosa. "Ini juga buat kebaikan kamu, Rin. Biar kamu nggak perlu telepon-telepon aku lagi, terus nanya aku di mana. Kalau Dewi di sini, aku otomatis di rumah terus buat jaga dia. Kamu jadi nggak perlu cemburu buta lagi, kan?"
Arini melirik ke arah Dewi. Saat itu, tepat ketika Adrian sedang sibuk membetulkan posisi tas Dewi, wanita itu membuka matanya sedikit. Ia menatap Arini dengan tatapan dingin, lalu sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis, sebuah senyuman kemenangan yang sangat singkat sebelum ia kembali berakting lemas dan merintih.
"Mas ... pusing ... mau duduk ...," rintih Dewi lirih.
"Iya, Wi, sebentar ya," sahut Adrian lembut. Ia lalu kembali menatap Arini dengan tatapan menuntut. "Gimana? Kamu nggak keberatan, kan? Sebagai sesama perempuan harusnya kamu punya empati sedikit."
Arini menarik napas panjang, menahan diri sekuat tenaga agar tidak meledak sekarang juga. Belum saatnya. "Hmm," jawab Arini singkat sambil menatap Dewi dengan pandangan sinis.
Suara "hmm" singkat itu rupanya cukup untuk memicu amarah Adrian. Ia melepaskan pegangannya pada Dewi sejenak dan melangkah mendekati Arini.
"Apa maksudnya 'hmm' itu? Bisa nggak sih kamu punya sedikit sopan santun? Dewi itu lagi sakit parah, Arin! Dia bahkan tadi sempat-sempatnya bilang ngerasa nggak enak sama kamu, tapi kamu malah kasih tatapan sinis gitu?"
"Oh, dia ngerasa nggak enak? Tapi dia tetap mau masuk ke rumah ini dan pakai semua fasilitas di sini?" Arini membalas dengan nada yang mulai meninggi.
"Arin! Kamu ini kenapa sih jadi jahat banget? Mana Arini yang dulu sabar dan pengertian?" Adrian membentak, suaranya menggema kasar di seluruh penjuru ruang tamu. "Gara-gara kecelakaan kecil itu kamu jadi makin egois dan kekanak-kanakan! Kamu harusnya bersyukur Dewi nggak nuntut apa-apa padahal aku sering tinggalin dia buat kamu!"
"Tinggalin dia buat aku?" Arini tertawa sumbang. "Tiga hari kemarin kamu di mana, Mas Adrian? Di mana kamu pas aku nahan sakit di rumah sakit sendirian? Di mana kamu pas an—"
Arini tiba-tiba berhenti. Suaranya tercekat. Ia hampir saja meneriakkan tentang kematian bayi mereka, tapi ia menahannya. Ia tidak ingin Adrian memberikan simpati palsu sekarang. Ia ingin pria itu tetap menjadi iblis di matanya agar langkah pembalasannya nanti menjadi lebih mudah.
"Apa? Jangan mulai pakai alasan yang nggak jelas cuma buat cari perhatian!" Adrian memotong dengan sangat kasar. "Dengar ya, kalau kamu nggak bisa bersikap baik sama tamu di rumah ini, lebih baik kamu nggak usah pulang sekalian. Aku capek sama drama nggak bermutu kamu!"
"Mas ... udah Mas ... jangan berantem gara-gara aku ...," Dewi tiba-tiba bersuara, mencoba melerai dengan gaya malaikat yang memuakkan. "Arini bener kok, aku seharusnya nggak di sini. Aku pulang aja ke apartemen ... biarpun nanti aku pingsan lagi nggak ada yang tahu."
"Nggak, Wi! Kamu tetap di sini!" tegas Adrian. Ia kemudian menunjuk wajah Arini dengan jari telunjuknya. "Kamu, Arin, pergi sana ke kantor. Dinginin otak kamu yang penuh prasangka buruk itu. Aku mau antar Dewi ke kamar tamu."
Arini hanya menatap mereka dengan tatapan kosong, membiarkan kebencian itu mengakar semakin dalam di hatinya. Ia berbalik dan melangkah keluar rumah dengan kepala tegak, menyongsong badai yang telah ia siapkan sendiri.
Ada jeda sejenak. Arini menahan napas."Ganti nama sertifikat itu nggak gampang, Wi. Harus ada persetujuan Arini kalau ini dianggap harta bersama," jelas Adrian."Kan, kamu bisa bikin alasan lain, Mas. Bilang aja buat jaminan pinjaman bank buat bisnis kamu yang baru. Arini pasti nurut kalau kamu yang minta. Dia ‘kan gampang dibohongi. Pokoknya demi keamanan aset kita, Mas. Aku nggak mau kita kehilangan rumah ini gara-gara emosi dia yang nggak jelas," desak Dewi lagi.Adrian terdengar menghela napas panjang. "Nanti aku pikirkan caranya, ya. Emang ada benernya sih, buat jaga-jaga kalau dia makin gila gara-gara kecelakaan kemarin."Kecelakaan kemarin.Hati Arini terasa seperti disayat sembilu saat mendengar suaminya menyebut kecelakaan yang menimpanya sebagai alasan ia menjadi gila. Tidak ada empati atau kekhawatiran dalam suara Adrian, hanya ada rasa terganggu.Arini melepas earpiecenya. Napasnya memburu. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh juga, namun bukan karena sedih, m
Arini melangkah keluar dari gedung perkantoran mewah itu dengan kepala tegak, meski hatinya terasa seperti baru saja dihantam badai. Ia menggenggam tas tangannya dengan sangat erat, seolah-olah seluruh sisa kekuatannya tertumpu di sana.Di sampingnya, Maya berjalan dengan langkah cepat, mencoba menyamai ritme Arini yang tampak begitu terburu-buru.Udara Jakarta yang panas terasa menyesakkan, namun Arini tidak peduli. Pikirannya masih tertinggal di ruangan Alvaro, pada tatapan pria itu yang menjanjikan perlindungan dan pada sebuah kotak kecil berisi "senjata" yang kini tersembunyi di dalam tasnya."Rin, kamu beneran kuat ‘kan balik ke sana?" tanya Maya saat mereka sudah berada di dalam mobil. Suaranya penuh kekhawatiran yang tulus. "Aku bisa temani kamu kalau kamu ngerasa nggak sanggup ngeliat mukanya pelakor itu."Arini menarik napas panjang, mencoba menenangkan gemuruh di dadanya. "Aku nggak apa-apa, May. Justru aku harus balik sekarang. Kalau aku terlalu lama di luar, Adrian bakal c
Arini mematung menatap punggung Adrian yang sigap membimbing Dewi menaiki tangga. Suaminya itu tak menoleh lagi, apalagi peduli bagaimana istrinya bisa pulang sendiri setelah tiga hari menghilang.Sambil mencengkeram tasnya kuat-kuat hingga buku jarinya memutih, Arini memantapkan tekad. Adrian baru saja memasukkan ular berbisa ke rumah mereka, tanpa sadar bahwa ular itulah yang kelak akan menghancurkannya.Arini berbalik dan melangkah keluar dengan kepala tegak. Di luar, Maya sudah menunggu di mobil dengan raut cemas. Begitu Arini masuk, Maya langsung menghujani dengan pertanyaan."Gimana, Rin? Kamu nggak apa-apa?" Maya menatap Arini lekat-lekat, menyadari mata sahabatnya itu merah karena menahan amarah yang luar biasa."Dia bawa Dewi ke rumah, May. Dia mau mereka tinggal satu atap sama aku," jawab Arini pelan. Suaranya bergetar hebat karena emosi yang tertahan di kerongkongan."Gila! Adrian bener-bener sudah nggak punya otak!" Maya memukul setir mobil dengan keras. "Terus kamu diem a
Pukul sembilan pagi. Arini berdiri di depan cermin besar di dalam kamarnya, mematut diri dengan saksama. Ia memilih setelan blazer berwarna biru dongker yang memberikan kesan tegas dan profesional.Dengan jemari yang sedikit bergetar, ia memoles wajah pucatnya menggunakan riasan yang sedikit lebih tebal, sebuah topeng untuk menyembunyikan gurat duka dan kelelahan yang masih membekas jelas di matanya.Tubuh Arini sebenarnya masih terasa sangat nyeri. Setiap gerakan kecil yang ia buat rasanya seperti ditarik paksa oleh ribuan jarum tak kasatmata.Namun, amarah yang membara di dadanya bertindak sebagai obat bius yang jauh lebih kuat daripada morfin mana pun. Amarah itu adalah satu-satunya hal yang membuatnya mampu berdiri tegak hari ini.Ia baru saja hendak menyambar tas tangan di atas ranjang ketika suara deru mobil yang sangat ia kenali terdengar memasuki carport. Jantung Arini berdegup kencang. Bukan karena rindu yang membuncah, melainkan karena rasa jijik yang meluap hingga ke tenggo
Tiga hari Arini berada di ruangan serba putih yang kini ia benci. Aroma antiseptik seolah meresap ke pori-porinya, mengunci memori tentang detik-detik paling kelam.Di sana, ia belajar satu pelajaran pahit, berhenti mengharapkan getar ponsel atau derap langkah kaki Adrian di lorong rumah sakit. Keheningan suaminya adalah jawaban paling jujur atas pernikahan mereka yang telah karam.Arini turun dari taksi dengan tubuh ringkih. Jahitan di perutnya berdenyut tajam, mengingatkan bahwa harapannya telah luruh bersama darah di atas aspal.Ia menolak bantuan medis apa pun, ia ingin masuk ke rumahnya sendiri dengan sisa kekuatan yang ada, demi melihat sejauh mana kehancuran ini akan membawanya. Ia butuh menyadari bahwa tempat yang dulu ia anggap aman kini hanyalah monumen kepalsuan.Rumah mewah itu berdiri kokoh, namun pagar hitamnya terbuka dengan iringan tatapan iba dari satpam komplek. Wajah Arini yang sepucat mayat dan matanya yang kosong sudah cukup menceritakan tragedi tanpa perlu kata-k
Hujan tumpah dari langit Jakarta seperti air bah yang murka saat Arini menghidupkan mesin mobilnya. Pandangannya kabur, bukan hanya karena rintik air yang menghantam kaca depan dengan brutal, tetapi karena air mata yang terus mengalir deras, membakar pipinya yang pucat.Arini mengemudi dengan sisa tenaga yang hancur, sebuah raga yang dipaksa tegak oleh rasa sakit batin yang tak terperi. Tangan kanannya mencengkeram kemudi dengan kaku, sementara tangan kirinya meremas amplop USG itu di dada, mencoba melindungi satu-satunya harapan yang tersisa dari dunia yang seolah sedang berkonspirasi untuk menghancurkannya."Kenapa, Mas? Kenapa harus dia lagi?" teriak Arini di dalam kabin mobil yang kedap suara. Suaranya pecah, berharap semesta mendengar betapa hancurnya ia malam ini.Amarah itu benar-benar menutup logikanya. Arini memacu mobil menembus kegelapan hujan, hanya fokus pada jalanan di depan yang tampak buram.Ia terlalu hancur untuk menyadari bahwa sejak ia keluar dari parkiran restoran







