ホーム / Rumah Tangga / WANITA LAIN DI RUMAHKU / 4. TAMU YANG TAK DIUNDANG

共有

4. TAMU YANG TAK DIUNDANG

作者: vitafajar
last update 最終更新日: 2026-01-18 13:40:22

Pukul sembilan pagi. Arini berdiri di depan cermin besar di dalam kamarnya, mematut diri dengan saksama. Ia memilih setelan blazer berwarna biru dongker yang memberikan kesan tegas dan profesional.

Dengan jemari yang sedikit bergetar, ia memoles wajah pucatnya menggunakan riasan yang sedikit lebih tebal, sebuah topeng untuk menyembunyikan gurat duka dan kelelahan yang masih membekas jelas di matanya.

Tubuh Arini sebenarnya masih terasa sangat nyeri. Setiap gerakan kecil yang ia buat rasanya seperti ditarik paksa oleh ribuan jarum tak kasatmata.

Namun, amarah yang membara di dadanya bertindak sebagai obat bius yang jauh lebih kuat daripada morfin mana pun. Amarah itu adalah satu-satunya hal yang membuatnya mampu berdiri tegak hari ini.

Ia baru saja hendak menyambar tas tangan di atas ranjang ketika suara deru mobil yang sangat ia kenali terdengar memasuki carport. Jantung Arini berdegup kencang. Bukan karena rindu yang membuncah, melainkan karena rasa jijik yang meluap hingga ke tenggorokan.

Arini melangkah turun ke lantai bawah tepat saat pintu depan terbuka. Sosok tinggi Adrian muncul di ambang pintu. Wajah suaminya itu tampak segar, kontras sekali dengan kondisi Arini yang nyaris kehilangan nyawa. Namun, pemandangan di samping Adrian-lah yang membuat darah Arini seolah berhenti mengalir.

Adrian tidak datang sendiri. Ia sedang merangkul bahu Dewi yang tampak sangat ringkih. Wanita itu terbalut jaket tebal dan syal, wajahnya dipucat-pucatkan dengan bibir yang sedikit bergetar. Adrian menggandengnya dengan penuh proteksi, seolah-olah wanita itu adalah porselen retak yang akan hancur jika tersentuh angin sedikit saja.

"Arin?" Adrian menghentikan langkahnya di tengah ruang tamu. Ia menatap istrinya dari ujung kepala sampai kaki dengan dahi berkerut. "Kamu ... mau ke mana? Kok, rapi banget pagi-pagi gini?"

Arini berhenti di anak tangga terakhir. Telapak tangannya mencengkeram pegangan tangga erat-erat hingga buku jarinya memutih.

"Aku mau ke mana?" Arini mengulang pertanyaan itu dengan tawa hambar. "Harusnya aku yang tanya, kamu dari mana aja, Mas? Tiga hari kamu nggak pulang, nggak ada kabar, ponsel juga nggak bisa dihubungi. Kamu tahu nggak kalau aku nungguin kamu?"

Adrian mendesah panjang, menunjukkan ekspresi bosan, ekspresi yang biasa ia gunakan saat menganggap Arini hanya sedang mencari masalah. "Rin, tolonglah jangan mulai lagi. Aku bener-bener capek. Dewi pingsan berkali-kali kemarin lusa, aku harus fokus urus dia. Ponsel aku mati karena lowbat dan nggak sempat charge. Lagian, kamu 'kan di rumah, aman, ada Mbak Sumi. Apa sih yang harus dikhawatirin?"

Arini menatap suaminya tajam. Pria ini benar-benar tidak tahu. Ia tidak tahu malam itu Arini mengejarnya menembus badai. Ia tidak tahu mobil istrinya dihantam hingga hancur. Ia bahkan tidak tahu bahwa saat ia sedang sibuk menyuapi Dewi, Arini sedang meregang nyawa di meja operasi.

Arini menyadari satu hal, Dewi pasti telah merencanakan ini semua, mematikan ponsel Adrian dan memastikan tidak ada satu pun berita dari luar yang sampai ke telinga suaminya.

"Kamu mau ke mana? Kayak mau pergi jauh?" tanya Adrian lagi, mencoba mengalihkan pembicaraan sambil terus menahan bobot tubuh Dewi di lengannya.

"Aku mau ke kantor. Ada urusan kerjaan yang tertunda," jawab Arini berbohong.

Di dalam hati, Arini merutuki kebodohannya selama ini. Ia terlalu percaya pada Adrian. Ia tidak pernah mengumpulkan bukti perselingkuhan, tidak pernah menyadap ponsel, bahkan tidak memiliki satu pun foto kebersamaan mereka. Ia telah buta karena cinta, dan sekarang ia harus membayar mahal kebutaan itu. Arini butuh pengacara. Ia butuh bantuan untuk mengambil langkah hukum dari nol.

Adrian mengangguk santai, seolah tidak ada beban dosa di pundaknya. "Oh, baguslah kalau udah bisa kerja. Berarti kamu udah sehat."

Lalu, Adrian berdeham sejenak. Ia melirik Dewi yang menyandarkan kepala di bahunya dengan mata terpejam manja. "Rin, mumpung kamu ada di sini, aku mau bilang. Dewi bakal tinggal di sini untuk sementara waktu. Sakitnya nggak sembuh-sembuh, katanya flunya malah komplikasi ke lambung. Kalau dia di apartemen sendirian, nggak ada yang jaga. Di sini ada Mbak Sumi yang bisa bantu masakin bubur, dan kamu juga ada di sini."

Arini mematung. Rasanya seperti ada petir yang menyambar tepat di atas kepalanya. "Tinggal di sini? Di rumah kita?"

"Iya," jawab Adrian tanpa rasa berdosa. "Ini juga buat kebaikan kamu, Rin. Biar kamu nggak perlu telepon-telepon aku lagi, terus nanya aku di mana. Kalau Dewi di sini, aku otomatis di rumah terus buat jaga dia. Kamu jadi nggak perlu cemburu buta lagi, kan?"

Arini melirik ke arah Dewi. Saat itu, tepat ketika Adrian sedang sibuk membetulkan posisi tas Dewi, wanita itu membuka matanya sedikit. Ia menatap Arini dengan tatapan dingin, lalu sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis, sebuah senyuman kemenangan yang sangat singkat sebelum ia kembali berakting lemas dan merintih.

"Mas ... pusing ... mau duduk ...," rintih Dewi lirih.

"Iya, Wi, sebentar ya," sahut Adrian lembut. Ia lalu kembali menatap Arini dengan tatapan menuntut. "Gimana? Kamu nggak keberatan, kan? Sebagai sesama perempuan harusnya kamu punya empati sedikit."

Arini menarik napas panjang, menahan diri sekuat tenaga agar tidak meledak sekarang juga. Belum saatnya. "Hmm," jawab Arini singkat sambil menatap Dewi dengan pandangan sinis.

Suara "hmm" singkat itu rupanya cukup untuk memicu amarah Adrian. Ia melepaskan pegangannya pada Dewi sejenak dan melangkah mendekati Arini.

"Apa maksudnya 'hmm' itu? Bisa nggak sih kamu punya sedikit sopan santun? Dewi itu lagi sakit parah, Arin! Dia bahkan tadi sempat-sempatnya bilang ngerasa nggak enak sama kamu, tapi kamu malah kasih tatapan sinis gitu?"

"Oh, dia ngerasa nggak enak? Tapi dia tetap mau masuk ke rumah ini dan pakai semua fasilitas di sini?" Arini membalas dengan nada yang mulai meninggi.

"Arin! Kamu ini kenapa sih jadi jahat banget? Mana Arini yang dulu sabar dan pengertian?" Adrian membentak, suaranya menggema kasar di seluruh penjuru ruang tamu. "Gara-gara kecelakaan kecil itu kamu jadi makin egois dan kekanak-kanakan! Kamu harusnya bersyukur Dewi nggak nuntut apa-apa padahal aku sering tinggalin dia buat kamu!"

"Tinggalin dia buat aku?" Arini tertawa sumbang. "Tiga hari kemarin kamu di mana, Mas Adrian? Di mana kamu pas aku nahan sakit di rumah sakit sendirian? Di mana kamu pas an—"

Arini tiba-tiba berhenti. Suaranya tercekat. Ia hampir saja meneriakkan tentang kematian bayi mereka, tapi ia menahannya. Ia tidak ingin Adrian memberikan simpati palsu sekarang. Ia ingin pria itu tetap menjadi iblis di matanya agar langkah pembalasannya nanti menjadi lebih mudah.

"Apa? Jangan mulai pakai alasan yang nggak jelas cuma buat cari perhatian!" Adrian memotong dengan sangat kasar. "Dengar ya, kalau kamu nggak bisa bersikap baik sama tamu di rumah ini, lebih baik kamu nggak usah pulang sekalian. Aku capek sama drama nggak bermutu kamu!"

"Mas ... udah Mas ... jangan berantem gara-gara aku ...," Dewi tiba-tiba bersuara, mencoba melerai dengan gaya malaikat yang memuakkan. "Arini bener kok, aku seharusnya nggak di sini. Aku pulang aja ke apartemen ... biarpun nanti aku pingsan lagi nggak ada yang tahu."

"Nggak, Wi! Kamu tetap di sini!" tegas Adrian. Ia kemudian menunjuk wajah Arini dengan jari telunjuknya. "Kamu, Arin, pergi sana ke kantor. Dinginin otak kamu yang penuh prasangka buruk itu. Aku mau antar Dewi ke kamar tamu."

Arini hanya menatap mereka dengan tatapan kosong, membiarkan kebencian itu mengakar semakin dalam di hatinya. Ia berbalik dan melangkah keluar rumah dengan kepala tegak, menyongsong badai yang telah ia siapkan sendiri.

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
コメント (1)
goodnovel comment avatar
Rania Humaira
mampuslah kau arini. kau terlalu banyak drama, terlalu banyak bacot dan menye2. pantas kau gampang dipermainkan si dewi.
すべてのコメントを表示

最新チャプター

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   133. MAKAN MALAM ROMANTIS

    Arini segera menarik napas panjang guna menenangkan degup jantungnya, lalu melangkah perlahan menuju pintu dan membukanya dengan gerakan yang anggun. Seketika itu juga, pemandangan di depan pintu apartemen mendadak membeku saat sosok Arini muncul dengan segala kemewahan yang ia pancarkan.Alvaro berdiri kaku dengan mulut yang sedikit terbuka, matanya tidak berkedip sedikit pun saat menyapu penampilan Arini dari ujung kepala hingga ujung kaki. Pria yang biasanya sangat fasih bicara di depan hakim itu mendadak kehilangan seluruh kosakatanya, seolah lidahnya kelu karena pesona yang tidak terduga ini."Kak? Kenapa diam aja? Ada yang salah ya sama dandananku? Apa gaunnya nggak cocok?" tanya Arini sembari memiringkan kepalanya karena bingung melihat reaksi Alvaro.Alvaro berdeham berkali-kali guna menetralkan kegugupan yang mendadak menyerang sistem sarafnya dengan sangat hebat. Ia mengerjapkan matanya, mencoba kembali ke dunia nyata setelah sempat tersesat dalam kecantikan wanita yang kini

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   132. PERAYAAN KECIL

    "Aku ke sini bukan buat jenguk kamu kayak yang kamu bayangin, Mas. Aku cuma mau kasih 'hadiah' terakhir dariku," ujar Arini dengan nada datar.Adrian segera meraih map tersebut dan membukanya dengan tangan gemetar karena rasa takut yang masih tersisa di dalam benaknya. Matanya menyapu deretan kalimat di dalam draf tersebut hingga wajahnya berubah menjadi pucat pasi saat menyadari arti dari dokumen yang ia pegang."Rin, tolong jangan lakuin ini. Ini satu-satunya sisa hartaku buat bertahan hidup nanti pas keluar ... kenapa kamu sekejam ini sama aku?" rintih Adrian sembari menangis deras.Arini mendekatkan wajahnya ke arah kaca sembari menatap tepat ke dalam manik mata Adrian yang kini dipenuhi oleh keputusasaan yang sangat dalam. Ia merasakan luka lamanya berdenyut kembali, namun kali ini ia menjadikannya sebagai bahan bakar untuk memberikan pembalasan yang setimpal."Kejam? Kamu bicara soal kekejaman setelah apa yang kamu sama ibumu lakuin ke aku selama bertahun-tahun, dan perselingkuh

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   131. HADIAH TERAKHIR

    Sinar matahari pagi yang hangat menerobos masuk melalui jendela apartemen dan menyinari meja makan tempat Arini serta Alvaro sedang menikmati kopi mereka. Suasana yang tadinya tenang mendadak berubah sedikit tegang saat Arini meletakkan cangkirnya sembari menatap Alvaro dengan binar mata serius."Kak, hari ini aku mau pergi sebentar. Aku mau nemuin Mas Adrian di Lapas," ucap Arini dengan nada suara yang diusahakan terdengar kasual.Seketika itu juga, Alvaro yang sedang menyesap kopinya tersedak pelan hingga matanya membelalak lebar seolah Arini baru saja mengabarkan berita kiamat. Ia meletakkan cangkirnya dengan sedikit kasar ke atas meja, lalu melipat tangan di dada dengan bibir yang mendadak maju beberapa sentimeter."Mau apa lagi ketemu dia? Kan, semuanya udah selesai, Rin. Nggak ada alasan lagi buat kamu deket-deket sama orang itu!" cetus Alvaro dengan nada suara ketus.Arini mengerutkan kening sembari menahan senyum saat melihat ekspresi pengacara hebat di depannya yang kini just

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   130. PENYESALAN YANG TERLAMBAT

    "Laporannya sudah masuk, Pak. Pihak kepolisian sudah di lokasi buat pastiin semua aset keluar dari daftar kepemilikan Adrian Baskoro sore ini juga," ucap sekretaris itu sembari menyerahkan draf laporan final.Arini hanya mengangguk pelan menanggapi kabar tersebut tanpa ada keinginan sedikit pun untuk datang langsung ke lokasi penyitaan. Ia tidak lagi tertarik untuk melihat bagaimana rumah penuh kenangan buruk itu dikosongkan karena baginya tempat tersebut sudah mati sejak lama.Sama halnya dengan penyelesaian tugasnya, sekretaris itu kemudian merapikan berkas-berkas di tangannya dan memberikan senyum sopan ke arah Arini serta Alvaro. Ia menyadari bahwa suasana di ruangan itu sangat intim dan tenang sehingga ia tidak ingin berlama-lama mengganggu momen tersebut."Kalau begitu, saya permisi dulu, Pak, Bu. Saya bakal koordinasikan sisa administrasi di meja depan biar Bapak sama Ibu nggak terganggu lagi," pamit sekretaris itu dengan santun.Tanpa menunggu balasan panjang, ia segera melang

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   129. BUANG SAMPAH DAPAT BERLIAN

    Sama halnya dengan ketakutan yang kian memuncak, Adrian hanya bisa menggeleng lemah dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Seluruh keangkuhannya sebagai bos besar seolah menguap tak bersisa dan digantikan oleh rasa ngeri yang sangat mendalam di relung hatinya.Ia menyadari bahwa di dunia barunya ini, uang triliunan serta nama besar Baskoro hanyalah sampah yang tidak akan bisa melindunginya. Tidak ada lagi asisten pribadi atau pengacara mahal yang bisa menghentikan kepalan tinju penghuni sel lainnya yang mulai merasa terganggu."Maaf ... saya ... saya janji bakal diam. Tolong jangan sakiti saya," bisik Adrian dengan suara yang nyaris hilang akibat rasa takut yang mencekik tenggorokannya.Napi di depannya hanya mendengus kasar sebelum mendorong tubuh Adrian kembali ke dipan semen yang dingin dengan sangat tidak berperasaan. Adrian jatuh terduduk sembari memeluk lututnya sendiri, meratapi nasibnya yang kini berada di titik terendah dalam sejarah hidupnya."Satu suara lagi keluar dari mulut

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   128. NASIB AKHIR ADRIAN & LASTRI

    Dinding ruang sidang yang kokoh seolah menjadi saksi bisu atas runtuhnya sebuah dinasti keangkuhan yang selama bertahun-tahun menindas harga diri seorang wanita. Adrian duduk di kursi terdakwa dengan bahu meluruh sembari menatap lantai marmer dengan tatapan kosong.Keringat dingin mulai membasahi dahi serta telapak tangannya saat menyadari bahwa ruang geraknya kini telah benar-benar terkunci oleh hukum. Di sampingnya, Lastri duduk dengan tubuh yang gemetar hebat sembari mencengkeram erat tepi meja guna mencari pegangan.Tidak ada lagi sisa keanggunan seorang sosialita yang biasanya ia pamerkan di depan kamera maupun di hadapan kolega elitnya. Yang tersisa hanyalah seorang wanita tua yang ketakutan menghadapi kenyataan pahit bahwa kekuasaan uangnya tidak lagi berlaku di sini."Berdasarkan bukti-bukti yang sah dan meyakinkan, terdakwa Adrian Baskoro terbukti secara hukum telah melakukan penelantaran istri dan penggelapan aset perusahaan secara sistematis," suara hakim ketua menggema.Ka

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status