Beranda / Rumah Tangga / WANITA LAIN DI RUMAHKU / 87. HAUS DENGAN KEKAYAAN

Share

87. HAUS DENGAN KEKAYAAN

Penulis: vitafajar
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-28 16:39:13

Sambil menunjuk ke arah layar televisi besar yang menampilkan cuplikan berita mengenai kasus mediasi Arini, pria itu kembali melontarkan kalimat yang menyudutkan. "Seluruh rekan bisnis kita mulai bertanya-tanya, kenapa putra keluarga Wijaya sampai harus turun tangan mengurusi drama perceraian murahan yang penuh skandal seperti itu!"

Alvaro tetap berdiri diam, ia menatap ayahnya dengan pandangan dingin yang nggak menunjukkan sedikit pun rasa gentar atau penyesalan. "Itu urusan profesional saya s
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   92. INTIMIDASI DI BALIK MEJA

    Melihat ketegangan yang kian meruncing di ruang tamu apartemen itu, Arini segera menengahi. Ia menarik napas dalam, mencoba mengesampingkan perih di hatinya demi fokus pada prioritas yang jauh lebih mendesak."Sekarang bukan waktunya mikirin siapa yang salah atau siapa yang paling terluka, Kak. Lebih baik kita urusi masalah ini satu per satu, mulai dari apa yang sudah disiapkan Lastri dan Adrian," ucap Arini tenang namun tegas.Arini kemudian beranjak ke meja makan, mengambil beberapa lembar dokumen hasil catatannya selama menyendiri tadi. "Aku rasa aku sudah ketemu cara buat buktiin kalau semua tuduhan mereka itu nggak benar, terutama soal fitnah di parkiran pengadilan," lanjutnya.Mendengar itu, Alvaro langsung menegakkan posisi duduk. Binar ketertarikan kembali muncul di matanya. Ia mengangguk setuju, ketajaman logika Arini memang selalu jadi penyelamat di saat kritis seperti ini."Kamu benar, Rin. Kita nggak boleh biarin drama keluarga ini malah bikin fokus kita terpecah dari inti

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   91. KEHANGATAN DI TENGAH BADAI

    Sama halnya dengan Arini, Maya pun langsung mematung dan menoleh ke arah sumber suara dengan waspada. Ia segera mematikan kompor, lalu melangkah menuju pintu utama dengan gerakan hati-hati tanpa suara.Melalui layer interkom, Maya melihat untuk memastikan siapa sosok yang berdiri gelisah di luar sana. Di balik layar itu, tampak Alvaro yang terlihat sangat berbeda dari citra pengacara tangguh yang biasa ia temui di firma hukum.Pria itu berdiri dengan wajah pucat pasi. Rambut hitamnya yang biasa tertata rapi kini berantakan, seolah baru saja dihantam badai. Tanpa menunggu lama, Maya segera memutar kunci ganda dan membuka pintu sedikit, membiarkan Alvaro masuk dengan cepat sebelum ada orang lain yang melihatnya di koridor.Begitu melangkah ke dalam, Alvaro tampak hampir ambruk. Kelelahan fisik dan mental dari kediaman Wijaya benar-benar menggerogotinya. Ia bersandar pada dinding koridor, mencoba mengatur napasnya yang menderu pendek sembari memejamkan mata untuk meredakan denyut di kepa

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   90. BADAI SEMAKIN KENCANG

    "Ibu kasih dia uang? Tanpa seizinku, Ibu berani menemui klienku dan melakukan tindakan rendah seperti itu?" tanya Alvaro dengan nada suara yang sangat rendah namun penuh dengan ancaman yang mematikan.Sofia justru mendengus meremehkan, seolah tindakannya tersebut adalah hal yang sangat wajar dilakukan demi menjaga kemurnian silsilah keluarga Wijaya. "Dia memang menolak uang itu, sok naif dengan mengatakan harga dirinya nggak bisa dibeli, padahal Ibu tahu dia cuma mau mengincar kekayaan yang lebih besar darimu!"Seketika, kemarahan Alvaro memuncak hingga ia harus mengepalkan tangannya kuat-kuat agar tidak melakukan tindakan impulsif di depan ibunya sendiri. Pantas saja ia merasakan ada sesuatu yang disembunyikan oleh Arini saat ia bertanya mengenai kondisinya, ternyata wanita itu baru saja menerima hinaan yang sangat keji dari keluarganya sendiri."Arini bukan wanita seperti itu, dan Ibu sudah keterlaluan karena sudah menginjak-injak martabatnya di saat dia sedang berada di titik teren

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   89. PENGAKUAN SOFIA

    Kata 'anak haram' itu menghantam mental Alvaro jauh lebih menyakitkan daripada tamparan fisik yang ia terima sebelumnya. Ia merasa dunianya runtuh seketika, menyadari bahwa di mata pria yang ia hormati, keberadaannya hanyalah sebuah aib yang nggak seharusnya mendapatkan prestasi."Ibumu itu cuma wanita beruntung yang aku nikahi karena keadaan, jadi jangan pernah bermimpi kamu bisa sejajar dengan Aditya!" hina ayahnya lagi tepat di depan wajah Alvaro yang kini sudah basah oleh air mata.Alvaro melepaskan cengkeraman tangan ayahnya dengan gerakan yang penuh keputusasaan, ia mundur beberapa langkah sembari menatap sang ayah dengan pandangan yang sudah nggak lagi sama. Di hari kelulusannya itu, Alvaro bersumpah dalam hati bahwa ia tidak akan pernah menyentuh satu rupiah pun harta dari keluarga yang menganggapnya sebagai kotoran.Memori kelam itu memudar, namun rasa sesak di dadanya tetap tinggal, mengingatkan Alvaro mengapa ia begitu keras kepala membangun dunianya sendiri tanpa nama besa

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   88. MEMORI KELAM

    Alvaro tertawa kecil, sebuah tawa getir yang tidak sampai ke mata, seolah pertanyaan kakaknya itu adalah sebuah lelucon lama yang sudah tidak lagi lucu. "Aku lebih suka kehidupanku yang sekarang, Kak. Bangun pagi tanpa harus memikirkan laporan tahunan yang harus disetujui kakek adalah sebuah kemewahan bagiku."Bagi Alvaro, kebebasan yang ia miliki saat ini adalah segalanya, jauh melampaui kenyamanan semu yang ditawarkan oleh kursi empuk di gedung pencakar langit Wijaya. Ia merasa bebas menentukan langkahnya sendiri tanpa perlu merasa terbebani oleh tekanan citra keluarga yang sering kali terasa sangat munafik."Kamu punya potensi yang sangat besar di bidang bisnis, Al. Aku tahu firma hukummu itu cuma puncak gunung es dari apa yang sebenarnya kamu kerjakan di luar sana," lanjut Aditya dengan nada memuji.Mendengar pujian yang terselubung itu, Alvaro hanya mengedikkan bahu dengan acuh tak acuh, tidak berniat sedikit pun membongkar kerajaan bisnis rahasianya. "Wijaya Grup sudah punya kam

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   87. HAUS DENGAN KEKAYAAN

    Sambil menunjuk ke arah layar televisi besar yang menampilkan cuplikan berita mengenai kasus mediasi Arini, pria itu kembali melontarkan kalimat yang menyudutkan. "Seluruh rekan bisnis kita mulai bertanya-tanya, kenapa putra keluarga Wijaya sampai harus turun tangan mengurusi drama perceraian murahan yang penuh skandal seperti itu!"Alvaro tetap berdiri diam, ia menatap ayahnya dengan pandangan dingin yang nggak menunjukkan sedikit pun rasa gentar atau penyesalan. "Itu urusan profesional saya sebagai pengacara, Yah. Nggak ada hubungannya dengan status keluarga atau apa pun yang Ayah khawatirkan."Mendengar pembelaan diri putranya, sang Kakek yang sejak tadi diam akhirnya memutar kursinya dan menatap Alvaro dengan pandangan yang sangat menusuk."Profesionalisme itu ada batasnya, Alvaro. Saat nama keluarga mulai terseret ke dalam lumpur yang sama dengan klienmu, maka itu adalah kegagalan," ucap sang Kakek dengan nada berwibawa.Sama halnya dengan ayahnya, sang kakek juga menganggap bahw

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status