Home / Rumah Tangga / WANITA LAIN DI RUMAHKU / 95. BUKTI PERSELINGKUHAN

Share

95. BUKTI PERSELINGKUHAN

Author: vitafajar
last update Last Updated: 2026-03-02 12:13:13

Arini mengangguk pelan. Ia merasa kekuatannya kembali penuh hanya dengan berdiri di samping pria yang rela kehilangan segalanya demi dirinya. "Aku siap, Kak. Apa pun yang terjadi di dalam sana, aku nggak akan mundur lagi."

Sama halnya dengan Arini, Alvaro pun langsung memimpin langkah menuju ruang sidang utama untuk memulai agenda mediasi perceraian yang telah lama dinantikan. Ia menempatkan diri sedikit di depan Arini, secara fisik menjadi tameng yang memisahkan wanita itu dari sisa-sisa tatap
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   96. FITNAH DI DEPAN HAKIM

    Begitu tombol putar ditekan, suara yang muncul dari sana seketika membekukan atmosfer, membuat napas semua orang di ruangan itu tertahan. “Mas ... Mas Adrian, tolong!” suara Arini di rekaman itu terdengar sangat panik dan penuh isak tangis. “Aku kecelakaan, Mas! Ada mobil yang menabrakku dan aku keluar jalur ... tolong aku, Mas. Kepalaku pusing sekali, aku nggak bisa buka pintunya!”Keheningan sesaat terjadi di seberang telepon, sebelum suara Adrian terdengar, sangat jernih namun begitu dingin dan penuh rasa terganggu. “Arini! Berhenti bersandiwara! Aku tahu kamu cuma mau ganggu waktu pribadiku, kan?”“Nggak, Mas! Aku beneran kecelakaan di jalan tol arah rumah kita ... mobilnya kabur ... Mas, perutku sakit sekali ... tolong ...” rintih Arini di dalam rekaman tersebut, suaranya semakin mengecil karena menahan rasa sakit yang luar biasa.Tiba-tiba, suara manja Dewi terdengar di latar belakang telepon Adrian. “Mas, siapa itu? Aku pusing banget, Mas. Nggak bisa tidur kalau denger suara.”

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   95. BUKTI PERSELINGKUHAN

    Arini mengangguk pelan. Ia merasa kekuatannya kembali penuh hanya dengan berdiri di samping pria yang rela kehilangan segalanya demi dirinya. "Aku siap, Kak. Apa pun yang terjadi di dalam sana, aku nggak akan mundur lagi."Sama halnya dengan Arini, Alvaro pun langsung memimpin langkah menuju ruang sidang utama untuk memulai agenda mediasi perceraian yang telah lama dinantikan. Ia menempatkan diri sedikit di depan Arini, secara fisik menjadi tameng yang memisahkan wanita itu dari sisa-sisa tatapan penasaran orang-orang di koridor.Begitu pintu ganda dibuka oleh petugas, hawa dingin dari AC langsung menyapu wajah mereka, kontras dengan suasana panas di luar tadi. Di dalam ruangan yang didominasi unsur kayu tersebut, suasana mendadak sunyi, hanya menyisakan gema langkah kaki mereka yang beradu dengan lantai granit.Arini menarik napas panjang, mencoba menenangkan debaran jantung saat melihat Adrian sudah duduk di kursi pemohon dengan wajah kaku. Di kursi penonton, Lastri duduk dengan gay

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   94. PEMEGANG KEBENARAN

    Keheningan yang dingin seketika menyelimuti kamar itu setelah sambungan telepon dengan Alvaro terputus. Arini masih terduduk termenung di depan cermin meja rias, menatap dalam-dalam bayangannya sendiri yang tampak tegar namun sebenarnya menyimpan badai kekhawatiran yang luar biasa besar.Ujung jemarinya menyentuh permukaan meja rias dengan ragu, sementara pikirannya masih tertancap pada fakta bahwa karier cemerlang Alvaro kini sedang dipertaruhkan cuma demi membelanya. Rasa bersalah itu merayap seperti kabut tebal, membuat napasnya terasa sedikit berat di tengah persiapan mentalnya menghadapi sidang mediasi yang sudah di depan mata.Suara ketukan pintu yang ritmis tiba-tiba membuyarkan lamunan Arini yang cukup dalam. Sosok Maya muncul dari balik pintu dengan tas kerja yang sudah tersampir di bahu, menatap Arini dengan raut wajah yang campur aduk antara dukungan tulus dan rasa sesal yang tertahan."Rin, aku benar-benar pengin temani kamu sampai ke dalam ruang sidang, tapi ada berkas da

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   93. EFEK BOIKOT

    Dering telepon kabel di atas meja jati itu memecah keheningan ruang kerja Alvaro yang kini terasa jauh lebih luas dari biasanya. Dengan gerakan tenang, ia meraih gagang telepon, seolah sudah memprediksi gelombang serangan berikutnya yang akan datang menghantam."Selamat pagi, Pak Alvaro. Saya mewakili jajaran direksi PT Global Investama ingin menyampaikan permohonan pembatalan kontrak kerja sama hukum kita per hari ini," ucap suara di seberang sana dengan nada penuh keraguan.Sambil menyandarkan punggung ke kursi kebesaran, Alvaro menatap tajam ke arah gedung-gedung pencakar langit Jakarta di balik jendela."Boleh saya tahu alasan spesifik di balik keputusan mendadak ini, Pak Rudi? Mengingat performa tim kami sejauh ini nggak pernah mengecewakan perusahaan Anda."Terdengar helaan napas berat dari lawan bicaranya, sebuah tanda jelas bahwa keputusan ini bukanlah murni keinginan korporasi tersebut."Jujur saja, kami dapat tekanan dari relasi bisnis utama keluarga Anda. Kami nggak punya p

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   92. INTIMIDASI DI BALIK MEJA

    Melihat ketegangan yang kian meruncing di ruang tamu apartemen itu, Arini segera menengahi. Ia menarik napas dalam, mencoba mengesampingkan perih di hatinya demi fokus pada prioritas yang jauh lebih mendesak."Sekarang bukan waktunya mikirin siapa yang salah atau siapa yang paling terluka, Kak. Lebih baik kita urusi masalah ini satu per satu, mulai dari apa yang sudah disiapkan Lastri dan Adrian," ucap Arini tenang namun tegas.Arini kemudian beranjak ke meja makan, mengambil beberapa lembar dokumen hasil catatannya selama menyendiri tadi. "Aku rasa aku sudah ketemu cara buat buktiin kalau semua tuduhan mereka itu nggak benar, terutama soal fitnah di parkiran pengadilan," lanjutnya.Mendengar itu, Alvaro langsung menegakkan posisi duduk. Binar ketertarikan kembali muncul di matanya. Ia mengangguk setuju, ketajaman logika Arini memang selalu jadi penyelamat di saat kritis seperti ini."Kamu benar, Rin. Kita nggak boleh biarin drama keluarga ini malah bikin fokus kita terpecah dari inti

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   91. KEHANGATAN DI TENGAH BADAI

    Sama halnya dengan Arini, Maya pun langsung mematung dan menoleh ke arah sumber suara dengan waspada. Ia segera mematikan kompor, lalu melangkah menuju pintu utama dengan gerakan hati-hati tanpa suara.Melalui layer interkom, Maya melihat untuk memastikan siapa sosok yang berdiri gelisah di luar sana. Di balik layar itu, tampak Alvaro yang terlihat sangat berbeda dari citra pengacara tangguh yang biasa ia temui di firma hukum.Pria itu berdiri dengan wajah pucat pasi. Rambut hitamnya yang biasa tertata rapi kini berantakan, seolah baru saja dihantam badai. Tanpa menunggu lama, Maya segera memutar kunci ganda dan membuka pintu sedikit, membiarkan Alvaro masuk dengan cepat sebelum ada orang lain yang melihatnya di koridor.Begitu melangkah ke dalam, Alvaro tampak hampir ambruk. Kelelahan fisik dan mental dari kediaman Wijaya benar-benar menggerogotinya. Ia bersandar pada dinding koridor, mencoba mengatur napasnya yang menderu pendek sembari memejamkan mata untuk meredakan denyut di kepa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status