LOGINSofia Wijaya mematung di tengah ruangan, wajahnya yang semula sembap karena air mata palsu kini berubah menjadi merah padam karena murka yang mencapai ubun-ubun. Matanya melotot, menatap Arini dengan kebencian yang begitu pekat seolah ingin membakar wanita di depannya itu menjadi abu.Kata-kata Arini yang memintanya keluar bukan hanya sekadar usiran bagi Sofia, itu adalah penghinaan besar terhadap harga diri klan Wijaya yang selama puluhan tahun ia agungkan. Baginya, Arini hanyalah penghalang yang harus segera disingkirkan dari kehidupan putra mahkotanya."Kamu ... kamu bener-bener lancang!" suara Sofia bergetar hebat karena amarah yang meledak. "Dasar janda nggak tahu diri! Kamu pikir siapa kamu bisa bicara kayak gitu padaku di depan putraku sendiri?!"Dalam satu gerakan yang sangat cepat, Sofia mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Ia tidak lagi memedulikan citra ningratnya sebagai nyonya besar keluarga Wijaya. Yang ia inginkan saat ini hanyalah mendaratkan tamparan keras di wajah Ari
Arini masih mematung di sisi sofa, jemarinya mencengkeram ponsel dengan tenaga yang membuat buku-buku jarinya memutih. Matanya tak lepas dari barisan kalimat yang dikirimkan oleh Rudi Wijaya, sebuah pesan yang dirancang sebagai racun untuk melumpuhkan mentalnya di saat titik terlemah.Rudi, pria yang seharusnya menjadi pelindung bagi Alvaro, justru menggunakan luka putranya sendiri sebagai senjata untuk menyudutkan Arini. Kata-kata 'pembawa sial' seolah berdengung di telinga Arini, mencoba mengoyak pertahanan batin yang baru saja ia bangun dengan susah payah.Selama beberapa detik, rasa bersalah itu mencoba merangkak naik. Namun, saat ia melirik ke arah Alvaro yang sedang bersandar lemah dengan bahu terbebat perban, rasa sedih itu mendadak menguap, digantikan oleh kobaran amarah yang murni dan sangat dingin."Ada apa, Rin?" suara Alvaro memecah keheningan. Meski wajahnya masih pucat, tatapannya tetap tajam mengawasi setiap perubahan ekspresi di wajah istrinya.Arini tidak menjawab den
"Arini! Kamu nggak apa-apa? Ada yang luka nggak?" suara Alvaro terdengar parau, sarat akan kepanikan yang jarang sekali ia tunjukkan pada dunia luar.Dekapannya begitu erat, seolah ia ingin menyembunyikan seluruh tubuh Arini di balik dadanya yang bidang.Arini bisa merasakan deru napas Alvaro yang memburu di puncak kepalanya. Getaran hebat yang merambat dari tubuh pria itu akibat lonjakan adrenalin yang luar biasa juga bisa ia rasakan.Wanita itu mengerjap perlahan, mencoba mengumpulkan kesadarannya yang sempat terbang tersapu angin ketakutan. Bau tanah basah dan aroma khas keramik pecah menyeruak masuk ke indra penciumannya, mengingatkannya pada bahaya yang baru saja melintas.Ia mendongak perlahan, menatap wajah Alvaro yang kini berada tepat di depan matanya. Wajah yang biasanya tenang dan terkendali itu kini tampak pucat, dengan rahang yang terkatup rapat menahan sesuatu yang Arini yakini adalah rasa sakit yang sangat hebat."A-aku ... aku nggak apa-apa, Kak," bisik Arini dengan su
Mobil mewah itu meluncur membelah kemacetan Jakarta dengan keanggunan yang mengintimidasi setiap pasang mata yang melihatnya. Di dalam kabin yang kedap suara, ketegangan masih terasa sangat pekat, seolah oksigen di sana ikut menegang mengikuti suasana hati penumpangnya.Arini duduk dengan punggung tegak, jemarinya bertautan erat di atas pangkuan untuk menahan gemetar halus yang sesekali muncul. Blazer putih tulang yang ia kenakan memberikan kesan bersih dan berwibawa, namun di balik itu, ia masih merasakan sisa-sisa pegal yang luar biasa dari malam panjang mereka.Alvaro duduk di sampingnya, tatapannya lurus ke depan dengan rahang yang mengeras sempurna. Aura predator yang terpancar dari suaminya masih sangat kuat, sisa dari perang yang baru saja ia deklarasikan terhadap klan Wijaya di jalanan tadi.Keheningan itu pecah ketika ponsel Alvaro yang diletakkan di antara mereka bergetar hebat. Sebuah nama muncul di layar. Aditya Wijaya.Alvaro terdiam sejenak sebelum akhirnya mengangkat pa
Kamar utama apartemen itu kini dipenuhi aroma kopi yang kuat dan harumnya roti panggang, kontras dengan sisa-sisa aroma gairah yang masih tertinggal di setiap sudut ruangan. Arini masih terdiam di atas ranjang, bibirnya mengerucut sebal meski tangannya tetap menerima suapan omelet dari Alvaro.Setiap kali ia mencoba bergerak untuk membetulkan posisi duduknya, ia kembali meringis tertahan. Rasa pegal di pinggang dan pangkal pahanya benar-benar menjadi pengingat yang nyata betapa "buasnya" Alvaro semalam saat mereka berada di balik pintu tertutup."Pelan-pelan makannya, Rin. Nanti kamu tersedak," ucap Alvaro dengan nada suara yang begitu lembut, kontras dengan kekuatannya yang luar biasa beberapa jam lalu."Habisnya Kakak sih ... ahh, sudahlah! Aku bener-bener kesal," gerutu Arini sembari mengunyah. "Kakak kelihatan seger banget, sedangkan aku merasa tulangku mau lepas semua. Ini nggak adil!"Alvaro terkekeh rendah, suara tawa baritonnya yang renyah memenuhi seisi kamar. Ia meletakkan g
Sinar matahari pagi menyelinap masuk melalui celah gorden blackout yang tidak tertutup sempurna, menciptakan garis cahaya keemasan yang jatuh tepat di atas kelopak mata Arini. Wanita itu mengerang pelan, mencoba menghalau silau yang mengganggu tidurnya yang sangat berharga.Namun, begitu ia mencoba menggerakkan tubuhnya untuk sekadar berbalik posisi, sebuah rasa nyeri yang tumpul menjalar dari pinggang hingga ke seluruh ujung kakinya. Sensasi pegal yang luar biasa itu seolah mengunci pergerakannya di atas kasur."Aduh ...," rintih Arini pelan sembari meringis menahan perih.Ia membuka matanya perlahan, mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan penglihatannya dengan cahaya ruangan yang sudah terang. Hal pertama yang ia rasakan adalah hawa dingin yang menyentuh kulit bahunya yang polos di balik selimut sutra yang berantakan.Arini menoleh ke sisi ranjang di sebelahnya, berharap menemukan sosok pria yang menjadi alasan seluruh tubuhnya terasa seperti habis dihantam ombak besar. Namun, s
Alvaro tertawa kecil, sebuah tawa getir yang tidak sampai ke mata, seolah pertanyaan kakaknya itu adalah sebuah lelucon lama yang sudah tidak lagi lucu. "Aku lebih suka kehidupanku yang sekarang, Kak. Bangun pagi tanpa harus memikirkan laporan tahunan yang harus disetujui kakek adalah sebuah kemewa
Sambil menunjuk ke arah layar televisi besar yang menampilkan cuplikan berita mengenai kasus mediasi Arini, pria itu kembali melontarkan kalimat yang menyudutkan. "Seluruh rekan bisnis kita mulai bertanya-tanya, kenapa putra keluarga Wijaya sampai harus turun tangan mengurusi drama perceraian murah
Sambil membiarkan angin malam mengisi keheningan, Arini terdiam cukup lama. Ia memikirkan bagaimana kehadiran Alvaro menjadi satu-satunya cahaya di tengah kegelapan yang mengepung hidupnya berbulan-bulan terakhir."Dia satu-satunya orang yang buat gue merasa berharga lagi, May. Habis apa yang dilak
Dering ponsel memecah keheningan apartemen, getarannya terasa mendesak di telinga Arini. Ia segera meraih perangkat tipis tersebut dan melihat nama yang tertera di layar, nama yang seketika membuat ketegangan di bahunya sedikit mengendur.Panggilan itu ternyata dari Alvaro, pria yang beberapa jam l







