Share

BAB 5

Winter, 2010.

            Cerita Lian dan Hasung tak selamanya berjalan mulus, juga tak akan mungkin tetap semanis macaroon seperti yang dikatakan kebanyakan orang. Ada satu hal yang akan terasa amat menyakitkan bagi Lian hanya untuk sekadar mengenangnya. Lian memang tak mau mengingatnya, akan tetapi mau bagaimana lagi? Itu adalah bagian dari sejarah berharga yang ia miliki bersama Hasung.

Waktu itu, pertengahan musim panas.

Gomawo,” ucap Lian begitu menemukan Hasung yang menunggu ia mengganti baju yang basah dengan hoodie milik Hasung. Diikuti dengan Jiwoo yang juga baru selesai mengganti pakaian dengan kaus fakultas yang ia bawa, sedangkan Jiyul harus pulang lebih dulu karena tak membawa apa pun untuk mengganti pakaiannya.

“Bukankah kalian ada kelas?” tanya Jaehan.

Jiwoo mengangguk, “Prof. Hwang tidak bisa mengisi kelas. Asdos Kim seharusnya menggantikan, tapi dia juga tidak bisa hadir.”

“Jadi, karena itu kalian mandi hujan dan menari-nari tidak jelas?” tanya Hasung.

Jiwoo dan Lian saling menatap sembari terkekeh.

 “Kudengar ada pameran seni di Sungai Han[1]. Ayo kita ke sana besok,” tawar Lian sembari menatap teman-temannya satu persatu. Namun, hanya Jiwoo saja yang mengangguk. Sedangkan Hasung, Giseok, Youngmin, dan Jaehan tak bereaksi. “Kenapa?” tanya Lian heran.

“Tidak bisa.” Hasung yang menjawab mewakili ketiga kawannya.

“Kenapa?” tanya Lian sekali lagi.

“Ada tes fisik besok,” jawab Youngmin.

“Tes fisik?” ulang Lian. Ia mendadak ragu. “Untuk wajib militer?”

Hasung mengangguk, disusul dengan anggukan dari kawan-kawannya.

“Siapa yang akan pergi?” Kali ini Jiwoo yang bertanya, ia terlihat benar-benar penasaran.

“Kami semua. Kurasa akan lebih baik jika kami melakukannya bersama-sama,” jelas Hasung.

Jiwoo mengangguk mengerti sebelum melihat Youngmin mengangkat alisnya dan menunjuk Adelian yang berada di sampingnya. Jiwoo menemukan Adelian yang diam-diam menangis dengan menyembunyikan wajahnya di balik kupluk hoodie yang ia kenakan.

“Kau menangis?” tanya Jiwoo tak percaya.

Hasung segera mendekati Lian, “Kenapa? Apa yang terjadi?” tanya Hasung sembari menyingkap poni tipis yang hampir sempurna menyembunyikan mata Lian.

 “Adelian, kenapa kau menangis?” tanya Giseok yang ikut terheran.

“Apa kau menyukai lelaki malang seperti Hasung ini?” kata Youngmin yang segera merangkul Hasung dan berniat melucu.

Namun, Hasung buru-buru melepas paksa rangkulan Youngmin.

“Dia sedih karena tidak bisa menyantap makanan buatan ibuku lagi,” kata Hasung, entah membela Lian atau melindungi jantungnya yang mulai berdesir tak karuan. “Jangan menangis! Wajib Militer hanya dua tahun, itu juga ada waktu libur. Jadi, aku bisa menemuimu. Kita juga bisa bertukar surat sesering mungkin.” Hasung berusaha menenangkan Lian dengan belaian kecil di kepala gadis itu yang dibaluti kupluk hoodie.

Tetapi Lian masih terisak. “Aku bilang jangan menangis,” pinta Hasung sekali lagi.

Lian pun menyeka air matanya. Namun, ia tak lantas berhenti menangis. Jiwoo menggeleng ketika mata Hasung mengisyaratkan kebingungan padanya. Jadilah Hasung hanya menenangkan Lian dengan elusan kecil saja karena ia tak tahu harus bagaimana. Hasung jadi bingung. Rasanya sangat aneh melihat Lian menangis untuk pertama kalinya seperti ini hanya karena tahu Hasung akan segera menjalani masa Wajib Militer.

***

            Sudah beberapa minggu ini Lian mengasingkan diri dari pandangan Hasung. Sejujurnya, ia kecewa. Seingat Lian, Hasung pernah mengatakan ia akan Wajib Militer tahun depan, tapi nyatanya Hasung malah memutuskan Wajib Militer tahun ini dan tak mengatakan apa pun sebelum itu. Seandainya Lian tak menawarkan untuk menonton pameran di Sungai Han waktu itu, sudah pasti Lian tak akan mengetahuinya. Ia kecewa, untuk pertama kalinya. Dia juga sedih dan takut, bagaimana jika Hasung benar-benar pergi?

            “Apa kau benar-benar menyukai Hasung?” tanya Jiwoo pada Lian yang tampak lesu di tempat tidurnya.

“Mungkin bukan seperti itu. Karena Adelian merasa Hasung sahabat terbaiknya, jadi Lian sedih.” Jiyul membela Lian yang masih membisu.

“Tapi aku baru kali ini menemukan seorang yang berstatus teman menangis hanya karena temannya akan Wajib Militer. Bukankah kata ‘teman’ terlalu berlebihan?” lanjutnya lagi.

“Jika kau benar-benar menyukainya katakan saja padanya.” Jiwoo memberi saran.

“Aku yang harus mengatakannya?” tanya Lian yang baru membuka suara.

Jiwoo mengangguk mantap. “Dari pada kau menyesal nantinya. Kau tahu Goo Nara masih mengincarnya, ‘kan?”

“Benar!” Jiyul setuju, “Kurasa Hasung juga begitu. Dia pasti ingin berkencan sebelum Wajib Militer.”

“Semua laki-laki menginginkan itu.” Jiwoo menambahkan.

***

[1] Sebuah sungai yang membelah Kota Seoul, terbentuk akibat pertemuan dari sungai Namhan  yang bermata air di gunung Daedeok , Korea Selatan dan Sungai Bukhan yang berhulu dari lembah gunung Geumgang  di Korea Utara. Sungai Han  mengalir melewati Seoul dan bergabung dengan Sungai Imjin sebelum bermuara ke laut Kunging.

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status