Share

BAB 5

Author: Namaku Malaja
last update publish date: 2025-05-21 12:23:32

Narana menatap Albert. Dengan nada manja dia berkata lebih dulu sebelum Albert menjawab pertanyaan Aryana, “Tidak apa-apa, kan, kalau aku memberi tahu dia tentang hubungan kita, Sayang?”

Albert menatap Narana dengan senyum lebar. Tatapan mata Albert penuh cinta. “Tidak apa-apa, Sayang. Justru bagus kalau dia tahu hubungan kita.”

Hati Aryana sakit melihat sikap Albert yang sangat berbeda kepada Narana. Ditambah kata-kata pria itu, semakin membuat hati Aryana hancur berkeping-keping.

Air mata menggenang di mata Aryana. Tanpa kata, dia meninggalkan tempat itu, menuju kamarnya. Dalam kamar, Aryana kembali menumpahkan air matanya. Dipukulinya dadanya yang terasa sesak, seolah-olah ada batu besar yang menghimpit dadanya, membuat Aryana sulit bernapas.

Narana menatap kepergian Aryana dengan senyum miring.

“Sepertinya istrimu marah pada kita,” ucap Narana, tangannya dia kalungkan ke leher Albert. Dengan sedikit mendongak dia menatap wajah tampan Albert. “Apa kamu lihat air mata yang menggenang di matanya? Kupikir sekarang dia pasti sedang menangis. Apa kamu tidak mau menenangkan istrimu itu?”

Albert memeluk pinggang Narana erat. Ditatapnya Narana penuh cinta. “Biarkan saja. Itu urusannya mau menangis atau tidak. Kita tidak perlu memikirkan dia.”

Narana tertawa pelan. “Aku tidak menyangka kamu begitu kejam, Al.”

“Jika bukan karena kamu yang memaksaku, aku tidak akan pernah mau menikahinya.”

Sebelumnya Albert menolak keras permintaan Alvonso untuk menjodohkannya dengan Aryana. Namun, Narana terus memaksanya untuk mengikuti permintaan Alvonso, sehingga tidak ada pilihan lain bagi Albert selain menuruti permintaan kekasihnya.

“Tapi kalau kamu tidak menikahinya, kakekmu tidak akan memberikan sedikit pun warisannya kepadamu. Memangnya kamu mau Arga yang mewarisi semua harta keluarga Handaryana?”

“Tentu saja tidak! Aku tidak akan membiarkan dia mendapatkan warisan kakekku sedikit pun.”

Albert tidak mengerti kenapa Alvonso memberikan syarat yang berat baginya hanya untuk mendapatkan warisan Handaryana. Padahal dia adalah cucu kandung, satu-satunya penerus keluarga Handaryana. Namun, akhir-akhir ini Alvonso tampak lebih perhatian kepada Arga, yang merupakan adik angkat Albert.

“Sebenarnya aku juga tidak rela membagimu dengan Aryana,” ucap Narana pelan. “Tapi aku juga melakukan ini demi masa depanmu, Al.”

“Aku tahu kamu memikirkan masa depanku, Sayang.” Albert mengecup bibir Narana. “Tidak salah aku menyukai dan memilihmu menjadi milikku.”

Narana tersenyum lebar. “Jadi, bagaimana? Apa kita jadi pergi?”

“Tentu!”

Albert dan Narana meninggalkan apartemen. Mereka benar-benar tidak peduli dengan Aryana.

Sementara itu, Aryana terus menangis hingga tertidur. Saat dia membuka mata, hari sudah senja. Dia segera membersihkan diri saat perutnya berbunyi. Saat keluar kamar, apartemen begitu sunyi dan temaram. Aryana berusaha mencari sakelar untuk menyalakan lampu. Seketika ruangan terang saat lampu menyala.

Aryana yang sudah sangat lapar, langsung pergi ke dapur. Tidak ada sedikit pun makanan saat Aryana membuka lemari makanan. Begitu juga dengan lemari pendingin yang hanya berisi air mineral.

Aryana menghela napas berat. Dia mengambil air minum untuk membasahi tenggorokannya sebelum kembali ke kamar mengambil dompet. Aryana meninggalkan apartemen dan mencari rumah makan atau restoran terdekat.

Baru dua meter Aryana meninggalkan gedung apartemen, tidak sengaja dia bertemu dengan Argandara yang baru saja turun dari taksi.

“Aryana, kamu mau ke mana?” tanya Argandara berjalan mendekati Aryana.

Belum sempat Aryana menjawab, perutnya lebih dulu memberikan jawaban.

Argandara yang mendengar itu tersenyum kecil. Dia pun membawa Aryana ke restoran terdekat. Aryana tidak menolak, sebab perutnya yang memang sudah sangat lapar.

“Kenapa kamu bisa ada di sini, Aryana? Di mana Kak Albert?” tanya Argandara, heran karena Aryana sendirian di sekitar apartemen Albert.

“Aku dan Mas Albert baru pindah tadi siang ke apartemen Mas Albert. Dan dia sedang keluar, katanya ada urusan penting,” jawab Aryana berbohong.

“Pindah? Kenapa pindah?” tanya Argandara penasaran. “Apa kalian sudah meminta izin pada Kakek?”

Sejak Alvonso mengangkatnya menjadi cucu angkat, Albert tidak pernah menyukainya. Bahkan Albert menganggapnya sebagai penghalang serta merebut kasih sayang Alvonso. Karena itulah—saat SMA—Argandara memilih tinggal sendiri untuk mengurangi gesekan antara dirinya dan Albert. Dia hanya sesekali pulang ke kediaman Handaryana untuk menjenguk Alvonso.

“Ya, kami sudah meminta izin dan Kakek mengizinkannya. Lagi pula kami ingin hidup mandiri, Arga. Karena itu kami ingin tinggal terpisah dengan Kakek. Kami tidak ingin selalu bergantung pada Kakek.”

Argandara mengangguk mengerti.

Suasana hening di antara mereka. Argandara yang merasa tidak nyaman dengan suasana itu, berusaha mencari obrolan ringan.

Usai makan, Aryana berniat pergi ke swalayan terdekat untuk membeli persediaan makanan. Argandara yang mengetahui itu menawarkan diri untuk menemani. Aryana yang ingat kemarahan Albert saat di hotel pun menolak tawaran Argandara. Akan tetapi, pria itu bersikeras ingin menemaninya, sehingga Aryana pasrah dan membiarkan Argandara mengikutinya.

Hari mulai gelap, Aryana berbelanja dengan cepat. Takut Albert marah saat pria itu pulang dan tidak mendapati dirinya di rumah. Melihat Aryana kesulitan membawa barang belanjaannya, Argandara pun sigap membantu Aryana membawa belanjaan wanita itu ke unit apartemen Albert.

Aryana terdiam sesampainya di unit apartemen Albert. Dia tidak tahu sandi apartemen Albert.

‘Bagaimana ini?’ pikir Aryana sedikit panik.

“Ada apa?” tanya Argandara heran dengan Aryana yang terdiam mematung.

“Aku tidak tahu sandi pintu apartemen Mas Albert,” jawab Aryana pelan, malu.

“Kalau begitu kamu tekan saja bel apartemennya. Mungkin Kak Albert sudah pulang. Lagi pula sekarang sudah malam, dia pasti sudah pulang,” ucap Argandara memberi saran.

Belum sempat Aryana menekan bel, pintu apartemen terbuka dan menampilkan sosok Albert. Raut wajah Albert datar, sorot matanya menatap tajam Aryana dan Argandara secara bergantian. Aura kemarahan terpancar jelas dari tubuh Albert.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Wanita Kesayangan Sang Pewaris Pengganti   BAB 45

    Apartemen Narana.“Ada apa, Al?” tanya Narana ketika mendengar Albert memaki setelah menerima telepon sambil buru-buru mengenakan pakaian.“Kakekku ada di rumah kakek Aryana. Aku harus ke sana sekarang. Atau kalau tidak, semuanya bisa semakin berantakan.”“Kamu yakin kakekmu di sana? Kamuy akin kalau Aryana tidak berbohong?” tanya Narana memastikan.Sejak pulang dari berlibur, Narana sedikit menaruh prasangka kepada Aryana. Dia takut wanita itu akan membalasnya sekarang karena mendapat dukungan dari Alvonso.“Aku yakin dia tidak berani berbohong. Aku sudah mengancamnya dan akan menghukumnya kalau dia sampai mengadu pada Kakek atau membohongiku. Ya sudah, aku pergi dulu, ya.”Albert mencium bibir Narana yang masih berada di tempat tidur sebelum meninggalkan apartemen Narana. Dengan kecepatan tinggi Albert meninggalkan gedung apartemen Narana, menuju rumah Yudha. Beberapa kali dia hampir menabrak mobil lain, tapi dia terus memacu kecepatannya.

  • Wanita Kesayangan Sang Pewaris Pengganti   BAB 44

    Aryana tertegun. Tubuhnya menegang. Tapi itu hanya sesaat. Aryana dengan cepat tersenyum lebar. “Aku baik-baik saja, Nek. Nenek tidak perlu mengkhawatirkan aku. Ada Mas Albert yang akan menjagaku.”“Kamu jujur saja pada nenekmu ini, Nak. Jangan berbohong.”“Aku tidak berbohong, Nek. Serius!” Aryana mengangkat tangan dengan membentuk huruf V kepada Sinta.Sinta menghela napas. “Sejujurnya, sejak kamu menikah, perasaan nenek tidak enak. Setiap hari, setiap malam, nenek selalu memikirkanmu. Meski nenek berusaha tidak memikirkannya, tapi entah kenapa hati nenek selalu tidak enak, Aryana. Nenek merasa kamu tidak bahagia di sana.”Aryana kembali dibuat terkejut. Ingatan waktu Sinta dan Yudha menelepon saat dia liburan pun kembali berputar. Di mana Sinta juga mengatakan hal yang sama, jika wanita itu mengkhawatirkan dirinya tepat setelah dia sakit akibat dicambuk oleh Albert.‘Apakah nenek dapat merasakan apa yang aku alami selama ini jika Mas Albert sela

  • Wanita Kesayangan Sang Pewaris Pengganti   BAB 43

    Aryana menatap mobil Albert yang semakin menjauh dengan rasa kecewa. Dia pikir Albert benar-benar akan menemaninya pergi ke rumah keluarganya. Tapi ternyata itu hanya angannya saja.“Sepertinya tidak mudah membuat Mas Albert berubah baik padaku seperti sebelumnya. Tapi aku tidak akan menyerah. Aku akan merebut kembali Mas Albert dari Narana,” kata Aryana penuh keyakinan jika dia bisa merebut dan membuat Albert kembali mencintai dan menyayanginya seperti sebelumnya.Aryana menatap barang bawaannya yang begitu banyak. Dia mengembuskan napas pelan.“Sepertinya aku harus naik taksi,” ucap Aryana yang berpikir tidak memungkinkannya dia menaiki bus dengan bawaan sebanyak itu sendirian.Aryana pun menghentikan taksi dan melanjutkan perjalanan ke rumah kakeknya.Sementara itu, Albert melajukan kendaraannya ke tempat Narana. Sebelumnya Albert kesal karena Aryana ingin mengunjungi keluarganya tanpa memberitahunya, tapi setelah dia memikirkannya lagi, Albert

  • Wanita Kesayangan Sang Pewaris Pengganti   BAB 42

    Argandara menerima kertas itu dengan kening berkerut. “Dari siapa?” tanyanya penasaran.Pramusaji itu menunjuk Aryana yang menyeberang jalan, menghampiri Albert yang berdiri di tepi jalan menunggu taksi. “Dari wanita itu, Kak.”Argandara menatap Aryana sebentar sebelum kembali menatap pramusaji itu dengan senyum lebar. “Terima kasih.”“Sama-sama, Kak.”Pramusaji itu pun meninggalkan mereka.Argandara segera membuka kertas itu.[Arga, maafkan aku. Kami akan pulang hari ini. Malam tadi Mas Albert tiba-tiba mengajak pulang. Aku tidak bisa menemuimu secara langsung untuk memberitahumu, jadi aku hanya bisa menulis ini untukmu. Maafkan aku. Jaga dirimu baik-baik dan hati-hati saat di perjalanan pulang nanti. Aryana.]Kedua sudut bibir Argandara terangkat sedikit. Tidak menyangka Aryana rela mengambil risiko hanya untuk bisa berpamitan kepadanya.Argandara kembali melipat kertas itu dan memasukkannya ke saku celana. Lalu dia menatap k

  • Wanita Kesayangan Sang Pewaris Pengganti   BAB 41

    Aryana pun kembali melanjutkan kegiatannya menonton drama. Tepat saat drama yang ditontonnya habis, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamar. Aryana bergegas membuka pintu.“Arga! Apa yang kamu lakukan di sini?!” seru Aryana yang dibuat terkejut hingga jantungnya terasa mau lepas dari rongganya.‘Kenapa Arga harus ke sini, sih? Bagaimana kalau Mas Albert dan Nanara kembali?’ Aryana menjerit dalam hati karena Argandara yang datang ke kamarnya.Argandara tersenyum lebar. Gemas dengan Aryana yang selalu saja menatapnya dengan mata melotot setiap kali bertemu dengannya.“Aku datang ke sini untuk menjengukmu.”“Tunggu di sini!” Aryana kembali menutup pintu tanpa menunggu jawaban Argandara.Argandara tertegun menatap pintu di depannya. Namun, pintu itu kembali terbuka beberapa menit kemudian.Aryana keluar dengan mengenakan jaket kain. “Ayo!” Aryana menarik tangan Argandara menuju l

  • Wanita Kesayangan Sang Pewaris Pengganti   BAB 40

    Albert menatap Narana dengan rasa penasaran. “Sayang, ada apa?”Albert juga merasa aneh dengan Narana yang ekspresinya mendadak berubah saat memasuki kamar.Narana menatap Albert. “Apa kamu tidak menciumnya? Aku mencium parfum orang lain di kamar ini, Al. Aku yakin Aryana pasti sudah membawa orang lain masuk ke kamar kita.”Mendengar itu, Albert pun mengendus bau di sekitarnya. Dan benar, Albert mencium wangi parfum cendana yang kini baunya sudah mulai samar-samar.“Kamu benar, Sayang,” kata Albert, ekspresinya berubah datar. Dia menatap tajam Aryana yang telihat tenang, tapi dadanya sudah bertalu-talu. “Katakan, apa benar yang dikatakan Narana? Kamu membawa orang masuk ke kamar ini?”“Kamu percaya dengannya?” bukannya menjawab, Aryana justru balik bertanya kepada Albert.“Tentu saja! Jadi katakan saja dengan jujur, apa kamu membawa orang lain ke sini?”“Bukan sekedar orang lain, Al. Tapi lebih tepatnya dia membawa masuk seorang pria

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status