Share

BAB 6

Author: Namaku Malaja
last update publish date: 2025-05-21 12:24:09

Seharian Albert menghabiskan waktu bersama Narana, melepas rasa rindu. Seminggu tinggal di kediaman Handaryana membuat Albert tidak bisa bebas menemui Narana. Dia hanya bisa melepas rindu dengan kekasihnya melalui panggilan video.

Namun, saat pulang, Albert tidak sengaja melihat Aryana dan Argandara memasuki restoran di dekat apartemennya. Dia geram, bukan karena dia cemburu, tapi karena Aryana berani mengabaikan perintahnya untuk tidak menemui Argandara.

Albert sengaja menunggu kepulangan mereka. Cukup lama dia menunggu, tapi Aryana tidak kunjung pulang. Bahkan matahari pun sudah digantikan malam. Akhirnya Albert memutuskan untuk menyusul dan menyeret Aryana pulang. Namun, saat membuka pintu, dia dikejutkan dengan keduanya yang sudah berdiri di depan pintu.

“Akhirnya kalian pulang juga,” ucap Albert, suaranya dingin. “Kamu, berani-beraninya keluar dengan laki-laki lain tanpa seizinku?”

“Maaf, Mas.” Aryana berkata pelan, kepalanya menunduk. “Tadi aku lapar, tapi tidak ada persediaam makanan di rumah. Jadi, aku keluar untuk makan sekaligus belanja persediaan makanan. Kebetulan juga tadi aku bertemu Arga di dekat resetoran.”

Alis Albert terangkat tinggi. Sebelum Albert membuka mulut, Argandara lebih dulu berkata.

“Apa yang dikatakan Aryana benar, Kak. Tadi aku tidak sengaja bertemu dengannya di dekat restoran.”

Sorot mata Albert semakin tajam saat menatap Argandara. “Lebih baik sekarang kamu pulang. Dan terima kasih sudah mengantar istriku pulang.”

Tanpa menunggu jawaban Argandara, Albert menarik tangan Aryana dan membawanya masuk dengan kasar.

Aryana meringis kesakitan. Cengkeraman Albert sangat kuat sekali sehingga meninggalkan bekas merah di tangan Aryana.

“Mas, sakit,” rintih Aryana pelan.

Albert melepaskan cengkeramannya dengan kasar, membuat Aryana terhuyung ke belakang. Kantong belanjaan yang dibawanya jatuh, beberapa isinya keluar dari kantong belanjaan.

Albert membuka mulut untuk memaki, tapi terpaksa ditelannya karena bel rumah kembali berbunyi. Dengan kasar Albert membuka pintu.

“Ada apa lagi?!” bentak Albert penuh amarah ketika mendapati orang yang menekan bel adalah Argandara.

“Ini, belanjaan Aryana tertinggal.” Argandara mengangkat kantong belanjaan di tangannya, tidak sedikit pun terprovokasi dengan kemarahan Albert yang tiba-tiba kepadanya.

Albert meraih kantong belanjaan di tangan Argandara dengan kasar. Tanpa mengatakan apa-apa, Albert menutup pintu dengan kasar.

Argandara menghela napas pelan. Dia tidak memasukkan hati atas sikap dan kata-kata Albert yang kasar, sebab Argandara sudah sering diperlakukan seperti itu oleh Albert.

Argandara menatap pintu kamar apartemen Albert. ‘Semoga saja dia baik-baik saja,’ pikirnya sebelum berbalik dan meninggalkan apartemen Albert.

Setelah menutup pintu, Albert menatap nyalang Aryana dan melempar kantong belanjaan kepada Aryana yang baru saja memasukkan kembali barang belanjaannya yang berserakan ke kantong belanjaan.

“Bukankah sudah kukatakan untuk tidak menemui Arga?!” bentak Albert murka. “Awas saja kalau sampai ada rumor buruk beredar di luaran sana. Aku benar-benar akan memberi perhitungan padamu.”

Albert melangkah pergi. Saat melewati Aryana, dia menyenggol tubuh wanita itu sangat keras, sehingga Aryana terhuyung. Beruntung Aryana bisa menyeimbangkan diri sehingga tidak terjatuh.

Aryana menghela napas dalam dengan mata terpejam.

‘Jangan menangis, Aryana. Jangan menangis’ rapal Aryana dalam hati, menguatkan diri supaya tidak lemah. Walau tidak dapat dipungkiri bahwa dadanya sakit dan sesak atas sikap dan kata-kata Albert.

Setelah beberapa lama, Aryana merasa sedikit tenang. Dia kembali mengambil barang belanjaan yang berserakan di lantai, memasukkannya ke kantong belanjaan. Lalu membawa semua barang-barang itu ke dapur, meletakkan semuanya dengan rapi di lemari makanan.

Usai merapikan semuanya, Aryana menyiapkan makan malam. Dia yakin Albert pasti belum makan. Di tengah-tengah memasak, bel rumah berbunyi. Aryana mengecilkan api kompor sebelum membuka pintu.

Sosok Narana berdiri di depan pintu saat Aryana membukanya. Narana tersenyum lebar, mengabaikan keterkejutan di wajah Aryana. “Selamat malam, Aryana,” sapanya.

“Selamat malam.”

“Boleh aku masuk?” tanya Narana karena Aryana yang tidak membuka pintu dengan lebar.

Walau penasaran kenapa Narana datang berkunjung di malam hari, di mana sebelumnya dia sudah pergi bersama Albert, tapi Aryana membukakan pintu lebih lebar. “Ya, silakan.”

Seolah-olah rumah sendiri, Narana berjalan begitu saja memasuki apartemen.

“Tunggu sebentar, ya. Saya panggilkan Mas Albert dulu,” ucap Aryana berbalik, tetapi langkahnya terhenti saat Narana membuka suara.

“Tidak perlu. Aku bisa menemuinya sendiri.”

Setelah mengatakan itu, Narana melewatinya menuju kamar Albert.

Aryana sedikit tidak suka dengan sikap Narana yang seolah-olah tidak menghargai dia sebagai istri Albert. Namun, mengingat ucapan Albert, Aryana mengenyahkan pikiran itu. Narana adalah kekasih Albert, sudah pasti wanita itu sering bermain ke apartemen Albert.

Albert membuka pintu kamarnya saat Narana mengetuknya beberapa kali. Raut wajah pria itu masih terlihat marah, meski tidak semarah tadi. Mengetahui bahwa itu Narana, Albert membawa wanita itu masuk ke kamarnya.

Aryana tentu saja terkejut dengan apa yang dilakukan Albert. Tega-teganya Albert membawa wanita lain—yang merupakan kekasihnya itu—masuk ke kamarnya di saat dirinya yang merupakan istrinya ada di rumah. Sedangkan dia yang merupakan istri sahnya tidak diizinkan pria itu masuk ke kamarnya.

‘Ya Tuhan, apa yang sudah dilakukan suamiku? Kenapa dia begitu berani membawa wanita yang bukan istrinya masuk ke kamarnya?’ pikir Aryana yang tidak mengerti kenapa Albert melakukan itu tepat di hadapannya.

Seketika, berbagai pertanyaan mengisi kepala Aryana.

Kenapa?

Kenapa Albert begitu tega menyakiti perasaannya?

Memangnya kesalahan apa yang sudah diperbuatnya terhadap pria itu?

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Wanita Kesayangan Sang Pewaris Pengganti   BAB 45

    Apartemen Narana.“Ada apa, Al?” tanya Narana ketika mendengar Albert memaki setelah menerima telepon sambil buru-buru mengenakan pakaian.“Kakekku ada di rumah kakek Aryana. Aku harus ke sana sekarang. Atau kalau tidak, semuanya bisa semakin berantakan.”“Kamu yakin kakekmu di sana? Kamuy akin kalau Aryana tidak berbohong?” tanya Narana memastikan.Sejak pulang dari berlibur, Narana sedikit menaruh prasangka kepada Aryana. Dia takut wanita itu akan membalasnya sekarang karena mendapat dukungan dari Alvonso.“Aku yakin dia tidak berani berbohong. Aku sudah mengancamnya dan akan menghukumnya kalau dia sampai mengadu pada Kakek atau membohongiku. Ya sudah, aku pergi dulu, ya.”Albert mencium bibir Narana yang masih berada di tempat tidur sebelum meninggalkan apartemen Narana. Dengan kecepatan tinggi Albert meninggalkan gedung apartemen Narana, menuju rumah Yudha. Beberapa kali dia hampir menabrak mobil lain, tapi dia terus memacu kecepatannya.

  • Wanita Kesayangan Sang Pewaris Pengganti   BAB 44

    Aryana tertegun. Tubuhnya menegang. Tapi itu hanya sesaat. Aryana dengan cepat tersenyum lebar. “Aku baik-baik saja, Nek. Nenek tidak perlu mengkhawatirkan aku. Ada Mas Albert yang akan menjagaku.”“Kamu jujur saja pada nenekmu ini, Nak. Jangan berbohong.”“Aku tidak berbohong, Nek. Serius!” Aryana mengangkat tangan dengan membentuk huruf V kepada Sinta.Sinta menghela napas. “Sejujurnya, sejak kamu menikah, perasaan nenek tidak enak. Setiap hari, setiap malam, nenek selalu memikirkanmu. Meski nenek berusaha tidak memikirkannya, tapi entah kenapa hati nenek selalu tidak enak, Aryana. Nenek merasa kamu tidak bahagia di sana.”Aryana kembali dibuat terkejut. Ingatan waktu Sinta dan Yudha menelepon saat dia liburan pun kembali berputar. Di mana Sinta juga mengatakan hal yang sama, jika wanita itu mengkhawatirkan dirinya tepat setelah dia sakit akibat dicambuk oleh Albert.‘Apakah nenek dapat merasakan apa yang aku alami selama ini jika Mas Albert sela

  • Wanita Kesayangan Sang Pewaris Pengganti   BAB 43

    Aryana menatap mobil Albert yang semakin menjauh dengan rasa kecewa. Dia pikir Albert benar-benar akan menemaninya pergi ke rumah keluarganya. Tapi ternyata itu hanya angannya saja.“Sepertinya tidak mudah membuat Mas Albert berubah baik padaku seperti sebelumnya. Tapi aku tidak akan menyerah. Aku akan merebut kembali Mas Albert dari Narana,” kata Aryana penuh keyakinan jika dia bisa merebut dan membuat Albert kembali mencintai dan menyayanginya seperti sebelumnya.Aryana menatap barang bawaannya yang begitu banyak. Dia mengembuskan napas pelan.“Sepertinya aku harus naik taksi,” ucap Aryana yang berpikir tidak memungkinkannya dia menaiki bus dengan bawaan sebanyak itu sendirian.Aryana pun menghentikan taksi dan melanjutkan perjalanan ke rumah kakeknya.Sementara itu, Albert melajukan kendaraannya ke tempat Narana. Sebelumnya Albert kesal karena Aryana ingin mengunjungi keluarganya tanpa memberitahunya, tapi setelah dia memikirkannya lagi, Albert

  • Wanita Kesayangan Sang Pewaris Pengganti   BAB 42

    Argandara menerima kertas itu dengan kening berkerut. “Dari siapa?” tanyanya penasaran.Pramusaji itu menunjuk Aryana yang menyeberang jalan, menghampiri Albert yang berdiri di tepi jalan menunggu taksi. “Dari wanita itu, Kak.”Argandara menatap Aryana sebentar sebelum kembali menatap pramusaji itu dengan senyum lebar. “Terima kasih.”“Sama-sama, Kak.”Pramusaji itu pun meninggalkan mereka.Argandara segera membuka kertas itu.[Arga, maafkan aku. Kami akan pulang hari ini. Malam tadi Mas Albert tiba-tiba mengajak pulang. Aku tidak bisa menemuimu secara langsung untuk memberitahumu, jadi aku hanya bisa menulis ini untukmu. Maafkan aku. Jaga dirimu baik-baik dan hati-hati saat di perjalanan pulang nanti. Aryana.]Kedua sudut bibir Argandara terangkat sedikit. Tidak menyangka Aryana rela mengambil risiko hanya untuk bisa berpamitan kepadanya.Argandara kembali melipat kertas itu dan memasukkannya ke saku celana. Lalu dia menatap k

  • Wanita Kesayangan Sang Pewaris Pengganti   BAB 41

    Aryana pun kembali melanjutkan kegiatannya menonton drama. Tepat saat drama yang ditontonnya habis, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamar. Aryana bergegas membuka pintu.“Arga! Apa yang kamu lakukan di sini?!” seru Aryana yang dibuat terkejut hingga jantungnya terasa mau lepas dari rongganya.‘Kenapa Arga harus ke sini, sih? Bagaimana kalau Mas Albert dan Nanara kembali?’ Aryana menjerit dalam hati karena Argandara yang datang ke kamarnya.Argandara tersenyum lebar. Gemas dengan Aryana yang selalu saja menatapnya dengan mata melotot setiap kali bertemu dengannya.“Aku datang ke sini untuk menjengukmu.”“Tunggu di sini!” Aryana kembali menutup pintu tanpa menunggu jawaban Argandara.Argandara tertegun menatap pintu di depannya. Namun, pintu itu kembali terbuka beberapa menit kemudian.Aryana keluar dengan mengenakan jaket kain. “Ayo!” Aryana menarik tangan Argandara menuju l

  • Wanita Kesayangan Sang Pewaris Pengganti   BAB 40

    Albert menatap Narana dengan rasa penasaran. “Sayang, ada apa?”Albert juga merasa aneh dengan Narana yang ekspresinya mendadak berubah saat memasuki kamar.Narana menatap Albert. “Apa kamu tidak menciumnya? Aku mencium parfum orang lain di kamar ini, Al. Aku yakin Aryana pasti sudah membawa orang lain masuk ke kamar kita.”Mendengar itu, Albert pun mengendus bau di sekitarnya. Dan benar, Albert mencium wangi parfum cendana yang kini baunya sudah mulai samar-samar.“Kamu benar, Sayang,” kata Albert, ekspresinya berubah datar. Dia menatap tajam Aryana yang telihat tenang, tapi dadanya sudah bertalu-talu. “Katakan, apa benar yang dikatakan Narana? Kamu membawa orang masuk ke kamar ini?”“Kamu percaya dengannya?” bukannya menjawab, Aryana justru balik bertanya kepada Albert.“Tentu saja! Jadi katakan saja dengan jujur, apa kamu membawa orang lain ke sini?”“Bukan sekedar orang lain, Al. Tapi lebih tepatnya dia membawa masuk seorang pria

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status