Share

BAB 4

Author: Namaku Malaja
last update Last Updated: 2025-05-21 12:22:59

Albert sangat bahagia saat Aryana memberi tahu bahwa Alvonso mengizinkan mereka tinggal di rumah sendiri. Pria itu langsung membawa Aryana meninggalkan kediaman Handaryana keesokan harinya.

Albert membawa Aryana ke apartemennya. Tidak sampai dua puluh menit, mereka tiba di apartemen.

“Karena kita tidak di kediaman Handaryana, kita akan tidur terpisah,” ucap Albert begitu mereka memasuki apartemen.

Albert berhenti di depan kamarnya, lalu dia menunjuk ke pintu kamar yang berdampingan dengan kamarnya. “Kamu tidur di kamar itu.”

Aryana menelan kembali kata-kata yang hendak dikeluarkan saat Albert memasuki kamarnya sendiri, lalu menutup pintu kamar dengan kasar. Untuk beberapa saat Aryana menatap kamar Albert dengan tatapan sayu sebelum masuk ke kamar yang akan ditempatinya.

Di dalam kamar, Aryana menangis tersedu-sedu. Melampiaskan rasa sesak yang menghimpit dadanya. Kebahagiaan yang Aryana harapkan usai pernikahan hanyalah sebuah angan.

Albert mengetuk pintu kamar Aryana. “Aryana, kita perlu bicara. Aku tunggu kamu di ruang tengah,” ucap Albert dengan nada yang tidak bisa dibantah.

“Ya!” jawab Aryana sambil menghapus kasar air mata di wajahnya.

Aryana pergi ke kamar mandi yang ada di dalam kamarnya. Dia membasuh wajahnya sebelum meninggalkan kamar. Aryana menghampiri Albert yang duduk tegak di sofa tunggal. Aryana mengambil duduk di hadapan Albert.

“Ada apa, Mas?” tanya Aryana pelan.

“Dengar dan ingat baik-baik, kamu jangan pernah ikut campur atau menyentuh barang-barang di rumah ini.”

“Kenapa, Mas?” tanya Aryana cepat. Dia tidak mengerti kenapa Albert bersikap seperti ini kepadanya. “Kenapa kamu memperlakukan aku seperti ini, Mas? Kita suami istri, tapi kamu seperti tidak menganggapku istrimu.”

Satu alis Albert terangkat tinggi, lalu tersenyum miring seraya mendengkus.

“Kamu pikir, aku menerima perjodohan dan menikahimu karena aku mencintaimu? Sungguh naif sekali.” Albert membungkukkan sedikit badannya ke arah Aryana, sorot matanya menatap tajam Aryana. “Sampai kapan pun, aku tidak akan pernah menganggapmu istriku.”

“Maksudmu apa berkata seperti itu, Mas?” tanya Aryana yang semakin tidak mengerti dengan ucapan Albert.

“Dengar, Aryana, aku mau menikahimu karena kakek. Karena sebenarnya aku sudah memiliki wanita lain yang sangat kucintai. Jadi berhentilah bersikap seolah-olah kamu istriku.”

Albert tentu tidak akan mengatakan alasan dari tujuannya menikahi Aryana. Jika wanita itu mengadu kepada kakeknya, maka semua rencananya akan gagal.

“Maksudmu, aku hanya istri di atas kertas?” tanya Aryana, suaranya sedikit bergetar.

“Ya. Kamu hanya istri di atas kertas untukku. Jadi, saat kita di luar, berisikaplah sebagaimana seorang istri. Tapi saat hanya kita berdua, kita hidup masing-masing. Jangan pernah mencampuri urusan pribadiku. Paham?”

Dada Aryana berdenyut sakit. Ucapan Albert sukses menikam hatinya. Aryana tidak menyangka Albert mengatakan hal sekejam itu kepadanya. Apa salahnya hingga Albert tega berbuat seperti ini kepadanya?

“Kamu hanya boleh berkeliaran di kamar dan sekitar dapur,” ucap Albert. “Selain tempat itu, jangan pernah menyentuh apa pun. Aku tidak suka ada barang di rumahku ini berpindah tempat, meski hanya seinci.”

Lidah Aryana kelu. Dia benar-benar tidak sanggup mengeluarkan satu kata pun untuk menjawab.

‘Apakah aku sudah salah mengambil keputusan?’ pikir Aryana pilu.

Sedikit banyak Aryana menyalahkan dirinya sendiri yang terbuai dengan kata-kata manis Albert sebelum mereka menikah. Sikap Albert yang hangat sebelum mereka menikah itu semua palsu. Ternyata Albert pria yang tidak memiliki hati.

Aryana tersentak dari pikirannya kala bel apartemen berbunyi.

Albert bangkit dari duduknya dan dengan langkah lebar menuju pintu.

“Sayang!” terdengar suara seorang wanita begitu Albert membuka pintu.

Aryana refleks menoleh ke arah pintu. Di mana seorang wanita berpakaian seksi memeluk Albert dengan sangat erat. Begitu juga dengan Albert yang membalas pelukan wanita itu dengan sangat erat. Rona kebahagiaan terpancar di wajah keduanya.

“Aku merindukanmu, Sayang,” ucap wanita itu, nadanya manja mendayu.

“Aku juga merindukanmu.”

Aryana berdiri dan menghampiri mereka berdua. “Mas, siapa dia?”

Albert melepaskan pelukannya, berganti merangkul wanita itu.

“Kamu pasti Aryana, kan?” wanita itu bertanya sebelum Albert menjawab ucapan Aryana.

Aryana mengangguk pelan. “Ya, saya istrinya,” jawabnya, berharap wanita itu tidak mendekati Albert saat mengatakatan bahwa dirinya adalah istri Albert.

Wanita itu mengulurkan tangan kanan. “Kenalkan. Aku Narana Nugroho. Kekasih Albert Handaryana.”

Aryana terkejut. Matanya terbelalak. Dia menatap Narana dan Albert bergantian.

“Mas.” Aryana menatap Albert yang juga menatapnya dengan tatapan malas. “Apa yang dikatakannya itu benar?”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Wanita Kesayangan Sang Pewaris Pengganti   BAB 22

    Argandara mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang meninggalkan kediaman Handaryana menuju Kala Rasa. Bayangan wajah pucat Aryana dan ucapan Alvonso terus terngiang di kepalanya. Beberapa kali Argandara menghela napas kasar untuk melonggarkan dadanya yang sesak.“Arga!” Nehan melambai kepada Argandara yang baru saja memasuki kafe.Argandara mengedarkan pandangan sebelum akhirnya dia menemukan sosok sang sahabat. Dengan langkah lebar Argandara menghampiri Nehan.“Sudah lama?” Argandara menarik dan menduduki kursi di hadapan Nehan.“Ya, lumayan. Lyla bilang katanya kamu baru berangkat ke kediaman Handaryana waktu aku datang.” Nehan mengernyit saat memperhatikan wajah Argandara. “Kenapa sama mukamu? Kok kusut begitu?”“Tidak ada apa-apa.”Nehan tentu saja tidak percaya. “Apa Pak Tua itu membuat masalah lagi padamu? Atau, Albert yang membuatmu seperti ini?”Argandara menggeleng pelan. “Kenapa kamu selalu berpikir buruk tentang mereka sih, Han?”“Ya jangan menyalahkan aku berpikiran bur

  • Wanita Kesayangan Sang Pewaris Pengganti   BAB 21

    Aryana tersenyum kecil menatap pantulan wajahnya di kaca wastafel. Sembap di matanya sudah berkurang. Dan Aryana bisa menutupinya dengan riasan sedikt tebal agar tidak terlihat, seperti yang dia lakukan tadi siang.Aryana terkejut saat membuka pintu kamar mandi dan mendapati sosok Albert di depan pintu. Tangan pria itu terangkat untuk mengetuk pintu.Albert menatap marah Aryana. “Apa yang kamu lakukan di kamar mandi sampai begitu lama, hah? Kamu tidak lihat sekarang sudah jam berapa?”“Maaf, Mas. Aku tadi mengompres mataku supaya tidak bengkak, makanya lama di kamar mandi.” Aryana menjawab pelan dengan kepala tertunduk.Albert berdecak keras. “Cepat ganti baju. Jangan sampai Kakek berpikir aku menyiksamu karena terlambat ke meja makan.”Setelah mengatakan itu, Albert menuju sofa dan melanjutkan panggilan videonya bersama Narana.Aryana menatap Albert. Cemburu dan sakit hati bercampur menjadi satu. Meskipun dia istri Albert, tapi nyatanya dia tidak bisa mendapatkan hati suaminya.Aryana

  • Wanita Kesayangan Sang Pewaris Pengganti   BAB 20

    Argandara mengalihkan pandangannya kepada Albert yang berdiri di belakang Aryana hanya dengan mengenakan jubah mandi. Kedua tangannya terkepal erat. Kemarahan menguasai dirinya, tapi Argandara berusaha menahan sekuat tenaga agar tidak lepas kendali.“Tidak. Tapi kenapa kakak harus menyakitinya?” Argandara berusaha menekan suaranya agar tidak terdengar marah.“Bukan urusanmu! Dia istriku, jadi aku berhak melakukan apa saja padanya.” Albert mengalihkan tatapannya kepada Aryana, sorot matanya masih sama. “Untuk apa masih di sini? Pergi!”Aryana tidak membantah dan langsung pergi tanpa melihat Argandara. Karena hari semakin sore, Aryana pun memutuskan untuk mandi sambil mengompres matanya yang sembap.Argandara yang mendengar bentakan Albert kepada Aryana pun semakin geram dengan sikap sang kakak memperlakukan Aryana.Albert kembali menatap Argandara. “Untuk apa kamu ke kamarku? Mau merayu istriku, ya? Apa di kafe tadi kamu masih belum puas merayunya, sampai-sampai kamu ingin merayunya di

  • Wanita Kesayangan Sang Pewaris Pengganti   BAB 19

    “Kamu tidak perlu berpura-pura di hadapanku lagi, Albert! Bagas sudah mengatakan semuanya padaku. Apa kamu pikir bisa membodohiku? Apa kamu pikir kata-kataku di meja makan tadi hanya bercanda?”Badan Albert menegang mendengar Bagas sudah memberi tahu Alvonso. Seketika pikirannya tertuju kepada Narana yang berada di apartemennya.‘Apa Bagas mengetahui keberadan Narana di apartemenku?’ pikir Albert panik dan gelisah. Keringat dingin mulai membasahi tubuh Albert.“Kalau memang itu maumu, baik!” lanjut Alvonso. “Aku akan segera meminta Linggar mengurus semuanya.”Albert berlutut dan memeluk kedua kaki Alvonso. Dengan wajah dan suara yang memelas, Albert berkata, “Kakek, aku mohon. Tolong beri aku kesempatan lagi. Aku janji tidak akan menemui Narana lagi, Kek. Aku mohon, Kek.”Albert terus berusaha memohon agar Alvonso memberikannya kesempatan kedua.Di dalam kamar mandi, Aryana yang mendengar perdebatan Alvonso dan Albert pun bergegas mencuci muka dan keluar untuk melihat apa yang telah te

  • Wanita Kesayangan Sang Pewaris Pengganti   BAB 18

    Albert hanya bisa memaki dalam hati atas tindakan Alvonso. Dia berharap Narana bisa bersembunyi atau berhasil meninggalkan apartemennya sebelum bertemu dengan Bagas. Jika Narana sampai tepergok oleh Bagas, maka tamatlah riwayatnya.Alvonso dapat merasakan kegelisahan Albert. Hal itu membuat Alvonso curiga. “Kenapa kamu begitu panik? Apa kamu membawa wanita itu ke apartemenmu?”Tubuh Albert menegang. Jantungnya berdetak dua kali lebih cepat. “Tidak! Tidak, Kek. Cuma kenapa harus mengosongkan apartemenku segala, Kek?”“Agar kamu tidak kembali ke sana dan bertemu dengan wanita itu sesuka hatimu. Jadi, mulai hari ini dan selamanya, kamu dan Aryana akan tinggal di sini.”Alvonso tahu Albert berbohong. Dia yakin Albert pasti telah menyembunyikan sesuatu darinya. Dan Alvonso akan tahu apa yang sudah Albert coba sembunyikan darinya saat Bagas kembali nanti.Albert terkejut dengan keputusan sepihak Alvons

  • Wanita Kesayangan Sang Pewaris Pengganti   BAB 17

    Alvonso menatap tajam Albert. Tidak dihiraukannya rasa tidak suka Albert atas keputusannya."Aku memang mengizinkanmu dan Aryana untuk tinggal sendiri. Tapi itu jika kamu bisa memperlakukan Aryana dengan baik. Faktanya, kamu memperlakukan Aryana dengan tidak baik. Baru tiga hari kalian tinggal sendiri, dan kamu sudah membuat masalah.""Apa maksud kakek? Masalah apa yang sudah aku lakukan?" Albert berkata cepat. "Apa hanya karena aku meninggalkan Aryana sendirian di apartemen, lalu kakek menuduhku sudah memperlakukan Aryana dengan tidak baik?"Albert menatap Aryana sengit. “Apa yang sudah kamu katakan pada kakekku?”"Jangan menyalahkan Aryana, Albert!" bentak Alvonso. “Jangan menyalahkan orang lain dengan apa yang kamu perbuat sendiri.”Albert berdecak kesal karena Alvonso selalu membela Aryana. Hal itu membuat Albert semakin membenci Aryana. Dia sudah tidak peduli kalau dirinya harus bersandiwara sebagai suami yang baik dan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status