Masuk
Di lorong hotel yang lengang, seorang wanita tampak berjalan sempoyongan. Langkahnya terseret, napasnya berat. Tangannya berkali-kali mengusap tengkuk, seolah berusaha menenangkan sensasi panas yang menjalar liar di seluruh tubuhnya.
"Tubuhku... kenapa panas sekali?" gumamnya lirih, pandangannya buram. "Tolong aku... " "Tenang saja!" sebuah suara terdengar dekat, dingin namun, meyakinkan. "Di dalam ada seseorang yang akan menolong mu. Selamat bersenang-senang, Audrey." Audrey tidak sempat melihat siapa pemilik suara itu. Yang ia rasakan hanya dorongan kuat yang membuat tubuhnya terhuyung masuk ke sebuah ruangan dengan pencahayaan temaram. "Ini... di mana?" bisik nya panik. "Tolong aku... " Pandangan matanya yang kabur menangkap sosok pria bertubuh gemuk, bertelanjang dada, tengah menyeringai ke arahnya dengan tatapan menjijikkan. "Akhirnya kau datang, sayang," ucap pria itu seraya melangkah mendekat, merentangkan kedua tangan. "Kemari lah! Aku akan membantumu." Namun, sebelum jarak mereka benar-benar menyempit, tiba-tiba— BRAKH! Pintu kamar didobrak keras. Beberapa pria berbaju hitam masuk dengan gerakan cepat dan terkoordinasi, langsung mencengkeram tubuh pria gemuk itu. "Apa-apaan ini? Siapa kalian?" bentaknya panik. "Berani-beraninya kalian—" Ucapannya terhenti saat satu sosok lain masuk. Langkahnya pelan, santai, namun auranya cukup untuk membuat bulu kuduk meremang. "K-kau..." suara pria gemuk itu bergetar. Sosok itu mengibaskan tangan, memberi isyarat singkat pada anak buahnya untuk segera menyeret pria tersebut keluar. "Tidak! Lepaskan aku! Aku mohon!" teriaknya histeris, suaranya menghilang di balik pintu yang kembali tertutup rapat. Suasana kembali hening. Hanya napas Audrey yang terdengar berat, terengah, dan tidak beraturan. Tubuhnya gelisah, jari-jarinya terus mengusap lengan dan lehernya sendiri, seolah kulitnya terasa asing. "Kau... siapa kau?" bisiknya lirih. "Bodoh!" suara pria itu terdengar dingin. "Apa yang kau lakukan di tempat seperti ini, hah?" Audrey tidak menjawab. Ia melangkah mendekat, lalu tiba-tiba memeluk pria itu. Tangannya menyentuh wajahnya, menelusuri garis rahang hingga ke leher. Dalam keadaan setengah sadar, ia mencium pria itu tanpa ragu. "Apa yang kau lakukan, Audrey?" suara pria itu menegang. Audrey tersenyum samar. Dengan gerakan lemah namun, penuh hasrat, ia mendorong pria itu hingga terbaring di atas ranjang, lalu menindihnya. "Kau tahu siapa aku?" tanyanya dengan suara serak. "Ah... tentu saja. Kau pasti pernah melihatku di televisi, kan?" Tangannya bergerak gelisah, menarik kemeja pria itu hingga beberapa kancing terlepas. "Hei!" Pria itu mencengkeram lengannya, kini benar-benar menyadari ada yang sangat tidak beres. "Kau tidak baik-baik saja." "Aku?" Audrey tertawa kecil. "Aku hanya menginginkanmu... " "Audrey!" Ia mendorong bahu wanita sedikit terangkat. "Aku akan membawamu ke rumah sakit." "Tidak!" Audrey menolak keras, matanya berkaca-kaca. "Aku tidak mau ke rumah sakit." Ia mendekat lagi, berbisik dengan napas panas di telinganya, "Aku hanya ingin... Tidur denganmu." Pria itu menarik napas panjang, seolah tengah berperang dengan pikirannya sendiri. Lalu, tanpa banyak kata, ia menegakkan tubuhnya, duduk dengan Audrey yang masih berada dalam pangkuannya. Tatapannya mengeras, bukan karena hasrat semata, melainkan keputusan yang terpaksa diambil. "Kau tahu, apa yang kau lakukan, hm?" Audrey terkekeh, melingkarkan kedua tangannya di leher pria itu. "Tentu saja aku tahu. Aku menginginkanmu." "Kau yang bilang, ya, Jadi, jangan menyesal," bisik pria itu. Audrey menggeleng pelan. "Aku tidak akan menyesal. Jadi katakan, siapa namamu, hm?" "Dengarkan baik-baik! Namaku, Leon." Ia menahan tengkuk Audrey, membuat jarak di antara mereka lenyap. Leon mencium lembut bibir Audrey, sangat pelan, sehingga membuat nya tidak sabar dan menginginkan kan lebih. Tangannya bergerak, melepas dengan tergesa kain yang masih menempel di tubuh mereka, tanpa melepas tautan lidah yang saling mengunci. Dunia Audrey berputar, pikirannya mengabur, hanya menyisakan sensasi hangat yang menelan kesadarannya. Lalu, Pria itu mengangkat tubuh Audrey dan membaringkannya di atas tempat tidur, dengan posisi mereka yang berbalik. Leon melepas ciumannya, menatap Audrey dengan nafas tersengal di bawahnya. "Masih belum terlambat untuk berhenti," ucap Leon. Audrey tersenyum. Tangannya mengusap rahang pria itu, turun ke dada dan otot perutnya. "Kau mempunyai tubuh yang bagus. Sayang sekali, jika aku tidak mendapatkan mu malam ini," bisik Audrey. Leon menahan napas. Kedua tangannya mengepal di sisi kepala Audrey. "Kau membuat ku gila, Audrey. Mulai malam ini, kau hanya milikku." Leon kembali menyambar bibir ranum Audrey. Kali ini lebih liar, penuh hasrat yang telah lama tertahan. Perlahan Audrey membalas setiap permainan lidah Leon, seolah tidak mau kalah. Tangan Leon mulai membuka sisa kain yang menempel di tubuh mereka. Hingga sekarang mereka sudah sama-sama polos di bawah selimut yang menutupi tubuh mereka. Nafas mereka saling memburu merasakan getaran-getaran aneh yang menjalar di tubuh mereka. Apalagi saat mereka mulai melakukan penyatuan yang tidak akan pernah mereka lupakan. Ada sensasi aneh yang begitu nikmat, yang sulit di ungkapkan dengan kata-kata. Walau awalnya sakit tapi, gerakan dengan ritme yang beraturan membuat keduanya melayang. Leon tahu ini salah, tapi mereka sudah sama-sama dewasa dan, ini akan menjadi momen terindah dalam hidup mereka. Tidak ada yang bisa menghentikan kegiatan panas mereka. Sampai hari menjelang tengah malam pun kegiatan panas itu masih berlangsung. Mereka seolah tenggelam dalam kenikmatan. Erangan demi erangan terdengar dari mulut keduanya saat mencapai puncak kenikmatan untuk kesekian kalinya. Malam itu pun bergulir, panjang dan sunyi, menyimpan konsekuensi yang kelak tidak bisa dihindari oleh keduanya. *** Sinar matahari menyelinap masuk melalui celah tirai, menusuk kelopak mata Audrey. Ia mengerang pelan, memunggungi cahaya itu. Namun, gerakan kecil tersebut justru membuat tubuhnya menegang, rasa nyeri menjalar hampir ke seluruh sendi di tubuhnya. "Ah... " keluhnya lirih. Perlahan, ia membuka mata dan berusaha memfokuskan pandangan. Kepalanya terasa berat, pikirannya kosong. Ia menegakkan tubuh, membuat selimut yang menutupi tubuhnya, melorot hingga sebatas pinggang. "Aw!" Audrey meringis tajam. Rasa perih itu membuatnya refleks menunduk. "I-ini... " Seketika, matanya membulat sempurna. Ia menarik selimut kembali dengan panik, membungkus tubuhnya rapat-rapat. "Apa yang terjadi?" napasnya tercekat. "Kenapa aku—" Potongan ingatan berkelebat, mulai dari lampu bar yang remang, tawa teman-temannya, segelas bir dingin di tangannya. Audrey memegangi kepalanya, jantungnya berdegup kencang saat kesadaran itu menghantamnya. "Sial!" bisiknya gemetar. Dengan gerakan tergesa, sambil menahan rasa sakit, Audrey turun dari ranjang. Pakaian yang berserakan di lantai ia punguti satu per satu. Tangannya bergetar saat mengenakannya, cermin hanya memberinya pantulan wajah pucat dengan mata sembab. Ia meraih tasnya, melangkah tertatih menuju pintu. Namun, langkahnya terhenti saat terdengar suara gemericik air dari kamar mandi. Audrey menelan ludah kasar. Jantungnya berdegup semakin cepat. Naluri pertamanya hanya satu, yaitu pergi dari sana sekarang. Ia membuka pintu pelan, melongok ke lorong dan seketika tubuhnya membeku. Sekelompok orang dengan kamera besar dan mikrofon berjalan ke arahnya. Kilatan lensa memantul dari dinding hotel. Suara bisik-bisik terdengar jelas, diikuti langkah yang semakin mendekat. Wajah Audrey memucat. Ia mundur cepat, berbelok ke lorong lain namun di sana, pemandangan yang sama menunggunya. Para wartawan dengan sorot mata yang haus sensasi. "Gawat!" gumamnya panik. "Bagaimana ini?" Tanpa berpikir panjang, Audrey berbalik dan kembali ke kamar. Pintu ditutupnya keras, kunci diputar tergesa hingga berbunyi nyaring. Punggungnya bersandar di daun pintu, napasnya terengah. "Kenapa bisa ada banyak wartawan di luar?" bisiknya kacau. "Ini... ini tidak mungkin kebetulan." "Apa yang kau lakukan di sana?" Suara itu membuat seluruh tubuh Audrey menegang. Perlahan, ia mengangkat kepalanya, melihat seorang pria berdiri tidak jauh darinya, dengan handuk yang melilit di pinggang nya. Tetesan air dari rambutnya yang basah, jatuh mengalir di tubuhnya, membuat pria itu terlihat seksi, di tambah wajahnya yang dingin dan tajam, kontras dengan kekacauan di benak Audrey. "K-kau... " suara Audrey nyaris tidak keluar. "Kenapa?" Leon menyunggingkan senyum tipis, nyaris tidak terlihat. "Baru semalam tidur denganku, kau sudah lupa, hm?" Ia mulai melangkah maju, membuat Audrey reflek mundur hingga punggungnya membentur pintu. Tidak ada lagi ruang untuk kabur. "I-itu tidak mungkin. A-aku—" "Tidak mungkin?" Leon berhenti tepat di hadapannya. Dengan gerakan tenang, ia menunjuk dadanya sendiri. "Lalu, ini apa?" Audrey menelan ludahnya kasar. Pandangannya jatuh pada dada Leon yang penuh dengan tanda-tanda merah samar, goresan cakaran halus, yang tidak mungkin bisa ia sangkal. Audrey mengigit bibir bawahnya. "Astaga! Apa benar itu perbuatanku?" batinnya. Jantungnya berdegup liar. "Kenapa aku bisa... seliar itu?" "Masih belum percaya?" tanya Leon datar. "A-aku—" Kalimatnya terputus oleh dering ponsel yang terdengar nyaring. Dengan gerakan panik, Audrey merogoh tasnya. Matanya berbinar saat melihat nama di layar. "Penyelamatku!" gumamnya dengan mata berbinar. Tanpa berpikir panjang, ia menekan tombol hijau dan menempelkan ponsel ke telinganya. "Kak Mic—" "AUDREY!" Audrey refleks menjauhkan ponsel dari telinganya. "DIMANA KAU SEKARANG, HAH?!" Audrey berdecak, mendekatkan kembali ponselnya. "Astaga, Kak Michelle! Kenapa kau berteriak? Telingaku sakit mendengarnya," gerutu Audrey. "Aku tidak peduli!" suara Michelle bergetar menahan amarah. "Sekarang jawab! Kau di mana? Kenapa kau selalu membuatku susah, hah?" Audrey mengerutkan kening, bingung. "Apa maksudmu ?" "Apa maksud ku?" Michelle hampir menjerit. "Kau tidak lihat berita mu ada di mana-mana?!" "Berita?" gumam Audrey lirih. Dengan langkah tertatih, ia melewati Leon, lalu meraih remote di meja samping dan menyalakan televisi. Layar menyala dan dunia Audrey runtuh seketika. "Berita terkini: Seorang aktris pendatang baru berinisial A diduga terlibat praktik open BO di Hotel X. Foto-foto eksklusif kini beredar luas di media sosial... " Wajah Audrey memucat. Ponsel hampir terlepas dari genggamannya. "Tidak!" bisiknya gemetar. "Ini tidak mungkin!"Di hari libur itu, Audrey memilih mengurung diri di kamar. Ia menghabiskan waktunya dengan tidur, mengistirahatkan tubuh dan pikirannya.Bukan karena lelah semata, melainkan ingin lari sejenak dari pikirannya yang kusut. Tubuhnya butuh istirahat, begitu juga jiwanya.Namun, tidur tidak pernah benar-benar memberinya ketenangan.Pikirannya terus dipenuhi bayangan tentang orang yang menjebaknya, tentang rumor keji yang hampir menghancurkan hidupnya, dan karier nya yang ia bangun susah payah. Dan, yang paling mengusiknya adalah tentang Leon. Pria asing yang menghabiskan satu malam bersamanya, lalu menyeretnya ke dalam pernikahan yang sah, tanpa cinta.Meski hubungan mereka tidak diketahui publik, ikatan itu nyata. Legal dan tidak bisa ia sangkal.Dan, yang paling membuatnya menyesal, ia sendiri yang mengangguk setuju saat Leon menuntut pertanggungjawaban itu."Jadi, apa yang kau inginkan?" pertanyaan itu kembali terngiang di kepalanya."Di sini, aku yang dirugikan," suara Leon menjawab d
Di sebuah ruangan bawah tanah yang lembap, lampu gantung tua berayun pelan, memantulkan cahaya kekuningan yang redup dan tidak stabil. Bau karat bercampur darah mengental di udara.Seorang pria gemuk terikat pada kursi besi di tengah ruangan. Pergelangan tangannya membiru karena ikatan yang terlalu kencang. Kepalanya terkulai, napasnya tersengal dan berat, seolah setiap tarikan udara melukai paru-parunya sendiri. Wajahnya hancur oleh lebam, darah mengering di sudut bibir dan pelipisnya. Jubah mandi yang ia kenakan tercabik, menempel pada luka yang belum sempat mengering.Ia mengerang pelan. Bibirnya bergerak, meracau tanpa arah, entah berdoa atau menyesal, tidak ada yang tahu.Lalu, suara langkah kaki menggema di lorong luar.Pelan, namun menekan. Bukan langkah orang yang terburu-buru ataupun ragu. Namun, setiap hentakan sepatu terdengar seperti hitungan mundur menuju kematian.Pria di kursi itu tersentak. Dengan sisa tenaga yang hampir habis, ia mendongak. Pandangannya buram oleh dar
Audrey tidak benar-benar pergi bekerja. Langkahnya justru membawanya ke apartemen Michelle. Kepalanya masih penuh, dadanya sesak, dan ia butuh seseorang yang bisa ia percaya, setidaknya untuk saat ini.Begitu pintu terbuka, Audrey langsung menerobos masuk tanpa berkata apa-apa. Michelle tertegun lalu menoleh dengan wajah heran, sekaligus penasaran."Akhirnya kau datang juga," ujar Michelle sambil menutup pintu dan mengikuti Audrey hingga ke ruang tengah. Ia duduk berhadapan dengan wanita itu, menatapnya lekat. "Sekarang jelaskan. Apa yang sebenarnya terjadi? Tadi di telepon, kau bilang dijebak? Diberi obat? Maksudnya apa, Audrey?" Audrey mengusap wajahnya kasar. Suaranya terdengar lelah saat menjawab, "Kak, aku baru saja sampai. Apa tidak bisa kau memberiku minum dulu?" Michelle berdecak pelan, jelas tidak sabar. Namun ia tetap bangkit, berjalan ke dapur, lalu kembali dengan segelas air putih."Ini," ucapnya singkat sambil menyodorkan gelas.Audrey menerimanya dengan kedua tangan, l
"Itu tidak benar, kak," sangkal Audrey. "Aku di fitnah. Foto itu... pasti foto itu hasil rekayasa." Terdengar desahan panjang di seberang. "Aku juga berharap, semua itu tidak benar, Audrey," ujar Michelle. "Tapi sayangnya, foto itu asli. Itu benar-benar kau. Bahkan, ada keterangan dari staff hotel, tempat kau berada saat itu yang membenarkan jika itu kau." Tubuh Audrey terhuyung, nyaris terjatuh. Namun, tangannya cepat meraih sandaran sofa. "Itu tidak mungkin," lirihnya. Ia mencoba merangkai kembali potongan ingatan yang berserakan. Semalam, jelas ia pergi ke bar bersama Michelle dan yang lain. Lalu, seseorang menyodorkan minuman padanya. Ia sempat ragu, tapi tetap menerimanya. Dan setelah itu...Mata Audrey membelalak sempurna. "Aku dijebak!" pekiknya."Dijebak?" suara Michelle terdengar meninggi di seberang sana. "Apa maksudmu, Audrey?""Semalam, ada orang yang mencampurkan obat kedalam minuman ku, Kak. Setelah meminumnya, aku tidak ingat apa-apa lagi.""Apa?!" teriak Michelle.A
Di lorong hotel yang lengang, seorang wanita tampak berjalan sempoyongan. Langkahnya terseret, napasnya berat. Tangannya berkali-kali mengusap tengkuk, seolah berusaha menenangkan sensasi panas yang menjalar liar di seluruh tubuhnya."Tubuhku... kenapa panas sekali?" gumamnya lirih, pandangannya buram. "Tolong aku... ""Tenang saja!" sebuah suara terdengar dekat, dingin namun, meyakinkan. "Di dalam ada seseorang yang akan menolong mu. Selamat bersenang-senang, Audrey."Audrey tidak sempat melihat siapa pemilik suara itu. Yang ia rasakan hanya dorongan kuat yang membuat tubuhnya terhuyung masuk ke sebuah ruangan dengan pencahayaan temaram."Ini... di mana?" bisik nya panik. "Tolong aku... "Pandangan matanya yang kabur menangkap sosok pria bertubuh gemuk, bertelanjang dada, tengah menyeringai ke arahnya dengan tatapan menjijikkan."Akhirnya kau datang, sayang," ucap pria itu seraya melangkah mendekat, merentangkan kedua tangan. "Kemari lah! Aku akan membantumu."Namun, sebelum jarak m