共有

Wanita Kesayangan Tuan Leon
Wanita Kesayangan Tuan Leon
作者: Adzlan Airey

Bab 1

作者: Adzlan Airey
last update 公開日: 2026-01-06 17:15:33

Di lorong hotel yang lengang, seorang wanita tampak berjalan sempoyongan. Langkahnya terseret, napasnya berat. Tangannya berkali-kali mengusap tengkuk, seolah berusaha menenangkan sensasi panas yang menjalar liar di seluruh tubuhnya.

"Tubuhku... kenapa panas sekali?" gumamnya lirih, pandangannya buram. "Tolong aku... "

"Tenang saja!" sebuah suara terdengar dekat, dingin namun, meyakinkan. "Di dalam ada seseorang yang akan menolong mu. Selamat bersenang-senang, Audrey."

Audrey tidak sempat melihat siapa pemilik suara itu. Yang ia rasakan hanya dorongan kuat yang membuat tubuhnya terhuyung masuk ke sebuah ruangan dengan pencahayaan temaram.

"Ini... di mana?" bisik nya panik. "Tolong aku... "

Pandangan matanya yang kabur menangkap sosok pria bertubuh gemuk, bertelanjang dada, tengah menyeringai ke arahnya dengan tatapan menjijikkan.

"Akhirnya kau datang, sayang," ucap pria itu seraya melangkah mendekat, merentangkan kedua tangan. "Kemari lah! Aku akan membantumu."

Namun, sebelum jarak mereka benar-benar menyempit, tiba-tiba—

BRAKH!

Pintu kamar didobrak keras. Beberapa pria berbaju hitam masuk dengan gerakan cepat dan terkoordinasi, langsung mencengkeram tubuh pria gemuk itu.

"Apa-apaan ini? Siapa kalian?" bentaknya panik. "Berani-beraninya kalian—" Ucapannya terhenti saat satu sosok lain masuk. Langkahnya pelan, santai, namun auranya cukup untuk membuat bulu kuduk meremang.

"K-kau..." suara pria gemuk itu bergetar.

Sosok itu mengibaskan tangan, memberi isyarat singkat pada anak buahnya untuk segera menyeret pria tersebut keluar.

"Tidak! Lepaskan aku! Aku mohon!" teriaknya histeris, suaranya menghilang di balik pintu yang kembali tertutup rapat.

Suasana kembali hening. Hanya napas Audrey yang terdengar berat, terengah, dan tidak beraturan. Tubuhnya gelisah, jari-jarinya terus mengusap lengan dan lehernya sendiri, seolah kulitnya terasa asing.

"Kau... siapa kau?" bisiknya lirih.

"Bodoh!" suara pria itu terdengar dingin. "Apa yang kau lakukan di tempat seperti ini, hah?"

Audrey tidak menjawab. Ia melangkah mendekat, lalu tiba-tiba memeluk pria itu. Tangannya menyentuh wajahnya, menelusuri garis rahang hingga ke leher. Dalam keadaan setengah sadar, ia mencium pria itu tanpa ragu.

"Apa yang kau lakukan, Audrey?" suara pria itu menegang.

Audrey tersenyum samar. Dengan gerakan lemah namun, penuh hasrat, ia mendorong pria itu hingga terbaring di atas ranjang, lalu menindihnya.

"Kau tahu siapa aku?" tanyanya dengan suara serak. "Ah... tentu saja. Kau pasti pernah melihatku di televisi, kan?" Tangannya bergerak gelisah, menarik kemeja pria itu hingga beberapa kancing terlepas.

"Hei!" Pria itu mencengkeram lengannya, kini benar-benar menyadari ada yang sangat tidak beres. "Kau tidak baik-baik saja."

"Aku?" Audrey tertawa kecil. "Aku hanya menginginkanmu... "

"Audrey!" Ia mendorong bahu wanita sedikit terangkat. "Aku akan membawamu ke rumah sakit."

"Tidak!" Audrey menolak keras, matanya berkaca-kaca. "Aku tidak mau ke rumah sakit." Ia mendekat lagi, berbisik dengan napas panas di telinganya, "Aku hanya ingin... Tidur denganmu."

Pria itu menarik napas panjang, seolah tengah berperang dengan pikirannya sendiri. Lalu, tanpa banyak kata, ia menegakkan tubuhnya, duduk dengan Audrey yang masih berada dalam pangkuannya.

Tatapannya mengeras, bukan karena hasrat semata, melainkan keputusan yang terpaksa diambil.

"Kau tahu, apa yang kau lakukan, hm?"

Audrey terkekeh, melingkarkan kedua tangannya di leher pria itu. "Tentu saja aku tahu. Aku menginginkanmu."

"Kau yang bilang, ya, Jadi, jangan menyesal," bisik pria itu.

Audrey menggeleng pelan. "Aku tidak akan menyesal. Jadi katakan, siapa namamu, hm?"

"Dengarkan baik-baik! Namaku, Leon." Ia menahan tengkuk Audrey, membuat jarak di antara mereka lenyap.

Leon mencium lembut bibir Audrey, sangat pelan, sehingga membuat nya tidak sabar dan menginginkan kan lebih.

Tangannya bergerak, melepas dengan tergesa kain yang masih menempel di tubuh mereka, tanpa melepas tautan lidah yang saling mengunci.

Dunia Audrey berputar, pikirannya mengabur, hanya menyisakan sensasi hangat yang menelan kesadarannya.

Lalu, Pria itu mengangkat tubuh Audrey dan membaringkannya di atas tempat tidur, dengan posisi mereka yang berbalik.

Leon melepas ciumannya, menatap Audrey dengan nafas tersengal di bawahnya.

"Masih belum terlambat untuk berhenti," ucap Leon.

Audrey tersenyum. Tangannya mengusap rahang pria itu, turun ke dada dan otot perutnya.

"Kau mempunyai tubuh yang bagus. Sayang sekali, jika aku tidak mendapatkan mu malam ini," bisik Audrey.

Leon menahan napas. Kedua tangannya mengepal di sisi kepala Audrey.

"Kau membuat ku gila, Audrey. Mulai malam ini, kau hanya milikku." Leon kembali menyambar bibir ranum Audrey. Kali ini lebih liar, penuh hasrat yang telah lama tertahan. Perlahan Audrey membalas setiap permainan lidah Leon, seolah tidak mau kalah.

Tangan Leon mulai membuka sisa kain yang menempel di tubuh mereka. Hingga sekarang mereka sudah sama-sama polos di bawah selimut yang menutupi tubuh mereka.

Nafas mereka saling memburu merasakan getaran-getaran aneh yang menjalar di tubuh mereka. Apalagi saat mereka mulai melakukan penyatuan yang tidak akan pernah mereka lupakan.

Ada sensasi aneh yang begitu nikmat, yang sulit di ungkapkan dengan kata-kata. Walau awalnya sakit tapi, gerakan dengan ritme yang beraturan membuat keduanya melayang.

Leon tahu ini salah, tapi mereka sudah sama-sama dewasa dan, ini akan menjadi momen terindah dalam hidup mereka.

Tidak ada yang bisa menghentikan kegiatan panas mereka. Sampai hari menjelang tengah malam pun kegiatan panas itu masih berlangsung. Mereka seolah tenggelam dalam kenikmatan. Erangan demi erangan terdengar dari mulut keduanya saat mencapai puncak kenikmatan untuk kesekian kalinya.

Malam itu pun bergulir, panjang dan sunyi, menyimpan konsekuensi yang kelak tidak bisa dihindari oleh keduanya.

***

Sinar matahari menyelinap masuk melalui celah tirai, menusuk kelopak mata Audrey. Ia mengerang pelan, memunggungi cahaya itu. Namun, gerakan kecil tersebut justru membuat tubuhnya menegang, rasa nyeri menjalar hampir ke seluruh sendi di tubuhnya.

"Ah... " keluhnya lirih.

Perlahan, ia membuka mata dan berusaha memfokuskan pandangan. Kepalanya terasa berat, pikirannya kosong. Ia menegakkan tubuh, membuat selimut yang menutupi tubuhnya, melorot hingga sebatas pinggang.

"Aw!" Audrey meringis tajam. Rasa perih itu membuatnya refleks menunduk.

"I-ini... " Seketika, matanya membulat sempurna. Ia menarik selimut kembali dengan panik, membungkus tubuhnya rapat-rapat.

"Apa yang terjadi?" napasnya tercekat. "Kenapa aku—" Potongan ingatan berkelebat, mulai dari lampu bar yang remang, tawa teman-temannya, segelas bir dingin di tangannya.

Audrey memegangi kepalanya, jantungnya berdegup kencang saat kesadaran itu menghantamnya.

"Sial!" bisiknya gemetar.

Dengan gerakan tergesa, sambil menahan rasa sakit, Audrey turun dari ranjang. Pakaian yang berserakan di lantai ia punguti satu per satu. Tangannya bergetar saat mengenakannya, cermin hanya memberinya pantulan wajah pucat dengan mata sembab.

Ia meraih tasnya, melangkah tertatih menuju pintu. Namun, langkahnya terhenti saat terdengar suara gemericik air dari kamar mandi.

Audrey menelan ludah kasar. Jantungnya berdegup semakin cepat. Naluri pertamanya hanya satu, yaitu pergi dari sana sekarang.

Ia membuka pintu pelan, melongok ke lorong dan seketika tubuhnya membeku.

Sekelompok orang dengan kamera besar dan mikrofon berjalan ke arahnya. Kilatan lensa memantul dari dinding hotel. Suara bisik-bisik terdengar jelas, diikuti langkah yang semakin mendekat.

Wajah Audrey memucat. Ia mundur cepat, berbelok ke lorong lain namun di sana, pemandangan yang sama menunggunya. Para wartawan dengan sorot mata yang haus sensasi.

"Gawat!" gumamnya panik. "Bagaimana ini?"

Tanpa berpikir panjang, Audrey berbalik dan kembali ke kamar. Pintu ditutupnya keras, kunci diputar tergesa hingga berbunyi nyaring. Punggungnya bersandar di daun pintu, napasnya terengah.

"Kenapa bisa ada banyak wartawan di luar?" bisiknya kacau. "Ini... ini tidak mungkin kebetulan."

"Apa yang kau lakukan di sana?"

Suara itu membuat seluruh tubuh Audrey menegang. Perlahan, ia mengangkat kepalanya, melihat seorang pria berdiri tidak jauh darinya, dengan handuk yang melilit di pinggang nya. Tetesan air dari rambutnya yang basah, jatuh mengalir di tubuhnya, membuat pria itu terlihat seksi, di tambah wajahnya yang dingin dan tajam, kontras dengan kekacauan di benak Audrey.

"K-kau... " suara Audrey nyaris tidak keluar.

"Kenapa?" Leon menyunggingkan senyum tipis, nyaris tidak terlihat. "Baru semalam tidur denganku, kau sudah lupa, hm?"

Ia mulai melangkah maju, membuat Audrey reflek mundur hingga punggungnya membentur pintu. Tidak ada lagi ruang untuk kabur.

"I-itu tidak mungkin. A-aku—"

"Tidak mungkin?" Leon berhenti tepat di hadapannya. Dengan gerakan tenang, ia menunjuk dadanya sendiri. "Lalu, ini apa?"

Audrey menelan ludahnya kasar. Pandangannya jatuh pada dada Leon yang penuh dengan tanda-tanda merah samar, goresan cakaran halus, yang tidak mungkin bisa ia sangkal.

Audrey mengigit bibir bawahnya. "Astaga! Apa benar itu perbuatanku?" batinnya. Jantungnya berdegup liar. "Kenapa aku bisa... seliar itu?"

"Masih belum percaya?" tanya Leon datar.

"A-aku—" Kalimatnya terputus oleh dering ponsel yang terdengar nyaring. Dengan gerakan panik, Audrey merogoh tasnya. Matanya berbinar saat melihat nama di layar.

"Penyelamatku!" gumamnya dengan mata berbinar. Tanpa berpikir panjang, ia menekan tombol hijau dan menempelkan ponsel ke telinganya. "Kak Mic—"

"AUDREY!"

Audrey refleks menjauhkan ponsel dari telinganya.

"DIMANA KAU SEKARANG, HAH?!"

Audrey berdecak, mendekatkan kembali ponselnya. "Astaga, Kak Michelle! Kenapa kau berteriak? Telingaku sakit mendengarnya," gerutu Audrey.

"Aku tidak peduli!" suara Michelle bergetar menahan amarah. "Sekarang jawab! Kau di mana? Kenapa kau selalu membuatku susah, hah?"

Audrey mengerutkan kening, bingung. "Apa maksudmu ?"

"Apa maksud ku?" Michelle hampir menjerit. "Kau tidak lihat berita mu ada di mana-mana?!"

"Berita?" gumam Audrey lirih. Dengan langkah tertatih, ia melewati Leon, lalu meraih remote di meja samping dan menyalakan televisi.

Layar menyala dan dunia Audrey runtuh seketika.

"Berita terkini: Seorang aktris pendatang baru berinisial A diduga terlibat praktik open BO di Hotel X. Foto-foto eksklusif kini beredar luas di media sosial... "

Wajah Audrey memucat. Ponsel hampir terlepas dari genggamannya.

"Tidak!" bisiknya gemetar. "Ini tidak mungkin!"

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Wanita Kesayangan Tuan Leon    Bab 55

    Beberapa jam sebelumnya...Pintu ruang rawat Audrey terbuka kasar. Leon melangkah masuk dengan wajah dingin, diikuti Andrew di belakangnya. Aura pria itu terasa begitu menekan hingga udara di ruangan mendadak terasa berat.Namun, langkah Leon tiba-tiba terhenti. Tatapannya menyapu ruangan itu tajam.Suasana di ruangan itu terasa sunyi.Di atas ranjang, seseorang berbaring dengan selimut menutupi tubuh hingga kepala. Rambut panjang terurai, terlihat sebagian saja.Leon menyipitkan matanya. Ada sesuatu yang terasa aneh."Audrey?" panggilnya rendah.Tidak ada jawaban.Leon berjalan mendekat perlahan. Dan, dalam satu tarikan kasar, ia menarik selimut itu dan melemparnya begitu saja.Andrew langsung membelalak."Dokter Grace?!"Wanita itu mengerjapkan matanya, berpura-pura baru saja tersadar dengan tangan yang memijat pelipisnya."Ada apa ini?" gumamnya lirih. "Di mana aku?" Grace melihat sekeliling, lalu tatapannya jatuh pada Leon yang menatapnya tajam.Grace tersentak. Dia buru-buru tur

  • Wanita Kesayangan Tuan Leon    Bab 54

    Kafe di Jalan X tidak terlalu ramai siang itu.Aroma kopi memenuhi ruangan, bercampur suara pelan musik yang mengalun lembut. Namun, semua itu sama sekali tidak mampu menenangkan Audrey.Ia duduk di sudut ruangan, masih mengenakan jas putih milik Dokter Grace. Masker menutupi sebagian besar wajahnya, sementara rambutnya sengaja ia gerai untuk menyamarkan penampilannya.Tidak ada seorang pun yang mengenalinya. Namun tetap saja, Audrey merasa seolah semua mata sedang mengawasinya.Kedua tangannya saling menggenggam erat di atas meja. Jemarinya dingin dan sedikit gemetar. Sesekali ia menoleh ke arah pintu masuk dengan napas gelisah."Cepat, Kak Michelle," gumamnya lirih. "Aku tidak punya banyak waktu."Beberapa menit berlalu terasa begitu lama. Hingga akhirnya, pintu kafe terbuka saat seseorang masuk.Mata Audrey langsung mengenali wanita itu.Michelle. Namun, Audrey tidak langsung bergerak. Ia tetap diam di tempatnya, memperhatikan dengan waspada. Tatapannya mengikuti setiap langkah Mi

  • Wanita Kesayangan Tuan Leon    Bab 53

    Malam itu, suasana di kediaman Leon terasa jauh dari kata tenang.Di sebuah ruangan luas yang gelap, hanya diterangi cahaya redup dari lampu sudut, Leon duduk sendirian. Beberapa botol minuman berserakan di lantai, sebagian sudah kosong, sebagian lagi masih setengah terisi.Ia menggenggam satu botol di tangannya, meneguknya tanpa jeda.Wajahnya memerah, napasnya berat, namun tatapannya kosong.Untuk pertama kalinya, pria yang selalu terlihat kuat itu, tampak kacau."Dia sudah tahu semuanya," gumamnya.Suara Audrey kembali terngiang di kepalanya. Tentang siapa dirinya. Tentang darah yang menempel di tangannya. Tentang masa lalu yang ia kubur dalam-dalam. Dan, yang paling menyakitkan tentang kematian kedua orang tua Audrey dan anak mereka.Leon terdiam. Napasnya tertahan. Lalu, perlahan bayangan Reymond muncul di benaknya. Suara itu kembali menggema, menusuk tanpa ampun."Ka-kau mungkin berhasil membunuhku. Ta-tapi… kau juga kehilangan segalanya."Leon menggeram keras. Botol di tanganny

  • Wanita Kesayangan Tuan Leon    Bab 52

    Leon kembali ke rumah sakit dengan langkah tenang, namun aura dingin masih menyelimuti dirinya. Di depan ruangan, dua anak buahnya berdiri berjaga. Saat melihatnya datang, keduanya langsung menunduk hormat."Pergi," ucap Leon singkat, tanpa menatap.Keduanya segera menegakkan tubuh, membungkuk sekali lagi, lalu pergi meninggalkan tempat itu.Suasana mendadak sunyi.Leon terdiam di depan pintu. Tangannya perlahan terangkat, menggenggam kenop pintu. Ia menarik napas dalam, seolah menekan sesuatu yang bergolak di dalam dadanya, sebelum akhirnya membuka pintu dan masuk.Di dalam ruangan, Audrey terbaring terdiam di atas ranjang. Tatapannya menoleh ke arah jendela, kosong, seolah pikirannya melayang jauh.Leon mendekat perlahan, lalu duduk di sisi ranjang."Bagaimana keadaanmu, sayang?" tanyanya pelan.Tidak ada jawaban. Audrey hanya diam.Beberapa detik kemudian, ia memalingkan wajah ke arah lain, menjauh dari Leon, seolah enggan bahkan sekadar menatapnya.Leon terdiam sesaat. Namun, ia t

  • Wanita Kesayangan Tuan Leon    Bab 51

    Leon terdiam. Tangannya mengepal erat di sisi tubuhnya, urat-urat di punggung tangannya tampak menegang. Rahangnya mengeras, napasnya memburu, namun, sekuat tenaga ia menahan emosinya agar tidak meledak di depan Audrey.Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang menyesakkan sebelum akhirnya Leon mengalihkan pembicaraan."Tubuhmu masih lemah. Kata dokter, kau harus—""Aku ingin bercerai, Leon," potong Audrey tegas, menatap pria itu tanpa gentar.Leon terpaku. Sorot matanya bergetar sesaat, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar."Ja-jangan bercanda, Sayang.""Aku tidak bercanda!" seru Audrey dengan suara yang mulai bergetar menahan emosi. "Aku serius."Kepalan tangan Leon semakin erat. Emosi yang sedari tadi ia tahan perlahan mendidih di dalam dadanya. Namun, beberapa saat kemudian, ia menarik napas panjang, memaksa dirinya tetap tenang. Perlahan, jemarinya terbuka."Istirahatlah!" Suara Leon terdengar dingin dan datar.Tanpa berkata apa-apa lagi, ia berbalik lalu

  • Wanita Kesayangan Tuan Leon    Bab 50

    Sesampainya di rumah sakit, Audrey langsung dilarikan ke ruang gawat darurat. Pintu tertutup rapat, memisahkan dunia luar dari perjuangan hidup dan mati yang terjadi di dalamnya.Di luar, Leon Alexander berdiri diam. Wajahnya tampak tenang. Namun pikirannya kacau.Untuk pertama kali dalam hidupnya, ia merasakan sesuatu yang tidak pernah ia izinkan sebelumnya. Takut kehilangan.Tatapannya kosong menembus pintu, seolah berharap bisa melihat apa yang terjadi di balik sana. Bayangan Audrey yang terbaring lemah terus berputar di benaknya.Dan satu pikiran terus menghantuinya, jika sesuatu terjadi pada wanita itu, ia tidak akan pernah bisa memaafkan dirinya sendiri.Di dalam ruangan, para dokter bergerak cepat.Alat bantu pernapasan segera dipasang. Monitor berdetak tidak beraturan, menunjukkan kondisi yang kritis. Darah yang terus merembes membuat tim medis bersiap melakukan tindakan operasi.Namun, saat pemeriksaan lebih lanjut dilakukan, gerakan mereka perlahan melambat.Ekspresi wajah m

  • Wanita Kesayangan Tuan Leon    Bab 42

    Karena tidak mendapatkan petunjuk, akhirnya Leon memilih mundur. Namun, bukan berarti dia menyerah. Justru, ia semakin gencar mencari tempat persembunyian Reymond. Dan kali ini, Leon tidak kembali ke apartemen Audrey, melainkan ke markasnya. Di ruang luas, gelap, dan sunyi. Hanya cahaya redup dar

  • Wanita Kesayangan Tuan Leon    Bab 7

    Siang akhirnya berganti malam yang gemerlap. Tepat pukul tujuh, mobil yang membawa Audrey dan Michelle berhenti di depan gedung stasiun televisi yang menjulang tinggi, dinding kacanya memantulkan cahaya lampu kota seperti lautan bintang buatan. Audrey turun perlahan. Sepatu haknya menyentuh trotoa

  • Wanita Kesayangan Tuan Leon    Bab 6

    Audrey menjatuhkan kepalanya di atas lipatan tangan di meja, bahunya turun naik oleh helaan napas panjang yang terasa berat. Rambutnya yang sedikit berantakan menutupi sebagian wajahnya, seolah ia ingin bersembunyi dari kenyataan yang menakutkan."Aku harus bagaimana, Kak?" suaranya terdengar lirih

  • Wanita Kesayangan Tuan Leon    Bab 5

    Di hari libur itu, Audrey memilih mengurung diri di kamar. Ia menghabiskan waktunya dengan tidur, mengistirahatkan tubuh dan pikirannya.Bukan karena lelah semata, melainkan ingin lari sejenak dari pikirannya yang kusut. Tubuhnya butuh istirahat, begitu juga jiwanya.Namun, tidur tidak pernah benar

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status