Share

Bab 5

Penulis: Adzlan Airey
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-10 19:26:49

Di hari libur itu, Audrey memilih mengurung diri di kamar. Ia menghabiskan waktunya dengan tidur, mengistirahatkan tubuh dan pikirannya.

Bukan karena lelah semata, melainkan ingin lari sejenak dari pikirannya yang kusut. Tubuhnya butuh istirahat, begitu juga jiwanya.

Namun, tidur tidak pernah benar-benar memberinya ketenangan.

Pikirannya terus dipenuhi bayangan tentang orang yang menjebaknya, tentang rumor keji yang hampir menghancurkan hidupnya, dan karier nya yang ia bangun susah payah. Dan, yang paling mengusiknya adalah tentang Leon. Pria asing yang menghabiskan satu malam bersamanya, lalu menyeretnya ke dalam pernikahan yang sah, tanpa cinta.

Meski hubungan mereka tidak diketahui publik, ikatan itu nyata. Legal dan tidak bisa ia sangkal.

Dan, yang paling membuatnya menyesal, ia sendiri yang mengangguk setuju saat Leon menuntut pertanggungjawaban itu.

"Jadi, apa yang kau inginkan?" pertanyaan itu kembali terngiang di kepalanya.

"Di sini, aku yang dirugikan," suara Leon menjawab dingin. "Menurutmu, bagaimana kau akan bertanggung jawab, Nona Audrey?"

"Kenapa kau bertanya padaku? Aku ingin memberimu uang, tapi kau menolak."

"Kalau begitu... " Leon menjeda ucapannya, lalu suara itu terdengar jelas, dan kejam. "Bagaimana dengan menikah?"

Audrey tersentak dan membuka mata. Ia menghela napas panjang, merasa dadanya berat.

Pertemuan dengan Leon kembali berputar di kepalanya, seperti rekaman film yang rusak, diputar berulang, tanpa bisa dihentikan.

"Hah... lagi-lagi mimpi itu," gumamnya pelan, suaranya serak oleh sisa tidur yang tak benar-benar menenangkan.

Ia mengangkat tangan ke wajahnya, menutup mata sejenak. Dada terasa berat, seperti ada sesuatu yang menekan dari dalam. Lalu, pandangannya beralih ke jam dinding yang sudah menunjukkan pukul delapan pagi.

Dengan malas, Audrey bangun, menyibak selimut dan turun dari tempat tidur. Langkahnya gontai saat menuju kamar mandi. Ia membasuh wajah dengan air dingin, berharap bisa menyadarkan dirinya dari kenyataan yang terasa asing.

Namun, saat ia menatap pantulan dirinya di cermin, napasnya kembali tertahan.

Pantulan di hadapannya masihlah Audrey Willys yang dikenal banyak orang. Wajah cantik yang sering memenuhi layar televisi. Kulit mulus, garis rahang tegas. Sosok yang dipuja dan dibicarakan.

Tetapi sorot matanya tampak berbeda. Ada bayangan gelap di sana. Rasa lelah yang tidak bisa ditutup riasan.

Audrey menyentuh cermin itu perlahan, seolah memastikan bahwa wanita di depannya benar-benar dirinya.

Audrey mendesah pelan. Dalam semalam, hidupnya berubah. Bukan hanya karena rumor atau karena hidup nyaris hancur karena di jebak. Tapi, karena kini, ia terikat pada seorang pria yang tidak ia kenal.

Ia melirik ke sudut kamar, ke arah lemari kaca tempat piala-piala penghargaan berjajar rapi. Trofi aktris pendamping terbaik, Artis pendatang baru terpopuler. Wajahnya terukir dalam plakat-plakat emas yang dulu membuatnya hampir menangis bahagia.

Dulu, benda-benda itu membuat dadanya membusung bangga. Kini, tidak ada rasa apa-apa. Semua terasa kosong.

Piala-piala itu tidak lagi terasa istimewa. Karena untuk pertama kalinya, Audrey sadar, kesuksesan yang ia raih tidak mampu melindunginya dari kehancuran yang datang.

"Aku beruntung, rumor skandal itu menghilang tanpa jejak. Tapi, tetap saja, semua orang sudah melihat," gumamnya.

"Ahh... kenapa bisa begini?" Audrey menarik rambutnya frustrasi. Ia kembali menatap pantulan dirinya di cermin, senyum pahit terukir di bibirnya. "Nasibmu malang sekali, Audrey. Ck... kasihan,' gumamnya lirih.

Ia mendesah panjang, lalu membasuh wajahnya sekali lagi. Namun, belum sempat pikirannya tenang, suara bel apartemen berbunyi nyaring.

Audrey tersentak. Dengan tergesa, ia meraih handuk, mengusap wajahnya asal-asalan, lalu melangkah keluar kamar mandi.

"Astaga, Kak Michelle. Sudah ku bilang, aku tidak mau diganggu. Kenapa kau masih juga—" Ucapan Audrey terhenti tepat saat pintu terbuka.

"—datang," lirihnya. Tubuhnya menegang, melihat Leon yang berdiri di depan pintu

Tatapannya menyapu Audrey dari ujung rambut yang masih sedikit acak, turun ke wajahnya yang polos tanpa riasan, hingga ke kaki telanjang yang menyentuh lantai yang dingin.

"Kau—"

 Audrey refleks merapikan rambutnya yang masih sedikit berantakan.

Leon tersenyum tipis. "Kau baru bangun tidur, ya?" tanya Leon santai.

Audrey berdehem pelan. Ia merentangkan satu tangan, sengaja menghalangi pintu. "Ada perlu apa kau datang kemari?" suaranya berusaha terdengar tegas, meski jantungnya berdetak tidak beraturan.

Leon menaikkan kedua alisnya. "Kau lupa?" ucapnya pelan. "Aku ini suamimu."

Ia mendekat setengah langkah, menunduk, mensejajarkan wajahnya dengan Audrey. "Jadi, aku berhak datang ke sini kapan pun aku mau."

Sebelum Audrey sempat bereaksi, Leon menepis tangannya dan menerobos masuk begitu saja.

"Kau—" Audrey berbalik cepat, mendengus kasar lalu menutup pintu sebelum ada yang melihat. "Kau tidak bisa seenaknya masuk ke apartemen ku. Bagaimana jika ada yang melihat, hah?"

Leon berhenti di tengah ruangan. Ia menoleh perlahan, tatapannya dingin namun penuh kendali.

"Aku tidak peduli," jawabnya santai. "Jika ada yang melihat, kita tinggal menunjuk akta nikah, beres."

Audrey mengepalkan tangan di sisi tubuhnya. "Mudah bagimu. Tapi, bagiku?" Audrey menunjuk dirinya sendiri. "Aku setuju menikah, bukan berarti kau bisa seenaknya. Kau sudah setuju merahasiakan pernikahan kita, setidaknya sampai kontrak ku dengan agensi selesai."

"Kapan?" Leon mendekat, berhenti tepat di hadapannya, cukup dekat hingga Audrey bisa mencium aroma maskulinnya yang asing namun berhasil membuatnya berdebar.

"Sampai kapan aku harus bersembunyi?" lanjut Leon.

"A-aku tidak memintamu untuk bersembunyi. Tapi, aku tidak boleh menjalin hubungan dengan pria selama terikat kontrak dengan agensi. Jadi, tolong mengertilah."

"Kalau begitu, mudah saja," ucap Leon. "Aku bisa menyamar sebagai bodyguard mu."

"Bodyguard?" ulangnya dengan nada yang sedikit meninggi. "Kau ingin menjadi bodyguard untuk melindungi ku, atau mengawasi ku?"

 "Tentu saja... Dua-duanya. Aku hanya memastikan istriku aman," ucap Leon.

Audrey mendengus kasar. "Kau benar-benar tidak masuk akal," gerutunya. Ia berbalik, membuka pintu lebar-lebar. "Sekarang, silahkan pergi dari sini."

"Kau mengusirku?" Leon melotot tak percaya.

"Ya," jawab Audrey. " Aku memintaku untuk bertanggungjawab. Dan, aku sudah melakukannya. Jadi, tidak ada yang perlu kita bahas lagi. Sekarang, silahkan pergi!"

Leon tidak marah, justru ia tersenyum miring. Langkahnya perlahan mendekat, dan berdiri tepat di hadapan Audrey.

"Baiklah, aku akan pergi. Nanti, aku yakin kau akan datang padaku, saat perut mu membesar." Tanpa menunggu reaksi Audrey, Leon pergi begitu saja.

"Pe-perut membesar?" Tubuh Audrey seketika menegang. Tangannya refleks memegang perutnya. "A-apa maksudnya... Hamil?"

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Wanita Kesayangan Tuan Leon    Bab 5

    Di hari libur itu, Audrey memilih mengurung diri di kamar. Ia menghabiskan waktunya dengan tidur, mengistirahatkan tubuh dan pikirannya.Bukan karena lelah semata, melainkan ingin lari sejenak dari pikirannya yang kusut. Tubuhnya butuh istirahat, begitu juga jiwanya.Namun, tidur tidak pernah benar-benar memberinya ketenangan.Pikirannya terus dipenuhi bayangan tentang orang yang menjebaknya, tentang rumor keji yang hampir menghancurkan hidupnya, dan karier nya yang ia bangun susah payah. Dan, yang paling mengusiknya adalah tentang Leon. Pria asing yang menghabiskan satu malam bersamanya, lalu menyeretnya ke dalam pernikahan yang sah, tanpa cinta.Meski hubungan mereka tidak diketahui publik, ikatan itu nyata. Legal dan tidak bisa ia sangkal.Dan, yang paling membuatnya menyesal, ia sendiri yang mengangguk setuju saat Leon menuntut pertanggungjawaban itu."Jadi, apa yang kau inginkan?" pertanyaan itu kembali terngiang di kepalanya."Di sini, aku yang dirugikan," suara Leon menjawab d

  • Wanita Kesayangan Tuan Leon    Bab 4

    Di sebuah ruangan bawah tanah yang lembap, lampu gantung tua berayun pelan, memantulkan cahaya kekuningan yang redup dan tidak stabil. Bau karat bercampur darah mengental di udara.Seorang pria gemuk terikat pada kursi besi di tengah ruangan. Pergelangan tangannya membiru karena ikatan yang terlalu kencang. Kepalanya terkulai, napasnya tersengal dan berat, seolah setiap tarikan udara melukai paru-parunya sendiri. Wajahnya hancur oleh lebam, darah mengering di sudut bibir dan pelipisnya. Jubah mandi yang ia kenakan tercabik, menempel pada luka yang belum sempat mengering.Ia mengerang pelan. Bibirnya bergerak, meracau tanpa arah, entah berdoa atau menyesal, tidak ada yang tahu.Lalu, suara langkah kaki menggema di lorong luar.Pelan, namun menekan. Bukan langkah orang yang terburu-buru ataupun ragu. Namun, setiap hentakan sepatu terdengar seperti hitungan mundur menuju kematian.Pria di kursi itu tersentak. Dengan sisa tenaga yang hampir habis, ia mendongak. Pandangannya buram oleh dar

  • Wanita Kesayangan Tuan Leon    Bab 3

    Audrey tidak benar-benar pergi bekerja. Langkahnya justru membawanya ke apartemen Michelle. Kepalanya masih penuh, dadanya sesak, dan ia butuh seseorang yang bisa ia percaya, setidaknya untuk saat ini.Begitu pintu terbuka, Audrey langsung menerobos masuk tanpa berkata apa-apa. Michelle tertegun lalu menoleh dengan wajah heran, sekaligus penasaran."Akhirnya kau datang juga," ujar Michelle sambil menutup pintu dan mengikuti Audrey hingga ke ruang tengah. Ia duduk berhadapan dengan wanita itu, menatapnya lekat. "Sekarang jelaskan. Apa yang sebenarnya terjadi? Tadi di telepon, kau bilang dijebak? Diberi obat? Maksudnya apa, Audrey?" Audrey mengusap wajahnya kasar. Suaranya terdengar lelah saat menjawab, "Kak, aku baru saja sampai. Apa tidak bisa kau memberiku minum dulu?" Michelle berdecak pelan, jelas tidak sabar. Namun ia tetap bangkit, berjalan ke dapur, lalu kembali dengan segelas air putih."Ini," ucapnya singkat sambil menyodorkan gelas.Audrey menerimanya dengan kedua tangan, l

  • Wanita Kesayangan Tuan Leon    Bab 2

    "Itu tidak benar, kak," sangkal Audrey. "Aku di fitnah. Foto itu... pasti foto itu hasil rekayasa." Terdengar desahan panjang di seberang. "Aku juga berharap, semua itu tidak benar, Audrey," ujar Michelle. "Tapi sayangnya, foto itu asli. Itu benar-benar kau. Bahkan, ada keterangan dari staff hotel, tempat kau berada saat itu yang membenarkan jika itu kau." Tubuh Audrey terhuyung, nyaris terjatuh. Namun, tangannya cepat meraih sandaran sofa. "Itu tidak mungkin," lirihnya. Ia mencoba merangkai kembali potongan ingatan yang berserakan. Semalam, jelas ia pergi ke bar bersama Michelle dan yang lain. Lalu, seseorang menyodorkan minuman padanya. Ia sempat ragu, tapi tetap menerimanya. Dan setelah itu...Mata Audrey membelalak sempurna. "Aku dijebak!" pekiknya."Dijebak?" suara Michelle terdengar meninggi di seberang sana. "Apa maksudmu, Audrey?""Semalam, ada orang yang mencampurkan obat kedalam minuman ku, Kak. Setelah meminumnya, aku tidak ingat apa-apa lagi.""Apa?!" teriak Michelle.A

  • Wanita Kesayangan Tuan Leon    Bab 1

    Di lorong hotel yang lengang, seorang wanita tampak berjalan sempoyongan. Langkahnya terseret, napasnya berat. Tangannya berkali-kali mengusap tengkuk, seolah berusaha menenangkan sensasi panas yang menjalar liar di seluruh tubuhnya."Tubuhku... kenapa panas sekali?" gumamnya lirih, pandangannya buram. "Tolong aku... ""Tenang saja!" sebuah suara terdengar dekat, dingin namun, meyakinkan. "Di dalam ada seseorang yang akan menolong mu. Selamat bersenang-senang, Audrey."Audrey tidak sempat melihat siapa pemilik suara itu. Yang ia rasakan hanya dorongan kuat yang membuat tubuhnya terhuyung masuk ke sebuah ruangan dengan pencahayaan temaram."Ini... di mana?" bisik nya panik. "Tolong aku... "Pandangan matanya yang kabur menangkap sosok pria bertubuh gemuk, bertelanjang dada, tengah menyeringai ke arahnya dengan tatapan menjijikkan."Akhirnya kau datang, sayang," ucap pria itu seraya melangkah mendekat, merentangkan kedua tangan. "Kemari lah! Aku akan membantumu."Namun, sebelum jarak m

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status