MasukDi hari libur itu, Audrey memilih mengurung diri di kamar. Ia menghabiskan waktunya dengan tidur, mengistirahatkan tubuh dan pikirannya.
Bukan karena lelah semata, melainkan ingin lari sejenak dari pikirannya yang kusut. Tubuhnya butuh istirahat, begitu juga jiwanya. Namun, tidur tidak pernah benar-benar memberinya ketenangan. Pikirannya terus dipenuhi bayangan tentang orang yang menjebaknya, tentang rumor keji yang hampir menghancurkan hidupnya, dan karier nya yang ia bangun susah payah. Dan, yang paling mengusiknya adalah tentang Leon. Pria asing yang menghabiskan satu malam bersamanya, lalu menyeretnya ke dalam pernikahan yang sah, tanpa cinta. Meski hubungan mereka tidak diketahui publik, ikatan itu nyata. Legal dan tidak bisa ia sangkal. Dan, yang paling membuatnya menyesal, ia sendiri yang mengangguk setuju saat Leon menuntut pertanggungjawaban itu. "Jadi, apa yang kau inginkan?" pertanyaan itu kembali terngiang di kepalanya. "Di sini, aku yang dirugikan," suara Leon menjawab dingin. "Menurutmu, bagaimana kau akan bertanggung jawab, Nona Audrey?" "Kenapa kau bertanya padaku? Aku ingin memberimu uang, tapi kau menolak." "Kalau begitu... " Leon menjeda ucapannya, lalu suara itu terdengar jelas, dan kejam. "Bagaimana dengan menikah?" Audrey tersentak dan membuka mata. Ia menghela napas panjang, merasa dadanya berat. Pertemuan dengan Leon kembali berputar di kepalanya, seperti rekaman film yang rusak, diputar berulang, tanpa bisa dihentikan. "Hah... lagi-lagi mimpi itu," gumamnya pelan, suaranya serak oleh sisa tidur yang tak benar-benar menenangkan. Ia mengangkat tangan ke wajahnya, menutup mata sejenak. Dada terasa berat, seperti ada sesuatu yang menekan dari dalam. Lalu, pandangannya beralih ke jam dinding yang sudah menunjukkan pukul delapan pagi. Dengan malas, Audrey bangun, menyibak selimut dan turun dari tempat tidur. Langkahnya gontai saat menuju kamar mandi. Ia membasuh wajah dengan air dingin, berharap bisa menyadarkan dirinya dari kenyataan yang terasa asing. Namun, saat ia menatap pantulan dirinya di cermin, napasnya kembali tertahan. Pantulan di hadapannya masihlah Audrey Willys yang dikenal banyak orang. Wajah cantik yang sering memenuhi layar televisi. Kulit mulus, garis rahang tegas. Sosok yang dipuja dan dibicarakan. Tetapi sorot matanya tampak berbeda. Ada bayangan gelap di sana. Rasa lelah yang tidak bisa ditutup riasan. Audrey menyentuh cermin itu perlahan, seolah memastikan bahwa wanita di depannya benar-benar dirinya. Audrey mendesah pelan. Dalam semalam, hidupnya berubah. Bukan hanya karena rumor atau karena hidup nyaris hancur karena di jebak. Tapi, karena kini, ia terikat pada seorang pria yang tidak ia kenal. Ia melirik ke sudut kamar, ke arah lemari kaca tempat piala-piala penghargaan berjajar rapi. Trofi aktris pendamping terbaik, Artis pendatang baru terpopuler. Wajahnya terukir dalam plakat-plakat emas yang dulu membuatnya hampir menangis bahagia. Dulu, benda-benda itu membuat dadanya membusung bangga. Kini, tidak ada rasa apa-apa. Semua terasa kosong. Piala-piala itu tidak lagi terasa istimewa. Karena untuk pertama kalinya, Audrey sadar, kesuksesan yang ia raih tidak mampu melindunginya dari kehancuran yang datang. "Aku beruntung, rumor skandal itu menghilang tanpa jejak. Tapi, tetap saja, semua orang sudah melihat," gumamnya. "Ahh... kenapa bisa begini?" Audrey menarik rambutnya frustrasi. Ia kembali menatap pantulan dirinya di cermin, senyum pahit terukir di bibirnya. "Nasibmu malang sekali, Audrey. Ck... kasihan,' gumamnya lirih. Ia mendesah panjang, lalu membasuh wajahnya sekali lagi. Namun, belum sempat pikirannya tenang, suara bel apartemen berbunyi nyaring. Audrey tersentak. Dengan tergesa, ia meraih handuk, mengusap wajahnya asal-asalan, lalu melangkah keluar kamar mandi. "Astaga, Kak Michelle. Sudah ku bilang, aku tidak mau diganggu. Kenapa kau masih juga—" Ucapan Audrey terhenti tepat saat pintu terbuka. "—datang," lirihnya. Tubuhnya menegang, melihat Leon yang berdiri di depan pintu Tatapannya menyapu Audrey dari ujung rambut yang masih sedikit acak, turun ke wajahnya yang polos tanpa riasan, hingga ke kaki telanjang yang menyentuh lantai yang dingin. "Kau—" Audrey refleks merapikan rambutnya yang masih sedikit berantakan. Leon tersenyum tipis. "Kau baru bangun tidur, ya?" tanya Leon santai. Audrey berdehem pelan. Ia merentangkan satu tangan, sengaja menghalangi pintu. "Ada perlu apa kau datang kemari?" suaranya berusaha terdengar tegas, meski jantungnya berdetak tidak beraturan. Leon menaikkan kedua alisnya. "Kau lupa?" ucapnya pelan. "Aku ini suamimu." Ia mendekat setengah langkah, menunduk, mensejajarkan wajahnya dengan Audrey. "Jadi, aku berhak datang ke sini kapan pun aku mau." Sebelum Audrey sempat bereaksi, Leon menepis tangannya dan menerobos masuk begitu saja. "Kau—" Audrey berbalik cepat, mendengus kasar lalu menutup pintu sebelum ada yang melihat. "Kau tidak bisa seenaknya masuk ke apartemen ku. Bagaimana jika ada yang melihat, hah?" Leon berhenti di tengah ruangan. Ia menoleh perlahan, tatapannya dingin namun penuh kendali. "Aku tidak peduli," jawabnya santai. "Jika ada yang melihat, kita tinggal menunjuk akta nikah, beres." Audrey mengepalkan tangan di sisi tubuhnya. "Mudah bagimu. Tapi, bagiku?" Audrey menunjuk dirinya sendiri. "Aku setuju menikah, bukan berarti kau bisa seenaknya. Kau sudah setuju merahasiakan pernikahan kita, setidaknya sampai kontrak ku dengan agensi selesai." "Kapan?" Leon mendekat, berhenti tepat di hadapannya, cukup dekat hingga Audrey bisa mencium aroma maskulinnya yang asing namun berhasil membuatnya berdebar. "Sampai kapan aku harus bersembunyi?" lanjut Leon. "A-aku tidak memintamu untuk bersembunyi. Tapi, aku tidak boleh menjalin hubungan dengan pria selama terikat kontrak dengan agensi. Jadi, tolong mengertilah." "Kalau begitu, mudah saja," ucap Leon. "Aku bisa menyamar sebagai bodyguard mu." "Bodyguard?" ulangnya dengan nada yang sedikit meninggi. "Kau ingin menjadi bodyguard untuk melindungi ku, atau mengawasi ku?" "Tentu saja... Dua-duanya. Aku hanya memastikan istriku aman," ucap Leon. Audrey mendengus kasar. "Kau benar-benar tidak masuk akal," gerutunya. Ia berbalik, membuka pintu lebar-lebar. "Sekarang, silahkan pergi dari sini." "Kau mengusirku?" Leon melotot tak percaya. "Ya," jawab Audrey. " Aku memintaku untuk bertanggungjawab. Dan, aku sudah melakukannya. Jadi, tidak ada yang perlu kita bahas lagi. Sekarang, silahkan pergi!" Leon tidak marah, justru ia tersenyum miring. Langkahnya perlahan mendekat, dan berdiri tepat di hadapan Audrey. "Baiklah, aku akan pergi. Nanti, aku yakin kau akan datang padaku, saat perut mu membesar." Tanpa menunggu reaksi Audrey, Leon pergi begitu saja. "Pe-perut membesar?" Tubuh Audrey seketika menegang. Tangannya refleks memegang perutnya. "A-apa maksudnya... Hamil?"Beberapa jam sebelumnya...Pintu ruang rawat Audrey terbuka kasar. Leon melangkah masuk dengan wajah dingin, diikuti Andrew di belakangnya. Aura pria itu terasa begitu menekan hingga udara di ruangan mendadak terasa berat.Namun, langkah Leon tiba-tiba terhenti. Tatapannya menyapu ruangan itu tajam.Suasana di ruangan itu terasa sunyi.Di atas ranjang, seseorang berbaring dengan selimut menutupi tubuh hingga kepala. Rambut panjang terurai, terlihat sebagian saja.Leon menyipitkan matanya. Ada sesuatu yang terasa aneh."Audrey?" panggilnya rendah.Tidak ada jawaban.Leon berjalan mendekat perlahan. Dan, dalam satu tarikan kasar, ia menarik selimut itu dan melemparnya begitu saja.Andrew langsung membelalak."Dokter Grace?!"Wanita itu mengerjapkan matanya, berpura-pura baru saja tersadar dengan tangan yang memijat pelipisnya."Ada apa ini?" gumamnya lirih. "Di mana aku?" Grace melihat sekeliling, lalu tatapannya jatuh pada Leon yang menatapnya tajam.Grace tersentak. Dia buru-buru tur
Kafe di Jalan X tidak terlalu ramai siang itu.Aroma kopi memenuhi ruangan, bercampur suara pelan musik yang mengalun lembut. Namun, semua itu sama sekali tidak mampu menenangkan Audrey.Ia duduk di sudut ruangan, masih mengenakan jas putih milik Dokter Grace. Masker menutupi sebagian besar wajahnya, sementara rambutnya sengaja ia gerai untuk menyamarkan penampilannya.Tidak ada seorang pun yang mengenalinya. Namun tetap saja, Audrey merasa seolah semua mata sedang mengawasinya.Kedua tangannya saling menggenggam erat di atas meja. Jemarinya dingin dan sedikit gemetar. Sesekali ia menoleh ke arah pintu masuk dengan napas gelisah."Cepat, Kak Michelle," gumamnya lirih. "Aku tidak punya banyak waktu."Beberapa menit berlalu terasa begitu lama. Hingga akhirnya, pintu kafe terbuka saat seseorang masuk.Mata Audrey langsung mengenali wanita itu.Michelle. Namun, Audrey tidak langsung bergerak. Ia tetap diam di tempatnya, memperhatikan dengan waspada. Tatapannya mengikuti setiap langkah Mi
Malam itu, suasana di kediaman Leon terasa jauh dari kata tenang.Di sebuah ruangan luas yang gelap, hanya diterangi cahaya redup dari lampu sudut, Leon duduk sendirian. Beberapa botol minuman berserakan di lantai, sebagian sudah kosong, sebagian lagi masih setengah terisi.Ia menggenggam satu botol di tangannya, meneguknya tanpa jeda.Wajahnya memerah, napasnya berat, namun tatapannya kosong.Untuk pertama kalinya, pria yang selalu terlihat kuat itu, tampak kacau."Dia sudah tahu semuanya," gumamnya.Suara Audrey kembali terngiang di kepalanya. Tentang siapa dirinya. Tentang darah yang menempel di tangannya. Tentang masa lalu yang ia kubur dalam-dalam. Dan, yang paling menyakitkan tentang kematian kedua orang tua Audrey dan anak mereka.Leon terdiam. Napasnya tertahan. Lalu, perlahan bayangan Reymond muncul di benaknya. Suara itu kembali menggema, menusuk tanpa ampun."Ka-kau mungkin berhasil membunuhku. Ta-tapi… kau juga kehilangan segalanya."Leon menggeram keras. Botol di tanganny
Leon kembali ke rumah sakit dengan langkah tenang, namun aura dingin masih menyelimuti dirinya. Di depan ruangan, dua anak buahnya berdiri berjaga. Saat melihatnya datang, keduanya langsung menunduk hormat."Pergi," ucap Leon singkat, tanpa menatap.Keduanya segera menegakkan tubuh, membungkuk sekali lagi, lalu pergi meninggalkan tempat itu.Suasana mendadak sunyi.Leon terdiam di depan pintu. Tangannya perlahan terangkat, menggenggam kenop pintu. Ia menarik napas dalam, seolah menekan sesuatu yang bergolak di dalam dadanya, sebelum akhirnya membuka pintu dan masuk.Di dalam ruangan, Audrey terbaring terdiam di atas ranjang. Tatapannya menoleh ke arah jendela, kosong, seolah pikirannya melayang jauh.Leon mendekat perlahan, lalu duduk di sisi ranjang."Bagaimana keadaanmu, sayang?" tanyanya pelan.Tidak ada jawaban. Audrey hanya diam.Beberapa detik kemudian, ia memalingkan wajah ke arah lain, menjauh dari Leon, seolah enggan bahkan sekadar menatapnya.Leon terdiam sesaat. Namun, ia t
Leon terdiam. Tangannya mengepal erat di sisi tubuhnya, urat-urat di punggung tangannya tampak menegang. Rahangnya mengeras, napasnya memburu, namun, sekuat tenaga ia menahan emosinya agar tidak meledak di depan Audrey.Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang menyesakkan sebelum akhirnya Leon mengalihkan pembicaraan."Tubuhmu masih lemah. Kata dokter, kau harus—""Aku ingin bercerai, Leon," potong Audrey tegas, menatap pria itu tanpa gentar.Leon terpaku. Sorot matanya bergetar sesaat, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar."Ja-jangan bercanda, Sayang.""Aku tidak bercanda!" seru Audrey dengan suara yang mulai bergetar menahan emosi. "Aku serius."Kepalan tangan Leon semakin erat. Emosi yang sedari tadi ia tahan perlahan mendidih di dalam dadanya. Namun, beberapa saat kemudian, ia menarik napas panjang, memaksa dirinya tetap tenang. Perlahan, jemarinya terbuka."Istirahatlah!" Suara Leon terdengar dingin dan datar.Tanpa berkata apa-apa lagi, ia berbalik lalu
Sesampainya di rumah sakit, Audrey langsung dilarikan ke ruang gawat darurat. Pintu tertutup rapat, memisahkan dunia luar dari perjuangan hidup dan mati yang terjadi di dalamnya.Di luar, Leon Alexander berdiri diam. Wajahnya tampak tenang. Namun pikirannya kacau.Untuk pertama kali dalam hidupnya, ia merasakan sesuatu yang tidak pernah ia izinkan sebelumnya. Takut kehilangan.Tatapannya kosong menembus pintu, seolah berharap bisa melihat apa yang terjadi di balik sana. Bayangan Audrey yang terbaring lemah terus berputar di benaknya.Dan satu pikiran terus menghantuinya, jika sesuatu terjadi pada wanita itu, ia tidak akan pernah bisa memaafkan dirinya sendiri.Di dalam ruangan, para dokter bergerak cepat.Alat bantu pernapasan segera dipasang. Monitor berdetak tidak beraturan, menunjukkan kondisi yang kritis. Darah yang terus merembes membuat tim medis bersiap melakukan tindakan operasi.Namun, saat pemeriksaan lebih lanjut dilakukan, gerakan mereka perlahan melambat.Ekspresi wajah m
Karena tidak mendapatkan petunjuk, akhirnya Leon memilih mundur. Namun, bukan berarti dia menyerah. Justru, ia semakin gencar mencari tempat persembunyian Reymond. Dan kali ini, Leon tidak kembali ke apartemen Audrey, melainkan ke markasnya. Di ruang luas, gelap, dan sunyi. Hanya cahaya redup dar
Siang akhirnya berganti malam yang gemerlap. Tepat pukul tujuh, mobil yang membawa Audrey dan Michelle berhenti di depan gedung stasiun televisi yang menjulang tinggi, dinding kacanya memantulkan cahaya lampu kota seperti lautan bintang buatan. Audrey turun perlahan. Sepatu haknya menyentuh trotoa
Audrey menjatuhkan kepalanya di atas lipatan tangan di meja, bahunya turun naik oleh helaan napas panjang yang terasa berat. Rambutnya yang sedikit berantakan menutupi sebagian wajahnya, seolah ia ingin bersembunyi dari kenyataan yang menakutkan."Aku harus bagaimana, Kak?" suaranya terdengar lirih
Di sebuah ruangan bawah tanah yang lembap, lampu gantung tua berayun pelan, memantulkan cahaya kekuningan yang redup dan tidak stabil. Bau karat bercampur darah mengental di udara.Seorang pria gemuk terikat pada kursi besi di tengah ruangan. Pergelangan tangannya membiru karena ikatan yang terlalu







