MasukAudrey tidak benar-benar pergi bekerja. Langkahnya justru membawanya ke apartemen Michelle. Kepalanya masih penuh, dadanya sesak, dan ia butuh seseorang yang bisa ia percaya, setidaknya untuk saat ini.
Begitu pintu terbuka, Audrey langsung menerobos masuk tanpa berkata apa-apa. Michelle tertegun lalu menoleh dengan wajah heran, sekaligus penasaran. "Akhirnya kau datang juga," ujar Michelle sambil menutup pintu dan mengikuti Audrey hingga ke ruang tengah. Ia duduk berhadapan dengan wanita itu, menatapnya lekat. "Sekarang jelaskan. Apa yang sebenarnya terjadi? Tadi di telepon, kau bilang dijebak? Diberi obat? Maksudnya apa, Audrey?" Audrey mengusap wajahnya kasar. Suaranya terdengar lelah saat menjawab, "Kak, aku baru saja sampai. Apa tidak bisa kau memberiku minum dulu?" Michelle berdecak pelan, jelas tidak sabar. Namun ia tetap bangkit, berjalan ke dapur, lalu kembali dengan segelas air putih. "Ini," ucapnya singkat sambil menyodorkan gelas. Audrey menerimanya dengan kedua tangan, lalu menenggaknya hingga habis. Napasnya sedikit lebih teratur setelah itu. "Ah... segarnya." Michelle menyilangkan tangan di dada, menatapnya tanpa berkedip. "Sekarang, ceritakan padaku semuanya. Dari awal. Jangan ada yang kau sembunyikan," ucapnya tegas. Audrey menunduk. Jemarinya saling bertaut, bergetar pelan. "Itu... " Audrey mulai menceritakan semuanya. Dari ingatan samar tentang seorang wanita yang mendorongnya masuk ke sebuah ruangan, suara pintu yang tertutup, hingga kesadarannya yang terputus begitu saja. Ia melanjutkan dengan suara bergetar, tentang bagaimana ia terbangun keesokan paginya dalam keadaan telanjang, hanya terbalut selimut yang menutupi tubuhnya. Michelle mendengarkan tanpa menyela. Namun wajahnya berubah drastis saat Audrey sampai pada bagian terakhir. "Apa?" Michelle berdiri setengah dari duduknya. "Kau menikah dengan pria itu?" pekiknya tak percaya. "Apa kau sudah gila, Audrey?! Bukankah kau baru saja menandatangani kontrak dengan agensi? Kau tahu? Kau tidak diperbolehkan menjalin hubungan, apalagi menikah!" Audrey menunduk, jemarinya saling menggenggam. "Aku tahu, kak. Tapi, mau bagaimana lagi?" suaranya lirih. "Aku terpaksa, Kak." Michelle menghela napas panjang, menekan emosinya. "Meskipun terpaksa, kau tidak bisa mengambil keputusan gegabah seperti ini. Bagaimana kalau dia pria yang tidak baik? Bagaimana kalau dia hanya memanfaatkan mu?" Audrey terdiam. Bayangan wajah Leon melintas di benaknya, tatapan dingin itu, sikapnya yang tenang namun mengintimidasi. "Sepertinya... dia tidak seperti itu," ucap Audrey pelan, lebih seperti meyakinkan diri sendiri. "Tidak seperti itu bagaimana?" Michelle berpindah duduk di sampingnya. "Dengar, Audrey. Kau ini artis pendatang baru yang sedang naik daun. Banyak yang ingin bekerja sama denganmu tapi, jauh lebih banyak yang ingin menjatuhkan mu. Dan sekarang, kau menikah dengan pria yang bahkan tidak kau kenal dan asal-usulnya tidak jelas." Kepala Audrey tertunduk lebih dalam. Penyesalan mengendap di dadanya. "Maaf," bisiknya. "Aku tidak punya pilihan, kak. Dia terus mendesak ku, meminta pertanggungjawaban." Michelle menghela napas lagi, kali ini lebih berat. "Kenapa kau tidak memberinya uang saja?" "Aku sudah melakukannya," jawab Audrey cepat. "Tapi, dia bilang, itu sama saja membenarkan semua tuduhan itu." "Astaga!" Michelle memijat pelipisnya frustasi. "Tapi,.kau tenang saja." Audrey buru-buru menambahkan. "Aku sudah membuat kesepakatan dengannya. Pernikahan ini akan dirahasiakan..Dan, untuk syarat lainnya akan menyusul nanti saat kami bertemu lagi." Michelle mendengus pelan. "Semoga saja dia menepati janjinya." Ia lalu meraih remote dan menyalakan televisi. "Bicara soal tuduhan itu..." Layar menampilkan berbagai program hiburan, namun tidak satu pun membahas skandal Audrey. "Semua berita mu hilang," lanjut Michelle. "Televisi, media online, media sosial, lenyap begitu saja. Bahkan, tidak ada yang berani mengomentari atau mengunggah ulang." "Benarkah?" Audrey menatap layar dengan tidak percaya. "Iya. Aku juga tidak tahu siapa yang melakukan ini," Michelle mengangkat bahu. "Tapi, anggap saja kau sedang sangat beruntung." Ia berhenti sejenak, lalu menatap Audrey curiga. "Oh ya... siapa nama suamimu?” tanya Michelle. "Namanya... " Audrey mengerutkan kening, mencoba mengingat. "Siapa ya?" Michelle menatapnya tajam. "Kau menikah, tapi lupa nama suamimu?" Audrey tersenyum kecut. "Aku masih kacau... " Ia lalu teringat sesuatu. "Oh! Sertifikat pernikahan." Audrey merogoh tasnya dan mengeluarkan sertifikat itu. "Ini!" Saat Audrey membukanya, Michelle tiba-tiba berdiri. "Sebentar, aku terima telepon dulu," ucapnya sambil menjauh. Audrey menghela napas panjang. Matanya tertuju pada halaman itu, membaca nama yang tercetak jelas. "Leon Alexander?" gumamnya lirih. Kening Audrey berkerut. Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat. "Kenapa rasanya nama ini familiar?" gumamnya pelan.Di hari libur itu, Audrey memilih mengurung diri di kamar. Ia menghabiskan waktunya dengan tidur, mengistirahatkan tubuh dan pikirannya.Bukan karena lelah semata, melainkan ingin lari sejenak dari pikirannya yang kusut. Tubuhnya butuh istirahat, begitu juga jiwanya.Namun, tidur tidak pernah benar-benar memberinya ketenangan.Pikirannya terus dipenuhi bayangan tentang orang yang menjebaknya, tentang rumor keji yang hampir menghancurkan hidupnya, dan karier nya yang ia bangun susah payah. Dan, yang paling mengusiknya adalah tentang Leon. Pria asing yang menghabiskan satu malam bersamanya, lalu menyeretnya ke dalam pernikahan yang sah, tanpa cinta.Meski hubungan mereka tidak diketahui publik, ikatan itu nyata. Legal dan tidak bisa ia sangkal.Dan, yang paling membuatnya menyesal, ia sendiri yang mengangguk setuju saat Leon menuntut pertanggungjawaban itu."Jadi, apa yang kau inginkan?" pertanyaan itu kembali terngiang di kepalanya."Di sini, aku yang dirugikan," suara Leon menjawab d
Di sebuah ruangan bawah tanah yang lembap, lampu gantung tua berayun pelan, memantulkan cahaya kekuningan yang redup dan tidak stabil. Bau karat bercampur darah mengental di udara.Seorang pria gemuk terikat pada kursi besi di tengah ruangan. Pergelangan tangannya membiru karena ikatan yang terlalu kencang. Kepalanya terkulai, napasnya tersengal dan berat, seolah setiap tarikan udara melukai paru-parunya sendiri. Wajahnya hancur oleh lebam, darah mengering di sudut bibir dan pelipisnya. Jubah mandi yang ia kenakan tercabik, menempel pada luka yang belum sempat mengering.Ia mengerang pelan. Bibirnya bergerak, meracau tanpa arah, entah berdoa atau menyesal, tidak ada yang tahu.Lalu, suara langkah kaki menggema di lorong luar.Pelan, namun menekan. Bukan langkah orang yang terburu-buru ataupun ragu. Namun, setiap hentakan sepatu terdengar seperti hitungan mundur menuju kematian.Pria di kursi itu tersentak. Dengan sisa tenaga yang hampir habis, ia mendongak. Pandangannya buram oleh dar
Audrey tidak benar-benar pergi bekerja. Langkahnya justru membawanya ke apartemen Michelle. Kepalanya masih penuh, dadanya sesak, dan ia butuh seseorang yang bisa ia percaya, setidaknya untuk saat ini.Begitu pintu terbuka, Audrey langsung menerobos masuk tanpa berkata apa-apa. Michelle tertegun lalu menoleh dengan wajah heran, sekaligus penasaran."Akhirnya kau datang juga," ujar Michelle sambil menutup pintu dan mengikuti Audrey hingga ke ruang tengah. Ia duduk berhadapan dengan wanita itu, menatapnya lekat. "Sekarang jelaskan. Apa yang sebenarnya terjadi? Tadi di telepon, kau bilang dijebak? Diberi obat? Maksudnya apa, Audrey?" Audrey mengusap wajahnya kasar. Suaranya terdengar lelah saat menjawab, "Kak, aku baru saja sampai. Apa tidak bisa kau memberiku minum dulu?" Michelle berdecak pelan, jelas tidak sabar. Namun ia tetap bangkit, berjalan ke dapur, lalu kembali dengan segelas air putih."Ini," ucapnya singkat sambil menyodorkan gelas.Audrey menerimanya dengan kedua tangan, l
"Itu tidak benar, kak," sangkal Audrey. "Aku di fitnah. Foto itu... pasti foto itu hasil rekayasa." Terdengar desahan panjang di seberang. "Aku juga berharap, semua itu tidak benar, Audrey," ujar Michelle. "Tapi sayangnya, foto itu asli. Itu benar-benar kau. Bahkan, ada keterangan dari staff hotel, tempat kau berada saat itu yang membenarkan jika itu kau." Tubuh Audrey terhuyung, nyaris terjatuh. Namun, tangannya cepat meraih sandaran sofa. "Itu tidak mungkin," lirihnya. Ia mencoba merangkai kembali potongan ingatan yang berserakan. Semalam, jelas ia pergi ke bar bersama Michelle dan yang lain. Lalu, seseorang menyodorkan minuman padanya. Ia sempat ragu, tapi tetap menerimanya. Dan setelah itu...Mata Audrey membelalak sempurna. "Aku dijebak!" pekiknya."Dijebak?" suara Michelle terdengar meninggi di seberang sana. "Apa maksudmu, Audrey?""Semalam, ada orang yang mencampurkan obat kedalam minuman ku, Kak. Setelah meminumnya, aku tidak ingat apa-apa lagi.""Apa?!" teriak Michelle.A
Di lorong hotel yang lengang, seorang wanita tampak berjalan sempoyongan. Langkahnya terseret, napasnya berat. Tangannya berkali-kali mengusap tengkuk, seolah berusaha menenangkan sensasi panas yang menjalar liar di seluruh tubuhnya."Tubuhku... kenapa panas sekali?" gumamnya lirih, pandangannya buram. "Tolong aku... ""Tenang saja!" sebuah suara terdengar dekat, dingin namun, meyakinkan. "Di dalam ada seseorang yang akan menolong mu. Selamat bersenang-senang, Audrey."Audrey tidak sempat melihat siapa pemilik suara itu. Yang ia rasakan hanya dorongan kuat yang membuat tubuhnya terhuyung masuk ke sebuah ruangan dengan pencahayaan temaram."Ini... di mana?" bisik nya panik. "Tolong aku... "Pandangan matanya yang kabur menangkap sosok pria bertubuh gemuk, bertelanjang dada, tengah menyeringai ke arahnya dengan tatapan menjijikkan."Akhirnya kau datang, sayang," ucap pria itu seraya melangkah mendekat, merentangkan kedua tangan. "Kemari lah! Aku akan membantumu."Namun, sebelum jarak m