Share

Bab 3

Penulis: Adzlan Airey
last update Tanggal publikasi: 2026-01-08 12:45:24

Audrey tidak benar-benar pergi bekerja. Langkahnya justru membawanya ke apartemen Michelle. Kepalanya masih penuh, dadanya sesak, dan ia butuh seseorang yang bisa ia percaya, setidaknya untuk saat ini.

Begitu pintu terbuka, Audrey langsung menerobos masuk tanpa berkata apa-apa. Michelle tertegun lalu menoleh dengan wajah heran, sekaligus penasaran.

"Akhirnya kau datang juga," ujar Michelle sambil menutup pintu dan mengikuti Audrey hingga ke ruang tengah. Ia duduk berhadapan dengan wanita itu, menatapnya lekat. "Sekarang jelaskan. Apa yang sebenarnya terjadi? Tadi di telepon, kau bilang dijebak? Diberi obat? Maksudnya apa, Audrey?"

Audrey mengusap wajahnya kasar. Suaranya terdengar lelah saat menjawab, "Kak, aku baru saja sampai. Apa tidak bisa kau memberiku minum dulu?"

Michelle berdecak pelan, jelas tidak sabar. Namun ia tetap bangkit, berjalan ke dapur, lalu kembali dengan segelas air putih.

"Ini," ucapnya singkat sambil menyodorkan gelas.

Audrey menerimanya dengan kedua tangan, lalu menenggaknya hingga habis. Napasnya sedikit lebih teratur setelah itu.

"Ah... segarnya."

Michelle menyilangkan tangan di dada, menatapnya tanpa berkedip. "Sekarang, ceritakan padaku semuanya. Dari awal. Jangan ada yang kau sembunyikan," ucapnya tegas.

Audrey menunduk. Jemarinya saling bertaut, bergetar pelan.

"Itu... " Audrey mulai menceritakan semuanya. Dari ingatan samar tentang seorang wanita yang mendorongnya masuk ke sebuah ruangan, suara pintu yang tertutup, hingga kesadarannya yang terputus begitu saja. Ia melanjutkan dengan suara bergetar, tentang bagaimana ia terbangun keesokan paginya dalam keadaan telanjang, hanya terbalut selimut yang menutupi tubuhnya.

Michelle mendengarkan tanpa menyela. Namun wajahnya berubah drastis saat Audrey sampai pada bagian terakhir.

"Apa?" Michelle berdiri setengah dari duduknya. "Kau menikah dengan pria itu?" pekiknya tak percaya. "Apa kau sudah gila, Audrey?! Bukankah kau baru saja menandatangani kontrak dengan agensi? Kau tahu? Kau tidak diperbolehkan menjalin hubungan, apalagi menikah!"

Audrey menunduk, jemarinya saling menggenggam. "Aku tahu, kak. Tapi, mau bagaimana lagi?" suaranya lirih. "Aku terpaksa, Kak."

Michelle menghela napas panjang, menekan emosinya. "Meskipun terpaksa, kau tidak bisa mengambil keputusan gegabah seperti ini. Bagaimana kalau dia pria yang tidak baik? Bagaimana kalau dia hanya memanfaatkan mu?"

Audrey terdiam. Bayangan wajah Leon melintas di benaknya, tatapan dingin itu, sikapnya yang tenang namun mengintimidasi.

"Sepertinya... dia tidak seperti itu," ucap Audrey pelan, lebih seperti meyakinkan diri sendiri.

"Tidak seperti itu bagaimana?" Michelle berpindah duduk di sampingnya. "Dengar, Audrey. Kau ini artis pendatang baru yang sedang naik daun. Banyak yang ingin bekerja sama denganmu tapi, jauh lebih banyak yang ingin menjatuhkan mu. Dan sekarang, kau menikah dengan pria yang bahkan tidak kau kenal dan asal-usulnya tidak jelas."

Kepala Audrey tertunduk lebih dalam. Penyesalan mengendap di dadanya. "Maaf," bisiknya. "Aku tidak punya pilihan, kak. Dia terus mendesak ku, meminta pertanggungjawaban."

Michelle menghela napas lagi, kali ini lebih berat. "Kenapa kau tidak memberinya uang saja?"

"Aku sudah melakukannya," jawab Audrey cepat. "Tapi, dia bilang, itu sama saja membenarkan semua tuduhan itu."

"Astaga!" Michelle memijat pelipisnya frustasi.

"Tapi,.kau tenang saja." Audrey buru-buru menambahkan. "Aku sudah membuat kesepakatan dengannya. Pernikahan ini akan dirahasiakan..Dan, untuk syarat lainnya akan menyusul nanti saat kami bertemu lagi."

Michelle mendengus pelan. "Semoga saja dia menepati janjinya." Ia lalu meraih remote dan menyalakan televisi. "Bicara soal tuduhan itu..."

Layar menampilkan berbagai program hiburan, namun tidak satu pun membahas skandal Audrey.

"Semua berita mu hilang," lanjut Michelle. "Televisi, media online, media sosial, lenyap begitu saja. Bahkan, tidak ada yang berani mengomentari atau mengunggah ulang."

"Benarkah?" Audrey menatap layar dengan tidak percaya.

"Iya. Aku juga tidak tahu siapa yang melakukan ini," Michelle mengangkat bahu. "Tapi, anggap saja kau sedang sangat beruntung." Ia berhenti sejenak, lalu menatap Audrey curiga. "Oh ya... siapa nama suamimu?” tanya Michelle.

"Namanya... " Audrey mengerutkan kening, mencoba mengingat. "Siapa ya?"

Michelle menatapnya tajam. "Kau menikah, tapi lupa nama suamimu?"

Audrey tersenyum kecut. "Aku masih kacau... " Ia lalu teringat sesuatu. "Oh! Sertifikat pernikahan." Audrey merogoh tasnya dan mengeluarkan sertifikat itu. "Ini!"

Saat Audrey membukanya, Michelle tiba-tiba berdiri. "Sebentar, aku terima telepon dulu," ucapnya sambil menjauh.

Audrey menghela napas panjang. Matanya tertuju pada halaman itu, membaca nama yang tercetak jelas.

"Leon Alexander?" gumamnya lirih.

Kening Audrey berkerut. Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat. "Kenapa rasanya nama ini familiar?" gumamnya pelan.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Wanita Kesayangan Tuan Leon    Bab 55

    Beberapa jam sebelumnya...Pintu ruang rawat Audrey terbuka kasar. Leon melangkah masuk dengan wajah dingin, diikuti Andrew di belakangnya. Aura pria itu terasa begitu menekan hingga udara di ruangan mendadak terasa berat.Namun, langkah Leon tiba-tiba terhenti. Tatapannya menyapu ruangan itu tajam.Suasana di ruangan itu terasa sunyi.Di atas ranjang, seseorang berbaring dengan selimut menutupi tubuh hingga kepala. Rambut panjang terurai, terlihat sebagian saja.Leon menyipitkan matanya. Ada sesuatu yang terasa aneh."Audrey?" panggilnya rendah.Tidak ada jawaban.Leon berjalan mendekat perlahan. Dan, dalam satu tarikan kasar, ia menarik selimut itu dan melemparnya begitu saja.Andrew langsung membelalak."Dokter Grace?!"Wanita itu mengerjapkan matanya, berpura-pura baru saja tersadar dengan tangan yang memijat pelipisnya."Ada apa ini?" gumamnya lirih. "Di mana aku?" Grace melihat sekeliling, lalu tatapannya jatuh pada Leon yang menatapnya tajam.Grace tersentak. Dia buru-buru tur

  • Wanita Kesayangan Tuan Leon    Bab 54

    Kafe di Jalan X tidak terlalu ramai siang itu.Aroma kopi memenuhi ruangan, bercampur suara pelan musik yang mengalun lembut. Namun, semua itu sama sekali tidak mampu menenangkan Audrey.Ia duduk di sudut ruangan, masih mengenakan jas putih milik Dokter Grace. Masker menutupi sebagian besar wajahnya, sementara rambutnya sengaja ia gerai untuk menyamarkan penampilannya.Tidak ada seorang pun yang mengenalinya. Namun tetap saja, Audrey merasa seolah semua mata sedang mengawasinya.Kedua tangannya saling menggenggam erat di atas meja. Jemarinya dingin dan sedikit gemetar. Sesekali ia menoleh ke arah pintu masuk dengan napas gelisah."Cepat, Kak Michelle," gumamnya lirih. "Aku tidak punya banyak waktu."Beberapa menit berlalu terasa begitu lama. Hingga akhirnya, pintu kafe terbuka saat seseorang masuk.Mata Audrey langsung mengenali wanita itu.Michelle. Namun, Audrey tidak langsung bergerak. Ia tetap diam di tempatnya, memperhatikan dengan waspada. Tatapannya mengikuti setiap langkah Mi

  • Wanita Kesayangan Tuan Leon    Bab 53

    Malam itu, suasana di kediaman Leon terasa jauh dari kata tenang.Di sebuah ruangan luas yang gelap, hanya diterangi cahaya redup dari lampu sudut, Leon duduk sendirian. Beberapa botol minuman berserakan di lantai, sebagian sudah kosong, sebagian lagi masih setengah terisi.Ia menggenggam satu botol di tangannya, meneguknya tanpa jeda.Wajahnya memerah, napasnya berat, namun tatapannya kosong.Untuk pertama kalinya, pria yang selalu terlihat kuat itu, tampak kacau."Dia sudah tahu semuanya," gumamnya.Suara Audrey kembali terngiang di kepalanya. Tentang siapa dirinya. Tentang darah yang menempel di tangannya. Tentang masa lalu yang ia kubur dalam-dalam. Dan, yang paling menyakitkan tentang kematian kedua orang tua Audrey dan anak mereka.Leon terdiam. Napasnya tertahan. Lalu, perlahan bayangan Reymond muncul di benaknya. Suara itu kembali menggema, menusuk tanpa ampun."Ka-kau mungkin berhasil membunuhku. Ta-tapi… kau juga kehilangan segalanya."Leon menggeram keras. Botol di tanganny

  • Wanita Kesayangan Tuan Leon    Bab 52

    Leon kembali ke rumah sakit dengan langkah tenang, namun aura dingin masih menyelimuti dirinya. Di depan ruangan, dua anak buahnya berdiri berjaga. Saat melihatnya datang, keduanya langsung menunduk hormat."Pergi," ucap Leon singkat, tanpa menatap.Keduanya segera menegakkan tubuh, membungkuk sekali lagi, lalu pergi meninggalkan tempat itu.Suasana mendadak sunyi.Leon terdiam di depan pintu. Tangannya perlahan terangkat, menggenggam kenop pintu. Ia menarik napas dalam, seolah menekan sesuatu yang bergolak di dalam dadanya, sebelum akhirnya membuka pintu dan masuk.Di dalam ruangan, Audrey terbaring terdiam di atas ranjang. Tatapannya menoleh ke arah jendela, kosong, seolah pikirannya melayang jauh.Leon mendekat perlahan, lalu duduk di sisi ranjang."Bagaimana keadaanmu, sayang?" tanyanya pelan.Tidak ada jawaban. Audrey hanya diam.Beberapa detik kemudian, ia memalingkan wajah ke arah lain, menjauh dari Leon, seolah enggan bahkan sekadar menatapnya.Leon terdiam sesaat. Namun, ia t

  • Wanita Kesayangan Tuan Leon    Bab 51

    Leon terdiam. Tangannya mengepal erat di sisi tubuhnya, urat-urat di punggung tangannya tampak menegang. Rahangnya mengeras, napasnya memburu, namun, sekuat tenaga ia menahan emosinya agar tidak meledak di depan Audrey.Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang menyesakkan sebelum akhirnya Leon mengalihkan pembicaraan."Tubuhmu masih lemah. Kata dokter, kau harus—""Aku ingin bercerai, Leon," potong Audrey tegas, menatap pria itu tanpa gentar.Leon terpaku. Sorot matanya bergetar sesaat, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar."Ja-jangan bercanda, Sayang.""Aku tidak bercanda!" seru Audrey dengan suara yang mulai bergetar menahan emosi. "Aku serius."Kepalan tangan Leon semakin erat. Emosi yang sedari tadi ia tahan perlahan mendidih di dalam dadanya. Namun, beberapa saat kemudian, ia menarik napas panjang, memaksa dirinya tetap tenang. Perlahan, jemarinya terbuka."Istirahatlah!" Suara Leon terdengar dingin dan datar.Tanpa berkata apa-apa lagi, ia berbalik lalu

  • Wanita Kesayangan Tuan Leon    Bab 50

    Sesampainya di rumah sakit, Audrey langsung dilarikan ke ruang gawat darurat. Pintu tertutup rapat, memisahkan dunia luar dari perjuangan hidup dan mati yang terjadi di dalamnya.Di luar, Leon Alexander berdiri diam. Wajahnya tampak tenang. Namun pikirannya kacau.Untuk pertama kali dalam hidupnya, ia merasakan sesuatu yang tidak pernah ia izinkan sebelumnya. Takut kehilangan.Tatapannya kosong menembus pintu, seolah berharap bisa melihat apa yang terjadi di balik sana. Bayangan Audrey yang terbaring lemah terus berputar di benaknya.Dan satu pikiran terus menghantuinya, jika sesuatu terjadi pada wanita itu, ia tidak akan pernah bisa memaafkan dirinya sendiri.Di dalam ruangan, para dokter bergerak cepat.Alat bantu pernapasan segera dipasang. Monitor berdetak tidak beraturan, menunjukkan kondisi yang kritis. Darah yang terus merembes membuat tim medis bersiap melakukan tindakan operasi.Namun, saat pemeriksaan lebih lanjut dilakukan, gerakan mereka perlahan melambat.Ekspresi wajah m

  • Wanita Kesayangan Tuan Leon    Bab 42

    Karena tidak mendapatkan petunjuk, akhirnya Leon memilih mundur. Namun, bukan berarti dia menyerah. Justru, ia semakin gencar mencari tempat persembunyian Reymond. Dan kali ini, Leon tidak kembali ke apartemen Audrey, melainkan ke markasnya. Di ruang luas, gelap, dan sunyi. Hanya cahaya redup dar

  • Wanita Kesayangan Tuan Leon    Bab 7

    Siang akhirnya berganti malam yang gemerlap. Tepat pukul tujuh, mobil yang membawa Audrey dan Michelle berhenti di depan gedung stasiun televisi yang menjulang tinggi, dinding kacanya memantulkan cahaya lampu kota seperti lautan bintang buatan. Audrey turun perlahan. Sepatu haknya menyentuh trotoa

  • Wanita Kesayangan Tuan Leon    Bab 6

    Audrey menjatuhkan kepalanya di atas lipatan tangan di meja, bahunya turun naik oleh helaan napas panjang yang terasa berat. Rambutnya yang sedikit berantakan menutupi sebagian wajahnya, seolah ia ingin bersembunyi dari kenyataan yang menakutkan."Aku harus bagaimana, Kak?" suaranya terdengar lirih

  • Wanita Kesayangan Tuan Leon    Bab 5

    Di hari libur itu, Audrey memilih mengurung diri di kamar. Ia menghabiskan waktunya dengan tidur, mengistirahatkan tubuh dan pikirannya.Bukan karena lelah semata, melainkan ingin lari sejenak dari pikirannya yang kusut. Tubuhnya butuh istirahat, begitu juga jiwanya.Namun, tidur tidak pernah benar

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status