Masuk"Itu tidak benar, kak," sangkal Audrey. "Aku di fitnah. Foto itu... pasti foto itu hasil rekayasa."
Terdengar desahan panjang di seberang. "Aku juga berharap, semua itu tidak benar, Audrey," ujar Michelle. "Tapi sayangnya, foto itu asli. Itu benar-benar kau. Bahkan, ada keterangan dari staff hotel, tempat kau berada saat itu yang membenarkan jika itu kau." Tubuh Audrey terhuyung, nyaris terjatuh. Namun, tangannya cepat meraih sandaran sofa. "Itu tidak mungkin," lirihnya. Ia mencoba merangkai kembali potongan ingatan yang berserakan. Semalam, jelas ia pergi ke bar bersama Michelle dan yang lain. Lalu, seseorang menyodorkan minuman padanya. Ia sempat ragu, tapi tetap menerimanya. Dan setelah itu... Mata Audrey membelalak sempurna. "Aku dijebak!" pekiknya. "Dijebak?" suara Michelle terdengar meninggi di seberang sana. "Apa maksudmu, Audrey?" "Semalam, ada orang yang mencampurkan obat kedalam minuman ku, Kak. Setelah meminumnya, aku tidak ingat apa-apa lagi." "Apa?!" teriak Michelle. Audrey refleks menjauhkan ponsel dari telinganya. "Kau bilang apa barusan?" suara Michelle berubah tajam. "Obat? Maksudmu... kau—" Audrey menggigit bibir bawahnya. Pandangannya melirik Leon yang berdiri tidak jauh darinya, bersedekap dengan ekspresi yang sulit ditebak. "Iya, Kak," bisiknya nyaris tidak terdengar. "Ya Tuhan, Audrey!" suara Michelle terdengar panik. "Apa kau tahu artinya ini? Kalau media tahu soal itu, kariermu bisa tamat!" "Aku tahu, kak," jawab Audrey lirih. "Tapi, yang terpenting sekarang, kau harus menolongku. Singkirkan wartawan-wartawan di depan kamarku." "Apa? Wartawan?" Michelle memijat pelipisnya. "Kau dalam masalah besar, Audrey." " Sudah aku bilang, aku di jebak," ujar Audrey dengan suara sedikit meninggi. "Cepat bantu aku, kak!" Michelle terdiam sejenak. "Kau ada di kamar yang mana? Aku sekarang ada di kamarmu, tempat kita menginap." Audrey menepuk dahinya pelan. "Sial! Aku lupa kalau ini bukan kamarku," gumamnya. "Halo? Audrey? Kau masih di sana?" "I-iya, Kak," jawab Audrey . "Jika kau tidak keberatan, aku bersedia menolongmu," ucap Leon tiba-tiba. Audrey melirik sekilas. "Aku akan menghubungimu lagi nanti. Aku harus menyelesaikan urusan yang ada di sini dulu." Dengan tangan gemetar, Audrey memutus sambungan. Ia menghela napas panjang, dadanya terasa sesak. Perlahan, ia menoleh ke arah Leon dengan ragu dan takut. Namun, ia tidak punya pilihan lain. Audrey merogoh tasnya, mengeluarkan beberapa lembar uang, lalu menyodorkannya pada pria itu. "Ini, ambillah. Anggap saja sebagai imbalan atas... " Audrey memalingkan wajahnya. "Kerja keras mu tadi malam." Leon menaikkan kedua alisnya. Senyumnya tipis, namun dingin. "Apa pelayananku tidak cukup memuaskan, Nona?" "Bu-bukan itu maksudku." Audrey tergagap. "A-aku tidak membawa uang tunai banyak. Ini sebagai uang muka, nanti sisanya akan aku transfer." Leon tidak langsung menjawab. Tatapannya justru beralih ke layar televisi yang masih menyiarkan berita tentang diri Audrey. Hal itu membuat sudut bibirnya terangkat sedikit. "Kau memberiku uang karena sudah melayani mu semalam," ucap Leon. "Jika aku memberitahu Media tentang hal ini, bukankah itu artinya tuduhan atas dirimu itu... Benar?" "Kau—" kata-kata Audrey tertahan di tenggorokan. Tangannya mengepal, jantungnya berdegup keras. Setelah beberapa detik terdiam, akhirnya ia menguatkan diri. "Lalu, apa yang sebenarnya kau inginkan dariku?" "Itu—" Leon melangkah maju, membuat Audrey reflek mundur hingga punggungnya kembali merapat ke dinding. "Nanti kau juga akan tahu." Leon tersenyum tipis. Ia melangkah ke arah sofa, mengambil sebuah paper bag, lalu menyodorkannya pada Audrey. "Sekarang, bersihkan dirimu dan ganti baju lebih dulu." Audrey menatap paper bag itu ragu. Jantungnya masih berdegup tidak menentu, pikirannya penuh tanda tanya. Namun pada akhirnya, ia tetap menerimanya. "L-lalu... wartawan di luar?" tanyanya pelan. "Aku yang akan mengurusnya," potong Leon tanpa memberi ruang untuk bantahan. Audrey mengangguk kecil. "Baiklah." Ia meletakkan tasnya di sisi tempat tidur, lalu berbalik melangkah menuju kamar mandi. Langkahnya masih sedikit tertatih, namun ia tidak berani menunjukkan kelemahannya di hadapan pria itu. Saat sampai di ambang pintu, ia menatap Leon sekilas, lalu menutupnya rapat, meninggalkan Leon seorang diri di dalam kamar. Begitu Audrey tidak lagi terlihat, ekspresi Leon berubah. Senyum samar di wajahnya lenyap, digantikan tatapan dingin penuh perhitungan. Ia meraih ponselnya dan menekan nomor seseorang. "Usir semua orang yang ada di depan kamarku!" ucapnya singkat. "Dan, redam berita tentang Audrey Willys. Sekarang!" Tidak ada basa-basi. Tanpa menunggu jawaban, Leon memutus sambungan begitu saja. Ia melirik ke arah pintu kamar mandi, mendengar samar suara air mengalir, lalu kembali menatap layar televisi yang masih menampilkan potongan berita pagi itu. *** Mereka melangkah keluar dari kantor catatan sipil dengan langkah pelan, dengan sertifikat pernikahan di tangan masing-masing. Audrey berhenti sejenak. Jemarinya menggenggam sertifikat itu erat, matanya terpaku pada tulisan di sampul depan. "Kenapa aku mau menikah dengan pria ini?" batinnya, sesak. "Aku bahkan tidak mengenalnya." Ia menelan ludah, lalu mengembuskan napas kasar, seolah ingin mengusir penyesalan yang terlambat datang. "Kau benar-benar bodoh, Audrey," gumamnya lirih. "Kau mau ke mana? Aku akan mengantarmu," ucap Leon tiba-tiba. Audrey tersentak kecil, lalu buru-buru menggeleng. "Ah... tidak perlu. Aku masih harus bekerja." Ia memaksakan senyum tipis. "Sampai jumpa." Tanpa menunggu jawaban, Audrey melangkah pergi dengan langkah cepat, terlalu cepat untuk seseorang yang baru saja menikah. Ia bahkan tidak berani menoleh, seolah takut jika berhenti, keberaniannya akan runtuh begitu saja. Sementara Leon tetap berdiri di tempatnya. Tatapannya mengikuti punggung Audrey hingga wanita itu menghilang di balik keramaian. Perlahan, ia menurunkan pandangan pada sertifikat pernikahan di tangannya. Sudut bibirnya terangkat tipis. "Akhirnya, Kau menjadi milikku, Audrey Willys," gumamnya pelan, jari-jarinya mengetuk sertifikat pernikahan di tangannya.Di hari libur itu, Audrey memilih mengurung diri di kamar. Ia menghabiskan waktunya dengan tidur, mengistirahatkan tubuh dan pikirannya.Bukan karena lelah semata, melainkan ingin lari sejenak dari pikirannya yang kusut. Tubuhnya butuh istirahat, begitu juga jiwanya.Namun, tidur tidak pernah benar-benar memberinya ketenangan.Pikirannya terus dipenuhi bayangan tentang orang yang menjebaknya, tentang rumor keji yang hampir menghancurkan hidupnya, dan karier nya yang ia bangun susah payah. Dan, yang paling mengusiknya adalah tentang Leon. Pria asing yang menghabiskan satu malam bersamanya, lalu menyeretnya ke dalam pernikahan yang sah, tanpa cinta.Meski hubungan mereka tidak diketahui publik, ikatan itu nyata. Legal dan tidak bisa ia sangkal.Dan, yang paling membuatnya menyesal, ia sendiri yang mengangguk setuju saat Leon menuntut pertanggungjawaban itu."Jadi, apa yang kau inginkan?" pertanyaan itu kembali terngiang di kepalanya."Di sini, aku yang dirugikan," suara Leon menjawab d
Di sebuah ruangan bawah tanah yang lembap, lampu gantung tua berayun pelan, memantulkan cahaya kekuningan yang redup dan tidak stabil. Bau karat bercampur darah mengental di udara.Seorang pria gemuk terikat pada kursi besi di tengah ruangan. Pergelangan tangannya membiru karena ikatan yang terlalu kencang. Kepalanya terkulai, napasnya tersengal dan berat, seolah setiap tarikan udara melukai paru-parunya sendiri. Wajahnya hancur oleh lebam, darah mengering di sudut bibir dan pelipisnya. Jubah mandi yang ia kenakan tercabik, menempel pada luka yang belum sempat mengering.Ia mengerang pelan. Bibirnya bergerak, meracau tanpa arah, entah berdoa atau menyesal, tidak ada yang tahu.Lalu, suara langkah kaki menggema di lorong luar.Pelan, namun menekan. Bukan langkah orang yang terburu-buru ataupun ragu. Namun, setiap hentakan sepatu terdengar seperti hitungan mundur menuju kematian.Pria di kursi itu tersentak. Dengan sisa tenaga yang hampir habis, ia mendongak. Pandangannya buram oleh dar
Audrey tidak benar-benar pergi bekerja. Langkahnya justru membawanya ke apartemen Michelle. Kepalanya masih penuh, dadanya sesak, dan ia butuh seseorang yang bisa ia percaya, setidaknya untuk saat ini.Begitu pintu terbuka, Audrey langsung menerobos masuk tanpa berkata apa-apa. Michelle tertegun lalu menoleh dengan wajah heran, sekaligus penasaran."Akhirnya kau datang juga," ujar Michelle sambil menutup pintu dan mengikuti Audrey hingga ke ruang tengah. Ia duduk berhadapan dengan wanita itu, menatapnya lekat. "Sekarang jelaskan. Apa yang sebenarnya terjadi? Tadi di telepon, kau bilang dijebak? Diberi obat? Maksudnya apa, Audrey?" Audrey mengusap wajahnya kasar. Suaranya terdengar lelah saat menjawab, "Kak, aku baru saja sampai. Apa tidak bisa kau memberiku minum dulu?" Michelle berdecak pelan, jelas tidak sabar. Namun ia tetap bangkit, berjalan ke dapur, lalu kembali dengan segelas air putih."Ini," ucapnya singkat sambil menyodorkan gelas.Audrey menerimanya dengan kedua tangan, l
"Itu tidak benar, kak," sangkal Audrey. "Aku di fitnah. Foto itu... pasti foto itu hasil rekayasa." Terdengar desahan panjang di seberang. "Aku juga berharap, semua itu tidak benar, Audrey," ujar Michelle. "Tapi sayangnya, foto itu asli. Itu benar-benar kau. Bahkan, ada keterangan dari staff hotel, tempat kau berada saat itu yang membenarkan jika itu kau." Tubuh Audrey terhuyung, nyaris terjatuh. Namun, tangannya cepat meraih sandaran sofa. "Itu tidak mungkin," lirihnya. Ia mencoba merangkai kembali potongan ingatan yang berserakan. Semalam, jelas ia pergi ke bar bersama Michelle dan yang lain. Lalu, seseorang menyodorkan minuman padanya. Ia sempat ragu, tapi tetap menerimanya. Dan setelah itu...Mata Audrey membelalak sempurna. "Aku dijebak!" pekiknya."Dijebak?" suara Michelle terdengar meninggi di seberang sana. "Apa maksudmu, Audrey?""Semalam, ada orang yang mencampurkan obat kedalam minuman ku, Kak. Setelah meminumnya, aku tidak ingat apa-apa lagi.""Apa?!" teriak Michelle.A
Di lorong hotel yang lengang, seorang wanita tampak berjalan sempoyongan. Langkahnya terseret, napasnya berat. Tangannya berkali-kali mengusap tengkuk, seolah berusaha menenangkan sensasi panas yang menjalar liar di seluruh tubuhnya."Tubuhku... kenapa panas sekali?" gumamnya lirih, pandangannya buram. "Tolong aku... ""Tenang saja!" sebuah suara terdengar dekat, dingin namun, meyakinkan. "Di dalam ada seseorang yang akan menolong mu. Selamat bersenang-senang, Audrey."Audrey tidak sempat melihat siapa pemilik suara itu. Yang ia rasakan hanya dorongan kuat yang membuat tubuhnya terhuyung masuk ke sebuah ruangan dengan pencahayaan temaram."Ini... di mana?" bisik nya panik. "Tolong aku... "Pandangan matanya yang kabur menangkap sosok pria bertubuh gemuk, bertelanjang dada, tengah menyeringai ke arahnya dengan tatapan menjijikkan."Akhirnya kau datang, sayang," ucap pria itu seraya melangkah mendekat, merentangkan kedua tangan. "Kemari lah! Aku akan membantumu."Namun, sebelum jarak m