共有

Bab 2

作者: Adzlan Airey
last update 公開日: 2026-01-07 22:40:44

"Itu tidak benar, kak," sangkal Audrey. "Aku di fitnah. Foto itu... pasti foto itu hasil rekayasa."

Terdengar desahan panjang di seberang. "Aku juga berharap, semua itu tidak benar, Audrey," ujar Michelle. "Tapi sayangnya, foto itu asli. Itu benar-benar kau. Bahkan, ada keterangan dari staff hotel, tempat kau berada saat itu yang membenarkan jika itu kau."

Tubuh Audrey terhuyung, nyaris terjatuh. Namun, tangannya cepat meraih sandaran sofa. "Itu tidak mungkin," lirihnya. Ia mencoba merangkai kembali potongan ingatan yang berserakan. Semalam, jelas ia pergi ke bar bersama Michelle dan yang lain. Lalu, seseorang menyodorkan minuman padanya. Ia sempat ragu, tapi tetap menerimanya. Dan setelah itu...

Mata Audrey membelalak sempurna. "Aku dijebak!" pekiknya.

"Dijebak?" suara Michelle terdengar meninggi di seberang sana. "Apa maksudmu, Audrey?"

"Semalam, ada orang yang mencampurkan obat kedalam minuman ku, Kak. Setelah meminumnya, aku tidak ingat apa-apa lagi."

"Apa?!" teriak Michelle.

Audrey refleks menjauhkan ponsel dari telinganya.

"Kau bilang apa barusan?" suara Michelle berubah tajam. "Obat? Maksudmu... kau—"

Audrey menggigit bibir bawahnya. Pandangannya melirik Leon yang berdiri tidak jauh darinya, bersedekap dengan ekspresi yang sulit ditebak.

"Iya, Kak," bisiknya nyaris tidak terdengar.

"Ya Tuhan, Audrey!" suara Michelle terdengar panik. "Apa kau tahu artinya ini? Kalau media tahu soal itu, kariermu bisa tamat!"

"Aku tahu, kak," jawab Audrey lirih. "Tapi, yang terpenting sekarang, kau harus menolongku. Singkirkan wartawan-wartawan di depan kamarku."

"Apa? Wartawan?" Michelle memijat pelipisnya. "Kau dalam masalah besar, Audrey."

" Sudah aku bilang, aku di jebak," ujar Audrey dengan suara sedikit meninggi. "Cepat bantu aku, kak!"

Michelle terdiam sejenak. "Kau ada di kamar yang mana? Aku sekarang ada di kamarmu, tempat kita menginap."

Audrey menepuk dahinya pelan. "Sial! Aku lupa kalau ini bukan kamarku," gumamnya.

"Halo? Audrey? Kau masih di sana?"

"I-iya, Kak," jawab Audrey .

"Jika kau tidak keberatan, aku bersedia menolongmu," ucap Leon tiba-tiba.

Audrey melirik sekilas. "Aku akan menghubungimu lagi nanti. Aku harus menyelesaikan urusan yang ada di sini dulu." Dengan tangan gemetar, Audrey memutus sambungan. Ia menghela napas panjang, dadanya terasa sesak.

Perlahan, ia menoleh ke arah Leon dengan ragu dan takut. Namun, ia tidak punya pilihan lain.

Audrey merogoh tasnya, mengeluarkan beberapa lembar uang, lalu menyodorkannya pada pria itu. "Ini, ambillah. Anggap saja sebagai imbalan atas... " Audrey memalingkan wajahnya. "Kerja keras mu tadi malam."

Leon menaikkan kedua alisnya. Senyumnya tipis, namun dingin. "Apa pelayananku tidak cukup memuaskan, Nona?"

"Bu-bukan itu maksudku." Audrey tergagap. "A-aku tidak membawa uang tunai banyak. Ini sebagai uang muka, nanti sisanya akan aku transfer."

Leon tidak langsung menjawab. Tatapannya justru beralih ke layar televisi yang masih menyiarkan berita tentang diri Audrey. Hal itu membuat sudut bibirnya terangkat sedikit.

"Kau memberiku uang karena sudah melayani mu semalam," ucap Leon. "Jika aku memberitahu Media tentang hal ini, bukankah itu artinya tuduhan atas dirimu itu... Benar?"

"Kau—" kata-kata Audrey tertahan di tenggorokan. Tangannya mengepal, jantungnya berdegup keras. Setelah beberapa detik terdiam, akhirnya ia menguatkan diri. "Lalu, apa yang sebenarnya kau inginkan dariku?"

"Itu—" Leon melangkah maju, membuat Audrey reflek mundur hingga punggungnya kembali merapat ke dinding.

"Nanti kau juga akan tahu." Leon tersenyum tipis. Ia melangkah ke arah sofa, mengambil sebuah paper bag, lalu menyodorkannya pada Audrey. "Sekarang, bersihkan dirimu dan ganti baju lebih dulu."

Audrey menatap paper bag itu ragu. Jantungnya masih berdegup tidak menentu, pikirannya penuh tanda tanya. Namun pada akhirnya, ia tetap menerimanya.

"L-lalu... wartawan di luar?" tanyanya pelan.

"Aku yang akan mengurusnya," potong Leon tanpa memberi ruang untuk bantahan.

Audrey mengangguk kecil. "Baiklah." Ia meletakkan tasnya di sisi tempat tidur, lalu berbalik melangkah menuju kamar mandi. Langkahnya masih sedikit tertatih, namun ia tidak berani menunjukkan kelemahannya di hadapan pria itu.

Saat sampai di ambang pintu, ia menatap Leon sekilas, lalu menutupnya rapat, meninggalkan Leon seorang diri di dalam kamar.

Begitu Audrey tidak lagi terlihat, ekspresi Leon berubah. Senyum samar di wajahnya lenyap, digantikan tatapan dingin penuh perhitungan. Ia meraih ponselnya dan menekan nomor seseorang.

"Usir semua orang yang ada di depan kamarku!" ucapnya singkat. "Dan, redam berita tentang Audrey Willys. Sekarang!"

Tidak ada basa-basi. Tanpa menunggu jawaban, Leon memutus sambungan begitu saja. Ia melirik ke arah pintu kamar mandi, mendengar samar suara air mengalir, lalu kembali menatap layar televisi yang masih menampilkan potongan berita pagi itu.

***

Mereka melangkah keluar dari kantor catatan sipil dengan langkah pelan, dengan sertifikat pernikahan di tangan masing-masing.

Audrey berhenti sejenak. Jemarinya menggenggam sertifikat itu erat, matanya terpaku pada tulisan di sampul depan.

"Kenapa aku mau menikah dengan pria ini?" batinnya, sesak. "Aku bahkan tidak mengenalnya."

Ia menelan ludah, lalu mengembuskan napas kasar, seolah ingin mengusir penyesalan yang terlambat datang.

"Kau benar-benar bodoh, Audrey," gumamnya lirih.

"Kau mau ke mana? Aku akan mengantarmu," ucap Leon tiba-tiba.

Audrey tersentak kecil, lalu buru-buru menggeleng. "Ah... tidak perlu. Aku masih harus bekerja." Ia memaksakan senyum tipis. "Sampai jumpa."

Tanpa menunggu jawaban, Audrey melangkah pergi dengan langkah cepat, terlalu cepat untuk seseorang yang baru saja menikah. Ia bahkan tidak berani menoleh, seolah takut jika berhenti, keberaniannya akan runtuh begitu saja.

Sementara Leon tetap berdiri di tempatnya. Tatapannya mengikuti punggung Audrey hingga wanita itu menghilang di balik keramaian. Perlahan, ia menurunkan pandangan pada sertifikat pernikahan di tangannya. Sudut bibirnya terangkat tipis.

"Akhirnya, Kau menjadi milikku, Audrey Willys," gumamnya pelan, jari-jarinya mengetuk sertifikat pernikahan di tangannya.

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Wanita Kesayangan Tuan Leon    Bab 55

    Beberapa jam sebelumnya...Pintu ruang rawat Audrey terbuka kasar. Leon melangkah masuk dengan wajah dingin, diikuti Andrew di belakangnya. Aura pria itu terasa begitu menekan hingga udara di ruangan mendadak terasa berat.Namun, langkah Leon tiba-tiba terhenti. Tatapannya menyapu ruangan itu tajam.Suasana di ruangan itu terasa sunyi.Di atas ranjang, seseorang berbaring dengan selimut menutupi tubuh hingga kepala. Rambut panjang terurai, terlihat sebagian saja.Leon menyipitkan matanya. Ada sesuatu yang terasa aneh."Audrey?" panggilnya rendah.Tidak ada jawaban.Leon berjalan mendekat perlahan. Dan, dalam satu tarikan kasar, ia menarik selimut itu dan melemparnya begitu saja.Andrew langsung membelalak."Dokter Grace?!"Wanita itu mengerjapkan matanya, berpura-pura baru saja tersadar dengan tangan yang memijat pelipisnya."Ada apa ini?" gumamnya lirih. "Di mana aku?" Grace melihat sekeliling, lalu tatapannya jatuh pada Leon yang menatapnya tajam.Grace tersentak. Dia buru-buru tur

  • Wanita Kesayangan Tuan Leon    Bab 54

    Kafe di Jalan X tidak terlalu ramai siang itu.Aroma kopi memenuhi ruangan, bercampur suara pelan musik yang mengalun lembut. Namun, semua itu sama sekali tidak mampu menenangkan Audrey.Ia duduk di sudut ruangan, masih mengenakan jas putih milik Dokter Grace. Masker menutupi sebagian besar wajahnya, sementara rambutnya sengaja ia gerai untuk menyamarkan penampilannya.Tidak ada seorang pun yang mengenalinya. Namun tetap saja, Audrey merasa seolah semua mata sedang mengawasinya.Kedua tangannya saling menggenggam erat di atas meja. Jemarinya dingin dan sedikit gemetar. Sesekali ia menoleh ke arah pintu masuk dengan napas gelisah."Cepat, Kak Michelle," gumamnya lirih. "Aku tidak punya banyak waktu."Beberapa menit berlalu terasa begitu lama. Hingga akhirnya, pintu kafe terbuka saat seseorang masuk.Mata Audrey langsung mengenali wanita itu.Michelle. Namun, Audrey tidak langsung bergerak. Ia tetap diam di tempatnya, memperhatikan dengan waspada. Tatapannya mengikuti setiap langkah Mi

  • Wanita Kesayangan Tuan Leon    Bab 53

    Malam itu, suasana di kediaman Leon terasa jauh dari kata tenang.Di sebuah ruangan luas yang gelap, hanya diterangi cahaya redup dari lampu sudut, Leon duduk sendirian. Beberapa botol minuman berserakan di lantai, sebagian sudah kosong, sebagian lagi masih setengah terisi.Ia menggenggam satu botol di tangannya, meneguknya tanpa jeda.Wajahnya memerah, napasnya berat, namun tatapannya kosong.Untuk pertama kalinya, pria yang selalu terlihat kuat itu, tampak kacau."Dia sudah tahu semuanya," gumamnya.Suara Audrey kembali terngiang di kepalanya. Tentang siapa dirinya. Tentang darah yang menempel di tangannya. Tentang masa lalu yang ia kubur dalam-dalam. Dan, yang paling menyakitkan tentang kematian kedua orang tua Audrey dan anak mereka.Leon terdiam. Napasnya tertahan. Lalu, perlahan bayangan Reymond muncul di benaknya. Suara itu kembali menggema, menusuk tanpa ampun."Ka-kau mungkin berhasil membunuhku. Ta-tapi… kau juga kehilangan segalanya."Leon menggeram keras. Botol di tanganny

  • Wanita Kesayangan Tuan Leon    Bab 52

    Leon kembali ke rumah sakit dengan langkah tenang, namun aura dingin masih menyelimuti dirinya. Di depan ruangan, dua anak buahnya berdiri berjaga. Saat melihatnya datang, keduanya langsung menunduk hormat."Pergi," ucap Leon singkat, tanpa menatap.Keduanya segera menegakkan tubuh, membungkuk sekali lagi, lalu pergi meninggalkan tempat itu.Suasana mendadak sunyi.Leon terdiam di depan pintu. Tangannya perlahan terangkat, menggenggam kenop pintu. Ia menarik napas dalam, seolah menekan sesuatu yang bergolak di dalam dadanya, sebelum akhirnya membuka pintu dan masuk.Di dalam ruangan, Audrey terbaring terdiam di atas ranjang. Tatapannya menoleh ke arah jendela, kosong, seolah pikirannya melayang jauh.Leon mendekat perlahan, lalu duduk di sisi ranjang."Bagaimana keadaanmu, sayang?" tanyanya pelan.Tidak ada jawaban. Audrey hanya diam.Beberapa detik kemudian, ia memalingkan wajah ke arah lain, menjauh dari Leon, seolah enggan bahkan sekadar menatapnya.Leon terdiam sesaat. Namun, ia t

  • Wanita Kesayangan Tuan Leon    Bab 51

    Leon terdiam. Tangannya mengepal erat di sisi tubuhnya, urat-urat di punggung tangannya tampak menegang. Rahangnya mengeras, napasnya memburu, namun, sekuat tenaga ia menahan emosinya agar tidak meledak di depan Audrey.Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang menyesakkan sebelum akhirnya Leon mengalihkan pembicaraan."Tubuhmu masih lemah. Kata dokter, kau harus—""Aku ingin bercerai, Leon," potong Audrey tegas, menatap pria itu tanpa gentar.Leon terpaku. Sorot matanya bergetar sesaat, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar."Ja-jangan bercanda, Sayang.""Aku tidak bercanda!" seru Audrey dengan suara yang mulai bergetar menahan emosi. "Aku serius."Kepalan tangan Leon semakin erat. Emosi yang sedari tadi ia tahan perlahan mendidih di dalam dadanya. Namun, beberapa saat kemudian, ia menarik napas panjang, memaksa dirinya tetap tenang. Perlahan, jemarinya terbuka."Istirahatlah!" Suara Leon terdengar dingin dan datar.Tanpa berkata apa-apa lagi, ia berbalik lalu

  • Wanita Kesayangan Tuan Leon    Bab 50

    Sesampainya di rumah sakit, Audrey langsung dilarikan ke ruang gawat darurat. Pintu tertutup rapat, memisahkan dunia luar dari perjuangan hidup dan mati yang terjadi di dalamnya.Di luar, Leon Alexander berdiri diam. Wajahnya tampak tenang. Namun pikirannya kacau.Untuk pertama kali dalam hidupnya, ia merasakan sesuatu yang tidak pernah ia izinkan sebelumnya. Takut kehilangan.Tatapannya kosong menembus pintu, seolah berharap bisa melihat apa yang terjadi di balik sana. Bayangan Audrey yang terbaring lemah terus berputar di benaknya.Dan satu pikiran terus menghantuinya, jika sesuatu terjadi pada wanita itu, ia tidak akan pernah bisa memaafkan dirinya sendiri.Di dalam ruangan, para dokter bergerak cepat.Alat bantu pernapasan segera dipasang. Monitor berdetak tidak beraturan, menunjukkan kondisi yang kritis. Darah yang terus merembes membuat tim medis bersiap melakukan tindakan operasi.Namun, saat pemeriksaan lebih lanjut dilakukan, gerakan mereka perlahan melambat.Ekspresi wajah m

  • Wanita Kesayangan Tuan Leon    Bab 42

    Karena tidak mendapatkan petunjuk, akhirnya Leon memilih mundur. Namun, bukan berarti dia menyerah. Justru, ia semakin gencar mencari tempat persembunyian Reymond. Dan kali ini, Leon tidak kembali ke apartemen Audrey, melainkan ke markasnya. Di ruang luas, gelap, dan sunyi. Hanya cahaya redup dar

  • Wanita Kesayangan Tuan Leon    Bab 7

    Siang akhirnya berganti malam yang gemerlap. Tepat pukul tujuh, mobil yang membawa Audrey dan Michelle berhenti di depan gedung stasiun televisi yang menjulang tinggi, dinding kacanya memantulkan cahaya lampu kota seperti lautan bintang buatan. Audrey turun perlahan. Sepatu haknya menyentuh trotoa

  • Wanita Kesayangan Tuan Leon    Bab 6

    Audrey menjatuhkan kepalanya di atas lipatan tangan di meja, bahunya turun naik oleh helaan napas panjang yang terasa berat. Rambutnya yang sedikit berantakan menutupi sebagian wajahnya, seolah ia ingin bersembunyi dari kenyataan yang menakutkan."Aku harus bagaimana, Kak?" suaranya terdengar lirih

  • Wanita Kesayangan Tuan Leon    Bab 5

    Di hari libur itu, Audrey memilih mengurung diri di kamar. Ia menghabiskan waktunya dengan tidur, mengistirahatkan tubuh dan pikirannya.Bukan karena lelah semata, melainkan ingin lari sejenak dari pikirannya yang kusut. Tubuhnya butuh istirahat, begitu juga jiwanya.Namun, tidur tidak pernah benar

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status