แชร์

Bab 4

ผู้เขียน: Adzlan Airey
last update วันที่เผยแพร่: 2026-01-09 21:27:39

Di sebuah ruangan bawah tanah yang lembap, lampu gantung tua berayun pelan, memantulkan cahaya kekuningan yang redup dan tidak stabil. Bau karat bercampur darah mengental di udara.

Seorang pria gemuk terikat pada kursi besi di tengah ruangan. Pergelangan tangannya membiru karena ikatan yang terlalu kencang. Kepalanya terkulai, napasnya tersengal dan berat, seolah setiap tarikan udara melukai paru-parunya sendiri. Wajahnya hancur oleh lebam, darah mengering di sudut bibir dan pelipisnya. Jubah mandi yang ia kenakan tercabik, menempel pada luka yang belum sempat mengering.

Ia mengerang pelan. Bibirnya bergerak, meracau tanpa arah, entah berdoa atau menyesal, tidak ada yang tahu.

Lalu, suara langkah kaki menggema di lorong luar.

Pelan, namun menekan. Bukan langkah orang yang terburu-buru ataupun ragu. Namun, setiap hentakan sepatu terdengar seperti hitungan mundur menuju kematian.

Pria di kursi itu tersentak. Dengan sisa tenaga yang hampir habis, ia mendongak. Pandangannya buram oleh darah dan air mata, namun ia tetap memaksa melihat sosok yang kini berdiri beberapa langkah di hadapannya.

Bayangan itu berhenti tepat di bawah cahaya lampu.

Wajahnya terlihat tenang.

"Si... siapa kau?" lirih pria itu, suaranya retak seperti kaca tipis yang nyaris pecah.

Sosok itu membungkuk perlahan, menyamakan tinggi pandangan mereka. Gerakannya tenang, namun tatapannya dingin dan tajam.

"Kau tidak mengenalku?" suaranya terdengar datar, penuh tekanan.

Pria itu tersentak, kesadaran menghantamnya seperti palu godam saat mengenali suara itu. Tubuhnya menegang hebat. Ketakutan merambat dari ujung kaki hingga ke ubun-ubun, membuat tubuhnya gemetar tidak terkendali.

"T-tuan... " suaranya tercekat. "Tolong, lepaskan aku. Aku tidak bersalah."

"Tidak bersalah?" ulangnya. Ia berdiri, berjalan memutari kursi dengan langkah santai, seperti seorang predator yang mengincar mangsanya. Ujung sepatunya menyentuh kaki kursi, membuatnya berderit pelan.

"Kau yakin, tidak melakukan kesalahan?" tanyanya dengan suara rendah.

"A-aku dijebak, Tuan! Aku berani bersumpah!" Air mata bercampur darah mengalir di pipinya. "A-ada seseorang yang menghubungi ku dan mengatakan, jika dia mempunyai barang bagus. Dia mengirim alamat, dan menyuruhku menunggu. Itu saja!"

Sosok itu berhenti tepat di belakangnya.

"Dijebak?" gumamnya lirih. "Siapa yang menjebak mu, hm?"

Pria gemuk itu terdiam. Matanya bergerak liar, seperti binatang yang terpojok. Nama itu ada di ujung lidahnya, tapi ketakutan menahannya.

"A-aku tidak tahu, Tuan. Dia memakai nomor tidak dikenal. Dia juga menggunakan pengubah suara saat berbicara."

"Jadi, kau datang begitu saja, tanpa menyelidikinya. Tanpa memastikan, apakah itu penipuan atau bukan, hanya karena iming-iming itu?" suara di belakangnya berubah semakin dingin

"M-maafkan aku," isaknya pecah. "Aku memang bodoh."

Sosok itu berdecih pelan. Dia menarik benda yang tersembunyi di balik punggungnya, lalu menempelkan ujungnya di dahi pria gemuk itu. Benda keras dan dingin.

Pria itu melebarkan kedua matanya. Jantungnya berdetak kencang. "Tu-tuan, ja-jangan bunuh aku!"

"Untuk apa aku membiarkan orang bodoh.sepertimu hidup lebih lama, hm?" suara itu kini begitu dekat di telinganya. "Kau tidak berguna."

Pria itu menegakkan tubuhnya, menatap tajam.pria gemuk itu sebelum akhirnya menekan pelatuk, dan—

DOR!

Letupan pendek memecah ruang, menggema singkat sebelum kembali ditelan sunyi.

Tubuh di kursi itu terkulai ke samping. Kepala menggantung tak bernyawa. Darah segar menetes ke lantai beton, membentuk genangan kecil yang perlahan melebar.

Pria itu melangkah mundur dengan tenang. Ia menyimpan pistolnya kembali ke balik jas dengan gerakan perlahan.

Lalu, tatapannya beralih ke sudut ruangan yang gelap.

"Bereskan!" perintahnya singkat.

"Baik, tuan."

Pria itu berbalik tanpa ekspresi, meninggalkan ruangan dengan langkah yang tenang seperti saat ia masuk. Pintu besi tertutup perlahan di belakangnya, meninggalkan satu nyawa yang berakhir, tanpa makna, tanpa nama, dan tanpa sisa harapan.

***

Di sisi lain kota, sebuah apartemen mewah di lantai tertinggi berubah menjadi medan perang.

Lampu gantung kristal masih menyala terang, memantulkan kilau pada serpihan kaca yang berserakan di lantai marmer. Tirai putih berkibar diterpa angin dari jendela yang terbuka lebar. Namun, keindahan ruangan itu tidak lagi berarti apa-apa.

Seorang wanita berdiri di tengahnya. Rambutnya berantakan, gaunnya kusut, napasnya memburu tidak teratur. Mata yang biasanya dihias riasan sempurna kini memerah, bukan karena air mata, melainkan amarah yang membakar dari dalam.

Tangannya terangkat lagi. Sebuah vas bunga melayang dan—

PRANG!

Vas bunga pecah menghantam dinding, serpihannya berjatuhan, berserakan di lantai.

"Brengsek!" teriaknya, suaranya melengking, nyaris histeris. Ia meraih apa saja yang bisa disentuhnya. Bingkai foto terlempar, gelas kristal remuk, lampu meja terhempas. Setiap benda yang hancur seolah menjadi pelampiasan atas satu nama yang terus berputar di kepalanya.

Audrey Willys.

Dadanya naik turun tajam. Ujung jarinya gemetar, bukan karena lelah, melainkan karena rasa iri yang selama ini seperti api kecil, kini berubah menjadi kobaran tak terkendali.

Semua rencananya, runtuh. Skandal yang ia susun rapi. Foto-foto yang sengaja ia bocorkan. Narasi keji yang ia sebarkan ke media dan akun gosip anonim, gagal semua.

Ia sudah membayangkan wajah Audrey hancur di depan kamera, kariernya tercabik, reputasinya tenggelam dalam. Namun pagi ini, semuanya lenyap tanpa jejak.

"Kenapa dia bisa lolos?" desisnya, menendang kursi hingga terjungkal dan bergeser kasar di lantai marmer. "Kenapa rencanaku bisa gagal?" Tawanya pecah, terdengar pahit, nyaris gila.

Sejak awal, ia membenci wanita itu. Wajah polos yang pura-pura tidak tahu apa-apa. Senyum lembut yang disukai publik. Karier yang melesat cepat, kontrak iklan, sorotan kamera... Semua itu seharusnya miliknya.

Iri berubah menjadi dengki. Dengki menjelma obsesi.

Dan obsesi, jika dibiarkan terlalu lama, berubah menjadi racun.

Namun, yang paling membuatnya gemetar bukan hanya rencananya yang gagal. Melainkan kenyataan bahwa seluruh jejak skandal itu menghilang dalam sekejap.

Ia meraih ponselnya dengan tangan gemetar, membuka satu per satu portal berita. Tidak ada. Berita itu sudah hilang. Media sosial, Forum gosip anonim yang biasanya paling kejam pun senyap.

"Tidak mungkin," gumamnya lirih.

Jari-jarinya bergerak semakin cepat, menggulir layar, mencari sisa tangkapan layar, arsip, atau apa pun. Namun, hasilnya sama. Seolah malam itu tidak pernah terjadi apa-apa.

Matanya menyipit perlahan. "Siapa?" bisiknya, nada suaranya kini berubah. Tidak lagi meledak-ledak, melainkan dingin dan penuh perhitungan. "Siapa yang berani melakukan semua ini?"

Ia yakin, bukan agensi Audrey yang melakukannya karena mereka tidak mempunyai kekuatan sebesar ini. Semua ini juga bukan sekadar keberuntungan. Pasti, orang yang ikut campur, bukan orang biasa. Mungkin, orang yang mempunyai kekuasaan. Seseorang yang mampu membungkam media, bahkan mungkin mengancam.

Pikirannya berputar. Mengingat setiap momen, setiap tatapan yang terasa aneh, setiap sosok yang berdiri di dekat Audrey. Namun, ia tidak menemukan orang yang mempunyai kekuasaan besar. Mereka yang berada di dekat Audrey, hanya orang biasa, rekan sesama artis.

Wanita itu menggeram. Tangannya mengepal erat hingga buku-buku jarinya memutih.

"Kalau kau pikir ini sudah selesai, kau salah besar, Audrey Willys," ucapnya pelan, hampir berbisik. "Aku akan menemukan siapa pelindungmu."

Ia melangkah ke arah jendela, menatap gemerlap lampu kota dari ketinggian. Wajahnya terpantul samar di kaca. Wajahnya retak oleh kemarahan, namun perlahan membentuk sesuatu yang lebih berbahaya.

"Dan, saat aku menemukannya, aku tidak hanya akan menjatuhkan mu. Aku akan menghancurkan kalian berdua." Senyum tipis terukir di bibirnya. Senyum yang menyimpan rencana licik dan berbahaya.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Wanita Kesayangan Tuan Leon    Bab 55

    Beberapa jam sebelumnya...Pintu ruang rawat Audrey terbuka kasar. Leon melangkah masuk dengan wajah dingin, diikuti Andrew di belakangnya. Aura pria itu terasa begitu menekan hingga udara di ruangan mendadak terasa berat.Namun, langkah Leon tiba-tiba terhenti. Tatapannya menyapu ruangan itu tajam.Suasana di ruangan itu terasa sunyi.Di atas ranjang, seseorang berbaring dengan selimut menutupi tubuh hingga kepala. Rambut panjang terurai, terlihat sebagian saja.Leon menyipitkan matanya. Ada sesuatu yang terasa aneh."Audrey?" panggilnya rendah.Tidak ada jawaban.Leon berjalan mendekat perlahan. Dan, dalam satu tarikan kasar, ia menarik selimut itu dan melemparnya begitu saja.Andrew langsung membelalak."Dokter Grace?!"Wanita itu mengerjapkan matanya, berpura-pura baru saja tersadar dengan tangan yang memijat pelipisnya."Ada apa ini?" gumamnya lirih. "Di mana aku?" Grace melihat sekeliling, lalu tatapannya jatuh pada Leon yang menatapnya tajam.Grace tersentak. Dia buru-buru tur

  • Wanita Kesayangan Tuan Leon    Bab 54

    Kafe di Jalan X tidak terlalu ramai siang itu.Aroma kopi memenuhi ruangan, bercampur suara pelan musik yang mengalun lembut. Namun, semua itu sama sekali tidak mampu menenangkan Audrey.Ia duduk di sudut ruangan, masih mengenakan jas putih milik Dokter Grace. Masker menutupi sebagian besar wajahnya, sementara rambutnya sengaja ia gerai untuk menyamarkan penampilannya.Tidak ada seorang pun yang mengenalinya. Namun tetap saja, Audrey merasa seolah semua mata sedang mengawasinya.Kedua tangannya saling menggenggam erat di atas meja. Jemarinya dingin dan sedikit gemetar. Sesekali ia menoleh ke arah pintu masuk dengan napas gelisah."Cepat, Kak Michelle," gumamnya lirih. "Aku tidak punya banyak waktu."Beberapa menit berlalu terasa begitu lama. Hingga akhirnya, pintu kafe terbuka saat seseorang masuk.Mata Audrey langsung mengenali wanita itu.Michelle. Namun, Audrey tidak langsung bergerak. Ia tetap diam di tempatnya, memperhatikan dengan waspada. Tatapannya mengikuti setiap langkah Mi

  • Wanita Kesayangan Tuan Leon    Bab 53

    Malam itu, suasana di kediaman Leon terasa jauh dari kata tenang.Di sebuah ruangan luas yang gelap, hanya diterangi cahaya redup dari lampu sudut, Leon duduk sendirian. Beberapa botol minuman berserakan di lantai, sebagian sudah kosong, sebagian lagi masih setengah terisi.Ia menggenggam satu botol di tangannya, meneguknya tanpa jeda.Wajahnya memerah, napasnya berat, namun tatapannya kosong.Untuk pertama kalinya, pria yang selalu terlihat kuat itu, tampak kacau."Dia sudah tahu semuanya," gumamnya.Suara Audrey kembali terngiang di kepalanya. Tentang siapa dirinya. Tentang darah yang menempel di tangannya. Tentang masa lalu yang ia kubur dalam-dalam. Dan, yang paling menyakitkan tentang kematian kedua orang tua Audrey dan anak mereka.Leon terdiam. Napasnya tertahan. Lalu, perlahan bayangan Reymond muncul di benaknya. Suara itu kembali menggema, menusuk tanpa ampun."Ka-kau mungkin berhasil membunuhku. Ta-tapi… kau juga kehilangan segalanya."Leon menggeram keras. Botol di tanganny

  • Wanita Kesayangan Tuan Leon    Bab 52

    Leon kembali ke rumah sakit dengan langkah tenang, namun aura dingin masih menyelimuti dirinya. Di depan ruangan, dua anak buahnya berdiri berjaga. Saat melihatnya datang, keduanya langsung menunduk hormat."Pergi," ucap Leon singkat, tanpa menatap.Keduanya segera menegakkan tubuh, membungkuk sekali lagi, lalu pergi meninggalkan tempat itu.Suasana mendadak sunyi.Leon terdiam di depan pintu. Tangannya perlahan terangkat, menggenggam kenop pintu. Ia menarik napas dalam, seolah menekan sesuatu yang bergolak di dalam dadanya, sebelum akhirnya membuka pintu dan masuk.Di dalam ruangan, Audrey terbaring terdiam di atas ranjang. Tatapannya menoleh ke arah jendela, kosong, seolah pikirannya melayang jauh.Leon mendekat perlahan, lalu duduk di sisi ranjang."Bagaimana keadaanmu, sayang?" tanyanya pelan.Tidak ada jawaban. Audrey hanya diam.Beberapa detik kemudian, ia memalingkan wajah ke arah lain, menjauh dari Leon, seolah enggan bahkan sekadar menatapnya.Leon terdiam sesaat. Namun, ia t

  • Wanita Kesayangan Tuan Leon    Bab 51

    Leon terdiam. Tangannya mengepal erat di sisi tubuhnya, urat-urat di punggung tangannya tampak menegang. Rahangnya mengeras, napasnya memburu, namun, sekuat tenaga ia menahan emosinya agar tidak meledak di depan Audrey.Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang menyesakkan sebelum akhirnya Leon mengalihkan pembicaraan."Tubuhmu masih lemah. Kata dokter, kau harus—""Aku ingin bercerai, Leon," potong Audrey tegas, menatap pria itu tanpa gentar.Leon terpaku. Sorot matanya bergetar sesaat, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar."Ja-jangan bercanda, Sayang.""Aku tidak bercanda!" seru Audrey dengan suara yang mulai bergetar menahan emosi. "Aku serius."Kepalan tangan Leon semakin erat. Emosi yang sedari tadi ia tahan perlahan mendidih di dalam dadanya. Namun, beberapa saat kemudian, ia menarik napas panjang, memaksa dirinya tetap tenang. Perlahan, jemarinya terbuka."Istirahatlah!" Suara Leon terdengar dingin dan datar.Tanpa berkata apa-apa lagi, ia berbalik lalu

  • Wanita Kesayangan Tuan Leon    Bab 50

    Sesampainya di rumah sakit, Audrey langsung dilarikan ke ruang gawat darurat. Pintu tertutup rapat, memisahkan dunia luar dari perjuangan hidup dan mati yang terjadi di dalamnya.Di luar, Leon Alexander berdiri diam. Wajahnya tampak tenang. Namun pikirannya kacau.Untuk pertama kali dalam hidupnya, ia merasakan sesuatu yang tidak pernah ia izinkan sebelumnya. Takut kehilangan.Tatapannya kosong menembus pintu, seolah berharap bisa melihat apa yang terjadi di balik sana. Bayangan Audrey yang terbaring lemah terus berputar di benaknya.Dan satu pikiran terus menghantuinya, jika sesuatu terjadi pada wanita itu, ia tidak akan pernah bisa memaafkan dirinya sendiri.Di dalam ruangan, para dokter bergerak cepat.Alat bantu pernapasan segera dipasang. Monitor berdetak tidak beraturan, menunjukkan kondisi yang kritis. Darah yang terus merembes membuat tim medis bersiap melakukan tindakan operasi.Namun, saat pemeriksaan lebih lanjut dilakukan, gerakan mereka perlahan melambat.Ekspresi wajah m

  • Wanita Kesayangan Tuan Leon    Bab 42

    Karena tidak mendapatkan petunjuk, akhirnya Leon memilih mundur. Namun, bukan berarti dia menyerah. Justru, ia semakin gencar mencari tempat persembunyian Reymond. Dan kali ini, Leon tidak kembali ke apartemen Audrey, melainkan ke markasnya. Di ruang luas, gelap, dan sunyi. Hanya cahaya redup dar

  • Wanita Kesayangan Tuan Leon    Bab 7

    Siang akhirnya berganti malam yang gemerlap. Tepat pukul tujuh, mobil yang membawa Audrey dan Michelle berhenti di depan gedung stasiun televisi yang menjulang tinggi, dinding kacanya memantulkan cahaya lampu kota seperti lautan bintang buatan. Audrey turun perlahan. Sepatu haknya menyentuh trotoa

  • Wanita Kesayangan Tuan Leon    Bab 6

    Audrey menjatuhkan kepalanya di atas lipatan tangan di meja, bahunya turun naik oleh helaan napas panjang yang terasa berat. Rambutnya yang sedikit berantakan menutupi sebagian wajahnya, seolah ia ingin bersembunyi dari kenyataan yang menakutkan."Aku harus bagaimana, Kak?" suaranya terdengar lirih

  • Wanita Kesayangan Tuan Leon    Bab 5

    Di hari libur itu, Audrey memilih mengurung diri di kamar. Ia menghabiskan waktunya dengan tidur, mengistirahatkan tubuh dan pikirannya.Bukan karena lelah semata, melainkan ingin lari sejenak dari pikirannya yang kusut. Tubuhnya butuh istirahat, begitu juga jiwanya.Namun, tidur tidak pernah benar

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status