LOGIN“Pastikan kamu awasi dia selagi aku pergi. Jangan sampai perempuan itu lakuin hal bodoh.”Suara Mahendra terdengar tegas dari balik pintu kamar Savita yang tertutup. Itu merupakan suara seorang komandan yang memberikan instruksi terakhir letnannya sebelum meninggalkan medan perang.Savita yang kini sedang duduk bersandar di dinding samping pintu mendadak menahan napas. Perlahan ditempelkan telinganya ke kayu dingin itu. Dia mencoba menangkap berbagai detail percakapan yang terjadi di luar kamar tersebut.“Tenang aja, Mas,” jawab Gita dengan suara santai nan penuh percaya diri. “Dia nggak akan bisa pergi ke mana-mana. Kunci kamar kan ada sama aku, Siti juga standby di dekat dapur terus. Lagian, lihat aja dia kemarin. Dia nggak punya tenaga buat marah-marah. Kelaparan buat dia jinak.”Savita diam dengan telinga massih menempel di daun pintu. Dia mendengar suara resleting koper yang ditarik, kemudian diikuti bunyi langkah kaki sepatu beradu dengan lantai marmer. Mahendra sudah siap beran
“Bibi ngelihat sendiri?”Pertanyaan itu keluar dengan nada mendesak. Matanya menatap lekat Bi Uti yang diterangi cahaya lampu taman dari jendela.Bi Uti segera mengangguk. Savita dapat melihat wajah Bi Uti dipenuhi ketakutan.“Iya, Nya. Saya lihat sama mata saya sendiri,” bisiknya dengan suara gemetar. “Waktu itu Siti lagi di kamar mandi. Saya lihat Non Gita keluarin botol kecil dari saku bajunya terus tetesin ke mangkuk sup itu. dikira Non Gita nggak ada orang. Makanya dia tetesin nggak tau apaan, Nya.”Pengakuan Bui Uti membuat darah Savita berdesir. Paranoidnya terbukti. Gita bukan sekadar membuatnya kelaparan. Tetapi wanita itu mau meracuninya. Atau bahkan lebih mengerikannya lagi membuatnya tidur selamanya. Mungkin setidaknya cukup sakit sampai tidak bisa melawan. Sup ayam itu kini merupakan senjata pembunuh.“Ya Tuhan,” bisik
“Aku nggak mau sentuh makanan kamu.”Suara yang keluar dari bibir Savita bergetar dengan amarah. Penolakan itu lahir dari insting untuk bertahan hidup. Ditatapnya Gita penuh kebencian. Diabaikannya rasa melilit perutnya yang protes.Gita yang tadi tersenyum sinis kini berubah menjadi tawa kecil meremehkan.“Oh, ya? Kuat juga pendirian kamu, Mbak.” cibir Gita lalu bersidekap menatap Savita yang masih diatas tempat tidur. “Oke. Aku udah coba bersikap baik. Malahan udah kasih Mbak pilihan. Kalau Mbak malah lebih memilih mati kelaparan karena pertahanin harga diri Mbak yang nggak ada gunanya itu, silakan aja, Mbak.”Gita mengangkat bahu seolah keputusan Savita tidak penting daripada memilih warna cat kuku. Ditatapnya Savita. Menunggu reaksi istri pertama Mahendra tersebut. Akan tetapi, Savita yang hanya diam membuat Gita berdecak.“Terserah k
“Aku yakin kamu pasti lapar kan, Mbak?”Savita duduk tegak di atas ranjang lalu menarik selimut ke dadanya. Matanya waspada dan penuh kecurigaan tertuju pada Gita yang masih berdiri di ambang pintu kamar. Aroma sup ayam itu segera saja menyiksa perutnya yang kosong.Dalam keremangan cahaya yang masuk hanya dari jendela bertirai putih tipis, Savita melihat Gita tersenyum. Senyum itu terlalu simpati dan terlalu lembut baginya. Gita melangkah masuk tanpa diminta. Gerakannya anggun walau wajahnya sedikit pucat.“Mas Mahendra menghukum Mbak Savita. Aku tahu itu, Mbak,” ucap Gita dengan suara terdengar tulus yang dibuat-buat. Seakan wanita itu tidak setuju pada keputusan itu. “Tapi ngurung Mbak tanpa makanan? Itu sih keterlaluan. Seenggaknya Mbak mesti dikasih makan walau dikurung.”Gita meletakkan nampan berisi sup itu di meja rias yang ada di dekat jendela. Meja rias i
“Mama? Mama mau makan, nggak?”Suara Kaivan yang lirih terdengar dari balik pintu pagi keesokan harinya. Pada celah bawah pintu, ujung tisu makan muncul perlahan. savita yang tertidur di lantai, diantara kekacauan kamarnya, menyeret tubuhnya mendekati pintu kamar itu.“Kaivan? Itu kamu, Nak?” bisiknya dengan menempelkan bibirnya sedekat mungkin di pintu dingin itu.“Iya, Ma,” balas Kaivan pelan. “Aku bawain Mama roti. Papa bilang kalau Mama dihukum. Ini buat Mama sarapan. Kaivan nggak mau Mama sakit.”Bibir Savita bergetar mendengar ucapan Kaivan itu. Anak sekecil itu sudah berpikir dewasa. Lebih tepatnya terpaksa berpikir dewasa. Hati Savita bagaikan diremas. Kaivan berusaha menunjukkan kasih sayangnya dengan cara yang paling sederhana.Perlahan Savita menarik tisu makan tersebut. Di atasnya terdapat dua potong roti tawar yang dijajarkan tanpa isian selai. Savita berpikir mungkin roti itu diambil diam-diam oleh Kaivan dari meja makan.“Makasih ya, Sayang,” bisik Savita dengan suara
“Bu Savita, sekarang juga teleponnya matikan. Hancurkan HPnya. Sekarang juga!”Tanpa berpikir dua kali, atas instruksi Bastian yang mendengar suara Mahendra dan Kaivan itu, Savita segera mengakhiri teleponnya dan membuang ponsel itu ke dalam kloset kamar mandi. Segera dia menekan tombol flush. Savita melihat harapannya tersedot ke dalam pusaran air lalu hilang tanpa sisa.“Savita, buka!”Gedoran di pintu terdengar lalu tanpa aba-aba, pintu kamar mandi itu terbuka lebar akibat didobrak oleh Mahendra.Mahendra melangkah masuk. Kaivan berdiri di depan pintu kamar mandi. Savita mundur hingga terduduk di atas toilet yang sudah tertutup masih dengan suara flush air. Tatapan Mahendra bergitu menyeramkan bagi Savita.“Apa yang kamu lakukan di kamar mandi?” tatapan itu menuduh, bukan bertanya.“Aku … aku buang air kecil.” Savita menjawab dengan gugup. Jantungnya berdegup kencang.“Bohong!” Mahendra menatap tajam Savita. “Kudengar kamu ngobrol di dalam kamar mandi. Siapa yang kamu telepon? Mana







