Teilen

Bab 34 Sesak Sendirian

last update Zuletzt aktualisiert: 08.12.2025 06:38:05

“Kusimpan nomornya kalau begitu.”

Savita bergumam. Dia mengambil ponsel Kaivan dari dalam lemari lalu menyimpan nomor telepon Dimas di sana. Entah, dia tiba-tiba saja ingin menyimpan nomor telepon Dimas di ponsel itu.

Selain itu, Savita pun mencoba menulis di buku kecil yang dia temukan di laci lemari itu. Dia mencoba menulis mengenai perasaannya dan juga mengenai kehidupannya. Setelah selesai, Savita menyimpannya lagi di laci lemarinya.

“Lega sedikit,” ucapnya saat sudah selesai menulis.

Perutnya yang lapar membuat Savita berdiri dari duduknya di tepi tempat tidur. Dia keluar kamar lalu menuju dapur.

“Bi,” sapanya pada Bi Uti yang sedang bersama seorang asisten rumah tangga di rumah itu.

Asisten rumah tangga itu menunduk sopan. “Permisi, Nya. Saya izin mau pulang.”

Savita mengangguk. “Sudah selesai kerjaanmu?”

Wanita usia muda itu mengangguk. “Sudah, Nya. Permisi.”

Savita tersenyum. “Hati-hati,” ucapnya lalu menyingkir memberikan ruang pada wanita muda yang dia tidak tahu namanya itu
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel

Aktuellstes Kapitel

  • Wanita Lain di Dalam Rumah Tanggaku   Bab 82 Rambut Gugur

    “Uhuk… sakit banget.”Savita terbatuk dan dadanya terasa sesak. Dia tiba-tiba terbangun dengan kepala berat dan mulut terasa kering bagaikan dari gurun pasir.Sinar matahari pagi menembus gorden tipis berwarna putih hingga menyilaukan mata Savita yang bengkak. Savita bangkit dari ranjang. Dia merasa tubuhnya terasa pegal dan lemah. Sisa-sisa aktingnya kemarin seolah menjadi kenyataan.Masih batuk-batuk, Savita berjalan gontai menuju meja rias. Dia perlu membersihkan bedak tebal yang ia gunakan kemarin. Tanpa melihat wajahnya lagi di cermin, diambil sisir kayu, dia berniat merapikan rambutnya yang kusut sebelum mencuci muka.Savita mengaduh pelan saat sisir kayu itu tidak bekerja sesuai keinginannya. “Kenapa jadi kusut begini?” gumamnya.Dia menyisir dari ujung rambut yang panjang dan kusam. Namun, saat beberapa kali tarikan, sisirnya terasa berat se

  • Wanita Lain di Dalam Rumah Tanggaku   Bab 81 Kepulangan Tuan

    “Wah, Mas Mahen, akhirnya pulang! Aku kangen banget loh, Mas!”Suara Gita yang dibuat-buat manja itu terdengar melengking dari ruang tengah hingga menembus pintu kamar Savita yang tertutup rapat.Savita yang duduk di lantai bersandarkan pinggiran tempat tidur, yang sedang memandangi mangkuk bubur dari Siti, segera menegang. Sang Tuan Penjara sudah kembali.Savita sadar bahwa dirinya tidak punya banyak waktu. Dia segera bangkit sambil mengangkat mangkuk berisi bubur itu lalu membawanya ke dalam toilet dan dibuat ke kloset sebagian besar.“Jangan buang semua,” bisik Savita. Dia lalu mengaduk-aduk asal mangkuk masih yang menyisakan sedikit bubur itu. “Sisain dikit biar dikira kumakan,” ucapnya lagi.Dia lalu berjalan ke meja riasnya yang berantakan. Diletakkan mangkuk bubur yang sudah kosong itu bersisian dengan mangkuk sup ayam yang tidak kunjung

  • Wanita Lain di Dalam Rumah Tanggaku   Bab 80 Rekaman dari Celah

    “Siti! Kamu itu bisa kerja nggak sih?! Kenapa dia masih sehat begitu? Harusnya itu orang udah teler!”Suara bentakan Gita yang penuh amarah terdengar begitu jelas. Suara itu cukup dekat hingga membuat Savita yang sedang mengobati sikunya yang memar, segera membeku.Setelah insiden itu, Savita langsung mandi dan berganti pakaian. Dia tidak mau racun menempel di tubuhnya dan tidak sengaja tertelan.Suara Gita membuat savita berjalan menuju pintu lalu menempelkan telinganya di sana. Kini, dia mengabaikan sepenuhnya luka di sikunya. “Maafin saya, Non,” jawab Siti terdengar takut. “Tadi saya udah paksa. Tapi dia ngelawan, Non. Gelasnya ditepis terus pecah, susunya tumpah, Non.”“Ngelawan? Dia ngelawan kamu?” Suara Gita terdengar tidak percaya lalu tertawa sinis. “Orang kurus kering gitu bisa ngelawan? Kamu aja yang nggak ada

  • Wanita Lain di Dalam Rumah Tanggaku   Bab 79 Susu Berbuih

    “Minum sampai habis. Saya disuruh tungguin sampai kosong gelasnya.”Suara Siti terdengar dingin dan tanpa emosi di telinga Savita. Bagaikan suara mesin. Wanita muda itu berdiri menjulang di hadapan Savita yang masih duduk di lantai. Di tangannya, terdapat segelas susu putih.Ini merupakan kunjungan keduanya Siti di hari yang sama. Setelah sebelumnya Savita tidak menyentuh bubur encer yang dibawakan. Kali ini, Siti datang dengan misi yang jelas: memastikan Savita menelan sesuatu.Savita menatap gelas di tangan Siti waspada. Dia tidak bodoh. Setelah insiden Bi Uti tersebut, dia tahu Gita tidak akan biarkannya lolos begitu saja.Matanya kemudian menangkap sesuatu yang aneh pada gelas yang dipegang Siti. Pada pinggiran dalam gelas itu, menempel buih kecil berwarna kuning yang tidak wajar. Hal itu berbeda sekali dengan buih susu biasa.Savita sering membuatkan susu untuk K

  • Wanita Lain di Dalam Rumah Tanggaku   Bab 78 Hukuman Bagi Sekutu

    “Ampun, Non! Maaf, Non! Saya nggak maksud lancang! Saya kasihan .…,”Suara memohon yang disusul isak tangis itu menembus pintu kamar Savita dan menyentaknya dari tidur gelisah. Itu suara Bi Uti.Jantung Savita berdebar dan dipenuhi firasat buruk. Dia melompat dari tempat tidur lalu menuju pintu. Ditempelkan telinganya di pintu kayu. Savita berpikir bahwa suara itu dari arah dapur.“Kasihan?!” Suara Gita melengking dengan penuh amarah. Nada suaranya layaknya cambuk. “Kamu digaji buat nurutin perintah. Bukannya ngasihanin orang! Kamu pikir kamu itu siapa? Hah? Malaikat? Kamu cuma pembantu yang numpang hidup di sini!”Terdengar suara bunyi gedebuk seperti tubuh seseorang didorong hingga membentur sesuatu yang keras entah mungkin meja, lemari, atau dinding lalu diikuti rintihan kesakitan Bi Uti. Savita dapat membayangkan tubuh tua dan renta itu terhempas tidak b

  • Wanita Lain di Dalam Rumah Tanggaku   Bab 77 Inspeksi Dadakan

    “Nyalain lampunya, Mbak! Aku tahu kamu belum tidur.”Suara Gita mengoyak keheningan di dalam kamar itu. Pintu kamar itu kemudian dibanting hingga menciptakan suara gebrakan yang membuat Savita tersentak.Gita menekan saklar lampu yang ada di samping pintu kamar. Cahaya yang menusuk mata segera memenuhi ruangan. Cahaya itu menelanjangi setiap sudut kamar.Savita berusaha memejamkan mata rapat-rapat walau jantungnya berdebar kencang hingga terasa sakit. Dia tahu bahwa dia tertangkap. Cahaya layar ponsel itu walaupun redup, pasti terlihat seperti mercusuar di kegelapan dari celah bawah pintu.“Mbak udah selesai main petak umpetnya?” tanya Gita mencibir.Wabita itu berjalan mendekati tempat tidur dengan langkah angkuh dan mengancam. Aroma parfum manis yang dipakai Gita terasa memuakkan bagi Savita.“Aku tadi lihat sinar dari lorong.&

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status