LOGINEvgenia memperkenalkan Mark kepada ketiga temannya dan Mark menyambut mereka dengan hangat. Akhirnya mereka makan bersama dengan diselingi obrolan, tanpa terasa waktu makan siang pun berakhir dan mereka kembali ke kantor bersama. "Aku tidak menyangka kau akan bekerja disini, Jeni" ucap Mark Evgenia tersenyum "Begitupun denganku" "Tapi dengan kemampuanmu, aku tau kau pasti bisa melakukannya" "Terima kasih Mark" ucap Evgenia tersenyum "Aku tidak tau kenapa keluargamu harus berbohong padaku dengan mengatakan kau pergi di luar negeri" Evgenia terkejut, dia memang tidak menceritakan kepada Mark alasan dia pergi ke Moskow. Evgenia hanya tersenyum menanggapinya Evgenia dan Mark berpisah di depan lift "Senang bisa berjumpa denganmu Mark" ucap Alisa seraya melambaikan tangan, Elena dan Nail mengangguk setuju Mark tersenyum kepada ketiganya, lalu menoleh ke arah Evgenia "Sampai jumpa lagi Jeni" Evgenia tersenyum Mark masuk ke dalam lift petinggi perusahaan, dia datang
Evgenia tidak berani mengatakan apapun saat melihat sorot mata tajam Lev setelah mendapat panggilan telepon. Namun dari mimik wajah Lev, dia tau jika ada sesuatu yang tidak baik sudah terjadi. Evgenia terdiam sampai mereka tiba di Moskow. Saat turun dari pesawat pribadi milik Stainslav, Feliks langsung mendekati Lev dan keduanya tampak membicarakan hal yang serius. Ketika mereka akan keluar dari bandara, Lev menghentikan langkahnya, sehingga membuat Feliks hampir menabrak dirinya karena dia sedang memeriksa tablet di tangannya tanpa melihat sekitar. "Ada apa Lev?" Lev berbalik Evgenia menahan napasnya, seketika dia menghentikan langkahnya, dia berjarak beberapa langkah di belakang pria itu. "Suruh Krit untuk mengantar Eve pulang" perintah Lev kepada Feliks "Eh?" ucap Feliks dan Evgenia bersamaan "Tapi Lev.." kata Feliks sedikit keberatan "Kita ke kantor menggunakan taksi" ucap Lev seraya berbalik untuk melihat situasi "Aku saja yang menggunakan taksi. Kau pergi
Lev menghentikan mobilnya di area yang cukup dekat dengan jalan rubinstein, tempat itu terdapat banyak bar dan tempat kuliner. Lev menarik tangan Evgenia untuk bergabung dengan orang-orang yang sedang menikmati malam dalam kemeriahan. "Ramai sekali disini" kata Evgenia setengah berteriak Lev tertawa "Ya. Disini orang-orang tidak pernah tidur" Lev mengajak Evgenia ke sebuah bar, Lev memesan campari dan Evgenia memesan cider. "Ingin mencoba milikku?" Evgenia sedikit ragu, namun dia mengangguk, dia langsung terbatuk saat rasa pahit itu melewati tenggorokanya, Lev tertawa melihatnya. "Tidak. Aku tidak akan pernah meminumnya lagi" ucap Evgenia sedikit kesal Lev tertawa dan menepuk pelan kepala wanita itu Mereka menikmati malam itu dengan beberapa gelas alkohol dan makanan ringan, layaknya pasangan pada umumnya, keduanya saling bergandengan tangan dan berkeliling melihat pemandangan kota itu. Evgenia melihat beberapa orang yang menjadi musisi jalanan sedang menggelar per
Sore hari setelah kunjungan ke cabang usaha Stains Corp, Lev, Evgenia dan Feliks kembali ke hotel. "Apa kau sudah menyiapkan apa yang ku minta?" "Ya. Aku sudah menaruhnya di kamar mu" Lev mengangguk Ketiganya kembali ke kamar mereka "Mandilah. Kita akan menghadiri makan malam setelah ini" Evgenia mengangguk dan dia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya Ketika Evgenia kembali ke kamarnya, dia terkejut melihat dua buah kotak dan satu paperbag ada di atas tempat tidurnya. Evgenia segera membukanya, matanya kembali melebar saat mendapati sebuah slip dress satin panjang berwarna champagne, dengan tali bahu spaghetti. Di kotak lainnya terdapat sepasang heels berwarna putih dengan permata berbentuk bunga menghiasi ujung sepatu, sedangkan paperbag berisikan sebuah clutch berwarna putih senada dengan heels. Semua barang-barang itu tentulah barang branded dan Evgenia tidak tau berapa banyak uang yang sudah Lev keluarkan untuk menyiapkan semua ini. Setengah jam kem
Evgenia terjaga dari tidurnya saat merasakan hembusan nafas hangat menerpa kepalanya, dia mengerjapkan matanya saat merasakan kenyamanan melingkupi tubuhnya. Evgenia mendongakan kepalanya dan seketika matanya melebar saat melihat wajah Lev berada dekat dengannya, pria itu masih terpejam. Evgenia mengangkat sedikit selimutnya dan dia mendesah lega saat mendapati dirinya masih berpakaian lengkap. Evgenia melepaskan perlahan lengan Lev yang memeluk dirinya, lalu dia segera turun dari ranjang dan berlari menuju kamar mandi. Lev membuka matanya dan tersenyum kecil melihat tingkah wanita itu, dia sebenarnya sudah bangun sejak tadi, namun melihat Evgenia yang masih meringkuk nyaman di pelukannya, membuatnya mengurungkan niat untuk bangun. Di kamar mandi, Evgenia menepuk-nepuk pipinya yang merona hebat, dia tidak habis pikir bagaimana bisa dirinya merasa sangat nyaman berada di pelukan Lev. Sepertinya semalam dia terlarut dalam suasana sampai membiarkan dirinya tertidur di ranjang L
Sejak Zilya masuk ke kediaman Vasiliev, dialah yang mengatur semuanya, termasuk memberhentikan para pelayan. Evgenia dan Alleya - ibunya yang bertugas melakukan semua tugas pelayan itu. Ivan dan Igor bahkan menyetujui hal itu, mereka justru mengatakan akan lebih baik seperti itu agar bisa menghemat pengeluaran mereka. Setiap hari Alleya harus membersihkan rumah, memasak bahkan melakukan apapun yang diperintahkan Zilya padanya. Jika Alleya tidak melakukan tugasnya dengan baik, maka Ivan tidak segan-segan untuk memukulnya. Evgenia bahkan beberapa kali melihat lebam di tubuh ibunya, namun Alleya mengelak jika itu adalah perbuatan ayahnya, ibunya selalu mengatakan jika itu akibat dia tidak berhati-hati dalam pekerjaannya. "Ini bekalmu. Kau pasti tidak sempat sarapan bukan. Pergilah sebelum semakin terlambat" ucap Alleya seraya memasukkan sekotak bekal yang sudah disiapkannya untuk Evgenia Evgenia tersenyum lalu mencium pipi ibunya "Terima kasih ibu" Alleya tersenyum dan mencium







