LOGINSetibanya di tempat pertemuan, Lev mengernyitkan dahinya saat melihat seorang pria yang tengah berjabat tangan dengan kliennya. Ketika keduanya berpapasan, pria itu hanya menarik sudut bibirnya tipis, lalu berjalan pergi. "Oh anda sudah tiba tuan Stainslav, silahkan duduk" Lev menatap Feliks seolah memberinya isyarat. Feliks mengangguk mengerti, dia segera mengambil ponselnya dan mengirimkan pesan kepada anak buahnya. "Anda datang lebih awal dari waktu perjanjian tuan Stainslav" "Maaf jika mengganggu anda tuan Lorenzo" "Tentu tidak tuan, saya baru saja selesai membahas proyek dengan tuan Pavel" "Apa anda mengenal pria itu?" "Hmm.. tidak begitu baik. Saya mendapatkan informasi jika tuan Pavel adalah salah satu pengusaha logam yang cukup terkenal di kota Ryazan" Lev hanya diam mendengarkan. "Ada apa tuan Stainslav?" "Tidak ada tuan. Jadi perhiasan apa yang anda inginkan, tuan Lorenzo?" Lorenzo memberi kode pada asistennya, dan pria itu berjalan mendekat untu
Di bandara Sheremetyevo, pesawat yang membawa Matvei dan Albert akhirnya mendarat. "Lihat. Ini cucu keponakanku, sekarang dia sudah menjadi mahasiswa hukum di Oxford" ucap Albert seraya menunjukkan foto seorang gadis cantik yang tengah berpose di depan menara Eiffel "Dia sangat cantik" Albert tersenyum "Ya, ibunya memiliki keturunan bangsawan Inggris, jadi tidak heran jika paras putrinya cantik" Matvei mengangguk "Bagaimana dengan kabar cucu kesayangan mu, Mat?" "Dia baik-baik saja. Bahkan dia mendapat kerjasama dengan Avraam Bogdashha untuk membuat desain perhiasan milik keluarga kerajaan" "Benarkah? Itu luar biasa sekali" Matvei tersenyum bangga "Lalu kapan dia berniat menikah?" "Entahlah.. ku pikir dengan kembalinya putri Gusev, mereka akan segera memberikan kabar baik, tapi sepertinya mereka masih menunda hal itu" "Kelihatannya mereka kembali dekat" "Ya sepertinya begitu. Lev tidak menjauhinya meskipun hubungan mereka sudah berakhir. Mungkin mereka hanya ma
Lev menatap tajam kepada dua wanita yang berdiri ketakutan. "Jika ingin melakukan kejahatan, lakukanlah dengan cantik. Bukankah kalian justru membuka kebodohan kalian sendiri" ucap Lev "Kurasa kalian sudah mengerti sekarang, jadi silahkan keluar dan lakukan tugasmu dengan baik Grigori" "Baik tuan. Maafkan saya atas masalah ini" Grigori memberi isyarat kepada Julie dan Disca untuk keluar. Namun saat berdiri dekat Evgenia untuk mengajaknya keluar, wanita itu tidak bergeming. Dan melihatnya membuatnya merasa merinding, dia seolah berhadapan dengan Lev versi wanita. Grigori pun berjalan keluar bersama Julie dan Disca. Melihat Evgenia yang masih berdiri disana, membuat Feliks mengernyitkan dahinya. "Apa ada yang ingin kau bicarakan lagi nona Vasiliev?" tanya Feliks heran Namun Lev segera mengangkat tangannya untuk menghentikan Feliks. "Keluarlah" Feliks bingung, dia melirik kepada Lev. Kedua orang itu masih saling menatap dan membuat Feliks mengerti isyarat itu di
"Apa yang ingin kau katakan Feliks?" Suara Lev seketika menghentikan langkah Feliks yang baru saja berbalik, berniat keluar dari ruangan CEO. "Aku hanya ingin menyampaikan apa yang ku dapatkan" Lev mengangkat wajahnya, memandang asistennya. Feliks berjalan kembali mendekati Lev, dan menunjukkan sesuatu padanya. Lev hanya diam, dan Feliks tidak tau apa yang dipikirkan olehnya. "Apa kau berniat membantunya kali ini?" "Bawa mereka kemari" "Tentu" Feliks segera pergi ke ruang divisi perancangan setelah mendapat perintah dari Lev. Ketika ketiga orang yang diperintahkan sudah datang, Grigori menahan napasnya saat merasa aura mencekam di dalam ruangan itu. Julie yang tadinya masih tersenyum kemenangan, tiba-tiba merasa sedikit mengerut ketika tatapan Lev menghunus tajam padanya. Saat semuanya sudah berdiri di hadapan Lev, terdengar suara lain di dalam ruangan itu. "Ya. Aku berhasil membuatnya dalam masalah" Mata Julie seketika melebar. "Kau memang hebat.
Karol yang saat itu tengah memainkan game di ponselnya mengernyitkan dahinya heran melihat ibunya yang tampak gelisah. Zilya terus mondar-mandir, sambil memegang ponselnya. Karol mengangkat bahunya tidak peduli, dia kembali memainkan ponselnya. Meskipun Ivan melarang mereka keluar rumah, Karol tidak memperdulikannya, justru dia senang karena tidak perlu repot mengurusi perusahaan yang hampir bangkrut itu. Zilya melihat ponselnya yang berdering, dia segera mengangkatnya "Bagaimana?!" "Maafkan saya nyonya, wanita itu ternyata berhasil selamat" "Sialan!" Zilya merasa sangat geram mendengarnya, lalu dia tiba-tiba menyeringai seolah merencanakan sesuatu "Carilah orang yang bisa membantu kita, dan pastikan wanita itu tidak akan bisa selamat kali ini" "Baik nyonya, akan segera saya lakukan" Zilya menyeringai, dia yakin kali ini Evgenia akan dengan sukarela kembali dan menyerahkan dirinya. Dan setelah hal itu terjadi, maka dia akan terbebas dari jeratan ancaman Gleb Pavel
"Apa wanita itu sudah mencampakkan mu sehingga akhirnya kau mau kembali?" "Apa yang sebenarnya kau katakan?" "Tidak perlu berpura-pura Mark.. aku sudah melihat semuanya. Kau dan Jeni masih menjalin hubungan" Mata Mark melebar seketika, terkejut dengan ucapan Victoria. "Jadi itu alasan kau tidak pernah kembali ke rumah? Kau menyimpan wanita lain di tempatmu begitu?!" "Hentikan tuduhan mu itu Victoria!" "Tuduhan katamu?! Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri, kau membawanya ke apartemen milikmu dan kalian hanya berdua disana. Apakah dia sudah berubah menjadi wanita penggoda sekarang?!" "Jeni tidak seperti yang kau katakan!" "Lalu seperti apa aku harus menyebutnya?! Jika ada wanita lain yang bersama dengan suamiku dalam tempat yang sama, menurutmu apa pendapat orang-orang padanya?!" Mark mengepalkan tangannya "Kau tidak tau apa-apa. Aku hanya ingin menolongnya" "Dengan tinggal bersama di apartemen mu? Itu yang kau katakan menolong?!" "Aku tidak memiliki pil
Evgenia kembali berjalan cepat, berusaha menghindari orang yang duduk di kursi penumpang mobil itu. "Jeni! Tunggu!" teriak Ivan, dia segera membuka pintu mobil dan mengejar Evgenia Ivan sampai di Moskow dan melihat Evgenia baru saja turun dari sebuah mobil yang dia tau adalah milik Mark. Iv
"Apa dia sudah pergi?" tanya Evgenia mengintip dari pintu kamarnya Mark mengangguk, dia menghela napas pelan, hampir saja Dinara menemukan Evgenia di apartemennya. "Kau baik-baik saja?" tanya Mark khawatir Evgenia mengangguk pelan "Maaf merepotkanmu" dia sangat khawatir saat mendengar percak
Sore harinya, Mark kembali ke apartemennya dan melihat Evgenia yang terlihat mondar-mandir karena gelisah. "Ada apa Jeni?" Evgenia berhenti, dia berbalik dan melihat Mark yang menatapnya heran. "Mark, aku harus kembali bekerja besok" "Kenapa tiba-tiba?" "Ada pekerjaan yang harus segera
Di sebuah apartemen di kawasan Barvikha, Mark mematikan mesin mobilnya. Mark turun dari mobil dan membuka pintu bagian penumpang, Mark kembali menggendong Evgenia dan wanita itu tidak menolak. Mark berjalan menuju lift dan menekan sebuah nomor lantai. Keduanya hanya diam, tidak ada pembicar







