LOGINTangan Sara tiba-tiba gemetar meresponnya. Cokelat yang ada di tangannya pun tumpah dan mengotori pakaiannya.
“Oh... astaga, maafkan saya, Nyonya. Sepertinya keadaan saya memburuk. Bolehkah saya permisi lebih dulu?” “Apakah kamu membutuhkan dokter? Aku akan memanggilkannya untukmu?” “Tidak perlu, terimakasih. Saya harus membersihkan pakaian saya karena tumpahan cokelat ini.” “Sebelum kamu pergi, tolong pikirkan apa yang aku katakan p“Setuju, aku juga tidak berniat membuka identitasku.” “Hanya untuk bersenang-senang.” “Ya... hanya untuk bersenang-senang di tengah kepenatan pekerjaan dan kehidupan.” “Hahaha... benar sekali.” “Bagaimana dengan tunanganmu? Apakah dia tidak akan bermasalah?” “Dia menginginkan seorang wanita jalang, maka dia akan mendapatnya,” kata Revina tampak tidak peduli dan langsung menenggak minuman yang berada di depannya. Theodor menatap wanita di depannya itu dengan tatapan tidak terbaca. "Kapan aku bisa mengajarimu menjadi wanita jalang?" tanya Theodor dengan ekspresi misterius. Revina menatap T sekejap lalu berkata, “Bagaimana jika malam ini, setelah acara pesta ulang tahun selesai.” “Apakah kamu ada agenda di acara ini?” tanya Theodor. “Aku tidak mempunyai agenda apa pun di acara ini, ada apa memangnya?” Revina balik bertanya.
Setelah seminggu merencanakan pesta megah untuk ulang tahun perusahaan, hari itu pun akhirnya tiba. Aula perusahaan yang biasanya di sekat menjadi beberapa ruang meeting, hari itu di bongkar menjadi satu ruangan besar. Ruangan tersebut disulap menjadi ruangan yang bertema pesta topeng. Semua orang tampil maksimal dengan topeng mereka untuk menyembunyikan identitas masing-masing. Begitu juga Sara, dia memakai pakaian yang tidak mencolok, menggunakan topeng Victoria berwarna emas dan tampil elegan. Meskipun begitu, dia tetap menyembunyikan warna rambut dan matanya. Tetap mempertahankan kepribadiannya sebagai Sara. Berbeda dengan Theodor. Setelah tekanan yang dia rasakan, dia ingin merasakan hidup bebas dengan bersembunyi di balik topengnya. Theodor membayar seorang aktor yang mirip dengan dirinya dan menyuruh aktor tersebut untuk menggantikan dirinya naik ke podium. Sedangkan Theodor bercampur dengan karyawan yang lain dan mengaku jika dia ad
Mendengar perkataan Kimberly, air mata Revina menetes membasahi pipinya. Dia menggigit bibir untuk menahan rasa marah. Calon mertuanya menyamakan dirinya dengan para jalang yang selama ini berkeliaran di sekitar Theodor. “Kakakku bukan wanita seperti itu, dia wanita terhormat. Anda juga telah salah menilaiku.” “Wanita terhormat?” sindir Kimberly dengan senyuman sinis. “Aku berharap kamu bisa membuktikan dirimu jika kamu adalah wanita terhormat. Meskipun aku meragukan akan hal tersebut,” sambung Kimberly lagi. Revina yang tidak ingin memperkeruh keadaan, hanya terdiam. Dia memilih untuk mengabaikan perkataan calon mertuanya itu. “Masuklah dan cari tunanganmu! Kalau kamu tidak bisa menjadi wanita yang setara dengannya, lebih baik kamu instropeksi diri lebih dulu untuk menjadi menantuku. Jangan karena kamu mendapat tempat di hati suamiku, maka kamu bisa seenaknya saja. Ingat itu!” kata Kimberly yang terlihat seperti bunglon.
Hanya Sara yang bisa membuat Theodor bergairah dan bahagia. Hubungan intim pun terbangun antara dirinya dengan Sara, tanpa mereka harus bercinta. Sayangnya, Papanya memaksanya untuk menikah dengan Revina. Hal itulah yang membuat Theodor berusaha keras menghindari Sara, jika tidak, maka wanita itu akan terluka. Saat dia menjadikan Sara sebagai kekasihnya, dia tidak memikirkan pertunangannya dengan Revina. Dia hanya memikirkan kebahagiaannya sendiri dan kini dia menyesalinya. Tekanan yang mengganggunya, membuat Theodor tidak bisa tidur memikirkan semuanya itu. Dia mengambil ponsel di atas meja dan menekan nomor yang selama ini belum pernah dihubunginya. Mata Revina tertutup rapat dan kesadarannya sudah mulai menghilang saat terdengar suara ponsel yang menyadarkannya kembali dari tidur. Kesadarannya yang belum kembali sepenuhnya, membuat Revina menerima panggilan tersebut tanpa melihat siapa yang meneleponnya.
Tangan Sara tiba-tiba gemetar meresponnya. Cokelat yang ada di tangannya pun tumpah dan mengotori pakaiannya. “Oh... astaga, maafkan saya, Nyonya. Sepertinya keadaan saya memburuk. Bolehkah saya permisi lebih dulu?” “Apakah kamu membutuhkan dokter? Aku akan memanggilkannya untukmu?” “Tidak perlu, terimakasih. Saya harus membersihkan pakaian saya karena tumpahan cokelat ini.” “Sebelum kamu pergi, tolong pikirkan apa yang aku katakan padamu. Theodor membutuhkanmu, Sara.” “Saya akan memikirkannya, Nyonya,” kata Sara lalu menjauh dari Kimberly. Dia berlari masuk ke kamar mandi. Setelah menutup pintunya, tangisnya pecah begitu saja. Dia memukul dadanya berkali-kali, berharap rasa sesak di dadanya berkurang. Sebenarnya apa yang sedang terjadi? Kenapa semua menjadi rumit seperti ini? Apakah dia harus mengatakan yang sebenarnya pada keluarga Rodriguez jika dirinya adalah Revina Sanchez.
“Papa sangat tahu jika aku tidak akan bisa menolaknya. Jika sudah selesai bicara, aku akan menutup teleponku. Pekerjaanku masih banyak,” nada dingin Theodor semakin membekukan pembicaraan mereka. Reagan pun tidak bisa berbuat apa-apa lagi jika Theodor sudah memasang dinding tebal di antara mereka. “Baiklah, Papa tutup teleponnya. Satu hari sebelum hari pertunanganmu, pulanglah untuk mempersiapkannya,” tegas Reagan. “Ya, aku akan pulang,” jawab Theodor singkat, lalu menutup teleponnya. Tepat setelahnya, Sara masuk ke ruangan Theodor. “Apakah ada masalah?” tanya Sara pada pria itu. “Bukan urusanmu. Aku akan keluar, kerjakan yang sudah menjadi planning kita hari ini dan mulailah merancang projek baru yang kemarin sudah kamu bicarakan. Kita akan membuat projek tahap dua. Aku akan pergi dan mungkin tidak akan kembali lagi ke kantor. Kalau ada apa-apa, kirim pesan saja tapi jangan meneleponku,” jawab Theodor denga







