LOGIN“Cukup Theodor! Hentikan omong kosongmu! Setiap orang mempunyai pilihan. Kamu mempunyai pilihan untuk menentukan masa depanmu. Bukan kami yang membuatmu terjebak dengan semua wanitamu tapi pilihanmu sendiri yang membawamu terseret ke sana. Jangan menyalahkan orang lain atas pilihan yang kamu ambil,” bentak Reagan.
“Kami hanya ingin yang terbaik untukmu, Theo. Jika saja kamu membawa wanita baik-baik ke rumah, kami pasti akan menerimanya, tapi semua wanita yang kamu bawa hanyalah wanita jalang yang menginginkan hartamu saja. Mama dan Papa tidak mau kamu menderita pada akhirnya nanti,” jelas Kimberly. “Bagaimana jika aku tidak menyukai wanita itu?” kata Theodor membahas tentang Revina. “Kami memberimu waktu satu tahun untuk mengenal Revina. Jika kecanduanmu akan wanita itu bisa sembuh, kamu bisa memilih wanita manapun yang kamu cintai untuk bisa kamu nikahi, dengan catatan dia bukanlah wanita jalang yang kamu ambil dari pinggir jalan. Namun jika sampai satu tahun kamu masih bermain-main dengan wanita tidak jelas, maka saat batas waktunya berakhir, kamu harus menikah dengan Revina,” jelas Reagan. “Kalian benar-benar egois. Bagaimana dengan Revina? Apakah wanita itu mau, jika hanya dijadikan alat agar aku tunduk pada kalian?” “Itu tergantung padamu. Jika kamu merasa kasihan dengan Revina, maka kamu bisa menikahinya tapi jika kamu menemukan wanita yang pantas untuk kamu cintai, kamu bisa meninggalkannya,” jawab Reagan tanpa perasaan. “Jika aku meninggalkannya, bagaimana dengan keluarga Sanchez? Apakah hubungan persahabatan Papa dengan Uncle Thomas tidak akan rusak?” “Papa mempunyai cara sendiri agar kami tidak saling membenci. Tidak ada pertemanan yang abadi, tapi Papa selalu mempunyai cara agar orang-orang tidak membenci Papa, termasuk keluarga Sanchez.” “Semua orang sebenarnya membenci Papa, hanya saja mereka tidak berani mengatakannya karena kekuasaan yang Papa miliki. Hanya satu orang yang tidak bisa membenci Papa yaitu Mama. Bahkan aku, Reviano, Kenric dan Delano pun membencimu, Pa. Kami punya group sendiri untuk bisa mengataimu di belakangmu.” “Benarkah seperti itu? Papa tidak menyangka anak-anak Papa mampu menusuk Papa dari belakang.” “Jangan lupa yang membuat kami membencimu adalah dirimu sendiri.” “Paling tidak, Papa masih mempunyai Mamamu yang selalu di samping Papa. Jadi meskipun seluruh dunia membenci Papa, Papa tidak peduli asal Mamamu tidak membenci Papa,” kata Reagan sambil merangkul pinggang ramping istrinya yang disambut dengan gelanyut manja Kimberly. “Sikap yang konyol,” gumam Theodor menanggapi perkataan Papanya. “Inilah yang dinamakan keajaiban cinta,” jawab Reagan dengan tingkah yang Theodor anggap sangat konyol. “Mama berdoa, kamu akan menemukan wanita yang tulus mencintaimu seperti Mama yang tulus mencintai Papamu,” sambung Kimberly. Theodor hanya memberikan senyuman sinis pada Mamanya tanpa berkata apa pun. Dia merasa doa Mamanya adalah sesuatu yang mustahil. Kalau pun ada wanita yang mencintainya dengan tulus, wanita itu pasti hanyalah wanita polos yang tidak tahu cara memuaskannya di ranjang dan dia harus menjauhi wanita membosankan seperti itu. “Papa sudah bicara dengan keluarga Sanchez dan mereka menyambut kita dengan baik di akhir pekan ini. Berpenampilanlah yang rapi, cukur rambutmu dan jangan sampai Papa mencium bau alkohol dari mulutmu,” kata Reagan. Theodor hanya memutar bola matanya, tampak jengah dengan semua aturan yang Papanya berikan. Sampai akhirnya mereka menghentikan pembicaraan tentang pertemuan keluarga mereka dengan keluarga Sanchez. “Sekalian Papa kemari, Papa ingin menanyakan tentang projekmu yang kemarin kamu ajukan. Sudah sampai mana prosesnya?” "Semua berjalan dengan baik, Sara sudah memprosesnya. Untuk bagian legalnya, Sara yang lebih tahu. Aku akan memanggilnya untuk membahasnya bersama." Setelah mengatakannya, Theodor menelepon Sara. “Sara, bawa ke sini dokumen projek N. P-5,” ucap Theodor lalu menutup teleponnya dengan cepat. Theodor tidak tahu jika sebenarnya Sara sedang senam jantung. Mana mungkin dia masuk ke ruangan bosnya saat Mama pria itu masih berada di sana, tapi jika dia tidak segera membawa dokumen itu ke hadapan Theodor, sudah bisa dipastikan jika dia akan menerima kemarahan pria itu. Tidak mau mengambil resiko, dia pun membawa dokumen tersebut ke ruangan Theodor. Dia berharap, Mama Theodor tidak akan mengenalinya. Sara menundukkan kepala dan langsung berdiri di samping Theodor untuk menyerahkan dokumen yang diminta pria itu. “Ini Tuan dokumennya, saya permisi dulu,” kata Sara yang segera beranjak dari tempat dia berdiri. Reflek tangan Theodor menarik lengan Sara dan menahannya. “Hei, mau kemana kamu? Jelaskan garis besar projek ini pada Papaku,” perintah Theodor. “A-apa? Saya yang menjelaskan Tuan?” tanya Sara tampak gugup. Beberapa kali dia menaikkan kacamatanya yang entah kenapa hari itu terus melosot ke bawah. “Tentu saja dirimu, siapa lagi? Bukankah ini ide darimu? Jadi sudah menjadi kewajibanmu untuk menjelaskannya pada investor kita.” “Baik Tuan,” jawab Sara pasrah karena dia tidak bisa menghindar lagi. “Selamat siang Tuan dan Nyonya Rodriguez, perkenalkan nama saya Sara Moore, saya akan menjelaskan projek tentang …” “SARA...? Benarkah ini kamu? Aku kira kamu sekretaris Theodor atau karyawan bagian administrasi. Aku tidak menyangka kamu menduduki jabatan yang bagus di sini. Bahkan bisa dibilang tangan kanan Theodor,” kata Kimberly dengan bersemangat. Dia baru sadar jika karyawan yang diajak bicara oleh Theodor adalah wanita manis yang mengobrol dengannya. “Nyonya Kimberly,” sapa Sara dengan nada takut. “Sudah berapa lama kamu bekerja di sini?” ‘Sudah hampir enam bulan.” “Dan kamu belum pernah tidur dengan Theodor sama sekali?” “APA ...?” “MAMA ...?” Teriak Sara dan Theodor bersamaan. Sara hampir tersedak dengan ludahnya sendiri karena terkejut dengan pertanyaan Kimberly. Sedangkan Theodor tidak menyangka Mamanya akan melontarkan pertanyaan seperti itu. Setelah kekacauan yang Mama Theodor buat, Sara akhirnya menjelaskan projek N. P-5 yang saat ini sedang dikerjakan oleh dirinya dan Theodor. Reagan dan Kimberly sempat terpana dengan penjelasan Sara, tapi mereka berdua tetap memasang wajah datar, seakan penjelasan Sara hanyalah formalitas biasa yang harus mereka dengar. Selama ini, keturunan Rodriguez dikenal sangat jarang memuji karya orang. Mereka selalu beranggapan jika merekalah yang terbaik. Sikap yang ditunjukkan Reagan dan Kimberly, dilakukan juga oleh Theodor. Saat Sara mengajukan konsep projek tersebut untuk pertama kalinya, komentar Theodor hanya, “lanjutkan projeknya, aku setuju denganmu.” Seolah projek itu hanyalah projek biasa yang tidak ada artinya, atau meskipun ada artinya, hanya akan berpengaruh sangat kecil untuk perusahaan sekelas D. R. T. Corp. Padahal kenyataannya projek yang Sara kerjakan, memberi keuntungan besar pada perusahaan tersebut. Reagan dan Theodor hanya melirik singkat, mengagumi projek tersebut. Mereka saling memberi isyarat, menanggapi penjelasan Sara. Inilah yang sering dilakukan Theodor dan papanya saat berhadapan dengan investor atau lawan bisnis. Hanya dalam hal inilah mereka bisa kompak, saling berkomunikasi lewat isyarat tanpa satu orang pun tahu apa yang mereka bicarakan. Jika keluarga Rodriguez tampak acuh dengan apa yang Sara paparnya, sangat berbeda dengan apa yang Sara rasakan. Jantungnya sekarang sedang menghentakkan dadanya karena tatapan tajam suami istri Rodriguez. Dia khawatir jika penjelasannya tidak sesuai dengan keinginan mereka. Apalagi tidak ada raut senang terkait dengan projek yang dia paparnya. Keluarga Rodriguez tampak mengintimidasi dirinya, membuat kepercayaan dirinya terjun bebas. Setelah Sara selesai memaparkan projek tersebut, Reagan berkata, “Lanjutkan projeknya! Aku setuju denganmu.” “Apakah ada pertanyaan dari Anda, Tuan?” tanya Sara dengan sopan. “Untuk saat ini tidak ada, jika ada pertanyaan, aku akan menanyakannya pada putraku tidak denganmu,” jawab Reagan angkuh. “Baik, Tuan.” “Kamu bisa pergi sekarang, aku akan membahas projeknya dengan putraku,” usir Reagan. Sara mengangguk, kemudian undur diri dari ruangan Theodor. “Dasar orang kaya sombong,” gumam Sara lirih sesaat setelah pintu penghubung ruangannya tertutup. Baru saja Sara menaruh dokumennya di atas meja, pintu di belakangnya terbuka, dia pun menoleh dan terkejut saat Kimberly sudah berada di belakangnya. “Nyonya...” sapa Sara sambil menundukkan kepala. “Presentasimu sangat bagus, kamu memang wanita yang cerdas,” kata Kimberly memuji Sara. “Terimakasih Nyonya, pujian Anda membuat kepercayaan diri saya kembali lagi, setelah tadi terhempas ke bawah. Meskipun saya tahu, Tuan Rodriguez tidak begitu menyukai projek yang saya usulkan.” “Apakah kamu berpikir seperti itu? Kamu harus belajar memahami dua pria itu,” kata Kimberly sambil melirik ke ruangan putranya. Terlihat Theodor dan Reagan sedang berbincang serius membahas tentang projek N. P-5. “Mereka terlihat sangat mengagumkan jika akur seperti itu,” kata Sara yang langsung menggigit bibirnya sendiri karena sadar dirinya telah keceplosan. Kimberly yang mendengarnya, langsung menatap Sara dan tersenyum. “Aku mempunyai 4 orang putra yang menawan dengan seorang suami yang mengagumkan. Keluarga kami tidak sempurna, semua putra-putraku tidak menyukai Papa mereka karena didikkan Reagan yang keras. Namun ada saatnya, momen seperti ini membuatku terpana. Semarah apa pun putra-putraku terhadap Papa mereka, darah Rodriguez mengalir kental di nadi mereka. Selalu ada titik, dimana tanpa mereka sadari mereka akan sangat dekat dengan Papanya. Para putraku, tidak bisa berjalan sendiri tanpa bimbingan seorang Reagan.” “Anda suami istri yang mengagumkan,” puji Sara dengan tulus. “Semua ada prosesnya, Sara. Tidak semudah itu menaklukkan seorang Rodriguez, aku harus menangis darah untuk sampai di titik ini.” “Apa...? Menangis darah? Apakah Tuan Rodriguez sering menyiksa Anda?” tanya Sara tampak khawatir. Kimberly tertawa mendengar pertanyaan polos wanita di depannya. “Itu hanya kiasan saja. Reagan tidak mungkin menyakitiku, bahkan dia rela mati untukku. Hanya saja sangat tidak mudah untuk menaklukkan hatinya apalagi memahaminya. Kamu harus banyak belajar jika ingin menaklukkan hati Theodor,” jawab Kimberly. “Saya? Nyonya telah salah paham. Saya tidak mempunyai keinginan sedikit pun untuk menaklukkan hati Tuan Theodor. Bukannya saya sombong, tapi Tuan Theodor bukanlah tipe pria yang saya inginkan.” “Benarkah? Bukankah dia tampan dan kaya raya?” sindir Kimberly. “Jangan memancing saya lagi, Nyonya. Tentang perbincangan kita di kamar mandi tadi, saya minta maaf. Saya tidak tahu jika Anda adalah Mama dari Tuan Theodor. Saya mohon, jangan sampaikan semua perkataan saya pada putra Anda. Saya pasti akan langsung dipecat olehnya,” balas Sara.“Setuju, aku juga tidak berniat membuka identitasku.” “Hanya untuk bersenang-senang.” “Ya... hanya untuk bersenang-senang di tengah kepenatan pekerjaan dan kehidupan.” “Hahaha... benar sekali.” “Bagaimana dengan tunanganmu? Apakah dia tidak akan bermasalah?” “Dia menginginkan seorang wanita jalang, maka dia akan mendapatnya,” kata Revina tampak tidak peduli dan langsung menenggak minuman yang berada di depannya. Theodor menatap wanita di depannya itu dengan tatapan tidak terbaca. "Kapan aku bisa mengajarimu menjadi wanita jalang?" tanya Theodor dengan ekspresi misterius. Revina menatap T sekejap lalu berkata, “Bagaimana jika malam ini, setelah acara pesta ulang tahun selesai.” “Apakah kamu ada agenda di acara ini?” tanya Theodor. “Aku tidak mempunyai agenda apa pun di acara ini, ada apa memangnya?” Revina balik bertanya.
Setelah seminggu merencanakan pesta megah untuk ulang tahun perusahaan, hari itu pun akhirnya tiba. Aula perusahaan yang biasanya di sekat menjadi beberapa ruang meeting, hari itu di bongkar menjadi satu ruangan besar. Ruangan tersebut disulap menjadi ruangan yang bertema pesta topeng. Semua orang tampil maksimal dengan topeng mereka untuk menyembunyikan identitas masing-masing. Begitu juga Sara, dia memakai pakaian yang tidak mencolok, menggunakan topeng Victoria berwarna emas dan tampil elegan. Meskipun begitu, dia tetap menyembunyikan warna rambut dan matanya. Tetap mempertahankan kepribadiannya sebagai Sara. Berbeda dengan Theodor. Setelah tekanan yang dia rasakan, dia ingin merasakan hidup bebas dengan bersembunyi di balik topengnya. Theodor membayar seorang aktor yang mirip dengan dirinya dan menyuruh aktor tersebut untuk menggantikan dirinya naik ke podium. Sedangkan Theodor bercampur dengan karyawan yang lain dan mengaku jika dia ad
Mendengar perkataan Kimberly, air mata Revina menetes membasahi pipinya. Dia menggigit bibir untuk menahan rasa marah. Calon mertuanya menyamakan dirinya dengan para jalang yang selama ini berkeliaran di sekitar Theodor. “Kakakku bukan wanita seperti itu, dia wanita terhormat. Anda juga telah salah menilaiku.” “Wanita terhormat?” sindir Kimberly dengan senyuman sinis. “Aku berharap kamu bisa membuktikan dirimu jika kamu adalah wanita terhormat. Meskipun aku meragukan akan hal tersebut,” sambung Kimberly lagi. Revina yang tidak ingin memperkeruh keadaan, hanya terdiam. Dia memilih untuk mengabaikan perkataan calon mertuanya itu. “Masuklah dan cari tunanganmu! Kalau kamu tidak bisa menjadi wanita yang setara dengannya, lebih baik kamu instropeksi diri lebih dulu untuk menjadi menantuku. Jangan karena kamu mendapat tempat di hati suamiku, maka kamu bisa seenaknya saja. Ingat itu!” kata Kimberly yang terlihat seperti bunglon.
Hanya Sara yang bisa membuat Theodor bergairah dan bahagia. Hubungan intim pun terbangun antara dirinya dengan Sara, tanpa mereka harus bercinta. Sayangnya, Papanya memaksanya untuk menikah dengan Revina. Hal itulah yang membuat Theodor berusaha keras menghindari Sara, jika tidak, maka wanita itu akan terluka. Saat dia menjadikan Sara sebagai kekasihnya, dia tidak memikirkan pertunangannya dengan Revina. Dia hanya memikirkan kebahagiaannya sendiri dan kini dia menyesalinya. Tekanan yang mengganggunya, membuat Theodor tidak bisa tidur memikirkan semuanya itu. Dia mengambil ponsel di atas meja dan menekan nomor yang selama ini belum pernah dihubunginya. Mata Revina tertutup rapat dan kesadarannya sudah mulai menghilang saat terdengar suara ponsel yang menyadarkannya kembali dari tidur. Kesadarannya yang belum kembali sepenuhnya, membuat Revina menerima panggilan tersebut tanpa melihat siapa yang meneleponnya.
Tangan Sara tiba-tiba gemetar meresponnya. Cokelat yang ada di tangannya pun tumpah dan mengotori pakaiannya. “Oh... astaga, maafkan saya, Nyonya. Sepertinya keadaan saya memburuk. Bolehkah saya permisi lebih dulu?” “Apakah kamu membutuhkan dokter? Aku akan memanggilkannya untukmu?” “Tidak perlu, terimakasih. Saya harus membersihkan pakaian saya karena tumpahan cokelat ini.” “Sebelum kamu pergi, tolong pikirkan apa yang aku katakan padamu. Theodor membutuhkanmu, Sara.” “Saya akan memikirkannya, Nyonya,” kata Sara lalu menjauh dari Kimberly. Dia berlari masuk ke kamar mandi. Setelah menutup pintunya, tangisnya pecah begitu saja. Dia memukul dadanya berkali-kali, berharap rasa sesak di dadanya berkurang. Sebenarnya apa yang sedang terjadi? Kenapa semua menjadi rumit seperti ini? Apakah dia harus mengatakan yang sebenarnya pada keluarga Rodriguez jika dirinya adalah Revina Sanchez.
“Papa sangat tahu jika aku tidak akan bisa menolaknya. Jika sudah selesai bicara, aku akan menutup teleponku. Pekerjaanku masih banyak,” nada dingin Theodor semakin membekukan pembicaraan mereka. Reagan pun tidak bisa berbuat apa-apa lagi jika Theodor sudah memasang dinding tebal di antara mereka. “Baiklah, Papa tutup teleponnya. Satu hari sebelum hari pertunanganmu, pulanglah untuk mempersiapkannya,” tegas Reagan. “Ya, aku akan pulang,” jawab Theodor singkat, lalu menutup teleponnya. Tepat setelahnya, Sara masuk ke ruangan Theodor. “Apakah ada masalah?” tanya Sara pada pria itu. “Bukan urusanmu. Aku akan keluar, kerjakan yang sudah menjadi planning kita hari ini dan mulailah merancang projek baru yang kemarin sudah kamu bicarakan. Kita akan membuat projek tahap dua. Aku akan pergi dan mungkin tidak akan kembali lagi ke kantor. Kalau ada apa-apa, kirim pesan saja tapi jangan meneleponku,” jawab Theodor denga







