Share

Bab 9. Bertemu Calon Suami

Author: Dera Tresna
last update Last Updated: 2026-02-04 05:42:20

“Bukankah sudah aku katakan jika itu hanya antara kita berdua, aku tidak akan mengatakannya pada siapapun. Apakah kamu tidak percaya padaku?” tanya Kimberly dengan sikap yang tiba-tiba berubah menjadi dingin karena Sara terus merengek seperti anak kecil dan tidak mempercayainya untuk bisa menjaga rahasia mereka.

“Tentu saja, saya percaya pada Anda, Nyonya,” jawab Sara dengan nada takut.

“Jika kamu ingin dilihat oleh Rodriguez, bersikaplah elegan. Jangan merengek seperti anak kecil. Jangan melihat apa yang tampak di luar, tapi lihatlah yang di dalam. Aku menyukai kepolosan dan kecerdasanmu, tapi aku tidak menyukai sikap kurang percaya dirimu. Kamu harus bisa menantang badai saat dirimu berada di atas nanti dan aku ragu kamu bisa melakukannya.”

“Saya akan belajar untuk berani menantang badai tersebut.”

“Satu hal yang harus kamu tahu, kelemahan Rodriguez hanya satu. Jika kamu sudah membuka hatinya dan menguncinya kembali, mereka tidak akan melirik ke yang lain. Bahkan mereka mampu menyerahkan hidup mereka untukmu. Kekayaan mereka akan ada di kakimu, tapi sebelum kamu mendapatkan semua itu, kamu harus mengorbankan segalanya untuk mereka, bahkan jika perlu, nyawamu harus kamu serahkan pada mereka maka mereka akan menjaga nyawamu dengan nyawa mereka. Itulah alasannya kenapa aku tidak suka jika Theodor membawa wanita jalang ke rumah kami,” kata Kimberly yang kemudian pergi begitu saja dari ruangan Sara.

Sara hanya mematung mendengar semua perkataan Kimberly. Perkataan yang sangat tidak masuk akal. Untuk apa dirinya menyerahkan nyawanya pada seorang keturunan Rodriguez seperti Theodor, apalagi berkorban untuk pria angkuh sepertinya. Dia juga tidak mau meminta Theodor untuk menjaga nyawanya.

Keluarga yang aneh, pikir Sara. Akan jauh lebih baik jika dirinya tidak berdekatan dengan keluarga tersebut. Hidupnya saja sudah rumit, dia tidak mau menambah kerumitan tersebut. Sadar akan hal tersebut, dia memutuskan untuk melupakan perkataan Kimberly dan bekerja seperti biasanya. Toh hubungannya dengan Theodor hanyalah sebatas bawahan dan atasan.

Menekuni projek yang dia garap, membuatnya tidak sadar jika waktu kerjanya telah usai. Dia pun membawa sebagian pekerjaannya untuk dibawa pulang, beranjak dari tempat duduknya lalu mengetuk pintu ruangan Theodor sambil menjulurkan kepala ke ruangan pria itu.

“Ada apa?” tanya Theodor dingin melihat Sara berada di pintu dengan sikap konyol.

“Apakah saya boleh pulang sekarang Tuan? Jam pulang saya sudah lewat 30 menit yang lalu,” kata Sara.

“Dasar karyawan tidak punya loyalitas. Pulanglah! Aku juga tidak membutuhkanmu sekarang ini,” jawab Theodor sambil terus menatap layar laptopnya, sedangkan tangannya masih sibuk mengetik sesuatu.

Bukannya marah, Sara malah tersenyum. Sepertinya dia mulai memahami sikap dingin Theodor.

“Baik Tuan, jika Anda tidak memerlukan saya lagi, saya akan pulang sekarang,” kata Sara lalu segera menghilang dari balik pintu sebelum bos angkuhnya itu berubah pikiran.

Tangan Theodor seketika berhenti mengetik mendengar jawaban bawahannya itu. Matanya melirik ke kepergian Sara. “Sudah mulai berani denganku hmm...? Awas saja nanti, kamu akan menyesal bersikap seperti itu,” gumam Theodor yang tentu saja tidak didengar oleh Sara.

Sara melemparkan tubuhnya ke atas ranjang dan merenggangkannya. “Oh... rasanya nyaman sekali,” teriaknya di kamar.

Hari ini terasa sangat melelahkan, apalagi menghadapi keluarga Rodriguez yang aneh. Kasihan sekali wanita yang akan menjadi menantu dan istri dari dari keluarga itu.

Baru saja dia ingin beranjak ke kamar mandi, ponselnya berbunyi. Dia mengambil ponselnya untuk melihat siapa yang menelepon.

“Halo Papa, apakah kamu merindukan putrimu yang cantik ini,” kata Sara dengan manja saat tahu jika Papanya yang menelepon.

“Tepat sekali sayang, Papa dan Mama sangat merindukanmu. Bisakah pekan ini kamu pulang? Jika perlu mintalah cuti sehari saja pada bosmu,” ujar Thomas Sanchez dari seberang telepon.

“Bosku sangat galak, aku tidak berani mengajukan cuti untuk saat ini. Apalagi aku baru bekerja beberapa bulan dengannya. Apakah ada acara spesial sehingga aku harus pulang?”

“Selain Papa dan Mama sangat merindukanmu, kamu juga harus bertemu dengan calon suamimu.”

“Bilang saja kalian sudah merencanakannya, pakai alasan merindukanku segala,” gerutu Sara dengan bibir cemberut, yang tidak mungkin dilihat oleh Papanya, tapi Papanya tahu jika putrinya saat ini pasti sedang cemberut.

“Ayolah Sayang, kami benar-benar merindukanmu. Lagi pula sejak kamu bekerja, kamu belum pernah pulang sama sekali,” rayu Thomas.

“Baiklah, akhir pekan ini aku akan pulang. Aku ingin makan masakan enak dari Mama.”

“Tentu saja, apa pun yang kamu mau Sayang. Apakah kamu ingin bicara dengan Mamamu?”

“Yes Pa, please ...”

Thomas kemudian menyerahkan ponselnya pada istrinya.

Setelah itu Sara dan Mamanya terlibat pembicaraan seru yang membuatnya harus mandi larut malam, sebelum akhirnya bisa mengakhiri pembicaraannya dengan Mamanya.

Saat akhir pekan tiba, Sara menepati janjinya untuk pulang. Dia kembali menjadi Revina yang manja dengan penampilannya sebagai seorang putri Sanchez.

“Mama, hentikan! Ini terlalu mencolok,” protes Revina saat Mamanya sedang menata rambutnya.

“Tidak Sayang, kamu cantik sekali dengan rambut ini, apalagi dipadu dengan mata indahmu. Calon suamimu pasti langsung terpesona saat melihatmu nanti,” bantah Mamanya.

“Make up ini juga terlalu tebal, aku tidak ingin terlihat seperti badut,” tolak Revina.

“Ini hanya make up natural, lihatlah di cermin! Kamu seperti bidadari yang turun dari langit, Mama tidak percaya bisa melahirkan anak secantik dirimu.”

“Jika Mama tidak percaya telah melahirkanku, berarti aku anak orang lain,” jawab Revina asal yang membuat dia mendapat tamparan ringan di bibirnya.

“MAMA ...!” protes Revina.

“Jaga mulutmu, tentu saja kamu anak Mama. Mama dan Papa mempunyai bibit unggul saat membuatmu.”

Mendengar jawaban tersebut, Revina tertawa lalu memeluk Mamanya. “Aku berharap, aku juga mempunyai bibit unggul untuk bisa melahirkan anak-anakku seperti Papa dan Mama.”

“Percayalah, calon suamimu adalah bibit terbaik di negara ini.”

“Mama terlalu memuji calon menantu Mama, aku berharap dia sebaik yang Mama katakan.”

Tawa Revina dan Mamanya seketika terhenti saat suara mobil terdengar memasuki pekarangan rumah mereka. “Calon suamimu pasti sudah datang, pakai pakaianmu! Mama akan turun menemui mereka lebih dulu.”

“Baik Ma,” jawab Revina patuh.

Setelah Mamanya meninggalkan kamarnya, Revina mengambil gaun yang sudah Mamanya persiapkan. Sebuah gaun warna biru yang senada dengan warna matanya. Gaun itu sangat lembut di kulitnya, menampakkan bahu putih yang terbuka dan menutupi kakinya sampai ke bawah.

Dia berdiri di depan cermin dan mengagumi penampilannya sendiri. Matanya menatap bayangan wanita yang terlihat sangat mempesona di cermin di depannya.

Sebuah mobil mewah berhenti di depan sebuah rumah sederhana tapi tampak indah dengan tatanan interior yang unik. Theodor dengan penampilannya yang menawan, duduk di belakang kemudi. Di sampingnya ada Papanya, sedangkan Mamanya duduk sendiri di kursi belakang. Wajah tampan Theodor, menampilkan raut wajah dingin dan tidak bersahabat.

“Jaga sikapmu, Theodor!” kata Papanya tidak kalah dingin dengan ekspresi Theodor. Theodor hanya diam tanpa menanggapi perkataan Papanya.

Reagan turun lebih dulu lalu membukakan pintu untuk istrinya. Sebelum turun, Kimberly menepuk bahu putranya. “Wajahmu akan jauh lebih tampan dengan seulas senyum,” bisik Kimberly lalu menerima uluran tangan suaminya dan turun dari mobil.

Setelah memarkirkan mobilnya, Theodor mengikuti orang tuanya untuk bertemu dengan calon istri yang tidak diinginkannya.

“Selamat datang Reagan, halo Kimberly, halo Theodor senang bertemu denganmu lagi?” sapa Thomas dengan senyum ramah.

“Halo Thomas, hai Rebeca, senang bertemu dengan kalian lagi,” jawab Reagan dan Kimberly.

“Halo uncle, senang bertemu denganmu juga,” kata Theodor.

“Sikapmu masih seperti dulu, selalu dingin. Aku berharap, Revina bisa membuat gunung es di dalam dirimu mencair,” sindir Thomas. Theodor menanggapinya dengan seulas senyum tipis.

“Mari masuklah! Jangan hanya berdiri di depan pintu,” kata Rebeca memotong obrolan mereka. Mereka akhirnya masuk ke rumah.

“Aku penasaran dengan calon menantuku. Di foto, dia kelihatan sangat cantik, aku yakin aslinya pasti lebih cantik,” kata Reagan.

“Sebentar lagi dia akan turun, tadi dia sedang memakai pakaiannya,” jawab Rebeca.

Revina merasa gugup saat mendengar suara tawa di ruang tamu rumahnya. Sangat kelihatan jika Papa dan Mamanya sangat akrab dengan keluarga calon suaminya. Dia terus meremas tangannya saat kakinya melangkah menuruni anak tangga di rumahnya.

“Mama... Papa...” Revina memanggil orang tuanya di akhir tangga. Tawa di ruang tamu pun terhenti. Rebeca langsung berdiri dan menyambut putrinya.

“Sayang, kemarilah! Mama perkenalkan kamu dengan calon suamimu,” kata Rebeca dengan senyum yang terkembang.

Saat Revina mendekati tempat duduk Papa dan Mamanya, serta bisa melihat dengan jelas siapa keluarga calon suaminya, matanya terbelalak kaget. Tubuhnya langsung gemetar saat tahu siapa calon suaminya. Pria yang sangat tidak dia harapkan, apalagi dengan keluarga aneh yang dia rasakan, keluarga Rodriguez.

Dia berharap saat ini hanyalah sebuah bermimpi buruk.

Ini pasti mimpi, tidak mungkin keluarga Rodriguez ada di rumahnya saat ini. Tidak mungkin atasannya yang angkuh dan suka gonta-ganti wanita seperti ganti pakaian itu adalah calon suaminya. Dia kemudian mencubit tangannya sendiri dan merasa sakit, menyadari jika semua bukanlah mimpi, rasa mual seketika menghantam perutnya.

“Perkenalkan Sayang, ini Uncle Reagan, ini Aunty Kimberly dan ini putra mereka, namanya Theodor Rodriguez. Mendekatlah! Perkenalkan dirimu pada calon suamimu,” kata Thomas memperkenalkan keluarga Rodriguez pada putrinya.

Tanpa Thomas tahu, jika Revina sebenarnya sudah sangat mengenal mereka dan tahu betapa anehnya keluarga Rodriguez. Revina mendekati keluarga itu dan menyapa mereka satu persatu. Bersyukur tidak ada satu pun dari keluarga Rodriguez yang menyadari jika dia adalah salah satu karyawan mereka yang bernama Sara Moore.

Mata Theodor menatap Revina dengan tajam dan tidak terbaca, antara kagum, marah, kesal, semua bercampur menjadi satu. Wanita di depannya benar-benar wanita yang diinginkannya. Tubuhnya indah, wajahnya cantik, mata biru dengan semburat hijau yang mengagumkan dan rambutnya yang menyala, membuat wanita itu semakin mempesona.

Bahkan hanya melihatnya saja, inti miliknya langsung mengeras, hingga dia harus membetulkan posisi duduknya yang tiba-tiba menjadi tidak nyaman.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Wanita Rambut Merah Penakluk Pria Arogan   Bab 26. Kesepakatan dan Keputusan Gila

    “Setuju, aku juga tidak berniat membuka identitasku.” “Hanya untuk bersenang-senang.” “Ya... hanya untuk bersenang-senang di tengah kepenatan pekerjaan dan kehidupan.” “Hahaha... benar sekali.” “Bagaimana dengan tunanganmu? Apakah dia tidak akan bermasalah?” “Dia menginginkan seorang wanita jalang, maka dia akan mendapatnya,” kata Revina tampak tidak peduli dan langsung menenggak minuman yang berada di depannya. Theodor menatap wanita di depannya itu dengan tatapan tidak terbaca. "Kapan aku bisa mengajarimu menjadi wanita jalang?" tanya Theodor dengan ekspresi misterius. Revina menatap T sekejap lalu berkata, “Bagaimana jika malam ini, setelah acara pesta ulang tahun selesai.” “Apakah kamu ada agenda di acara ini?” tanya Theodor. “Aku tidak mempunyai agenda apa pun di acara ini, ada apa memangnya?” Revina balik bertanya.

  • Wanita Rambut Merah Penakluk Pria Arogan   Bab 25. Menjadi Pribadi ke 3

    Setelah seminggu merencanakan pesta megah untuk ulang tahun perusahaan, hari itu pun akhirnya tiba. Aula perusahaan yang biasanya di sekat menjadi beberapa ruang meeting, hari itu di bongkar menjadi satu ruangan besar. Ruangan tersebut disulap menjadi ruangan yang bertema pesta topeng. Semua orang tampil maksimal dengan topeng mereka untuk menyembunyikan identitas masing-masing. Begitu juga Sara, dia memakai pakaian yang tidak mencolok, menggunakan topeng Victoria berwarna emas dan tampil elegan. Meskipun begitu, dia tetap menyembunyikan warna rambut dan matanya. Tetap mempertahankan kepribadiannya sebagai Sara. Berbeda dengan Theodor. Setelah tekanan yang dia rasakan, dia ingin merasakan hidup bebas dengan bersembunyi di balik topengnya. Theodor membayar seorang aktor yang mirip dengan dirinya dan menyuruh aktor tersebut untuk menggantikan dirinya naik ke podium. Sedangkan Theodor bercampur dengan karyawan yang lain dan mengaku jika dia ad

  • Wanita Rambut Merah Penakluk Pria Arogan   Bab 24. Berada dalam Posisi Serba Salah

    Mendengar perkataan Kimberly, air mata Revina menetes membasahi pipinya. Dia menggigit bibir untuk menahan rasa marah. Calon mertuanya menyamakan dirinya dengan para jalang yang selama ini berkeliaran di sekitar Theodor. “Kakakku bukan wanita seperti itu, dia wanita terhormat. Anda juga telah salah menilaiku.” “Wanita terhormat?” sindir Kimberly dengan senyuman sinis. “Aku berharap kamu bisa membuktikan dirimu jika kamu adalah wanita terhormat. Meskipun aku meragukan akan hal tersebut,” sambung Kimberly lagi. Revina yang tidak ingin memperkeruh keadaan, hanya terdiam. Dia memilih untuk mengabaikan perkataan calon mertuanya itu. “Masuklah dan cari tunanganmu! Kalau kamu tidak bisa menjadi wanita yang setara dengannya, lebih baik kamu instropeksi diri lebih dulu untuk menjadi menantuku. Jangan karena kamu mendapat tempat di hati suamiku, maka kamu bisa seenaknya saja. Ingat itu!” kata Kimberly yang terlihat seperti bunglon.

  • Wanita Rambut Merah Penakluk Pria Arogan   Bab 23. Rasa Tertolak menjadi Diri Sendiri

    Hanya Sara yang bisa membuat Theodor bergairah dan bahagia. Hubungan intim pun terbangun antara dirinya dengan Sara, tanpa mereka harus bercinta. Sayangnya, Papanya memaksanya untuk menikah dengan Revina. Hal itulah yang membuat Theodor berusaha keras menghindari Sara, jika tidak, maka wanita itu akan terluka. Saat dia menjadikan Sara sebagai kekasihnya, dia tidak memikirkan pertunangannya dengan Revina. Dia hanya memikirkan kebahagiaannya sendiri dan kini dia menyesalinya. Tekanan yang mengganggunya, membuat Theodor tidak bisa tidur memikirkan semuanya itu. Dia mengambil ponsel di atas meja dan menekan nomor yang selama ini belum pernah dihubunginya. Mata Revina tertutup rapat dan kesadarannya sudah mulai menghilang saat terdengar suara ponsel yang menyadarkannya kembali dari tidur. Kesadarannya yang belum kembali sepenuhnya, membuat Revina menerima panggilan tersebut tanpa melihat siapa yang meneleponnya.

  • Wanita Rambut Merah Penakluk Pria Arogan   Bab 22. Menghancurkan Diri karena Rasa Marah

    Tangan Sara tiba-tiba gemetar meresponnya. Cokelat yang ada di tangannya pun tumpah dan mengotori pakaiannya. “Oh... astaga, maafkan saya, Nyonya. Sepertinya keadaan saya memburuk. Bolehkah saya permisi lebih dulu?” “Apakah kamu membutuhkan dokter? Aku akan memanggilkannya untukmu?” “Tidak perlu, terimakasih. Saya harus membersihkan pakaian saya karena tumpahan cokelat ini.” “Sebelum kamu pergi, tolong pikirkan apa yang aku katakan padamu. Theodor membutuhkanmu, Sara.” “Saya akan memikirkannya, Nyonya,” kata Sara lalu menjauh dari Kimberly. Dia berlari masuk ke kamar mandi. Setelah menutup pintunya, tangisnya pecah begitu saja. Dia memukul dadanya berkali-kali, berharap rasa sesak di dadanya berkurang. Sebenarnya apa yang sedang terjadi? Kenapa semua menjadi rumit seperti ini? Apakah dia harus mengatakan yang sebenarnya pada keluarga Rodriguez jika dirinya adalah Revina Sanchez.

  • Wanita Rambut Merah Penakluk Pria Arogan   Bab 21. Hati Hancur karena Penolakan

    “Papa sangat tahu jika aku tidak akan bisa menolaknya. Jika sudah selesai bicara, aku akan menutup teleponku. Pekerjaanku masih banyak,” nada dingin Theodor semakin membekukan pembicaraan mereka. Reagan pun tidak bisa berbuat apa-apa lagi jika Theodor sudah memasang dinding tebal di antara mereka. “Baiklah, Papa tutup teleponnya. Satu hari sebelum hari pertunanganmu, pulanglah untuk mempersiapkannya,” tegas Reagan. “Ya, aku akan pulang,” jawab Theodor singkat, lalu menutup teleponnya. Tepat setelahnya, Sara masuk ke ruangan Theodor. “Apakah ada masalah?” tanya Sara pada pria itu. “Bukan urusanmu. Aku akan keluar, kerjakan yang sudah menjadi planning kita hari ini dan mulailah merancang projek baru yang kemarin sudah kamu bicarakan. Kita akan membuat projek tahap dua. Aku akan pergi dan mungkin tidak akan kembali lagi ke kantor. Kalau ada apa-apa, kirim pesan saja tapi jangan meneleponku,” jawab Theodor denga

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status