LOGIN“Terimakasih Nyonya atas pujiannya, saya sangat tersanjung,” kata Sara sambil merona malu.
“Dan juga menggemaskan,” lanjut Kimberly saat melihat rona malu wanita di depannya. Sara tertawa kecil mendengarnya. “Menurutmu apakah Theodor menarik?” tanya Kimberly tiba-tiba. “Saya tidak berani bergosip tentang Tuan Theodor, saya tidak mau kehilangan pekerjaan saya,” kata Sara sambil menaikkan kacamata besarnya. “Tidak ada yang mendengarnya, hanya ada kita berdua di sini. Apakah menurutmu dia pria menyebalkan? Yang sangat suka berganti wanita dan bertingkah semaunya sendiri?” pancing Kimberly. “Dan suka sekali membentak, sikap buruk Tuan Theodor membuat wajah tampannya tidak berguna sama sekali. Saya yakin para wanita itu hanya melihat kekayaan Tuan Theodor tanpa peduli dengan perangai buruknya,” jawab Sara terpancing omongan Kimberly. “Apakah itu membuatmu kesal padanya?” “Ya, sedikit kesal, apalagi saat Tuan Theodor sedang marah-marah tidak jelas pada saya, tapi rasa kasihan saya jauh lebih besar dibanding rasa kesal yang saya rasakan.” “Kasihan? Untuk apa kamu kasihan dengan pria seperti itu? Dia pria tampan dan kaya raya yang bisa mendapatkan apa yang dia inginkan. Perangainya buruk dan tidak pernah menghargai orang. Dia bukanlah pria yang pantas untuk dikasihani.” “Apakah Anda memandangnya seperti itu?” ganti Sara yang bertanya pendapat Kimberly. “Kebanyakan orang memandang Theodor seperti itu? Apakah kamu mempunyai pandangan yang berbeda?” “Ya, tapi itu tidak penting,” jawab Sara singkat. “Bagaimana pandanganmu tentang Theodor? Aku ingin mendengarnya,” desak Kimberly. Sara terdiam menatap wanita di depannya itu. Tatapannya berubah menjadi raut wajah sedih. “Setiap saya melihat Tuan Theodor, seakan-akan ada kepedihan di dalamnya, seperti ada lubang hitam yang semakin hari semakin membesar dan menariknya. Tatapan dinginnya memperlihatkan hatinya yang membeku, tidak ada kehangatan dan rasanya sangat hambar. Dia seperti robot yang berjalan, mengikuti rutinitas dan pekerjaannya. Dia akan melampiaskan kepenatannya dengan mencari wanita yang bisa memuaskannya, tapi tidak ada kepuasan di sana,” ungkap Sara. “Kamu bicara seolah kamu pernah melihat Theodor bercinta dengan para wanitanya atau bahkan kamu pernah bercinta dengannya?” sindir Kimberly. “Saya tidak pernah bercinta dengan Tuan Theodor, tapi tanpa sengaja saya pernah melihatnya bercinta di kantor dengan seorang wanita dan itu terlihat sangat dingin. Oh... astaga, sepertinya mulut saya sudah bicara terlalu banyak. Maafkan saya Nyonya, lupakan saja tentang perkataan saya tadi. Anggap saja saya sedang mabuk dan meracau,” kata Sara menyadari kesalahannya. “Tenanglah! Rahasiamu aman bersamaku. Jadi, apakah kamu menyukai Theodor?” pancing Kimberly lagi. “Jangan memancing saya untuk mengatakan yang tidak-tidak Nyonya,” jawab Sara yang tidak mau terpancing dengan perkataan wanita yang baru dikenalnya tersebut. “Ini hanya pertanyaan terakhir dan aku tidak akan bertanya lagi, aku janji.” “Kenapa Anda menanyakan begitu banyak tentang Tuan Theodor?” tanya Sara dengan kening berkerut. “Karena aku peduli padanya, anggap saja ini semacam survey. Lagipula tidak ada yang dirugikan dengan jawabanmu dan aku janji, perbincangan kita akan menjadi rahasia kita berdua,” jawab Kimberly. Sara terdiam sejenak dan berpikir, tidak ada ruginya juga dia mengatakan pendapatnya. Anggap saja dirinya sedang curhat, itu akan membuat hatinya jauh lebih lega. “Saya akui Tuan Theodor memang tampan, pria paling tampan yang pernah saya temui. Dia juga kaya raya dan banyak wanita yang akan mengantri untuk naik ke ranjangnya.” “Tapi…” kata Kimberly memotong perkataan wanita yang dianggapnya menarik itu. “Tapi saya tidak membutuhkan pria tampan dan kaya. Biarkan saja semua wanita itu naik ke ranjang Tuan Theodor dan Tuan Theodor menikmatinya. Saya butuh pria yang mencintai saya. Ketampanan akan lekang karena waktu, sedangkan kekayaan tidak menjamin hidup saya bahagia. Lagi pula saya pintar mencari uang, jadi saya tidak takut menjadi miskin saat saya mencintai dan dicintai oleh pria miskin. Apakah jawaban saya terlalu sombong dan klise?” Sara balik bertanya pada Kimberly. “Ya, sedikit sombong dan sangat klise. Bagaimana jika Theodor mengajakmu bercinta? Apakah kamu bersedia?” tanya Kimberly yang berhasil mengagetkan Sara. “A-apa? Itu tidak mungkin, saya bukan tipe wanita yang diinginkan Tuan Theodor.” “Aku hanya berkata, jika ... itu bisa saja terjadi atau sebaliknya.” “Jika Tuan Theodor mengajak saya untuk itu ... tentu saja saya akan menolaknya karena itu berarti saya akan kehilangan pekerjaan saya. Tuan Theodor pernah mengatakan hal tersebut, karena itu dia menyuruh saya untuk tetap pada penampilan saya sekarang. Saya lebih takut kehilangan pekerjaan saya dibanding harus tidur dengan pria seperti Tuan Theodor.” “Bagaimana jika dia tidak memecatmu?” “Seingat saya, Anda tadi menyebutkan pertanyaan terakhir, jadi saya tidak mempunyai kewajiban lagi untuk menjawab pertanyaan Anda,” kata Sara ingin menghentikan Kimberly yang terus menanyainya. Kimberly pun tertawa melihat sikap bertahan Sara. “Aku tahu sekarang kenapa Theodor mempertahankanmu untuk bekerja bersamanya. Kamu wanita yang menarik, mempunyai daya pikat, pintar dan cerdas. Aku tidak pernah tertarik mengobrol dengan siapapun di sini, tapi senyuman ramahmu itu membuatku ingin mengobrol denganmu,” puji Kimberly. “Anda terlalu memuji saya,” jawab Sara dengan wajah tersipu malu. “Aku tidak memujimu, aku mengatakan yang sebenarnya. Aku tahu kamu wanita yang spesial, Sara. Seandainya kamu membuka kacamata besarmu itu dan mengecat rambutmu sedikit lebih terang, aku yakin semua pria akan terpikat denganmu,” kata Kimberly. Sara terdiam karena apa yang dikatakan Kimberly adalah hal yang harus dia hindari. Dia tidak perlu mengecat rambutnya untuk berwarna terang karena rambut aslinya memang menyala terang. “Terimakasih untuk saran Anda,” ucap Sara singkat, karena tidak ingin masalah pribadinya dibahas seperti saat mereka membahas Theodor. “Apakah kamu mempunyai jepit rambut? sepertinya rambutku terlalu berantakan,” kata Kimberly menyudahi pembahasannya tentang Theodor karena dia sadar sudah terlalu lama di kamar mandi, suaminya pasti mencarinya. “Ya, saya memilikinya,” kata Sara sambil merogoh saku celananya. “Pakailah Nyonya! Anda tidak perlu mengembalikannya,” kata Sara dengan ramah. “Terimakasih,” kata Kimberly lalu memakai jepit rambut yang Sara berikan dan merapikan rambutnya. “Anda terlihat sangat cantik,” gumam Sara. Kimberly tersenyum mendengar hal itu. “Aku suka mengobrol denganmu, sayangnya aku harus pergi karena aku sudah menghilang terlalu lama. Suamiku pasti mencariku.” “Maaf jika membuat Anda tertahan di sini bersama saya. Terimakasih untuk waktunya,” kata Sara. “Tidak perlu meminta maaf karena aku pun menikmati kebersamaan kita. Aku harap, kita bisa bertemu lagi,” kata Kimberly lalu pergi meninggalkan Sara sendiri di kamar mandi. Setelah Kimberly pergi, Sara memukul bibirnya berkali-kali. Sadar jika dirinya sudah terlalu banyak bicara dan bergosip tentang atasannya. Semoga wanita itu bisa menjaga rahasianya dan dia tidak mendapatkan masalah suatu hari nanti. Sara langsung menyapukan matanya ke segala sudut ruangan di kamar mandi, khawatir ada CCTV yang terpasang, yang merekam pembicaraannya dengan Kimberly, yang bisa membuatnya mendapatkan masalah suatu hari nanti. Dia bernafas lega saat tidak menemukan apa yang dia cari. Dia keluar dari kamar mandi lalu pergi menuju ruangannya sendiri. Saat matanya menatap ruangan Theodor, saat itulah jantungnya seakan ingin melompat keluar dari tempatnya. Dia melihat Reagan Rodriguez, Papa dari Theodor Rodriguez sedang mengampit wanita cantik yang baru saja dia temui di kamar mandi. Dia tidak sadar jika wanita itu adalah Kimberly Rodriguez, Mama dari atasan yang baru saja dia gosipkan. “Dari mana saja kamu, Sayang? Charlotte tadi mencarimu dan dia bilang tidak menemukanmu,” kata Reagan sambil memeluk dan mencium bibir manis istrinya. Saat Reagan kehilangan istrinya agak lama, dia menyuruh sekretaris Theodor untuk mencari istrinya tapi hasilnya nihil. Reagan sudah akan memanggil pengawalnya untuk mencari istrinya tersebut, saat akhirnya Kimberly muncul di pintu ruang kerja Theodor. Theodor hanya melihat sinis kemesraan Papa dan Mamanya, dia merasa itu terlalu berlebihan. Apalagi mereka sudah puluhan tahun hidup bersama dan tidur seranjang. Bagaimana bisa mereka semesra itu? Dia saja langsung bosan dengan wanita yang sudah ditidurinya. Itulah mengapa, seumur hidupnya, belum pernah ada wanita yang tidur dengannya lebih dari sekali. “Aku baru saja bertemu dengan seorang wanita yang sangat manis dan menyenangkan. Kami berbicara banyak hal di kamar mandi dan dia memberiku sebuah jepit rambut yang lucu,” kata Kimberly menjawab pertanyaan suaminya. “Jangan terlalu berlebihan Ma, di sini tidak ada wanita yang manis. Atau yang Mama maksud adalah Charlotte? Dia terlalu tua untuk dikatakan manis. Dan jepit rambut itu terlalu norak, itu adalah jepit rambut murahan yang dijual di pinggir jalan. Aku bisa memberimu jepit rambut dengan berlian di atasnya yang harganya puluhan juta,” kata Theodor menanggapi perkataan Mamanya. “Jangan terlalu sombong Theo, jangan sampai hatimu tersangkut pada wanita manis itu.” “Jangan bermimpi Ma, hatiku hanya tersangkut padamu. Tidak ada wanita yang aku cintai melebihi cintaku padamu,” goda Theodor. “Jika kamu mencintaiku, kenapa kamu tidak pernah pulang?” sindir Kimberly pada putranya tersebut. “Karena kalian berdua sangat kompak membuat hidupku tertekan.” Nada dingin kembali terlontar dari mulut Theodor. “Hentikan perdebatan kalian! Kita akan memulai pembicaraan yang membawaku dan Mamamu ke sini,” kata Reagan. “Tentang apa itu?” tanya Theodor dengan sikap malas. Dia yakin apa pun yang akan Papanya bicarakan akan sangat mengesalkan. “Akhir pekan ini, kami ingin kamu bertemu dengan calon istrimu. Kemarin secara tidak sengaja, aku bertemu dengan Thomas Sanchez dan kami membicarakan tentang dirimu dan putrinya. Aku mendapat kabar jika ternyata Revina Sanchez sudah pulang dan sudah bekerja beberapa bulan di kota ini, karena itu kami memutuskan agar kamu dan Revina bisa bertemu,” jelas Reagan. “Apakah Papa masih serius dengan perjodohan ini? Ini tidak akan berhasil Pa. Aku bosan hidup dengan satu wanita, wanita itu hanya akan menjadi korban dari ambisi Mama dan Papa,” tolak Theodor. “Lihatlah dulu Revina, siapa tahu wanita itu yang akan membuatmu tidak bergonta-ganti wanita lagi,” kata Kimberly mencoba melembutkan hati putranya. “Aku tidak mau Revina berakhir seperti Kakaknya. Lalita adalah wanita yang menyukai kebebasan sepertiku, karena ambisi keluarga Rodriguez dan Sanchez, dia pun terjerumus pada pergaulan bebas dan narkoba. Apakah kalian tidak melihatku? Aku pun terjebak pada pergaulan bebas karena tekanan kalian. Masih beruntung aku tidak lari ke narkoba yang bisa saja membuatku mati seperti Lalita,” terang Theodor.“Setuju, aku juga tidak berniat membuka identitasku.” “Hanya untuk bersenang-senang.” “Ya... hanya untuk bersenang-senang di tengah kepenatan pekerjaan dan kehidupan.” “Hahaha... benar sekali.” “Bagaimana dengan tunanganmu? Apakah dia tidak akan bermasalah?” “Dia menginginkan seorang wanita jalang, maka dia akan mendapatnya,” kata Revina tampak tidak peduli dan langsung menenggak minuman yang berada di depannya. Theodor menatap wanita di depannya itu dengan tatapan tidak terbaca. "Kapan aku bisa mengajarimu menjadi wanita jalang?" tanya Theodor dengan ekspresi misterius. Revina menatap T sekejap lalu berkata, “Bagaimana jika malam ini, setelah acara pesta ulang tahun selesai.” “Apakah kamu ada agenda di acara ini?” tanya Theodor. “Aku tidak mempunyai agenda apa pun di acara ini, ada apa memangnya?” Revina balik bertanya.
Setelah seminggu merencanakan pesta megah untuk ulang tahun perusahaan, hari itu pun akhirnya tiba. Aula perusahaan yang biasanya di sekat menjadi beberapa ruang meeting, hari itu di bongkar menjadi satu ruangan besar. Ruangan tersebut disulap menjadi ruangan yang bertema pesta topeng. Semua orang tampil maksimal dengan topeng mereka untuk menyembunyikan identitas masing-masing. Begitu juga Sara, dia memakai pakaian yang tidak mencolok, menggunakan topeng Victoria berwarna emas dan tampil elegan. Meskipun begitu, dia tetap menyembunyikan warna rambut dan matanya. Tetap mempertahankan kepribadiannya sebagai Sara. Berbeda dengan Theodor. Setelah tekanan yang dia rasakan, dia ingin merasakan hidup bebas dengan bersembunyi di balik topengnya. Theodor membayar seorang aktor yang mirip dengan dirinya dan menyuruh aktor tersebut untuk menggantikan dirinya naik ke podium. Sedangkan Theodor bercampur dengan karyawan yang lain dan mengaku jika dia ad
Mendengar perkataan Kimberly, air mata Revina menetes membasahi pipinya. Dia menggigit bibir untuk menahan rasa marah. Calon mertuanya menyamakan dirinya dengan para jalang yang selama ini berkeliaran di sekitar Theodor. “Kakakku bukan wanita seperti itu, dia wanita terhormat. Anda juga telah salah menilaiku.” “Wanita terhormat?” sindir Kimberly dengan senyuman sinis. “Aku berharap kamu bisa membuktikan dirimu jika kamu adalah wanita terhormat. Meskipun aku meragukan akan hal tersebut,” sambung Kimberly lagi. Revina yang tidak ingin memperkeruh keadaan, hanya terdiam. Dia memilih untuk mengabaikan perkataan calon mertuanya itu. “Masuklah dan cari tunanganmu! Kalau kamu tidak bisa menjadi wanita yang setara dengannya, lebih baik kamu instropeksi diri lebih dulu untuk menjadi menantuku. Jangan karena kamu mendapat tempat di hati suamiku, maka kamu bisa seenaknya saja. Ingat itu!” kata Kimberly yang terlihat seperti bunglon.
Hanya Sara yang bisa membuat Theodor bergairah dan bahagia. Hubungan intim pun terbangun antara dirinya dengan Sara, tanpa mereka harus bercinta. Sayangnya, Papanya memaksanya untuk menikah dengan Revina. Hal itulah yang membuat Theodor berusaha keras menghindari Sara, jika tidak, maka wanita itu akan terluka. Saat dia menjadikan Sara sebagai kekasihnya, dia tidak memikirkan pertunangannya dengan Revina. Dia hanya memikirkan kebahagiaannya sendiri dan kini dia menyesalinya. Tekanan yang mengganggunya, membuat Theodor tidak bisa tidur memikirkan semuanya itu. Dia mengambil ponsel di atas meja dan menekan nomor yang selama ini belum pernah dihubunginya. Mata Revina tertutup rapat dan kesadarannya sudah mulai menghilang saat terdengar suara ponsel yang menyadarkannya kembali dari tidur. Kesadarannya yang belum kembali sepenuhnya, membuat Revina menerima panggilan tersebut tanpa melihat siapa yang meneleponnya.
Tangan Sara tiba-tiba gemetar meresponnya. Cokelat yang ada di tangannya pun tumpah dan mengotori pakaiannya. “Oh... astaga, maafkan saya, Nyonya. Sepertinya keadaan saya memburuk. Bolehkah saya permisi lebih dulu?” “Apakah kamu membutuhkan dokter? Aku akan memanggilkannya untukmu?” “Tidak perlu, terimakasih. Saya harus membersihkan pakaian saya karena tumpahan cokelat ini.” “Sebelum kamu pergi, tolong pikirkan apa yang aku katakan padamu. Theodor membutuhkanmu, Sara.” “Saya akan memikirkannya, Nyonya,” kata Sara lalu menjauh dari Kimberly. Dia berlari masuk ke kamar mandi. Setelah menutup pintunya, tangisnya pecah begitu saja. Dia memukul dadanya berkali-kali, berharap rasa sesak di dadanya berkurang. Sebenarnya apa yang sedang terjadi? Kenapa semua menjadi rumit seperti ini? Apakah dia harus mengatakan yang sebenarnya pada keluarga Rodriguez jika dirinya adalah Revina Sanchez.
“Papa sangat tahu jika aku tidak akan bisa menolaknya. Jika sudah selesai bicara, aku akan menutup teleponku. Pekerjaanku masih banyak,” nada dingin Theodor semakin membekukan pembicaraan mereka. Reagan pun tidak bisa berbuat apa-apa lagi jika Theodor sudah memasang dinding tebal di antara mereka. “Baiklah, Papa tutup teleponnya. Satu hari sebelum hari pertunanganmu, pulanglah untuk mempersiapkannya,” tegas Reagan. “Ya, aku akan pulang,” jawab Theodor singkat, lalu menutup teleponnya. Tepat setelahnya, Sara masuk ke ruangan Theodor. “Apakah ada masalah?” tanya Sara pada pria itu. “Bukan urusanmu. Aku akan keluar, kerjakan yang sudah menjadi planning kita hari ini dan mulailah merancang projek baru yang kemarin sudah kamu bicarakan. Kita akan membuat projek tahap dua. Aku akan pergi dan mungkin tidak akan kembali lagi ke kantor. Kalau ada apa-apa, kirim pesan saja tapi jangan meneleponku,” jawab Theodor denga







